Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Saturday

Kumpulan Novel Online - NAYLA (Djenar Maesa Ayu)

Ilmubahasa.net - Berikut akan kami ulas dan kami paparkan mengenai Novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Sebagai salah satu kumpulan novel populer, Nayla tentunya sudah tidak asing lagi bagi anda yang gemar membaca novel. Kisah Tokoh “Nayla” adalah seorang perempuan muda, yang mesti meninggalkan ibunya sejak berumur 13 tahun untuk belajar hidup mandiri. Nayla, nama tokoh dalam cerita, menjumpai rasa kecewa ketika ia teringat sosok ibunya yang menjebloskan dirinya ke rumah rehabilitasi anak nakal dan narkotika. Sejak itu ia kemudian frustrasi. Ia meninggalkan ibunya dan belajar hidup mandiri. 

Sinopsis Novel Nayla - Ringkasan Novel Nayla

Cerita ini berawal dari kehidupan seorang gadis malang bernama Nayla. Dalam menjalani kehidupan, Nayla berhadapan dengan berbagai konflik/pertentangan batin, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun reaksi terhadap lingkungan seputarnya. Di dalam diri tokoh kadang-kadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan. Dari berbagai fenomena yang dialami oleh tokoh cerita, muncul kekuatan mental dan pemahaman baru tentang cara memaknai kehidupan. karena terus dirundung berbagai konflik, akhirnya telah terjadi perubahan sikap pada sang tokoh cerita. Ia akhirnya larut dalam kehidupan malam, bekerja menjelma penata lampu di sebuah nite club. apa yang dilakukan oleh nayla, sang tokoh cerita  menjelma bentuk pelarian dari lingkungan keluarga dan lama kelamaan ia hanyut dalam lingkungan yang baru yang serba gemerlapan yang kini selalu menghantui hidupnya.

Cover Novel Nayla

Sejak nayla berumur 2 tahun ayah dan ibunya bercerai. Kemudian Nayla dibesarkan oleh sang Ibu. Cara didikan ibu sangat keras dan kejam. Nayla dilarang untuk mencari siapa ayahnya. namun, diam-diam Nayla menyelidiki dan mencari siapa ayahnya. Pada suatu saat ia berpapasan dengan ayahnya yang  telah beristri lagi. sejak itu, Nayla sering ke tempat ayahnya. perbuatan ini diketahui oleh ibunya. akibatnya, ibunya pun marah besar kepada nayla dan mengusirnya. Malang nasib Nayla. Pertemuan dengan sang ayah pun hanya sekejap saja karena selang beberapa waktu kemudian  ayahnya meninggal dunia. 

Sejak kematian ayahnya, ia frustrasi dan kecewa, seperti membolos dan suka tertawa-tawa sendiri. Keganjilan ini diketahui oleh ibu tirinya. Kemudian, Nayla dituduh pengguna narkoba. beserta akal licik ibu tirinya dan meminta izin ibu kandungnya, nayla dijebloskan ke rumah perawatan anak nakal dan narkotika. Nayla tak tahan dengan usaha kerasnya, kemudian ia kabur dari tempat itu bersama-sama beserta temannya. Nayla tidak pulang ke rumah, namun  ia numpang ke tempat temannya. Sejak itu, Nayla belajar hidup mandiri. Pekerjaan apa saja ia lakukan, seperti merampok dan mencuri. akhirnya, ia dan teman-temannya ditangkap polisi.
               
Hidup Nayla seolah terombang ambing kembali. Ia tidur di terminal. ia melamar pekerjaan dan diterima menjelma penata lampu di sebuah nite club atau diskotik. Ia sekali lagi belajar hidup mandiri. Menyewa rumah sendiri dan memenuhi keperluan sehari-hari sendiri. Ia berpapasan dengan juli seorang wanita yang bekerja di diskotik, mereka berdua menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih, nayla tidak peduli dengan pandangan orang lain, yang penting ia bahagia disamping juli, Juli seseorang yang pencemburu,ia tidak suka mengetahui nayla bersama laki-laki ataupun perempuan lain. Baginya nayla seseorang yang wajib ia lindungi. Pada akhirnya, Juli menetapkan untuk meninggalkan Nayla karena ia pindah ke surabaya karena baginya menjalani cinta jarak jauh itu menyakitkan hai, maka ia pilih untuk memutuskan cintanya pada Nayla. 

Nayla menerima itu, dan menjalaninya kandasnya cinta dengan Juli. Kemudian Nayla berpapasan dengan laki-laki yang bernama Ben. Sejak pandangan pertama mencintai nayla, ia bersabar beserta perangai nayla yang keras. sampai akhirnya mereka putus karena ben selingkuh.

Di tempat itu (diskotik) ia mulai mengenal rokok dan minuman. Hidupnya semakin bebas, mulai dari cara berpakaian, berdandan, dan bergaul. Berbagai konflik mulai muncul pada dirinya, baik pertentangan terhadap dirinya sendiri maupun reaksi lingkungan sekitarnya. Misalnya, ia putus dengan pacarnya, berpisah dengan ibunya, teman wanitanya, sampai ia berubah profesi menjadi penulis. Di dalam diri tokoh kadang-kadang timbul persepsi negatif tentang makna kehidupan. Berkat kegigihannya, akhirnya Nayla sukses menjadi pengarang.

Monday

Kumpulan Novel Online - Beauty and Sadness (Yasunari Kawabata)

Ilmubahasa.net - Berikut adalah salah satu Kumpulan Novel Online kami yang berjudul Beauty and Sadness. Salah satu Novel yang mendapatkan gelar Nobel, hingga banyak negara yang mengadaptasi bahasanya agar terkenal di seluruh dunia. Kami sengaja menghadirkan novel ini dalam barisan Kumpulan Novel kami agar setidaknya pengunjung website ini juga mengerti tentang novel yang berkualitas dan terkenal di kalangan pecinta novel.

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

Novel ini mengisahkan cerita yang rumit antara Oki Toshio dan Ueno Ottoko ketika mereka masih sama-sama tinggal di tokyo. Sewaktu Oki berumur tiga puluh tahun menjalin asmara dengan gadis berusia enam belas tahun, Ottoko namanya. Padahal Oki sudah mempunyai istri bernama Fumiko dan beranak satu yaitu Taichiro. Fatalnya, Oki menghamili Otoko. Ketika Otoko hamil, mengandung janin akibat ulah Oki, timbul masalah pada Oki untuk meninggalkan keluarganya demi Otoko. Tetapi, anak yang dilahirkan Otoko meninggal. Dan berawal dari situ frustasi karena ditinggalkan oleh Oki.

Beauty and Sadness

Dua puluh empat tahun akhirnya mereka bertemu pada waktu tahun baru. Disisi lain Otoko bertemu dengan Keiko dan mereka pun menjalin Cinta. Tetapi yang jadi masalah Keiko malah membuat semakin runyam permasalahan Otoko dan Oki, dia berniat ingin membalas dendam atas apa yang dilakukan Oki terhadap kekasihnya Otoko. Pergulatan konflik dan perselingkuhan pun mulai terjadi. Keiko mulai menjalankan misinya untuk menghancurkan Oki dengan bercinta dengan oki dan merusak hubungan keluarga Oki. Disisi lain Otoko malah merasa cemas, gusar, marah atas tindakan muridnya keiko yang mencoba untuk mengkorek-korek masa lalu Oki.

Tidak hanya Oki yang jadi sasaran , tetapi Taichiro anak Oki pun menjadi akhir pembalasan dendam Keiko atas Otoko. Taichiro mati akibat tenggelam dan Keiko pun terkena imbas sakitnya juga. Cerita berakhir kesedihan.

Wednesday

Cerita Novel Online - Ladang Perminus

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Ramadhan KH
Penerbit    : Pustaka Utama Grafiti
Tahun        : 1990

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

Hidayat adalah seorang karyawan pada Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Pria berumur empat puluh tahun itu selalu sibuk melayani tamu-tamu yang meminta nasihat dan petunjuknya. Tidak sedikit para kontraktor asing yang bekerja di Indonesia memanfaatkan kemampuannya dalam menilai situasi. Mereka rata-rata puas setelah diberi petunjuk oleh Hidayat.

Sebagai perusahaan besar, Perminus sedang menjadi sorotan utama masyarakat. Sebab utamanya adalah terjadinya tindak korupsi besar-besaran di perusahaan itu. Koran-koran memberondong dengan berita yang memojokkan. Para karyawan resah dan saling curiga. Mereka khawatir akan ditendang dari perusahaan itu karena tim keamanan yang dipimpin oleh seorang kolonel sedang giat mencari siapa yang menjadi sumber berita bagi koran-koran.

Hidayat yang bekerja atas dasar kejujuran sangat terkejut ketika dirinya dan beberapa rekannya dibebastugaskan dari urusan kantor. Ia merasakan tindakan pemecatan itu adalah suatu pukulan baginya. Untunglah ia mempunyai istri yang mampu memberikan keteduhan baginya sehingga ia tidak terjerumus ke lubang frustasi. Untuk mengisi hari-hari pembebastugasannya, Hidayat mengurus peternakan ayam yang sudah lama ditinggalkannya. Selain itu, sekali-kali ia “menjual” nasihat kepada kontraktor-kontraktor asing yang membutuhkan pikiran dan pengetahuannya.

Hidayat yang ternyata tidak bersalah itu bekerja kembali. Tugas pertamanya adalah mengadakan perundingan dengan kontraktor dan pihak kedutaan Singapura. Dalam perjalanan tugas itu, ia berkenalan dengan Ita, pramugari Garuda. Pertemuan itu membuat Ita jatuh cinta. Dengan caranya, ia berusaha agar Hidayat mau mengikuti keinginannya, tetapi pria itu tak bergeming, yang ada justru timbul perasaan lain. “Yang tumbuh pada diri Hidayat kian lama kian jelas, rasa kasihan kepadanya. Sementara itu, ia merasa kian bertambah menyala rasa cinta pramugari itu kepadanya” (hlm. 201).

Penyelidikan terhadap kasus korupsi masih terus berlangsung, tetapi hal itu tak menyebabkan kegiatan kantor berhenti. Bahkan, Perminus mendapat order yang menantang. Sebagai orang yang biasa menghadapi perundingan, Hidayat lalu ditunjuk oleh Kahar˗˗tangan kanan direktur˗˗untuk menghadapi orang-orang dari wakil perusahaan patungan Belgia, Jerman, dan Belanda. Tugas Hidayat adalah menurunkan penawaran yang diajukan oleh mereka.

Dengan kepandaiannya, Hidayat berhasil menurunkan penawaran dari 632 juta DM menjadi 567 juta DM. prestasi itu dirayakannya bersama teman-teman. Akan tetapi, kemudian Hidayat merasa berang ketika mengetahui angka itu dinaikkan kembali. Ia merasa jerih payahnya disia-siakan. Oleh karena itulah, ia menghadap Kahar dan memprotes tindakan permainan angka-angka itu.

Kedudukan Kahar yang terancam, membuatnya berpikir untuk memecat Hidayat. Ketika potret Hidayat terpampang di surat kabar sebagai calon Gubernur Jawa Barat, dimanfaatkanlah oleh Kahar sebagai alasan. “Kahar merasa kekuasaan ada padanya. Dan berita yang terbaca di koran mengenai diri Hidayat itu menjadi picu-ledak baginya untuk mengadakan tindakan. Ia segera memanggil Kolonel Sujoko dan singkat ia ceritakan, bahwa Hidayat telah main politik dengan mencalonkan diri untuk diangkat menjadi Gubernur Jawa Barat tanpa seizinnya” (hlm. 284). Dengan tuduhan yang tidak benar seluruhnya itu, Hidayat kemudian meminta agar pensiunnya dipercepat.

Hari-hari berikutnya dilalui Hidayat dengan ketenangan. Bapak dari dua anak ini merasa beruntung tidak berperilaku seperti Kahar, orang kepercayaan Perminus. Hidayat sendiri, yang semua pekerjaannya di bawah pengawasan Kahar, memang mengetahui kecurangan-kecurangan˗˗dan tentu juga penyelewengan˗˗yang dilakukan Kahar. Sekaligus kecewa. Lega karena Perminus telah ditinggalkan salah seorang pemimpinnya yang tak jujur dan ia berharap penggantinya kelak akan lebih memperhatikan kepentingan bansa dan Negara daripada kepentingan pribadinya. Kecewa, karena ternyata Kahar dimakamkan di makam pahlawan.

Hidayat mengetahui benar bahwa sesungguhnya Kahar sangat tidak layak dikuburkan di makam pahlawan; tempat peristirahatan terakhir mereka yang benar-benar telah berjasa kepada Negara dan bangsa. Sedangkan Kahar hanya hidup dalam limpahan kekayaan hasil penyelewengan dan manipulasi. Kahar juga meninggal bukan dengan mewariskan jasa-jasanya bagi kepentingan nasional, khususnya Perminus, melainkan mewariskan persengketaan kedua istrinya yang saling berebut harta kekayaan yang tak terbilang jumlahnya.

Hidayat sebenarnya kecewa. Jiwa patriotnya sebagai mantan pejuang tak mau menerima penguburan Kahar di makam pahlawan. Kekecewaan yang sangat mendalam itulah yang membawanya terpaksa dirawat di rumah sakit.

Dalam keadaan demikian, Hidayat sadar, kenyataan yang harus dihadapinya kini mengharuskannya untuk tidak terlalu memikirkan semua persoalan itu. Zaman telah berubah; mereka yang jujur sering kali harus tersisih. Belakangan hatinya mulai lega ketika mendengar berita bahwa tindak korupsi yang terjadi di Perminus berhasil diusut pihak yang berwenang.

Kelegaan perasaan Hidayat kemudian lengkap sudah ketika datang Ita˗˗gadis yang pernah hendak menyerahkan keperawanannya kepada Hidayat˗˗menjenguk bersama suaminya. Hidayat bersyukur, Ita yang disayanginya, yang tidak hanya cantik tetapi juga penuh perhatian.

Kini, diantara berbagai kekecewaan yang pernah yang dialaminya, Hidayat masih dapat merasa bersyukur. Di dalam perkembangan zaman yang semakin banyak diwarnai ketidakjujuran dan kepalsuan itu, Hidayat masih dapat hidup tegar dengan segala keyakinan pada kejujuran hati nuraninya sendiri. Dengan demikian, ia sangat yakin, itulah senjata ampuh dalam menghadapi zaman ini. Sikap itulah yang terus menghidupkan harapannya: “Harapan, zat asam kehidupan, membangkitkan semangatnya” (hlm. 327).

Resensi Novel

                                                                    ***
Berthold Damshuser, pengajar sastra Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dalam resensinya yang dimuat dalam harian Kompas dan majalah Horizon (Januari 1991) mengatakan, “adakan nyata bahwa tema-tema atau soal-soal yang dibicarakan dalam Ladang Perminus tetap aktual di Indonesia yang sekarang ini. Ini saja membuat novel itu penting dibaca. Patutlah Ladang Perminus dijadikan bahan untuk pelajaran anak muda, misalnya di sekolah SMA. Patut untuk dijadikan dasar untuk berdiskusi. Novel yang membicarakan tema serta soal yang aktua belum pasti menjadi novel yang besar bila tidak ditulis dengan gaya sastra yang matang…. Akan tetapi Ladang Perminus memenuhi syarat-syarat itu. Ramadhan KH, seperti juga pada novel-novelnya yang dulu, ternyata berhasil lagi menyajikan karya yang tinggi mutu literarinya”.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Tuesday

Cerita Novel Online - Getaran- Getaran

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami. Pada kesempatan ini kami akan mengulas salah satu novel yang menjadi bagian dari kumpulan novel kami adalah Getaran-getaran

Pengarang    : Haryati Subadio (24 Juni 1928)
Penerbit    : Djambatan
Tahun        : 1990

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

Pak Jul (62 tahun) adalah seorang pengusaha yang belum setahun mengakhiri masa dudanya. Menurut cerita orang, istri pertamanya˗˗Atika˗˗mati secara misterius. Kematian Atika, yang mati bunuh diri, membuat Pak Jul sering merasa tak tenang. Konon persoalannya adalah ketidakpuasan Atika yang merasa disia-siakan oleh Pak Jul hingga wanita itu mengambil keputusan nekad. Duda itu kemudian menikah lagi dengan seorang wanita yang usianya jauh di bawahnya. Wanita itu bernama Mahrani Juwita˗˗biasanya dipanggil Rani yang usianya belum genap 27 tahun.

Kesediaan Rani menjadi istri “bandot tua” itu lantaran orang tuanya tak mampu membayar utangnya kepada Pak Jul. Sebagai “pembayar”-nya orang tua itu harus rela menyerahkan anak gadisnya kepada Pak Jul. Perrkawinan yang semula dilandasi soal utang-piutang itu akhirnya mengubah sikap Pak Jul. Lelaki tua itu akhirnya benar-benar jatuh cinta pada istri mudanya. Namun, perubahan pada diri Pak Jul tak dipedulikan oleh Rani, walaupun peranannya sebagai istri seorang usahawan makin menonjol.
Kepiawaian Rani mampu membuat dirinya membantu usaha suaminya. Lalu, pada saat yang demikian itulah, Pak Jul mati mendadak! Kabarnya, ia terkena serangan jantung. Tak urung kematian Pak Jul yang tiba-tiba itu menjadi buah bibir; apalagi setelah diketahui warisannya jatuh ke tangan Rani. Hal itu tertulis dalam surat wasiat yang ditandatangani oleh Pak Jul.

Rani tidak terlalu memusingkan berbagai berita burung yang tidak jelas faktanya. Setelah peringatan empat puluh hari kematian suaminya, janda muda itu langsung mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Tanpa diduga pula, ia menjual rumah kuno peninggalan suaminya; kemudian ia pindah ke kawasan real estate.

Ternyata, rumah yang dijualnya itu malah menimbulkan persoalan yang berkepanjangan. Konon, arwah Atika˗˗istri pertama Pak Jul˗˗gentayangan. Adanya isu demikian itu telah memaksa Rani melibatkan diri dalam persoalan itu. Belakangan diketahui bahwa Pak Kus˗˗pembeli rumah itu˗˗ adalah bekas pacar Atika. Pak Kus sebenarnya adalah sahabat Pak Jul. Jadi, ada semacam hubungan batin antara pemilik rumah yang lama, yakni Pak Jul dan Atika˗˗dengan Pak Kus.

Selanjutnya, untuk membuktikan benar tidaknya cerita tentang arwah gentayangan itu, Pak Kus mendatangkan seorang paranormal yang dianggap berwenang menangani hal-hal yang seperti itu. Pak Pendit˗˗demikian nama paranormal tersebut˗˗mulai melaksanakan tugasnya. Seperti layaknya seorang detektif, Pak Pendit pun memulai tugasnya dengan menanyai orang-orang yang dianggap mempunyai hubungan dengan rumah kuno itu, salah satunya adalah Rani. Dari keterangan Rani mengenai perilaku Pak Jul sewaktu masih hidup, dapat disimpulkan bahwa sangat mungkin lelaki itu sering didatangi arwah Atika. Ia sering melihat tingkah laku Pak Jul yang aneh dan sering membuatnya bertanya-tanya.

Sementara itu, ketika pengusutan arwah gentayangan masih terus dilakukan, Pak Kus juga tak jarang menunjukkan sikapnya aneh. Ditambah lagi keadaan penyakit Pak Kus yang makin parah. Lalu tiba-tiba lelaki itu meninggal mendadak tanpa diketahui sebabnya.

Berita kematian Pak Kus menjadi bahan gunjingan di kantor Rani. Kecurigaan terhadap arwah gentayangan makin menghangat. Kemudian, diputuskan untuk mengadakan pengusiran makhluk halus itu dari rumah kuno agar tidak menimbulkan korban lagi. Caranya, harus diadakan ruwatan atau upacara khusus untuk mengusir arwah gentayangan. Kembali Pak Pendit beraksi. Ia dianggap mampu melaksanakan upacara itu. Akan tetapi, apa yang terjadi pada saat upacara “pembersihan” rumah kuno itu, hanyalah upacara biasa yang sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala adanya hantu atau sejenisnya. Sungguhpun demikian, Pak Pendit yakin bahwa ia telah berhasil mengusir makhluk halus penunggu rumah kuno itu. Lain halnya dengan Rani, ia masih belum percaya karena ia tak melihat apa-apa selain gerakan-gerakan Pak Pendit yang di luar kewajaran.
Apa yang dilakukan Pak Pendit, bagi Rani, bukanlah jawaban yang diharapkan. Yang diinginkanya adalah bukti konkret yang dapat meyakinkanya. Itulah sebabnya, ia berusaha memperoleh jawaban yang lebih masuk akal. Namun, jawaban mengenai peristiwa gaib itu tak kunjung ia peroleh.

Tak ada  jawaban yang lebih masuk akal. Rani masih berada pada sikap antara percaya dan tidak. Kenyataan inilah yang membuatnya harus menyerah pada kesimpulan begini: “lebih baik kita terima saja apa adanya, berarti, siapa yang merasa bisa melihat hal-hal gaib yang orang lain tak bisa melihat dan sulit mendapatkan buktinya, ya, sudah, biarkan saja pula! Masing-masing pihak jangan menuntut dapat meyakinkan yang lain! Mungkin sikap itu yang paling baik” (hlm. 157-158).
Misteri tentang keberadaan arwah gentayangan itu pun tetap menjadi misteri, karena masing-masing tidak dapat membuktikan keberadaan arwah itu.

Resensi Novel

                                                                 ***
Secara tematik novel Getaran-getaran ini sebenarnya sangat menarik, yakni tentang sebuah rumah kuno yang angker. Latar yang demikian terasa menjadi lebih menarik lagi melalui alur ceritanya yang berliku-liku. Dalam hal ini terkesan pengarang hendak menyajikan rangkaian peristiwanya mirip cerita detektif.

Dari sejumlah resensi buku yang mengulas novel ini, antara lain yang ditulis oleh Julius Pour (Kompas), Pamusuk Eneste (Jakarta-Jakarta), Maman S. Mahayana (Suara Karya), dan Sunu Wasono (Berita Buku) tema peristiwa dunia gaib itulah salah satu yang menjadi kekuatan novel ini
.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Cerita Novel Online - Jalan Bandungan

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami. Pada kesempatan ini kami akan mengulas salah satu novel yang menjadi bagian dari kumpulan novel kami adalah Jalan Bendungan, Novel yang memiliki nilai tersendiri sehingga pantaslah untuk kami masukkan dalam kumpulan novel kami

Pengarang    : Nh. Dini
Penerbit       : Djambatan
Tahun            : 1989

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

Muryati hidup dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Tidak aneh bila tindak-tanduknya selaras dengan ajaran yang diterima dari orang tuanya. Sebagai anak tertua, ia selalu menuruti permintaan orang tuanya, tetapi bukan berarti ia anak yang pasrah. Oleh karena itulah, ketika bapaknya memberitahukan bahwa Widodo˗˗anak buahnya di kepolisian˗˗melamarnya, Muryati menerima lamaran itu dengan syarat ia harus mengenal lebih dekat calon suaminya.

Waktu itu api revolusi perlahan-lahan surut. Kehidupan kembali berjalan seperti biasanya. Pertunangan antara Muryati dan Widodo telah dilakukan. Dalam masa-masa itu, keduanya saling menjajaki untuk mengenal pribadi masing-masing. Ada beberapa pandangan yang berbeda antara Widodo dan keluarga Muryati sehingga gadis itu berkeinginan untuk memutuskan pertunangannya. Di mata Muryati, Widodo adalah orang yang berpandangan sempit dalam menilai arti sebuah keluarga; dan yang aneh bagi keluarga Muryati adalah pria itu tidak pernah sekalipun memperkenalkan mereka kepada keluarganya. Bila disinggung masalah ini, Widodo mengajukan berbagai alasan yang tak jelas.

Setelah mengalami masa-masa pahit dan manis, ternyata Muryati dan Widodo jadi juga melangsungkan pernikahan. Di sinilah Muryati mengetahui tabiat lelaki itu yang sebenarnya. Ia ternyata bukanlah tipe suami yang baik. Perangainya kasar. Ia tidak bertanggung jawab terhadap masalah-masalah yang timbul dalam keluarga. Hal ini dirasakan Muryati setelah mempunyai anak. Belakangan, Widodo tidak pulang ke rumah sehingga Muryati merasa kebingungan, meskipun jika suaminya ada di rumah, ia merasa tertekan.

Beberapa waktu kemudian, Muryati mengetahui sebab suaminya tak pulang. Widodo ditahan pihak berwajib karena terlibat sebagai anggota partai komunis. “Kabar itu memukul dan  menghantam jiwaku. Seandainya aku diberi tahu bahwa Mas Wid ditemukan mati, barangkali aku akan lebih bisa menerimanya sebagai kenyataan. Walaupun keakhiran tersebut dipaksakan. Terlibat dalam satu intrik politik, apalagi dia komunis!” (hlm. 104).

Dengan tiga anak peninggalan Widodo, beban Muryati tambah berat. Untuk meringankan beban yang dipikulnya, lulusan SPG ini kembali mengajar di sela-sela waktu kuliahnya. Ketika pihak kedutaan Belanda mengeluarkan beasiswa bagi guru-guru yang ingin belajar di sana, Muryati ikut. Hal itu bagi Muryati adalah kesempatan untuk menunjukkan keberadaannya, tanpa berlindung di bawah bayang-bayang suaminya yang sudah mulai dilupakannya.

Pulang dari tugas belajar, Muryati menikah dengan Handoko, adik Widodo, yang dikenalnya sewaktu ia belajar di Belanda. Bagi Handoko, ia tidak ingin menikah dengan wanita lain selain Muryati dan ia tak mau disamakan dengan kakaknya yang komunis. Lain halnya dengan Muryati, perkawinan yang kedua ini penuh dengan berbagai pertimbangan. Ia merasa kedudukan sebagai janda tidak akan memberikan rasa aman dalam meneruskan karier. Ia juga merasa bahwa perkawinan itu harus dilaksanakan karena itu adalah jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Dibebaskannya para tahanan politik dari pulau Buru sedikit banyak membuat khawatir para istri yang dulu ditinggalkan, termasuk Muryati meskipun ia kini telah resmi menjadi istri Handoko. Kedatangan Widodo ke rumah Muryati di jalan Bandungan membuatnya cemas dan curiga. Dugaan wanita itu ada benarnya. Tali pernikahan yang sudah dibina selama tujuh tahun mulai terganggu oleh ulah Widodo. Lelaki bekas penghuni Pulau Buru itu mengatakan kepada Handoko bahwa Muryati ingin kembali menjadi istrinya. Fitnah yang dihembuskan ke telinga Handoko membuatnya mulai meragukan kesetiaan istrinya. “Suami mudaku menderita tekanan rasa kecurigaannya yang bertumpuk-tumpuk terhadapku. Dia meragukan kesetiaanku kepadanya. Selama ini aku tahu, bahwa dia selalu mencemburuiku. Tapi sedemikian besar dan seperti sekarang yang Nampak di depanku, benarlah aku tak menyangka. Semua itu karena setulus hatiku aku setia kepadanya” (hlm. 361), demikian pendapat Muryati tentang Handoko yang mencurigainya.

Untuk sementara Handoko dan Muryati berpisah karena Handoko harus bekerja untuk beberapa bulan di Eropa Utara dan selanjutnya di Venezuela. Mereka berpisah sebagai dua orang sahabat, tetapi tak bercerai. Mereka sepertinya sepakat bahwa kebersamaan yang sudah dilalui bersama tidak akan mudah begitu saja menguap dari kenangan.

“Kali ini suamiku tidak menghilang, melainkan kuketahui dengan jelas pergi ke mana dan untuk keperluan apa. Aku melepaskannya tidak dengan kesedihan, tetapi juga tidak dengan kelegaan. Setelah berbulan-bulan kami tidak menyepakati sesuatu pun secara bersama, pada saat keberangkatan itu kami setuju, bahwa kami akan membiarkan waktu mengalir menuruti alurnya. Kami berpisah, namun kami tidak bercerai. Terlalu banyak kejadian dan pengalaman yang padat itu tidak akan mudah menguap begitu saja dari kenangan” (hlm. 377).

Resensi Novel - Tentang Novel

                                                                     ***
Novel Nh. Dini kali ini, seperti juga novel-novelnya yang lain, masih mengandalkan kekuatan berceritanya pada tokoh wanita (Muryati) sebagai si “aku pencerita. Di samping itu, cara berceritanya yang mengalir lancar, merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki pengarang wanita yang memperoleh Hadiah Seni dari Pemerintah tahun 1990 ini. Tepat pula, Rendra˗˗penyair yang dijuluki sebagai si Burung Merak˗˗mengomentari dengan satu kalimat: “Hadir dan mengalir!”

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Monday

Cerita Novel Online - Dendang

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Darman Moenir
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1988, Cetakan II, 1990

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

Cerita Novel Online - DendangHanya dengan tekad dan keberanian, pemuda itu dapat menyelesaikan sekolahnya hingga sarjana muda di pusat kota. Hal ini sebagaimana pernah diajarkan ayahnya. Berani hidup itu tak harus menunggu kaya lebih dulu. Ia seorang pemuda miskin dan ayahnya hanyalah seorang petani kecil di desanya. Dengan kemahirannya menulis cerita pendek dan diterbitkan di koran daerah, ia bisa menghidupi dirinya. Dengan tulisannya itu pula ia dapat menjalin hubungan dengan gadis Han (yang menurut pengakuan Han sendiri bahwa ia senang dengan cerita pendek yang terbit di koran), yang kemudian berlanjut ke pelaminan rumah tangga.

Sesungguhnya, ibu Han tak menyetujui anak gadisnya dipinang oleh pemuda itu. Namun, ayah Han lebih bijaksana. Ia merestui pernikahan anaknya itu. “Saya akan menikahkan kamu dengan anak saya, asal kamu tidak menyia-nyiakannya kelak,” dengan pasti ayah Han berkata (hlm. 49).

Tanpa adanya restu ibunya, Han tak bisa membawa barang apa pun. Ia harus mau menerima apa adanya dari suaminya. Lelaki yang bekerja di penerbitan koran daerah dengan penghasilan yang kecil, hanya mampu membawa istrinya ke dua buah kamar yang disewanya dari Pak Tua, sampai anaknya yang sulung lahir.

Kantor tempat ia bekerja menempatkannya di bagian penataan wajah dan pembetulan. Ia lebih senang dikenakan dinas malam daripada dinas siang. Alasannya adalah, waktu siang yang luang itu akan digunakannya menambah ilmu khususnya kesusastraan.

Namun celakanya, listrik di kantor penerbitan itu sering mati pada malam hari. Sehingga, bukan tidak mungkin pencetakan jadi terlambat. Untuk itu, ia dan teman-temannya yang dinas malam terpaksa kerja lembur. Lebih celaka lagi ketika pada suatu malam listrik mati sampai tiga jam lamanya. Akibat itu, ia dipanggil untuk menghadap pemimpin umum. Salah cetak yang begitu fatal telah terjadi. Pemimpin umum masih memberi kelonggaran kepadanya. Ia dipindahkan ke bagian iklan.

Di bagian ini ia ingin memperbaiki kesalahannya tempo hari. Ia ingin meningkatkan konsumen iklan yang dirasakan sangat merosot. Usahanya itu ternyata tidak sia-sia.
Di bagian iklan ini ia tidak dikenakan dinas malam. Ada waktu luang dari siang, sepulang jam kerja, sampai malam. Waktu luang itu akan digunakannya untuk melanjutkan sekolahnya hingga sarjana penuh. Namun, sebenarnya istrinya tak menyetujui suaminya melaksanakan maksudnya itu. Sebab, dengan begitu, suaminya tak mempunyai waktu luang untuk keluarga. Namun, Han tak bisa berbuat banyak dengan penjelasan-penjelasan suaminya tentang sekolah dan masa depan mereka, apalagi saat itu Han sedang menanti kelahiran anaknya yang kedua. Timbullah pertengkaran demi pertengkaran antara suami-istri itu.

Menjelang kelahiran anaknya yang kedua, ia dan beberapa temannya pulang kampung. Kepulangan mereka itu disebabkan oleh pembangunan masjid di tanah kelahiran mereka. Dalam perjalanan pulang dari kampung, ban motor milik seorang temannya pecah sehingga perjalanan pulang itu jadi terlambat. Setibanya di kota P, ia mendapati istrinya telah dilarikan tetangganya ke rumah sakit. Han melahirkan.

Pertengkaran suami-istri itu semakin meruncing. Sebuah postcard bergambar seorang wanita teman sekolahnya telah menjadikan Han bertambah berang. Ia mendapat caci-maki dari istrinya, “Ini lihat! Apa yang kamu lakukan babi!” (hlm. 158).

Sekalipun ia telah menjelaskan kepada istrinya bahwa wanita dalam gambar itu adalah hanya temannya sesama sekolah, namun Han tak bisa memaafkannya. Pikirannya menjadi kusut. Pekerjaannya di kantor ia serahkan kepada bawahannya. Ia mengetik surat untuk ayahnya di kampung. Isi surat itu tak lain adalah mengadukan permasalahan keluarganya dan sekaligus memberitahukan rencana perceraiannya. Sebab, menurutnya, istrinya sudah sampai kelewat batas. Untuk beberapa hari pun ia tak masuk kuliah karena malu kepada rector yang telah mengetahui persoalan rumah tangganya dari pengaduan istrinya.

Dari beberapa temannya sesama seniman, ia mendapat saran untuk mempertimbangkan kembali keputusannya itu. Terlebih lagi saat ia ingat akan ajaran agama Islam. Perceraian adalah sebuah bencana besar. Hasil koreksi terhadap dirinya membawanya pada keinginan untuk memeriksakan dirinya dan istrinya ke psikiater atau dukun. Namun, niat itu ia urungkan. Sebab, menurutnya jalan masih panjang dan banyak. “Jalan yang mana pun dan berapa pun panjangnya, batinnya belum ingin menyerah” (hlm. 180).

Inilah yang menjadi tekad lelaki itu. Yang penting baginya adalah berusaha untuk tetap hidup dan menghidupi diri dan keluarganya, betapapun ia harus melewati berbagai rintangan. Istri dan anak-anakny adalah tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia tak boleh menyerah; harus tetap tabah mengarungi kehidupan ini sampai titik akhir hidupnya di dunia.

Resensi Novel - Tentang Novel

                                                                            ***
Novel Dendang karya Darman Moenir ini sebenarnya menggunakan bentuk akuan (first person narrator). Satu hal yang menarik adalah adanya perkembangan watak pada diri tokoh “aku”. Menarik karena Darman Moenir mencoba pula menghadirkan konflik yang terjadi dalam diri tokoh “aku” itu sebagai konflik psikologis. Dengan begitu dialog antar tokoh hampir selalu diikuti dengan monolog-monolog panjang; suatu gaya penceritaan yang banyak kita jumpai pada novel-novel psikologis˗˗bahkan juga arus kesadaran (stream of consciousness).

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Cerita Novel Online - Rafilus

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Budi Darma
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1988

Jika dikatakan bahwa Rafilus telah mati dua kali dan badannya tidak terbuat dari daging, melainkan dari besi itu tidak akan hancur, itu sebenarnya hanyalah pikiran Tiwar saja yang sering ngelantur kemana-mana. Memang, pikiran Tiwar yang membayangkan macam-macam itu, sering tidak hanya membuatnya hanyut ke dalam dunia yang ia bayangkan sendiri, melainkan juga merasa bahwa bayangannya itu benar-benar terjadi. Di mata Tiwar atau orang-orang yang kebetulan berjumpa dengan Rafilus, lelaki itu telah mengundang banyak perhatian. Kadang-kadang kulitnya mengkilap seolah-olah tubuh Rafilus benar-benar dari besi. Matanya merah mirip mata setan, kalau ia benar-benar setan. Demikian pikiran Tiwar sering merasa terganggu oleh sosok tubuh Rafilus.

Suatu ketika Tiwar memenuhi undangan Jumarup, hartawan dan dermawan yang sudah terkenal di Surabaya. Jumarup yang menyelenggarakan pesta khitanan anaknya mengundang banyak orang  yang sebenarnya tidak dikenalnya, termasuk Tiwar dan Rafilus. Ternyata, Jumarup, anaknya, dan kerabat keluarganya tidak hadir dalam pesta itu. Jadi, para tamu hanya dilayani oleh para pelayannya. Pada saat itulah, Tiwar berkesempatan untuk mengamati kembali Rafilus. Semakin ia mengamati, semakin keanehan-keanehan dalam diri Rafilus.

Sementara Tiwar berusaha mendekati Rafilus, sekadar untuk dapat berbincang-bincang dengannya, ketidakhadiran Jumarup telah membuatnya sangat kecewa. Ia menduga, Jumarup mengundang semua orang yang tak dikenalnya itu semata-mata agar orang tahu keadaan rumahnya, atau memang sengaja untuk menghina semua orang. Belakangan diketahui bahwa ketidakhadiran jutawan itu karena ia jatuh sakit dan penyakitnya makin parah.

Tiwar rupanya masih juga penasaran. Rafilus tetap bagai makhluk aneh bagi Tiwar. Oleh karena itu, ketika opas Munandir mengantar surat Pawestri untuk Tiwar, ia lebih suka menanyakan asal-usul Rafilus kepada opas pos itu. Dari cerita Munandir, sedikit banyak diketahui tempat tinggal dan kebiasaan Rafilus. Konon Munandir sering pula diberinya makan dan sejumlah uang yang tidak sedikit. Rupanya Rafilus selalu berusaha berbuat baik kepada opas pos itu. Dari cerita Munandir pula diketahui pula bahwa Rafilus memiliki kekuatan yang hampir sama denganVan der Klooning, seorang Belanda yang hidup sendiri seperti halnya Rafilus. Namun, perlakuan Rafilus dan Van der Klooning sangat berlawanan dengan seorang Belanda lainnya. Belanda yang satu itu bernama Jaan van Kraal. Ia selalu memperlihatkan sikap bermusuhan dengan setiap orang yang datang ke rumahnya, termasuk juga Munandir yang secara tetap menyampaikan surat maupun wesel pos.

Tiwar juga secara tetap menerima surat dari Pawestri. Tentu saja ia menerima surat itu melalui Munandir. Sang opas pos yang belakangan diketahui sudah pensiun. Pertemuan Tiwar dengan Pawestri yang berkembang jadi korespondensi bagi keduanya, terjadi sekitar lima bulan sebelum Tiwar bertemu dengan Rafilus. “Saya bertemu dengan Pawestri untuk pertama kali di kantor ‘Surabaya Kota’…” (hlm. 55), demikian pengakuan Tiwar. Kejadiannya bermula dari hal yang bagi keduanya tak terduga. Secara kebetulan, keduanya terkena lingkaran foto berhadiah yang diselenggaraan harian itu. Keduanya, secara sendiri-sendiri lalu datang ke Surabaya Kota. Di situlah mereka bertemu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu, mereka pun sepakat untuk melangsungkan pernikahan.

Entah perkawinan itu benar-benar terjadi atau hanya dalam pikiran Tiwar, bukanlah persoalan bagi Tiwar. Begitu pula bagi Pawestri, yang sangat mendambakan seorang anak. Yang penting adalah Tiwar mengetahui asal-usul dirinya. Maka, lewat surat-surat yang ditulisnya, terungkaplah pengakuan Pawestri bahwa ia seorang anak yang tak jelas siapa ayahnya. Ia juga bercerita tentang kesibukan di kantornya yang membuat dirinya mirip sebuah mesin yang harus melayani sekian banyak orang. Ada pula cerita tentang siapa sebenarnya kedua orang Belanda, Van der Klooning dan Jaan van Kraal.

Bagitulah, berbagai cerita disampaikan oleh Pawestri kepada Tiwar lewat serangkaian suratnya. Belakangan, ia meminta tolong kepada Tiwar agar bersedia mempertemukan dirinya dengan Rafilus. Rupanya Pawestri juga merasa begitu terpesona pada keanehan tubuh Rafilus. Menurut wanita itu, Rafiluslah laki-laki yang mampu memberi benih yang ia harapkan sehingga kelak akan lahir seorang anak yang perkasa. Pawestri berusaha menarik perhatian Rafilus, tetapi orang itu˗˗kalau benar dia orang˗˗malah bersikap acuh tak acuh, bahkan berkesan hendak memperhinakan Pawestri.

Tiwar yang pada dasarnya juga ingin tahu lebih banyak perihal Rafilus, ditambah lagi dengan adanya permintaan Pawestri, segera melakukan pencarian. Namun, ketika ia berhasil menjumpai Rafilus di rumahnya, Tiwar justru makin merasa penasaran. Rafilus makin membuatnya tak habis mengerti.

Sejalan dengan itu, berbagai peristiwa yang dialami Tiwar, makin membuatnya terlelap dalam pikiran-pikirannya yang selalu melantur ke mana-mana. Munandir tewas tergilas kereta. Ia sendiri nyaris hancur tertabrak kereta yang sama. Lalu, kecelakaan beruntun terjadi. Seorang laki-laki tertabrak sebuah mobil dan penabraknya kabur begitu saja meninggalkan mayat yang tergeletak di tengah jalan. Belakangan diketahui bahwa kemungkinan besar yang menabraknya adalah Sinyo Minor, yang juga kemudian mati ditabrak Rafilus.

Sedikit demi sedikit Tiwar mulai mengetahui asal-usul Rafilus, dan siapa sesungguhnya dia. Namun, pada saat tabir yang menyelimuti diri Rafilus mulai terkuak, Rafilus tewas tertabrak kereta. Saat itu Tiwar baru saja berhasil menemui Rafilus dan Pawestri. Pertemuan itu sendiri berakhir buntu sebab masing-masing tak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian, Tiwar mengajak Rafilus dan Pawestri pergi dengan mengendarai mobil Rafilus. Pada saat mobil melintasi rel kereta api, mobil itu tiba-tiba berhenti. Saat itulah kereta datang. Tiwar dan Pawestri selamat. Namun, Rafilus tewas dengan kepala menggelinding, terpisah dari badannya. Itulah akhir hidup Rafilus si misterius.

Kematian Rafilus ternyata mengundang masalah. Tak ada seorang pun, termasuk RT dan RW-nya, mengenali Rafilus. Orang-orang pun bingung, akan dikubur di mana mayat Rafilus. Beruntung, pada saat semua orang tak dapat menentukan tempat penguburannya, datang seorang yang bernama Rabelin. Ia tak mengenal Rafilus, tetapi dialah yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan penguburan Rafilus. “Lalu ia berbicara keras-keras, seolah sedang memimpin rapat orang-orang dungu. Rapat memutuskan, Rafilus akan dimakamkan di Pemakaman Ngagel besok pagi” (hlm. 184). Pemakaman itu konon untuk peristirahatan terakhir orang-orang terkemuka. Di sanalah Rafilus akan dikuburkan. Esoknya, ambulans membawa mayat Rafilus menuju pemakaman Ngagel. Kalau orang-orang terhormat yang akan dimakamkan di pekuburan itu selalu diiringi oleh para pelayat, lengkap dengan parade kehormatannya, Rafilus hanya diantar oleh beberapa orang saja, termasuk Tiwar. Pada saat yang sama, Jumarup yang entah karena apa mendadak mati, juga akan dikuburkan di sana. Namun, mengingat Jumarup termasuk orang dermawan yang kaya-raya dan dikenal luas masyarakat Surabaya, pemakamannya diiringi oleh sekian pelayan, sekian kendaraan, dan sekian parade. Akibatnya, ambulans yang membawa Rafilus tersisih. Jalan menuju pemakaman itu dengan sendirinya macet.

Ambulans yang membawa mayat Rafilus tertahan sekian lama dan hanya dapat bergerak merangkak. Lalu, pada saat ambulans itu melewati rel kereta api, mendadak datang kereta api dengan kecepatan luar biasa. Semua penumpang yang berada dalam ambulans melompat ke luar, menyelamatkan diri. Tinggallah mayat Rafilus. Untuk kedua kalinya kereta menabrak tubuhnya. Kembali kepala Rafilus menggelinding, terpisah dengan tubuhnya. “Kepala Rafilus menggelinding lagi, seolah memang sudah tidak sudi lagi bersatu dengan tubuhnya. Entah dengan cara bagaimana, kepalanya meloncat ke tiang, menancap, dan mengejek orang-orang yang mendekatinya” (hlm. 186).

                                                                   ***
Novel karya Budi Darma ini sesungguhnya amat unik. Oleh karena itu, Nirwan Dewanto dalam resensinya yang dimuat di harian Kompas, menyebutkan novel ini merupakan novel pengakuan.

Oleh karena semua peristiwa itu muncul lewat pengakuan para tokohnya, maka terkesan novel ini lebih mementingkan gagasan yang ada dalam pikiran para tokohnya. Novel-novel yang seperti itulah˗˗yang lebih mementingkan gagasan˗˗yang disebut sebagai aliran sastra gagasan (literature of ideas).
Studi terhadap novel ini pernah dilakukan secara cukup mendalam oleh Sutini (1991) yang melihat tokoh-tokoh novel Rafilus sebagai manusia-manusia absurd.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Sunday

Cerita Novel Online - Di Kaki Bukit Cibalak

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Ahmad Tohari
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1986

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

Penduduk Desa Tanggir di kaki bukit Cibalak, akhir-akhir ini mulai ramai. Pasalnya, dalam waktu dekat mereka akan menyelenggarakan pesta demokrasi tingkat desa, yaitu pemilihan kepala desa. Lalu, sebagaimana biasanya dalam menghadapi keadaan seperti itu, para calon desa mulai memasang intrik-intriknya. Baik dengan cara sembunyi-sembunyi, maupun terang-terangan.

Ternyata, ada lima orang yang mencalonkan diri. Namun, hanya dua calon yang konon paling punya peluang untuk menang dalam pemilihan, yaitu Pak Badi yang lulusan SMEP dan Pak Dirga yang konon lebih popular dibandingkan keempat calon lainnya.

Pambudi, seorang pemuda berusia 24 tahun yang bekerja mengurus lumbung koperasi, berdiri di belakang Pak Badi. Namun, hasil penghitungan suara setelah berlangsungnya pemilihan, ternyata mengatakan lain. Pad Dirga-lah yang terpilih sebagai kepala Desa Tanggir. Tentu saja Pambudi agak kecewa dengan hasil itu. Sungguhpun demikian, kekalahan calonnya harus ia terima dengan lapang dada.

Kekecewaan Pambudi sangat beralasan, sebab kepala desanya yang baru tidak jauh berbeda dengan kepala desa sebelumnya. Kepala desa itu mulai memperlihatkan kecurangannya dalam mengelola kas desa. Di samping itu, kerja sama Pak Dirga dengan para tengkulak, sama sekali menutup kemungkinan lumbung padi yang diurusnya untuk kepentingan rakyat Desa Tanggir, akan meraih keuntungan. Pemuda itu pun akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan lain.

Keputusannya sudah bulat ketika ada seorang warga desa yang berniat meminjam padi, ditolak kepala desa. Padahal, perempuan tua yang bermaksud meminjam padi itu sangat membutuhkan uang sekadar untuk dapat berobat ke Yogya. Sikap kepala desa itulah yang membuat Pambudi segera menyatakan pengunduran dirinya dari pekerjaannya mengurus lumbung desa.

Karena Pambudi telanjur berniat menolong wanita tua itu, yang bernama Mbok Ralem, ia mendatangi surat kabar Kalawarta di Yogya. Pemuda itu menemui pemimpin harian itu, lalu mengusulkan agar dibuka “dompet amal” guna membiayai pengobatan Mbok Ralem yang mengidap penyakit kanker ganas.

Tindakan pemuda itu ternyata membuat pemimpin Kalawarta senang dan mengagumi kreativitasnya. Namun sebaliknya, di desanya Pambudi dibenci oleh sang kepala desa. Belakangan Pak Dirga berusaha memfitnah pemuda idealis itu. Tidak tahan dengan teror dan tekanan kepala desanya, Pambudi terpaksa menyingkir ke Yogya. Di kota ini ia berketetapan hati untuk bekerja sambil belajar, melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi. “Masuk ke kampus! Aku tidak ragu sedikit pun untuk berkata bahwa apa yang layak kaulakukan sekarang ini adalah bersekolah lagi” (hlm. 113), begitulah Topo, sahabat Pambudi, mengusulkan kepada Pambudi. Usul itu pun dilaksanakan.
Sambil mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Pambudi bekerja sebagai  pelayan toko milik Nyonya Wibawa alias Oei Eng Hwa. Ternyata, dalam pelaksanaannya, pemuda itu tidak hanya bekerja sebagai pelayan toko, tetapi sekaligus menjadi pembantu nyonya itu. Meskipun demikian, ia merasa senang juga karena masih bisa sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Dalam perkembangannya kemudian, gara-gara sebuah teka-teki silang, Pambudi menjadi akrab dengan Mulyani, anak majikannya. “Menjelang ulangan umum, Mulyani memintanya membantu belajar.. Pada saat belajar bersama itulah kedua anak muda itu saling mengenal lebih baik” (hlm. 125).

Dalam suatu kesempatan, Pambudi ditawari bekerja di harian Kalawarta. Usulnya beberapa waktu lalu mengenai “dompet amal” untuk Mbok Ralem, merupakan salah satu alasan Pambudi diterima di harian itu. Tentu saja ia tidak perlu lagi menjadi pelayan toko.

Sesuai dengan rencananya semula. Ia bekerja sambil melanjutkan sekolahnya. Diterimanya ia di sebuah perguruan tinggi serta profesi kewartawanannya telah memungkinkan pemuda itu mulai menapakkan kariernya dengan pasti. Sementara itu, hubungannya dengan desa halamannya tetap berlanjut, terutama pada Sanis, gadis desa itu. Namun, di kemudian hari Pak Dirga menggaet Sanis untuk dijadikan istri mudanya.

Minat Pambudi terhadap kemajuan desa agaknya mendapat saluran yang tepat di Kalawarta. Seri tulisannya mengenai itu ternyata berpengaruh besar dan mendapat sambutan luas. Di samping itu, ia juga terus berusaha membongkar kecurangan-kecurangan yang dilakukan kepala desa Tanggir.

Akhirnya Pak Dirga diberhentikan. Lelaki yang doyan kawin itu terbukti banyak melakukan penyelewengan keuangan desa dan tindak criminal. Keberhasilan Pambudi membongkar kecurangan kepala desanya, diikuti pula dengan keberhasilannya di bidang studi. Selain itu, hubungan Pambudi dengan Mulyani tetap berlanjut. Lalu ketika ada desakan dari gadis Tionghoa itu, ia tak perlu lagi membohongi dirinya sendiri. “Pambudi terpojok. Ia harus mengakui bahwa percuma saja terus-menerus munafik. Maka, diangkatnya wajah Mulyani. Mereka bertatapan. Hati dan jiwa keduanya bertatapan” (hlm. 190). Jalan lempang membentang di hadapan sepasang anak manusia itu.

Resensi Novel - Tentang Novel

                                                                     ***
Novel pertama Ahmad Tohari ini baru diterbitkan setelah Kubah (1980) dan trilogy Ronggeng Dukuh Paruk (1982, 1985, dan 1986) terbit. Di Kaki Bukit Cibalak adalah pemenang Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1978. Setahun kemudian, dimuat dalam harian Kompas sebagai cerita bersambung (10 Oktober-6 November 1979).

Sejauh ini belum ada yang mengambil novel ini sebagai bahan penelitian skripsi kesarjanaaan. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ida Sundari Husen (FSUI, 1988) yang melihat ironi yang terdapat dalam novel ini, memberi gambaran cukup jelas, salah satu kekuatan novel ini terletak pada kesengajaan pengarangnya memanfaatkan gaya bahasa ironi. Di samping itu, latar alam pedesaan dan cara berceritanya yang lugas dan lancar, merupakan kekuatan lainnya dari novel ini; setidak-tidaknya demikian tanggapan yang dapat disimpulkan dari sejumlah resensi buku yang dibicarakan Di Kaki Bukit Cibalak.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Saturday

Cerita Novel Online - Canting

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Arswendo Atmowiloto (26 November 1948)
Penerbit    : Gramedia
Tahun        : 1986


Entah bagaimana perasaan orang tuanya ketika Tuginem akan dijadikan istri Raden Ngabehi Sestrokusumo. Sebagai buruh batik yang secara turun-temurun mengabdi pada keluarga Sestrokusumo, orang tua Tuginem hanya percaya bahwa memang sudah demikianlah takdir yang digariskan Gusti Allah hingga membawa anak gadisnya menjadi seorang priyayi.

Bagi Tuginem, peruntungan seperti itu justru makin menyadarkan dirinya akan arti sebuah pengabdian. Berbakti lahir dan batin kepada suami˗˗dalam segala-galanya˗˗adalah pengenjawatahannya. Maka, ketika resmi menjadi istri Raden Ngabehi Sestrokusumo˗˗yang biasa dipanggil Pak Bei˗˗yang ada dalam pikiran wanita itu adalah berbakti dan menyenangkan suami. Ia pun tak lagi menjadi buruh batik, tak lagi menjadi wong cilik. Nama Tuginem pupus sudah karena ia kini resmi menjadi Bu Bei; dan itu berarti menjadi priayi, menjadi pengatur rumah tangga Dalem Ngabean Sestrokusuman.

Apa yang dilakukan Pak Bei, dengan mengawini Tuginem yang buruh pabrik, sesungguhnya merupakan tindakan yang menyimpang dari tradisi keraton. Ia sadar bahwa penyimpangan itu bukan tanpa mendatangkan sikap antipati, bahkan kecaman dari keluarga keraton lainnya yang kukuh mempertahankan tradisi keningratannya. Nyatanya, semua itu akhirnya berlalu sejalan dengan waktu. Pak Bei sendiri merasa cukup bahagia.

Dari perkawinan itu, satu per satu bayi dilahirkan. Mula-mula Wahu Dewabrata; kemudian berturut-turut Lintang Dewanti, Bayu Dewasunu, Ismaya Dewakusuma, Wening Dewamurti, dan si bungsu Subandini Dewaputri Sestrokusuma yang lalu biasa dipanggil Ni.

Begitulah, Bu Bei berhasil mengemban wangsit Sang Maha Pencipta. Baginya, Pak Bei adalah sosok seorang pelindung. Bu Bei percaya bahwa perlindungannya akan selalu mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu, ia pun merasa berkewajiban untuk menjadikan pelindungnya benar-benar kukuh kuat sebagai tonggak keluarga. Kesadaran ini pula yang menyebabkan Bu Bei harus mampu mengatur segala pengeluaran dan pemasukan yang memungkinkan sang pelindung tetap berdiri kokoh sebagai tonggak keluarga. Hal ini dilakukannya secara diam-diam, tanpa campur tangan suaminya.

Menurut Bu Bei, tugas suaminya sudah cukup berat. Sejumlah keluarga yang tinggal di Dalem Ngabean Sestrokusuman adalah juga tugas suaminya untuk terus menghidupi mereka turun-temurun, seperti juga yang diterima orang tua Bu Bei turun-temurun. Semua keluarga abdi dalem itu harus menerima perhatian dan perlakuan yang sebaik-baiknya. Untuk itulah, Bu Bei merasa perlu untuk tetap menghidupkan usaha batik keluarga Sestrokusumo.

Pasar Klewer adalah basisnya. Di sini Bu Bei tampil sebagai wanita karier. “Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bakti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan nafas” (hlm. 49).

Begitulah perjalanan hidup Bu Bei yang dalam situasi yang berbeda dapat memerankan perannya dengan sama baik, yakni sebagai istri dan ibu yang berbakti sepenuhnya untuk kepentingan keluarga, sebagai pengusaha, wanita karier yang harus gesit, tegas, dan berani˗˗tanpa ragu-ragu˗˗memutuskan dan menyelesaikan segala sesuatunya sendiri. Kedua peran itu pula yang mengantarkan anak-anaknya sampai pada cita-cita yang dirintis mereka masing-masing. Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri colonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi doktoranda yang kemudian menjadi kontraktor terkemuka, dan si bungsu Subandini Dewaputri menjadi sarjana farmasi. Mereka juga masing-masing sudah berkeluarga, punya anak, dan hidup bahagia; kecuali si bungsu yang baru menemukan calon suaminya, dan tinggal menentukan hari perkawinannya.

Namun sebelum itu, melihat keadaan Bu Bei yang semakin dimakan usia dan melihat usaha batik canting yang telah mengantarkan anak-anaknya menjadi manusia terhormat, makin mundur dan kalah bersaing dengan usaha batik yang lebih modern; tiba-tiba Ni ingin melanjutkan usaha batik ibunya. Keputusan yang diambil Ni ini tak diharapkan oleh Bu Bei. “Sejak pertama kali mendengar gagasan bahwa Bu Bei diminta untuk tidak mengurusi batik lagi, Ni merasa terpanggil untuk bertindak. Mengambil alih perusahaan batik” (hlm. 191). Mulailah terjadi geger melanda keluarga besar Sestrokusumo. Bu Bei, tak berapa lama sesudah itu, mendadak meninggal.

Persoalannya ternyata tidak berhenti sampai di sana. Ni kemudian dicurigai pula sebagai anak hasil hubungan gelap. Masalah pun lalu terus datang silih berganti. Pak Bei tetap tampil meyakinkan, menyelesaikan masalah. Namun, di antara anak-anaknya mulai timbul persaingan yang tak sehat; pertikaian terselubung terjadi dan masing-masing ingin memperlihatkan peranannya yang lebih menonjol. Mereka juga kurang setuju jika Ni melanjutkan usaha batik canting keluarga Sestrokusumo.

Ni tetap kukuh pada panggilan hati nuraninya. Ia harus melanjutkan usaha batik yang pernah dirintis ibunya, meskipun perusahaan-perusahaan batik yang lebih modern dan bermodal raksasa menggeser usaha batik tradhisional. Ni masih tetap yakin pada bayang-bayang masa lalu kebesaran usaha batik canting yang dirintis ibunya. Ia juga yakin merasa mampu untuk menghidupkannya lagi. Namun, kenyataan berbicara lain. Batik canting tetap tenggelam. Surut oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Sampai akhirnya Ni jatuh sakit dan nyaris dijemput maut. Pada saat itulah ia sadar, betapa ramanya dan kakak-kakaknya, serta buruh batik semuanya sungguh-sungguh mencintainya. Hal ini telah melahirkan sikap baru dalam dirinya. “Canting tak perlu mengangkat bendera tinggi-tinggi… karena Canting sekarang ini bukan cap yang dulu dianggap adi luhung oleh sebagian besar pemakainya” (hlm. 384).

Maka, tak ada pilihan lain bagi Ni. Jika ingin tetap hidup dan menghidupkan kembali usaha ibunya, ia harus melebur diri; Canting harus melebur dirinya: “Cara bertahan dan bisa melejit, bukan dengan menjerit. Bukan dengan memuji keagungan masa lampau, bukan dengan memusuhi. Tapi dengan jalan melebur diri. Ketika ia melepaskan cap Canting, ketika itulah usaha batiknya jalan” (hlm. 385-386).

Begitulah, sikap ini telah menghidupkan kembali harapannya. Ni berangsur-angsur sembuh. Ia lalu menikah dengan Himawan tepat pada hari selamatan setahun meninggalnya Bu Bei. Kakak-kakaknya ikut membantu memasarkan batik-batiknya atau mempromosikannya pada turis-turis asing. Para buruh dan abdi dalem kembali merasakan kehidupan yang hidup. Ketika anak pertamanya lahir, para abdi dalem itu menyambutnya dengan rasa syukur dan suka cita yang mendalam. Canting Daryono˗˗demikian nama bayi itu˗˗telah lahir.

                                                                       ***
Novel Canting ini pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung harina Kompas. Dengan subjudul “Sebuah Roman Keluarga” Canting memang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga; keluarga Jawa yang amat khas, lengkap dengan berbagai symbol dan tradisi keningratannya, filsafat dan sikap hidupnya, dan naluri-naluri tradisional yang makin terdesak oleh kemajuan zaman.

Analisis yang menarik terhadap novel ini˗˗yang dikaitkan dengan cerpen Umar Kayam, “Sri Sumarah”, dan puisi liris Linus Suryadi AG˗˗Pengakuan Pariyem˗˗pernah dilakukan oleh Bakdi Soemanto 1987 dalam makalahnya yang berjudul “Sri Sumarah, Pariyem, Bu Bei”. Menarik, karena menurut Bakdi, Bu Bei dalam Canting lebih merupakan reaksi atas gambaran citra wanita Jawa dalam “Sri Sumarah” dan Pengakuan Pariyem.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Friday

Cerita Novel Online - Bukan Rumahku

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Titis Basino P.I.
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1986

Cerita Novel Online - Bukan RumahkuSeorang duda kaya yang baru saja ditinggal istrinya membutuhkan seorang inang (babysitter) untuk mengasuh tiga orang putrinya. Martini yang memang pekerjaannya sebagai perawat, datang ke rumah pejabat tinggi itu. Saat itulah ia diterima bekerja di sana. Ia menempati salah satu kamar di rumah majikan barunya.

Dalam beberapa bulan saja, ketiga anak yang diasuh Martini˗˗yaitu Sali, Sungke, dan si bungsu yang tunawicara bernama Sani˗˗mersasa sesuai dengan pengasuhnya. Begitu pula sebaliknya. Suatu saat, di luar dugaan, majikannya bermaksud mengawini Martini. Tentu saja gadis itu terkejut, bingung antara percaya atau tidak percaya. Bagaimana tidak. Seorang pelayan, bodoh, dan miskin, tiba-tiba dilamar oleh seorang duda kaya-raya dan terhormat. Namun, naluri kewanitaannya mengatakan begini: “tentu aku akan dijadikan perempuan simpanannya. Dijadikan gundiknya? Bah, laki-laki tua sialan, aku akan dijadikan makanannya sambil disuruh mengasuh anaknya?” (hlm. 34).
Dengan kesadaran itu, Martini memutuskan untuk minggat. Pulang ke rumah orang tuanya di perkampungan kumuh. Namun, tinggal di rumah bedeng dengan lingkungannya yang hiruk-pikuk tidak membuatnya betah. Ia sudah telanjur terbiasa merasakan gaya hidup enak majikannya. Maka, ketika pesuruh majikannya datang menjemputnya lagi, gadis pengasuh anak itu, langsung menerima dan kembali ke pekerjaannya semula.

Majikannya yang duda itu sama sekali tak merasa tersinggung atas minggatnya Martini. Lelaki tua itu menyadari bahwa soal perbedaan agama mungkin menyebabkan keinginannya untuk mengawini babysitter-nya itu ditolak. Sebaliknya, bagi Martini, sikap majikannya malah membuatnya penasaran. Ia jadi ingin tahu bagaimana sesungguhnya masa lalu lelaki tua itu. Mulailah rahasia yang menyelimuti keluarga kaya itu terbongkar. Mula-mula melalui Mamat, pemuda yang sejak kecil menjadi pembantu keluarga itu. Konon, istri majikannya meninggal karena sakit ingatan.

Diketahui pula bahwa sejak kelahiran si bungsu, Sani, hubungan suami-istri itu memang sudah tidak wajar. Si istri merasa tak puas terhadap suaminya hingga ia mencari lelaki lain sebagai pemuas nafsu. Suaminya tak peduli dengan kelakuan istrinya, karena ia lebih suka berhubungan dengan sesame jenis, ia lelaki homoseksual. Setelah istrinya meninggal, yang menjadi pemuas nafsu lelaki tua itu adalah Mamat, pembantunya.

Martini mulai mengerti persoalan yang melanda keluarga majikannya. “Semua aku tanggapi dengan kesadaran. Aku tidak mengejek Mamat, dan tidak pula menyalahkan majikanku, kalau memang itu tuntutan rohaninya. Aku hanya bertambah pengetahuanku, betapa beragam kelakuan manusia” (hlm. 174-175). Begitulah kesadaran yang muncul dalam diri Martini. Masalahnya, sebelum ia mengetahui riwayat keluarga majikannya, ia telah resmi menjadi istri Basir, seorang pelaut. Jadi, baginya sekarang ia tetap bekerja dan mendapat uang. Bagaimana keadaan majikannya, bukanlah urusannya.

Kenyataannya, persoalannya tidaklah semudah itu. Seminggu setelah perkawinannya dengan Basir, Martini kembali bekerja, sedangkan suaminya berlayar. Saat itu, sangat kebetulah, Mamat berhenti dari pekerjaannya. Lalu, godaan pun datang dari sang majikan. Martini jatuh ke pelukan lelaki itu! Maka, sekali terjebak, seterusnya ia tak mampu melepaskan diri dari jebakan itu. Martini berperan ganda: sebagai inang pengasuh dan sekaligus sebagai wanita penghibur majikannya.

Begitu pula dengan kehidupan rumah tangganya. Pada saat Basir pulang, Martini berperan sebagai istri yang pasrah. Lalu, pada saat yang lain, apabila suaminya berlayar, ia menjadi pelayan yang bertugas ganda. Begitulah perjalanan hidup Martini. Sampai kemudian ia hamil dan kemudian melahirkan anak pertamanya. Dari sini muncul persoalan lain. Basir ternyata tak mampu memberikan benih yang dapat menjadikan Martini hamil, karena ia mandul. Martini sempat mengalami siksaan batin, tetapi kemudian padam ketika ada berita bahwa Basir meninggal dalam pelayarannya. Satu musibah yang justru memberi peluang lebih banyak bagi Martini untuk melanjutkan skandal gelapnya.

Hubungan gelap Martini dengan majikannya berlangsung terus. Sejalan dengan itu, kedua putri majikannya memilih tinggal di tempat lain, kecuali si bungsu. Tugas Martini kini mengurusi dan sekaligus melayani majikannya, terlebih lagi penyakit tua lelaki itu sudah sering kambuh. Martini kian terperosok ke dalam lingkaran setan, meskipun sekarang ia hanya mengatur segala urusan rumah tangga.

Suatu hari, rumah yang selama ini menjadi tempat skandal panjang itu, terpaksa dijual untuk membiayai majikannya yang semakin pikun. Martini bersama majikannya kemudian menempati sebuah rumah sederhana. Sejak itu, mulai timbul kesadaran baru dalam diri Martini. Kini ia tidak lebih sebagai seorang perawat laki-laki jompo. Namun, hakikatnya sama saja; sebagai seorang pembantu yang beberapa saat lagi akan tersingkir jika majikannya meninggal. Lalu, ke mana ia akan pergi, sedangkan rumah yang kini ia tinggal, bukan rumahnya.

Kesadaran itulah yang membuat Martini harus bersikap: “walau berat aku harus bisa meninggalkan tempat ini, yang kutinggalkan bersama semua peristiwa yang pernah kujalani… aku setia tinggal di sini selama bertahun-tahun, namun rumah ini tetap bukan rumahku” (hlm. 231). Sebuah kesadaran baru bagi Martini untuk memperbaiki masa lalunya yang kelam.

                                                                     ***
Sebenarnya novel ini cukup problematic, sekurang-kurangnya demikian yang terungkap dari sekitar lima resensi yang membicarakan buku ini. Novel ini oleh Yuliartiningsih (FSUI, 1991) pernah dijadikan sebagai bahan penelitian skripsi sarjananya.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Cerita Novel Online - Olenka

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Budi Darma
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1983; Cetakan III, 1986


Cerita Novel Online - OlenkaPertemuan antara Fanton Drummond dan Olenka hanya secara kebetulan. Mereka bertemu di lift apartemen Tulip Tree, tempat tinggal mereka. Pertemuan yang terus-menerus membuat Fanton tidak bisa melupakan bayangan Olenka dari pikirannya. Setiap saat Fanton selalu membayangkan wajah dan tubuh Olenka, sekaligus ingin memperistrinya.
Meskipun Fanton akhirnya mengetahui bahwa Olenka sudah bersuami dan mempunyai anak, ia tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan ia terkadang merasa cemburu pada Wayne Danton, seorang pengarang amatir, yang bisa memperistri Olenka.

Sebelum Fanton Drummond hadir dalam kehidupan Olenka, keadaan keluarga Wayne-Olenka sedang guncang walaupun belum sampai pada tahap perceraian. Keadaan itu disebabkan suami-istri itu mempunyai gaya hidup yang berbeda; Wayne seorang pengarang dan Olenka seorang pelukis. Di antara mereka tidak ada kecocokan. Wayne sering menempelkan sobekan-sobekan kertas, yang berisi kata-kata yang akan digunakannya dalam pembuatan cerpen atau novel, di dinding kamar; sedangkan Olenka sering membaca buku yang seolah-olah tidak mau ditegur orang lain.

Tingkah laku Fanton yang menunjukkan bahwa ia menginginkan Olenka dapat ditangkap oleh wanita itu. Mungkin karena Fanton sering memuji-muji hasil karyanya, Olenka menjadi akrab dengan pria itu. Bahkan, hubungan mereka semakin intim seperti layaknya suami-istri.

Fanton dan Olenka berjanji bahwa pada suatu waktu mereka harus berpisah. Lalu, memang demikianlah nyatanya. Mereka berpisah. Namun, kenyataannya Fanton tak bisa melupakan Olenka setelah mereka berpisah. Untuk menghilangkan kegelisahannya, Fanton berusaha melupakan dan menghilangkan bayangan Olenka dari pikirannya, tatapi justru terjerat pada bayangan tubuh Olenka. Akhirnya, ia berkelana mencari jejak wanita itu ke Indiana, Kentucky, dan kembali ke Illinois.

Di Chicago Fanton berkenalan dengan Mary Carson di hotel La Salle. Perkenalan singkat ini dimanfaatkan oleh Fanton untuk melenyapkan bayangan Olenka yang sering berkelebat dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyatakan cintanya keapada Mary. Namun, ditolak secara halus oleh wanita itu karena ia belum berpikir untuk kawin. Melihat kenyataan seperti ini, Fanton merasakan diri seperti melayang. Akhirnya, ia menulis surat-surat masturbasi; menulis surat untuk Mary, tapi tidak dikirim, melainkan disimpan beberapa hari, kemudian dibaca sendiri suratnya. Setelah itu, ia bertindak seakan-akan seperti Mary yang membalas suratnya˗˗padahal ia sendiri yang menulis surat jawaban itu˗˗, lalu disimpannya surat itu untuk beberapa lama, kemudian i abaca surat itu, demikian seterusnya.

Tak berapa lama setelah kejadian itu, Fanton mendapat surat yang sangat panjang dari Olenka. Dalam surat itu Olenka menceritakan asal-usulnya secara menyeluruh. Juga tentang rasa kasihannya kepada Wayne, tentang cintanya yang sesungguhnya kepada Fanton, bahkan kisah hidupnya sebagai lesbian dengan seorang wanita yang dinamainya Winifred.

Kisah hidupnya ini mirip dengan kisah hidup Ursula dan Winifred dalam novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Olenka juga mengatakan bahwa perkawinannya dengan Wayne hanyalah karena keterpaksaan, yakni agar ia dapat hidup normal sebagai seorang wanita. Meskipun Olenka mencintai Fanton, ia sadar bahwa bagaimanapun Wayne adalah suaminya dan Steven adalah anaknya, ia akan menolong hidup kedua orang itu.

Surat Olenka tersebut justru membuat Fanton semakin tergila-gila pada wanita itu. Ia kemudian mencarter pesawat terbang untuk mengelilingi Bloomington sekadar melupakan Olenka. Ia masih tetap berharap agar Olenka mengirimkan surat untuknya lagi, tetapi sia-sia, Olenka tidak pernah menulis surat lagi.

Fanton akhirnya dapat bertemu dengan Mary Carson lagi, yang kini sudah cacat akibat kecelakaan pesawat terbang yang ditumpanginya. Meskipun Mary cacat, Fanton masih bersedia mengawininya. Mary tetap menolak karena ia tak mau nantinya lelaki itu hanya aka berperan sebagai juru rawat saja. Padahal, dalam hati wanita itu sebenarnya ia sangat mencintai Fanton semenjak pertemuan mereka dulu di Chicago, tetapi pada waktu itu Mary dalam keadaan bimbang, sehingga tidak dapat memberikan suatu keputusan.

Sepulangnya Fanton dari Aliquippa˗˗dari rumah Mary˗˗, ia membaca berita di surat kabar yang berisi tentang pemalsuan lukisan oleh Olenka Danton˗˗yang kemudian ditemui pingsan di kamar hotelnya karena terlalu banyak menelan obat tidur.

Selanjutnya, Fanton berusaha menemui Olenka di rumah sakit. Namun, “menurut Loket Penerangan Rumah Sakit, Olenka sudah meninggalkan rumah sakit lebih kurang  seperempat jam yang lalu melalui pintu samping. Saya tidak menyesal, tidak kecewa. Yang saya pendam dalam hati hanyalah kekosongan” (hlm. 213).

Begitulan, ketidakhadiran Olenka kali ini sama sekali tak membuatnya bersedih. Ia sudah tak lagi memikirkan Olenka. Yang dipikirkannya kali ini adalah dirinya sendiri yang tak pernah ia mengerti siapa dirinya, mau ke mana dan akan berhenti di mana perjalanannya. Ia kini sadar bahwa apa yang ada dalam hati nuraninya, dan apa yang ada dalam pikirannya harus dapat dipertanggungjawabkan. “Dan saya harus mempertanggungjawabkannya. Maka, dalam usaha saya untuk menjadi pemeluk teguh, saya bergumam, ‘Tuhanku, dalam termangu, aku ingin menyebut nama-Mu’” (hlm. 215). Inilah kesadaran Fanton akan keberadaan dirinya sebagai makhluk-Nya yang tak mempunyai kekuasaan apa-apa dibandingkan kekuasaan-Nya.

                                                                 ***
Sambutan para kritikus sastra˗˗ yang terungkap sejumlah resensi˗˗umumnya memberi tanggapan yang memuji sebagai karya pembaharuan atau sebagai karya eksperimental yang berhasil. Menurut Panuti Sudjiman (1988: 113) teknik penceritaan dalam Olenka, termasuk teknik penceritaan kolase.

Novel Olenka sebelumnya adalah pemenang hadiah pertama Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980. Setelah diterbitkan sebagai buku pada tahun 1983, novel ini berhasil memperoleh hadiah sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun yang sama.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Thursday

Cerita Novel Online - Anak Tanah Air

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Ajip Rosidi (31 Januari 1938)
Penerbit     : Gramedia
Tahun        : 1985


“Bersekolah di Jakarta!... Tentu lain belajar di kota besar daripada di sebuah kota kecil kabupaten…” (hlm. 10). Inilah salah satu alasan mengapa Ardi menyambut gembira tawaran pamannya, Abdulmanan, untuk ikut dan bersekolah di Jakarta. Maka, walaupun perjalanan ke ibu kota cukup melelahkan, terutama mengingat penuhnya kendaraan sebagaimana biasanya selepas Lebaran, Ardi dengan senang hati menurut saja apa yang dikatakan pamannya.

Setelah di Jakarta, Ardi baru mengetahui, ternyata tempat tinggal pamannya lebih mirip gubuk daripada rumah. Itupun ternyata sudah ditempati bertiga; pamannya, Muhammad siswa SMA yang juga bekerja di Departemen Keuangan, dan Rusmin, siswa Taman Dewasa. Kini, ditambah dengan Ardi. Jadi, gubuk kecil itu ditempati berempat.

Meskipun penghasilan pamannya tidak besar, niat menyekolahkan Ardi tetap ia laksanakan. Ardi dimasukkan di Taman Dewasa supaya dapat berangkat bersama-sama dengan Rusmin. Selepas sekolah Ardi lebih banyak mengobrol dengan Muhammad yang usianya hampir sebaya dengan paman Abdulmanan, daripada dengan Rusmin yang usianya tidak jauh  berbeda dengan Ardi.

Jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh dan ditempuh anak tanggung itu dengan berjalan kaki, cukup membuatnya sengsara. Paling tidak, itu menyangkut soal kakinya yang belum terbiasa bersepatu. Namun, keadaan yang tak enak itu tidak mengurangi niatnya untuk bersekolah. Belakangan, ia juga bergaul dengan siswa Taman Madya yang setingkat dengan SLTA. Ardi mulai tertarik pada kesenian. Ia juga mulai mencoba membuat beberapa sketsa yang ternyata berhasil dimuat di majalah Mimbar Indonesia. Pengaruhnya ternyata cukup besar. Anak tanggung itu makin giat melatih melukis dan kegiatan kesenian lainnya.

Lulus Taman Dewasa, Ardi masuk Taman Madya. Kegiatannya makin bertambah. “Ardi juga bersekolah sore hari sekarang. Maka, waktu pagi digunakannya untuk berkunjung ke rumah kawannya untuk bercakap-cakap atau melukis” (hlm. 103). Dalam pada itu, suhu politik menjelang pemilu sedikit banyak telah mendapat perhatian juga, walaupun hanya sebatas mendengarkan cerita-cerita, mengikuti beritanya atau diskusi tentang itu.

Pada saat yang demikian, tiba-tiba saja daerah tempat tinggal Ardi dilanda kebakaran, yang memakan banyak rumah. “Mungkin saja ada orang melepas api untuk membakari rumah rakyat, agar pemerintah dapat main dengan orang-orang berduit. Tetapi mungkin pula sebaliknya. Orang-orang melepas api membakari rumah rakyat untuk membuat rakyat makin tidak puas kepada pemerintah. Bukankah sekarang menghadapi pemilihan umum?” (hlm. 115).

Selepas Taman Madya, Ardi tidak melanjutkan pendidikannya. Ia juga tidak lagi tinggal bersama pamannya. Ia kini tinggal bersama Ahmad, sesama pelukis, yang kegiatannya akhir-akhir ini banyak tercurahkan pada organisasi pemuda. Organisasi seperti itu memang ramai bermunculan sejalan dengan meningkatnya suhu politik. Namun, Ardi lebih menekuni kegiatan melukis.

Dalam sebuah pameran tunggal karya Hasan, teman sesama pelukis, Ardi berkenalan dengan Rini dan Hermin. Atas usul Rini yang agar dirinya dijadikan model, Hasan dan Ardi kemudian datang ke rumah gadis itu. Dari sini hubungan mereka makin rapat, khususnya Ardi dan Hermin. Sampai pada suatu saat sepasang anak manusia yang berlainan jenis itu bersepakat untuk menumbuhkan perasaan cinta masing-masing. “Kukira cinta itu tumbuh, seperti benih, kalau menemukan tanah yang subur. Cintaku menemukan persemaian dalam dirimu. Tidakkah itu cukup?” (hlm. 173). Begitulah, keduanya tenggelam dalam lautan cinta.

Malamnya, tanpa diduga Ardi ditawari untuk bekerja pada sebuah majalah. “Aku merasa takjub. Sore itu aku memperoleh cinta dan  malam ini memperoleh pekerjaan” (hlm. 178).

Setelah merasa mempunyai penghasilan tetap, Ardi pindah dari rumah Ahmad. Ia menyewa sebuah rumah kecil di bilangan Setiabudi. Hubungan dengan kekasihnya makin rapat, bahkan tidak jarang melakukan hubungan intim layaknya suami-istri.

Sementara itu, kelompok seniman Lekra/PKI dengan cara-cara halus dan terselubung, berhasil melibatkan Ardi dalam suatu penandatanganan Konsepsi Presiden. Sebagai seniman, pelukis muda itu tidak tahu-menahu perihal maksud dan tujuan konsepsi tersebut. Ia juga tidak menduga jika tanda tangannya˗˗yang menurut Suryo, anggota PKI, hanya urusan administrasi˗˗akan dipublikasikan secara luas dan dimuat di media massa. Akibatnya sangat fatal! Ardi dipandang sebagai orang yang sudah menjadi anggota komunis. Ayah Hermin yang antikomunis, tentu saja tidak mau anaknya bergaul dengan anggota partai yang dibencinya. Hermin dilarang berhubungan dengan Ardi. Belakangan, diketahui pula bahwa Hermin ternyata lebih menginginkan pemuda lain.

Pelukis muda yang sebenarnya berbakat itu, masih juga belum menyadari masalah yang sedang dihadapinya. Ia terlalu polos. Maka, ketika Ahmad, sahabatnya, juga menjauhi, Ardi masih menganggapnya sebagai alasan yang dicari-cari. Lebih dari itu, sketsa-sketsanya yang dikirim ke beberapa majalah juga tak ada satu pun yang dimuat, Ardi dikucilkan oleh pacarnya dan sahabat-sahabatnya.

Dalam kesendirian yang menyakitkan, dalam keterpencilan dan kedukaannya, tiba-tiba datanglah Suryo mendesak agar Ardi menyelenggarakan pameran tunggal. Suryo juga menawarkan pekerjaan. Lebih dari itu, kader PKI yang lihai itu menyelipkan selembar ribuan yang waktu itu benar-benar dibutuhkan pelukis malang itu. Dalam keadaan seperti itulah, tanpa minta pertimbangan sahabat-sahabatnya, Ardi menyatakan kesediaannya.

Pameran tunggal karya pelukis Ardi jadi dilaksanakan dengan pengunjung yang luar biasa ramainya. Koran-koran memujinya setinggi langit. Sejak itulah, pelukis yang masih juga belum mengerti intrik-intrik politik, aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan Lekra/PKI. Seniman lugu itu benar-benar sukses, baik materi maupun popularitasnya.

Setelah beberapa kali ia dikirim ke luar negeri, tanpa sengaja ia bertemu dengan sahabatnya, Hasan. Temannya yang satu ini sama sekali tidak mau terlibat urusan politik. Ia merasa senang ketika Ardi menyatakan niatnya akan keluar dari anggota Lekra/PKI. Pemuda itu baru menyadari kekeliruannya. Tetapi belum sempat niat itu dilaksanakan, terjadi tragedi nasional: pengkhianatan PKI 30 September 1965. Ardi menyelamatkan diri ke Jawa Tengah, tetapi tak diketahui nasibnya. Begitu juga Hasan, sahabatnya, entah berada di mana. Hanya Hasan yang memiliki keteguhan hati untuk tidak ikut terlibat dalam kegiatan politik. “Menurut hematku, komunisme adalah paham yang akan selalu dapat tumbuh subur dalam setiap masyarakat yang mempunyai kondisi tertentu. Maka, yang penting adalah kita harus mengusahakan agar masyarakat kita jangan sampai mempunyai kondisi yang dapat menjadi bumi yang subur bagi tumbuhnya paham itu” (hlm. 312-313).

                                                                           ***
Novel Anak Tanah Air: Secercah Kisah ini, konon ditulis dalam dua versi: versi pertama ditulis di Iwakura, Kyoto, November 1980; versi kedua (final) ditulis di Hashimot-cho, Osaka, Agustus 1983. Deskripsinya yang cukup terinci mengenai cara-cara PKI menyebarkan pengaruhnya, terkesan semacam dokumen sejarah yang terjadi pada waktu itu. Demikian pula gambaran kehidupan para seniman waktu itu, banyak melibatkan nama dan peristiwa yang memang ada secara faktual. Dalam hal tersebut itulah kekuatan novel ini.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Cerita Novel Online - Bako

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Darman Moenir (27 Juli 1952)
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1983; Cetakan III, 1988

“Biola tua itu kini kian hari kian berdebu. Ia diletakkan di atas lemari” (hlm. 11). Alat musik itu memang sudah hampir sepuluh tahun lamanya dibiarkan tak terawat. Padahal, dulu si bocah laki-laki yang biasa dipanggil Man itu, sering melihat ayahnya memainkannya. Ia belum juga mengerti, mengapa ayahnya kini tak lagi mau menjamah benda itu. Dan sesungguhnya ia ingin sekali mengetahui alasan ayahnya menghentikan kebiasaannya memainkan biola itu.

Cerita Novel Online - BakoSuatu ketika ayahnya bercerita tentang pengalaman masa mudanya. Dari cerita itulah bocah sedikit banyak mengetahui bahwa ayahnya pernah gagal menamatkan sekolah di SMA. Kegagalan itulah yang mendorong ayahnya pulang ke kampung halaman. Walaupun begitu, semangat untuk menuntut ilmu sama sekali belum pudar. Ayahnya kemudian memasuki SGB (Sekolah Guru Bawah) di PP. Diceritakan pula bahwa sewaktu di SMA, sang ayah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita, putri sulung seorang polisi.
Hubungan cinta itu terus berlanjut lama, walaupun orang-orang di kampungnya menentang hubungan itu. Diceritakannya pula bahwa wanita itu sudah tidak gadis lagi. Ia seorang janda dengan dua orang anak. Dan, bukan orang sekampungnya. Namun, cinta lebih kuat dari semua itu. Perkawinan itu pun terjadi hingga lahir seorang laki-laki yang kemudian disusul oleh adik-adiknya. Oleh karena itulah, si bocah di bawa ke rumah bako, yakni keluarga sepertalian darah dengan ayah.

Belakangan, setelah anak laki-laki itu beranjak dewasa, ia mengetahui bahwa ibunya menjadi gila karena ditinggal lama oleh sang ayah. Meskipun begitu, ia masih belum mengerti mengapa ibunya sampai menjadi gila. Tidak adakah penyebab lain yang membuat pikiran ibunya sampai tak waras begitu. Itulah pertanyaan yang selalu ia coba jawab atas dasar cerita-cerita ayahnya kemudian, dan keterangan dari neneknya.

Satu hal yang jelas adalah keadaan dirinya cacat. Penyakit polio-lah yang membuat kakinya cacat. Namun, itu tidak menjadikan lelaki itu putus harapan. Ia tetap bertekad untuk terus melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Paling tidak, ia berhasil merasakan pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia Negeri.

Selamat pendidikan di salah satu akademi, pemuda itu tidak langsung bekerja. Ayahnya sebenarnya berharap agar ia dapat bekerja sebagai pegawai negeri. Namun, pemuda itu justru berpikiran lain. Menuntut ilmu bukanlah untuk bekerja sebagai pegawai negeri, demikian pendiriannya. Meskipun adik-adiknya membutuhkan uluran tangannya untuk membiayai sekolah mereka, ia tetap ingin bekerja sesuai dengan kehendak hatinya.

Mungkin sikap tersebut tidak terlepas dari pendidikannya sewaktu tinggal bersama uminya˗˗kakak perempuan ayahnya. Pada diri uminya, pemuda itu banyak belajar agama dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Pada saat itu mulai tumbuh sikap ingin mandiri atau sedikitnya bertanggung jawab pada diri sendiri. Walaupun begitu, ia harus mengakui bahwa biaya sewaktu kuliah lebih banyak diterima dari uminya. Menyadari hal itu, ia tidak mau menyia-nyiakan waktu; ia banyak belajar dan membaca. Ia juga mulai mengenal para pengarang terkenal. Semua itu memberi pengaruh cukup kuat pada dirinya. Paling tidak, ia mulai membiasakan diri untuk membuat karangan atau mulai rajin berkecimpung dalam kegiatan tulis-menulis. Memang, dunia itulah yang hendak ia jadikan pekerjaannya.

Sementara itu, sejalan dengan penyadaran dirinya untuk menentukan masa depannya, lelaki itu mencoba bercermin pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ibunya, misalnya, yang tak waras lagi, sama sekali tak dapat diharapkan lagi. Ayahnya, dengan gaji yang pas-pasan sebagai seorang guru, masih tetap repot mengurusi anak-anaknya, sementara pemuda itu tak dapat membantu apa-apa. Pemuda itu juga tak dapat terus menggantungkan hidup pada uminya, meskipun perempuan itu memiliki sawah dan lading yang cukup luas. Seorang lagi, Bak Tuo˗˗yang masih sekerabat dengan uminya˗˗sungguh merupakan kepala keluarga yang tak patut dijadikan contoh teladan. Kebiasaan berjudi dan menghabiskan uang pensiunannya hanya untuk judi, telah menyebabkan keluarganya telantar. Bahkan, Bak Tuo mulai berani pula mencuri uang ayah pemuda itu. Akibatnya, kedua orang tua yang sebenarnya sudah berumur itu, berkelahi.

Bagi si pemuda, kehidupan Bak Tuo memberinya kesadaran betapa penting kehidupan masa muda. Kehidupan masa muda Bak Tuo, sampai ia menghabiskan masa pensiunnya, hampir tak pernah lepas dari kebiasaan berjudi. Dari situlah si pemuda mengambil sikap seperti ini: “aku menyimak dan menarik pelajaran dari apa yang dialami Bak Tuoku. Ia adalah  contoh yang amat tepat untuk dijadikan sebagai manusia yang sia-sia di masa tua sesudah mengabaikan masa dan hari mudanya” (hlm. 83).

Seorang lagi yang ikut mempengaruhi sikap hidup pemuda adalah seorang petani sejati yang biasa disebut Gaek. “Mempunyai tempat di hatiku, rasanya ia adalah laki-laki seribu dongeng. Setiap dongeng yang ia ceritakan selalu mengena di hatiku, di benakku. ia adalah laki-laki yang mengisi masa kanak-kanakku secara lebih sempurna” (hlm. 93). Lebih dari itu, si pemuda˗˗betapapun ia hidup cacat˗˗makin menyadari bahwa sesungguhnya hidup adalah kerja. Ternyata Gaek mampu hidup dan menghidupi masa depannya karena ia mencintai kerja. Lelaki itu benar-benar telah berhasil memberi makna dalam hidupnya. Pemaknaan bagi kehidupan inilah yang kini ditemukan si pemuda dalam diri orang-orang sekitarnya. Kelak ia akan berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh makna. Itulah yang menjadi tekad si pemuda.

                                                                 ***
Novel Bako ini sesungguhnya lebih menyerupai catatan biografis sebuah keluarga. Sebagai karya sastra, dalam hal bentuk, novel ini boleh dikatakan menampilkan pembaharuan. Boleh jadi karena itulah novel ini dinyatakan sebagai pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Wednesday

Cerita Novel Online - Telepon

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Sori Siregar
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun         : 1882


Cerita Novel Online - TeleponDaud bekerja pada sebuah toko di Jakarta. Sebetulnya ia sudah sangat bosan dengan pekerjaannya. Namun, karena tak ada pekerjaan lain, ia terpaksa melakukannya juga. Daud mempunyai hobi yang tak biasa, ia gemar sekali menelepon. Kegemaran yang dimulai dari iseng-iseng itu lama-kelamaan menjadi semacam kebutuhan. Ia tak peduli kapan, di mana, dan kepada siapa ia menelepon. Yang penting, apabila hasrat hatinya untuk menelepon sudah terpenuhi, ia akan segera senang. Ia seakan terbebas dari beban yang mengimpitnya.

Demikianlah, telepon yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang baik, berubah fungsinya di tangan Daud. Ia menggunakan telepon untuk mengancam, menakut-nakuti orang yang diteleponnya walaupun dalam hatinya tak ada niat jahat. Ia hanya ingin melampiaskan keinginan˗˗yang tak dapat dihindarinya˗˗yang timbul sesaat.

Orang yang pertama kali ditakut-takutinya adalah Tajudin, direktur perusahaan yang telah memecat Burhan, teman Daud. Lalu Ibu Suroso, pelanggan tetap toko buku tempat Daud bekerja. Daud sangat puas setelah menakut-nakuti mereka dengan ancaman atau omongan yang sama sekali tak ada faktanya. Pada malam hari setelah Daud menakut-nakuti mangsanya, ia akan membayangkan keadaan orang yang menjadi korbannya itu. Kadang-kadang terbersit rasa sesal di hatinya, apalagi bila yang ditakut-takutinya itu adalah orang yang baik, seperti Ibu Suroso.

Demikianlah, perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu ketika, Lisa˗˗kekasihnya˗˗memergokinya. Daud terpaksa mengakui perbuatan yang telah dilarang pacarnya itu. Akibatnya, Lisa mengancam akan memutuskan hubungan mereka. Ancaman Lisa membuat takut dan berjanji sekali lagi untuk tidak mengulangi perbuatan yang merugikan orang lain. Namun, untuk menghentikan kegemarannya itu, ternyata tidaklah semudah seperti mengucapkannya; ia tetap menelepon orang-orang yang menurutnya harus diancam.

Rupanya perasaan Daud tidak selamanya tenang. Hal itu terjadi ketika ia iseng-iseng menelepon seseorang. Orang menerima telepon itu mengaku sebagai orang yang dimaksud Daud, padahal ia menyebutkan sekadar nama yang tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya.

Sejak peristiwa itu Daud mulai dihinggapi rasa gelisah; dan kegelisahan itu memuncak ketika tanpa diduga ia menerima telepon dari sekretaris Tajudin yang memberitahukan bahwa Tajudin telah mengetahui siapa yang mengancamnya, yaitu Daud. Lebih jauh bahkan telah meminta polisi untuk menangkap Daud dengan alasan melakukan ancaman pembunuhan disertai bukti-bukti berupa rekaman pembicaraan telepon.

Daud mulai menduga-duga bahwa telah terjadi pengkhianatan terhadap dirinya. Ia menduga Lisa dan Burhanlah yang melakukannya, karena hanya kedua orang tersebut yang mengetahui kegemaran Daud. Namun, ternyata bukan mereka. Lalu siapa?

Dalam kegelisahan itu, Daud mulai menimbang-nimbang untuk menghentikan ancaman-ancaman lewat telepon, seperti yang disarankan Lisa dan Situmeang, teman seperantauan Daud. Usaha yang dilakukannya adalah tidak melakukan kontak telepon dengan siapa pun. Di dalam dirinya telah timbul rasa ngeri jika melihat telepon. Ia juga sudah berpikir untuk meminta maaf kepada orang-orang yang telah menjadi korbannya.

Hal yang tak diduga sama sekali oleh Daud adalah ketika Simangunsong datang ke rumah kontrakannya di Kebon Kacang. Yang lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba ia dipukuli sahabat seperantauannya itu. Simangunsong berang karena perayaan pernikahan adik sepupunya berantakan akibat ulah seorang penelepon gelap mengatakan bahwa di tempat pesta itu terdapat bom yang sewaktu-waktu dapat meledak. Para undangan tentu saja bubar begitu mendengar berita yang kemudian terbukti hanya omong kosong itu. Simangunsong berkesimpulan bahwa penelepon gelap itu tak lain adalah Daud. Padahal bukan. Kalau bukan Daud, lalu siapa?

Simangunsong lalu mencari informasi siapa pengacau itu. Terungkaplah bahwa pelakunya seorang wanita yang kehilangan anak yang sedang dikandungnya. Ia kesepian di rumahnya yang besar, dan untuk membunuh rasa sepinya, setiap hari ia menelepon siapa saja. Kegemaran yang sudah menjadi semacam penyakit itu, kabarnya akan hilang jika wanita itu dikaruniai seorang anak lagi.

Akan halnya Daud, ia terpaku mendengar cerita Simangunsong itu. Di dalam benaknya terlintas telepon dari seorang wanita yang nada suaranya begitu kesepian. Timbul rasa takutnya: apakah dirinya seperti wanita itu? Daud membayangkan, jangan-jangan dia tidak waras seperti wanita itu. “Daud merangkul Simangunsong, membenamkan wajahnya ke dada sahabatnya itu dan tersedu di sana.

Di tengah-tengah keheningan ruangan itu, suara Simangunsong terdengar jelas. “Tidak. Kau tidak sakit, Daud. Kau tidak sakit” (hlm. 96).

                                                                ***
Judul novel ini, Telepon, mengisyaratkan bahwa akan terjadi komunikasi antaranggota masyarakat lewat hasil peradaban manusia. Novel ini adalah pemenang harapan Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top