Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday

Contoh Cerpen Persahabatan - Sombongnya Si Udang Bungkuk

Cerpen Anak -  Selamat datang rekan-rekan sahabat imbas semuanya. Pada kesempatan yang baik ini kami akan berbagi cerpen anak yang menjadi bagian dari contoh cerpen persahabatan kami yang berjudul Sombongnya si Udang Bungkuk. Alasan kami menulis cerpen anak ini sebagai bagian dari Kumpulan Cerpen Persahabatan kami karena banyak email dari beberapa rekan yang mengaku berprofesi sebagai guru PAUD mengalami kesulitan untuk mencari bahan cerita yang akan digunakan sebagai bahan mengajar siswanya. Oleh sebab itu, kami mencoba untuk berbagi Kumpulan Cerpen Anak atau Kumpulan Cerpen Persahabatan agar nantinya bermanfaat, baik sebagai media baca saja, atau hal- hal lainnya. Selamat membaca.

CERPEN ANAK - SOMBONGNYA SI UDANG BUNGKUK

Cerpen Persahabatan
Di sebuah pulau karang kecil ombak berdebur-debur memukul-mukul hamparan luas nan indah sisir pantai. Di pulau itu bersarang seekor burung rajawali yang berbadan besar dan gagah perkasa. Tubuhnya berwarna coklat kehitaman dengan leher berwarna kuning emas. Seandainya sang rajawali menerkam kambing atau rusa, ia sanggup membawanya terbang ke atas membumbung tinggi di awan-awan. Sayapnya yang lebar dan indah menambah keperkasasaan si rajawali tersebut. 

"Tidak ada Makhluk yang segagah dan kuat aku. Pulau ini adalah wilayah ku. Barangsiapa melawanku akan aku cakar dengan kuku kuku ku yang tajam", gumam sang rajawali sambil mengepakkan sayap dan menggoreskan kukunya yang tajam diantara bebatuan. Pada saat sang rajawali sedang asyiknya bergumam menyombongkan dirinya, melintaslah seekor burung camar yang sejak tadi memperhatikannya dari langit.

"Ah... belum tentu wahai rajawali". sahut sang burung camar sambil bertebangan mengelilingi sang Rajawali. 

"Hah.....??, apa katamu burung kerdil, hah.", kata sang rajawali dengan mata yang memerah seraya mengawasi burung camar yang senyum-senyum di udara. 

"Jangan lekas marah wahai sahabatku. Di tengah lautan sana, masih ada makhluk yang lebih perkasa dan kuat daripada kau. Jika dibandingkan dengna kau, baahhh,,,, belum ada apa-apanya kau.hahaha" ejek burung camar,

Kemarahan sang rajawali makin menjadi-jadi karena tersinggung oleh perkataan burung camar. berasa kebarakaran jenggot meluap-luap. "Manaa.... Tunjukkan padaku makhluk yang bisa melebihi keperkasaanku," teriak sang rajawali sembari membusungkan dadanya. 

"Kau tidak percaya wahai sahabatku, Terbanglah ke arah selatan dan kita buktikan siapa yang lebih besar dan perkasa." kata burung camar seraya meledek sahabatnya si rajawali.

Tanpa berpikir panjang lagi sang rajawali itupun segera melesat terbang sekali hentakan ke udara dan terbang dengan wajah memerah dan cakar yang meruncing diantara kaki-kakinya. Terbang dengan cepatnya kearah selatan seperti apa yang dikatakan oleh burung camar padanya. Karena saking marahnya, membuat rajawali tidak bisa terbang dengan lama. setelah beberapa jam dia terbang, sang rajawali pun kelelahan dan memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia harus berteduh karena saat itu ia berada di tengah-tengah samudra. ia hendak mencari tempat yang nyaman untuk bertengger. Matanya tajam mengamati sekitarnya. terlihatlah dua buah batang tiang yang tinggi menjulang diatas samudra. Alangkah gembiranya seandainya ia dapat melepaskan lelah dan bertengger pada tiang itu. Rajawali pun segera melesat dan menukik kebawah lalu bertengger pada salah satu tiang itu. Tengah ia melepas lelahnya untuk istirahat., tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara lantang.

"Haiiiii...... Siapa kau yang bertengger di puncak tandukku??", seketika sang rajawali pun kaget dan melesat keudara sambil mengamati siapa yang berbicara kepadanya.

"Oh.... sungguh makhluk hebat dan mengerikan sekali. tanduknya saja seperti menara. Apalagi tubuhnya", kata rajawali dalam hatinya.

"Burung pengecut, baru mendengar suaraku saja sudah lari terbirit-birit," kata si udang dengan bangganya. " Kalau begitu, akulah makhluk paling perkasa, katanya dengan sombong.

"ohh... belum tentu sobat. Masih ada makhluk yang lebih besar lagi," kata burung camar yang tiba-tiba datang dan memperhatikan tingkah laku si udang yang sombong itu.

"Apa katamu...? akulah makhluk yang terbesar di muka bumi ini, tahu?, kata si udang dengan marah-marah. 

"Jangan marah....Udang, kalau kau tak percaya boleh kubuktikan siapa nanti yang lebih besar dan perkasa lagi," kata burung camar sembari tersenyum.

"Bagaimana kau tahu?, Coba tunjukkan!, kata si udang dengan jengkelnya.

"Baiklah, mari kita buktikan di samudra sebelah selatan sana", kata burung camar yang melayang-layang di angkasa. 

Si udang raksasa itu berenang tanpa mengenal lelah karena jengkel sekali mendengan ada makhluk yang melebihi dia besar dan perkasanya. 

Lama-lama ia jadi letih karena jaraknya yang jauh. Dilihatnya di tengah samudra itu yang menyembul seperti pulau kecil. 

"Baiklah, aku beristirahat sebentar saja di pulau kecil itu." kata si udang dalam hatinya. Setelah ia sampai, ia mengitari tempat yang disangkanya pulau itu.

"Ahhh,..... disinilah aku akan beristirahat sejenak." 

Si udang pun melihat sebuah gua yang kelihatannya nyaman untuk dia beristirahat. Kemudian masuklah si udang ke dalam lubang yang dia anggap gua tersebut.

"Aduuuhhhh.... Siapakah yang masuk ke dalam lubang hidungku ini?" begitulah terdengar suara yang keras pada waktu ia masuk ke dalam lubang gua tersebut. Udang sendiri tidak tahu sama sekali bahwa lubang yang dia anggap gua itu sebenarnya adalah lubang hidung seekor paus yang kebetulan sedang beristirahat juga. dengan menggesek-gesekkan tanduk udang yang keras itu sampai-sampai menyentuh dinding lubang hidung sang paus sehingga si ikan paus pun merasa kesakitan. Karena merasa ada benda keras berada di hidungnya itu sang paus kemudian bersin. Si Udang pun terlempar dengan kerasnya ke udara. Setelah melayang-layang diudara terjatuhlah sang udang di hamparan karang 

Rasa sakit yang sangat menyiksa melanda si Udang yang sombong itu. Punggungnya ternyata patah.

"Aduuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh,.......... Punggungku sakit sekali. tolonggggggggggggggg..... tolong...............", keluh kesahnya sambil matanya terpejam kesakitan. 

Melihati hal tersebut, burung camar dan sang rajawali pun merasa kasihan. diurut-urutnya punggung udang yang malang itu. 

Selang beberapa hari kemudian si udang sudah sembuh dari sakitnya. tetapi punggungnya tidak dapat diluruskan kembali. Oleh sebab itu mengapa sampai saat ini tubuhnya bengkok. Karena udang dulu sangat sombong. 

Nahhh,,,, menarik bukan???, Semoga cerita ini bermanfaat dan bisa diambil pelajaran bahwa sombong tidak akan membawa kebaikan, namun hanya akan membwa keburukan saja. 

Demikianlah Cerpen Anak yang berjudul Sombongnya si Udang Bungkuk yang merupakan bagian dari Kumpulan Cerpen Persahabatan Ilmubahasa.net. Semoga menjadi bahan pembelajaran yang baik bagi teman-teman dan adik-adik sekalian. Jangan lupa berikan komentar atau saran bagi kami agar bisa menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya lagi. Salam dan Terimakasihh..

Saturday

Contoh Cerpen Persahabatan- Dalam Bayang Sahabat

Contoh Cerpen Persahabatan - Pada kesempatan yang baik ini, kami ingin berbagi sebuah cerpen anak bertemakan persahabatan. Cerita yang dipaparkan sederhana, konflik pun bagi pembaca memberikan kesan bagus. Cerpen persahabatan ini dibuat untuk memberikan refreshing semata. Mohon maaf apabila terjadi kesamaan nama dan penyebutan penulis kami. Selamat membaca. 

 
Sudah pukul tujuh pagi Andi belum juga berangkat ke sekolah. ia telah berpakaian dan menyiapkan tasnya. rupanya masih ada yang dipikirkannya. ia duduk di serambi muka menunggu kawannya, Majid. Sebentar kemudian munculah si Majid di depan rumahnya seperti  biasanya.

"Selamat pagi, An! Ayo, sudah pukul tujuh lewat ini" serunya.
"Majid, hari ini saya tidak masuk sekolah"
"Ah, mengapa? Sudah berpakaian rapi. Ayolah, jangan sampai terlambat", Jawab Majid keheranan.
"Jid, benar-benar saya tidak masuk sekolah. Sekarang tanggal dua belas. Uang SPP tanggal sepuluh sudah harus dibayarkan. Saya bingung hari ini. Ayah sedang ke pasar menjual buah-buahan, mungkin juga untuk mencari uang untuk membayar SPP itu. Ibu sudah dua hari sakit panas. Dua adik saya sudah berangkat sekolah dan keduanya juga belum membayar SPP juga".

Majid sudah tidak tahan lagi mendengar keluhan sahabat karibnya tersebut, Andi tampaknya wajahnya sudah memerah, hendak meneteskan air mata kepiluannya. Matanya mulai berlinangan air mata.

"Baiklah An, jika begitu saya pergi sendiri saja tidak mengapa. Tidak usah kamu masuk sekolah. Nanti akan saya utarakan kepada guru kita. Bantu ibumu saja dirumah. Pulang sekolah nanti saya akan singgah kemari lagi untuk menemuimu."

Andi tidak bisa berkata sepatah pun, Suaranya tersendat-sendat dan tidak dapat keluar. ia hanya mengangguk dan memandangi sahabatnya itu. Majid tampak tergesa-gesa. 

Sesampainya di sekolah, Majid berdebar-debar melihat pekarangan sekolahnya sudah sepi, pertanda bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Tahulah ia bahwa sudah terlambat. Apa yang harus dilakukannya. Segera ia menuju ke kantor Pak Tata, Kepala Sekolahnya, dan menerangkan kepadanya mengapa dia terlambat. Pak Tata kemudian mengambil secarik kertas, dibuatnya catatan diatasnya, kemudian diberikannya kepada Majid. Setelah ia memberi hormat kepada Pak Tata kemudian ia langsung masuk kedalam ruang kelasnya. 

Pada waktu istirahat, Kepala sekolah memanggil Majid untuk ke kantornya lagi. "Majid, Bapak meminta bantuanmu, sampaikan kepada ayah Andi, bahwa besok pagi Andi diperbolehkan  pergi ke sekolah.

"Baik Pak Tata".
Majid keluar dari kantor dengan perasaan lega. masih jelas teringat oleh pikirannya tentang keterlambatannya tadi pagi. Majid mengira pak Tata Marah besar dengannya karena dia terlambat masuk sekolah, ternyata tidak. 

Ketika Majid pulang sekolah, ia tak lupa dengan janjinya untuk singgah ke rumah sahabatnya Andi. Sesampainya di rumah Andi, "Di, besok kamu boleh berangkat sekolah lagi. Pak Tata tidak marah sedikitpun mengenai keterlambatan pembayaran SPP di sekolah. Beliau justru tidak menginginkan anak didiknya tidak bersekolah karena kendala biaya. namun, beliau juga berpesan bahwa esok hari sebelum masuk kelas, kamu diminta untuk menemui Pak Tata terlebih dahulu".

"Jid, saya takut. Pak tata kan berkumis tebal, berkacamata hitam, dan berbadan besar seperti Antasena Jid, Besok saya belum bisa membayar uang SPP, sampai sekarang pun ayah saya belum pulang. Entahlah apakah penjualan buah-buahan hari ini menguntungkan atau tidak."

"Andi, Pak Tata menyuruh kamu datang menemuinya besok bukan untuk membayar SPP, melainkan untuk bertemu dengan beliau saja dan bisa saja beliau hanya memberikan nasehat padamu saja."

"Turutiah sahabatmu Majid ini Andi. Berangkatlah besok. katakan dengan terus terang bahwa kita benar- benar belum ada uang untuk membayar SPP. Ayahmu sedang berusaha. Mudah-mudahan ayahmu mendapatkan rejeki banyak hari ini."

Andi mengangguk dan berjanji kepada ibunya besok dia akan berangkat ke sekolah dan menemui Pak Tata yang sangat ia takuti. Majid pun lalu berpamitan untuk pulang.

Setelah sampai di rumah, Majid kemudian menyimpan tasnya, melepas sepatunya, mencuci tangan dan kakinya sebelum berganti pakaian. 

"Makanlah Segera! Ayah. Ibu, dan adik sduah makan terlebih dahulu. Kemudian Majid pun makan dengan lahapnya. "Mengapa engkau terlambat nak?," tanya ibunya.

Sembari makan, Majid pun bercerita kepada ibunya tentang kesusahan yang dirasakan sahabatnya Andi. "Kasihan Andi, sudah dua hari ia tidak masuk sekolah. Mana ibunya sakit-sakitan. Ayahnya menjual buah-buahan di pasar. unrung yang diharapkannya dapar melunasi uang SPP anak-anaknya.

Mendengar cerita anaknya, Ibu Majid jadi terharu. ia pun bersyukur atas kebahagiaan keluarganya yang tidak perlu menderita seperti itu. 

Keesokan harinya Majid berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia mau singgah ke rumah Andi sahabatnya dan pergi bersama-sama temannya menghadap Pak Tata Kepala Sekolah. Sesampainya disana, dilihatnya ayah Andi di rumah. Majid merasa gembira, tentu temannya sudah mempunyai uang untuk membayar SPP. Andi kelihatannya menunggu Majid di serambi rumahnya. Raut mukanya masih tampak kurang gembira. 

"Selamat pagi Andi, Ayo kita berangkat. kita akan bersama-sama menghadap Pak Tata."

Kedua anak tersebut kemudian meminta ijin kepada ayah dan ibu Andi. Sebelum keliuar pintu pekarangan, Andi berhenti dan dibisikannya sesuatu kepada Majid.

"Majid, ayahku sudah kembali dan buah-buahan dagangannya terjual habis...."
"Nah..... syukur. Jadi kamu sudah membawa uang untuk membayar SPP bukan Di?'
"Tunggu dulu, Rejeki tentu ada. kami bergembira, Hanya, sayang sekali tidak cukup unruk membayar uang SPP itu. Ibu kan sakit. Sebagian untung yang diperoleh dipergunakan juga untuk membeli obat dan belanja hari ini dan kemarin. Sisanya tinggal lima puluh ribu rupiah, padahal uang SPP kan enam puluh ribu rupiah kan jid?"

Sambil berjalan Majid menarik tangan temannya lalu berkata, "Uang itu kamu bawa sekarang kan?"
"ya, Ayah ku takut uang itu terpakai. Nanti kalau ada untung lagi, tinggal menambah saja. "

"Baik Andi, kita harus bergegas menghadap Pak Tata Kepala Sekolah sebelum jam belajar mengajar dimulai. Sebaiknya kamu lunasi uang SPP-mu hari ini. Kebetulan aku membawa uang sepuluh ribu untuk membeli buku tulis, tetapi buku itu tidak kuperlukan sekarang, boleh kamu pinjam terlebih dahulu untuk mencukupi uang SPP-mu.

"Ahh... jangan, jid!, Bagaimana ayah dan ibumu nanti?."
" Tidak Sam, sungguh. Ini bukan uang pemberian ayah, tetapi pemberian pamanku. Memang ayah dan ibuku tahu bahwa aku diiberi uang oleh Pamanku, Ayolah tidak apa-apa kau gunakan uangku ini untuk membayar SPP. Kita kan sahabat. sudah sepantasnya saling membantu satu sama lain. Bulan lalu kau sudah membantuku untuk mengerjakan tugas menggambar, sekarang pakailah uang ini terlebih dahulu."

"Baiklah kalau begitu, Jadi hari ini saya bisa melunasi uang SPP?, Bukan main rekayasa Tuhan. Sungguh kamu benar-benar sahabat terbaik ku Jid, Bantuanmu Sangat bermanfaat bagiku Jid, nanti akan saya beritahukan kepada orang tua ku tentang hal ini."

Keduanya berjalan cepat dan sampailah di sekolah. Kemudian keduanya bergegas untuk bertemu dengan Pak Tata Kepala Sekolah untuk menghadap. Andi meminta maaf kepada Pak Tata karena uang SPP baru bisa dibayarkan pada hari ini. Pak tata, sembari megelus kumisnya yang tebal memberikan nasehat, lainkali berterus teranglah dalam menghadapi kesulitan. 

"Kepentingan bapak memanggilmu adalah bahwa seminggu yang lalu, bapak dan segenap dewan sekolah merapatkan hal tentang kompensasi uang SPP sekolah selama tiga bulan kepada sepuluh anak yang dipilih, dan salah satunya adalah kamu Di."

Bak kejatuhan durian, Andi pun menghaturkan terimakasih kepada Pak Tata karena telah memilihnya untuk mendapat kompensasi SPP sehingga uang SPP yang akan dibayarkan bisa ia kembalikan kepada ayahnya untuk modal tambahan berjualan.  Andi berjanji akan menjadi anak yang pandai, selalu belajar, dan disiplin pada aturan sekolah.

"Selamat ya di, kamu mendapatkan kejutan dari Tuhan disaat yang dibutuhkan", ucap Majid pada Andi seraya menepuk punggung Andi.

" Ya ya ya ya..... Terimakasih Majid. berkat pertolonganmu, aku mendapatkan hadiah yang membuatku semangat belajar dan bersekolah lagi. Mungkin jika kemarin kau tidak peduli denganku, aku tidak tahu apakah aku akan sebahagia ini Majid."

Kemudian keduanya bergegas masuk ke kelas dan melewati hari-hari dengan persahabatan yang erat.  

Demikian Cerpen Dalam Bayang Sahabat ini kami sampaikan. Apabila ada kesalahan kata kami mohon maaf. Semoga anda merasa terhibur oleh cerpen ini. Sekian. Salam Kami Ilmu Bahasa

Friday

Contoh Cerpen Menarik - Mbok Jah

Contoh Cerpen - Selamat datang sahabat semuanya. Terimakasih senantiasa masih betah di website ini. Pada kesempatan yang luar biasa ini, kami ingin berbagi sebuah contoh cerpen menarik dari ilmubahasa.net. Semoga bermanfaat bagi anda semua. Selamat Membaca.

Contoh Cerpen Menarik - Mbah Jah


Sudah dua tahun, baik pada lebaran maupun Sekaten. Mbok Jah tidak turun gunung keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul, untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya. Keluarga Mulyono, di kota. Meskipun sudah berhenti karena usia tua dan capek menjadi pembantu rumah, Mbok Jah tetap memelihara hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga itu. Duapuluh tahun telah dilewatinya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang sederhana dan sedang-sedang saj kondisi ekonominya. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan yang baik dan penuh tepa selira dari seluruh keluarga itu telah memberinya rasa aman, tenang, dan tentram.

Buat seorang janda yang sudah terlalu tua untuk itu, apalah yang dikehendaki lagi selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagipula anak tunggalnya yang tinggal di Surabaya dan menurut kabar hidup berkecukupan, tidak mau lagi berhubungan dengannya. Tarikan dan pelukan isteri dan anakanaknya rupanya begiti erat melengket hingga mampu melupakan ibunya sama sekali. Tidak apa, hiburnya. Di rumah keluarga Mulyono ini dia merasa mendapat semuanya. Tetapi waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi beban keluarga itu. Dia mertasa menjadi buruh tumpangan gratis. Dan harga dirinya membrontak terhadap keadaan itu. Diputuskannya untuk pulang saja ke desanya.

Dia masih memiliki warisan sebuah rumah desa yang meskipun sudah tua dan tidak terpelihara akan dapat dijadikannya tempat tinggal di hari tua. Dan juga tegalan barang sepetak dua petak masih ada juga. Pasti semua itu dapat diaturnya dengan anak jauhnya di desa. Pasti mereka semua dengan senang hatiakan menolongnya mempersiapkan semua itu. Orang desa semua tulus hatinya. Tidak seperti kebanyakan orang kota pikirnya. Sedikit-sedikit duit, putusnya.

Maka dikemukakannya ini kepada majikannya. Majikannya beserta seluruh anggota keluarganya, yang hanya terdiri dari suamu isteri dan dua orang anak, protes keras dengan keputusan Mbok Jah. Mbok Jah sudah menjadi bagian yang nyata dan hidup sekali di rumah tangga ini, kata ndoro putri. Dan siapa yang akan mendampingi si Kedono dan si Kedini yang sudah beranjak dewasa, desah ndoro kakung. Wah, sepi lho mbok kalau tidak ada kamu. Lagi siapa yang dapat bikin sambel yang begitu sedap dan mlekok selain kamu, mbok, tukas Kedini dan Kedono.

Pokoknya keluarga majikan tidak mau ditinggalkan oleh mbok Jah. Tetapi keputusan mbok jah sudah mantap. tidak mau menjadi beban sebagai kuda tua yang tidak berdaya. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya diputuskan suatu jalan tengah. Mbok Jah akan “turun gunung” dua kali dalam setahun yaitu pada waktu Sekaten dan waktu Idul Fitri.

Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Mbok Jah menepati janjinya. Waktu Sekaten dan Idul Fitri dia memang datang. Bahkan Kedono dan Kedini selalu rela ikut menemaninya duduk menglesot di halaman mesjid keraton untuk mendengarkan suara gamelan Sekaten yang hanya berbunyi tang-tung-tang-tunggrombyong itu. Malah lama-kelaman mereka bisa ikut larut dan menikmati suara Sekaten di mesjid itu.
“Kok suaranya aneh ya, Mbok. Tidak seperti gamelan klenengan biasanya.”
Ya, tidak Gus, Den Rara. Ini gending keramatnya Kanjeng NabiMohammad.”
“Lha, Kanjeng Nabi apa tidak mengantuk mendengarkan ini, Mbok.”
“Lha,ya tidak. Kalau mau mendengarkan dengan nikmat pejamkan mata kalian. Nanti rak kalian akan bisa masuk.”Mereka menurut. Dan betul saja, lama-lama suara gamelan Sekaten itu enak juga didengar.

Selain Seakten dan Idul Fitri itu peristiwa menyenangkan karena kedatangan Mbok Jah, sudah tentu juga oleh-oleh Mbok Jah dari desa. Terutama juadah yang halus, bersih dan gurih, dan kehebatan Mbok jah menyambal terasi yang tidak kunjung surut. Sambal itu ditaruhnya dalam satu toples dan kalau habis, setiap hari dia akan masih juga menyambelnya. Belum agi bila dia membantu menyiapkan hidangan lebaran yang lengkap orang tua renta masih kuat ikut menyiapkan segala masakan semalam suntuk. Dan semuanya masih dikerjakannya dengan sempurna. Opor ayam, sambel goreng ati, lodeh, serundeng, dendeng ragi, ketupat, lontong, abon, bubuk kedekai, bubuk udang, semua lengkap belaka disediakan oleh Mbok Jah. Dari mana energi itu datang pada tubuh orang tua itu tidak seorangpun dapat menduganya.

Setiap dia pulang ke desanya, Mbok Jah, selalu kesulitan untuk melepaskan dirinya dari pelukan Kedono dan Kedini. Anak kembar laki-perempuan itu, mesti sudah mahasiswa selalu saja mendudukkan diri mereka pada mbok tua itu. Ndoro putri dan ndoro kakung delalu tidak lupa untuk menyisipkan uang sangu beberapa puluh ribu rupiah dan tidak pernah lupa wanti-wanti pesan untuk selalu kembali setiap sekaten dan Idul Fitri.

 “Inggih, ndoro-ndoro saya dan gus-den rara yang baik. Saya pasti akan datang.”
Tetapi begitulah. Sudah dua Sekaten dan dua Lebaran terakhir Mbok Jah tidak muncul. Keluarga Mulyono bertanya-tanya jangan-jangan mbok Jah mulai sakit-sakitan atau jangan-jangan malah....

“Ayo, sehabis Lebaran kedua kita kunjungi Mbok Jh ke desanya,” putus ndoro kakung.
“Apa Bapak tahu desanya”
“Ah, kira-kira ya tahu. Wong di Gunung Kidul saja, lho. Nanti kita tanya orang.”

Dan waktu untuk bertanya ke sana kemari di daerah Tepus, Gunung Kidul, itu ternyata lama sekali. Pada waktu akhirnya desa Mbok Jah itu ketemu, jam sudah menunjukkan lewat jam dua siang. Perut Kendono dan Kendini sudah lapar meskipun sudah diganjal dengan roti sobek yang seharusnya sebagian untuk oleh-oleh Mbok Jah.

Desa itu tidak indah, nyaris buruk, dan ternyata juga tidak makmur dan subur. Mereka semakin terkejut lagi waktu menemukan rumah Mbok Jah. Kecil, miring dan terbuat dari gedek dan kayu murahan. Tegalan yang selalu diceritakan ditanami dengan palawija nyaris gundul tidak ada apa-apanya.

“Kula nuwun, Mbok Jah, Mbok Jah.” Mbok Jah, Mbok Jah.aktu akhirnya pintu dibuka mereka terkejut lagi melihat Mbok Jah yang tua itu semakin tua lagi. Jalannya tergopoh tetapi juga
tertatih-tatih menyambut bekas majikannya.

“Walah, walah, ndoro-ndoro saya yang baik, kok bersusah-susah mau datang ke desa saya yang buruk ini. Mangga, mangga, ndoro, silakan masuk dan duduk di dalam.”

Di dalam hanya ada satu meja, beberapa kursi yang sudah reyot dan sebuah amben yang agaknya adalah tempat tidur Mbok Jah. Mereka disilakan duduk. Dan keluarga Mulyono masih ternganga-nganga melihat kenyataan rumah bekas pembantunya itu.

“Ndoro-ndoro, sugeng riyadi, nggih, minal aidin wal faijin. Semua dosa-dosa saya supaya diampuni, nggih, ndoro-ndoro, gus-den rara.”
“Iya, iya, Mbok. Sama-sama saling memaafkan.”
“Lho, ini tadi belom pasti makan semua to? Tunggu, semua duduk yang enak, si mbok masakkan, nggih?”
“Jangan repot-repot, Mbok. Kita tidak lapar, kok. Betul!”
“Aah, pasti lapar. Lagi ini sudah hampir asar. Saya masakkan nasi tiwul, nasi dicampur tepung gaplek, nggih.”

Tanpa menggangu pendapat ndoro-ndoro-nya Mbok Jah langsung saja menyiabukkan dirinya menyiapkan makanan. Kedono dan Kedini yang ingin membantu ditolak. Mereka kemudian menyaksikan bagaimana Mbok Jah mereka yang di dapur mereka di kota dengan gesit menyiapkan makanan dengan kompor elpiji dengan nyala api yang mantap, di dapur desa itu, yang sesungguhnya juga di ruang dalam tempat mereka duduk, mereka menyaksikan si Mbok dengan susah payah meniup serabut-serabut kelapa yang agaknya tidak cukup kering mengeluarkan api. Akhirnya semua makanan itu siap juga dihidangkan di meja. Yang disebutkan sebagai semua makanan itu nasi tiwul, daun singkong rebus dan sambal cabe merah dengan garam saja. Air minum disediakan di kendi yang terbuat dari tanah.

“Silakan Ndoro, makan seadanya. Tiwul Gunung Kidul dan sambel-nya Mbok Jah tidak pakai terasi karena kehabisan terasi dan temannya Cuma daun singkong yang direbus.”

Mereka pun makan pelan-pelan. Mbok Jah yang di rumah mereka kadangkadang masak spagetti atau sup makaroni di rumahnya hanya mampu masak tiwul dengan daun singkong rebus dan sambal tanpa terasi. Dan keadaan rumah itu? Kemana saja uang tabungannya yang lumayan itu pergi? Bukankah dia dulu berani pulang ke desa karena yakin sanak saudaranya akan dapat menolong dan menampungnya dalam desa itu? Keluarga itu seakan dibentuk oleh pertanyaan batin kolektif, membayangkan berbagai kemungkinan. Dan Mbok jah seakan mengerti apa yang sedang dipikir dan dibayangkan olej ndoro-ndoronya segera menjelaskan.

“Sanak saudara saya itu miskin semua kok, Ndoro. Jadi uang sangu saya dari kota lama-lama ya habis buat bantu ini dan itu.”
“Lha, lebaran begini apa mereka tidak datang to, Mbok?” Mbok Jah tertawa.
“Lha, yang dicari di sini itu apa lho, Ndoro. Ketupat sama opor ayam?”
“Anakmu?” Mbok Jah menggelengkan kepala tertawa kecut.
“Saya itu punya anak to, Ndoro?” Kedono dan Kedini tidak tahan lagi. Diletakkan piring mereka dan langsung memegang bahu embok mereka.
“Kau ikut kami ke kota ya? Harus! Sekarang bersama kami!” Mbok Jah tersenyum tapi menggelengkan kepalanya.
“Si mbok tahu kalau anak-anakku akan menawarkan ini. Kalian anak-anakku yang baik. Tapi tidak, gus-den rara. Rumah si mbok di hari tua ya di sini ini. Nanti Sekaten dan Lebaran akan datang saya pasti akan datang betul.
Betul.”

Mereka pun tahu itu keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Lalu mereka pamit mau pulang. Tetapi hujan turun semakin deras dan rapat. Mboh Jah mengingatkan ndoro kakung-nya kalau hujan begitu akan susah mengemudi. Jalan akan tidak kelihatan saking rapatnya air hujan turu. Di depan hanya akan kelihatan putih dan kelabu. Mereka pun lantas duduk berderet di amben diberanda memandang ke tegalan. Benar tegalan itu berwarna putih dan kelabu.
Karya : Umar Kayam
(dari buku kumpulan cerpen Lebaran di Karet, di Karet...)

Demikian yang dapat kami sampaikan wahai sahabat imbas sekalian, semoga bermanfaat dan semakin menambah ketertarikan anda kepada website ini serta karya sastra. Salam hangat kami.



Contoh Cerpen Persahabatan - Luka Telah Menyapa Cinta

Kumpulan Cerpen Persahabatan - Selamat datang sahabat imbas sekalian. Pada kesempatan yang baik ini kami akan berbagi sebuah contoh cerpen remaja yang berjudul Luka Telah Menyapa Cinta. Semoga cerpen ini bisa menginspirasi teman-teman semuanya. Selamat membaca.

Cerpen Remaja


Kau bertanya pada Mak tentang cinta. Usiamu kala itu sebelas tahun. teman-teman sekolah suka menggodamu dengan kata itu. “Cinta itu apa, Mak?”tanyamu dalam logat Malaysia yang kental.

Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Kenapa tak kau tanyakan masalah sepenting ini pada Mami dan Papi, Cinta?

“Mak macam tak tahu saja. Mami Papi busy terus. Bila pula Cinta nak ketemu mereka?” Jawabanmu tepat sasaran. Kesibukan dua orang tuamu memang luar biasa. Belum dengan waktu yang sedikit kau masih harus berbagi pula dengan tiga adik perempuan, yang hanya berjarak satu atau dua tahun. Kecuali si kecil, Aminah yang baru berusia enam bulan. Bocah mentel itu hadir di tengah-tengah langkah awalmu menginjak usia remaja. Apa yang bisa Mak cakap, begitulah adanya. Dua orang tuamu ketika pulang, langsung disibukkan terutama oleh ulah si kecil. Dan Cinta? Mau tak mau tampaknya Emak yang dungu ini yang harus menjelaskan rasa ingin tahumu, ya?

“Cinta itu ...” Aku merangkai kata, dengan pandangan serona mawar. Mestinya cinta sesuatu yang indah. Namun, hingga usiaku kala itu, menjelang

lima puluh tahun, tak juga kumengerti arti kata yang cuma lima huruf itu. Apa suatu saat aku akan mengerti? Entah. Tak tahu, Mak, Cinta.
“Mak tak pendidikan tinggi macam Mami dan Papi kau, Cinta.”
“Tak soallah, Mak jawapkan saja soalan itu.”
“Mak pikir, cinta itu istimewa. Dia memberi kemampuan tanpa batas untuk memberi pada yang dicintai. Puas kau sekarang?” Jujur, Mak belum puas, ucapku dalam hati. Waktu itu kudapati kau merunduk. Rambutmu yang panjang menyentuh pinggang bagai ikut tepekur beberapa lama.
“Menurut Mak, cintakah Mami dan Papi pada Cinta?”
“Tentu saja mereka sayang dan cintakan kau, Cinta! Pertanyaan apa pula tu’?” suaraku tegas menepis keraguanmu. Lalu dengan mata polos yang tak kudustai, kudengar kalimatmu bernada sedih.

“Tapi mereka tak ada ketika Cinta perlukan? Mereka always busy. Mereka tak memberi . kecuali uang! Kalau cintakan kami, kenapa mereka tak hendak play dengan kami. Tak membacakan story ketika kami nak tidur?”

Ah, Cinta. Tak tahukah kau biaya kehidupan tinggi di mana-mana? Belum Mami dan Papimu masih harus menyimpan untuk tabungan masa tua pada kas negara. Begitulah yang berlaku di Malaysia. Tapi semua jerih payah itu tentu saja untukmu dan adik-adik. Kau beruntung Cinta, tak harus berjauhan dengan Mamimu. Tidakkah kau bayangkan kalau seorang ibu harus berpisah dengananaknya sedemikian jauh? Seperti Mak dan temen-temen Mak lain yang meninggalkan negri dan mencari nafkah di negri orang? Menerima teguran keras, makian, kadang penyiksaan?
Kala berpikir seperti itu, Mak menyukuri hingga setua ini tak ada yang menikahi Mak. Hingga Mak tak perlu tinggalkan darah daging Mak. Pasti menyakitkan berjauhan dengan yang kita . . . cintai.
Tapi apa itu cinta, Cinta?
Tiga bulan kemudian kau memberi kabar, Mami akan melanjutkan kuliah S2-nya di KL. Itu berarti kalian akan semakin jarang bertemu dengan Mami.
Dan Cinta? Meski menerima semuanya dalam diam. Tapi dari manarasumber, Mak tahu . . . kau masih bertanya tentang cinta yang mereka miliki untuk kalian.

*********

“Mak, Cinta tu apa bendanya ke?”
Kau masih bertanya hal yang sama. Sudah dua tahun berlalu, dan kau masih saja merecoki Mak tua ini dengan masalahmu yang kini sudah akil baligh. Aku masih menyusun jawaban. Adikmu Laila dan Laili sedang bermain play station di atas, dan Aminah, si bungsu sudah tertidur pulas di kamar Mak yang hanya disekati kain gorden tua yang kumal. Setelah seperti biasa tak lupa Mak harus mendendangkan lagu-lagu melayu tiga-empat kali refrain, untuk meninabobokannya. Berbusa rasanya mulut tua Mak ni.

“Kau mau kita cuba tengok dari buku?” Kepalamu yang dikuncir ekor kuda bergoyang-goyang. Wajahmu memerah karena gembira. Seperti sapuan pemerah pipi tertumpah semua padamu.
Aku mengajakmu ke kamar narasumber, di mana Mami dan Papimu biasa menyusun buku-buku mereka dalam sebuah perpustakaan keluarga.

“Cuba, kau tengoklah mana-mana yang berhubungan dengan cinta?” Manarasumber yang besar cepat melalap judul-judul buku yang berderetderet. Tentunya orang-orang besar, tokoh-tokoh dunia punya definisi mereka sendiri tentang cinta. Itu pikiran sederhana Mak. Paling tidak menyibukkanmu dengan buku-buku di sini, bisa menjadi penawar rindu bagi dahagamu aakan kasih Mami dan Papi yang selalu bepergian. Itulah maksud orang tua ini waktu itu.

“Mak, tengoklah!”
Dari Rumi. Kubaca kalimat-kalimat singkatnya tentang cinta.
“Dengan cinta, yang pahit menjadi manis.
Dengan cinta, tembaga menjadi emas.
Dengan cinta, sampah menjadi jernih.
Dengan cinta, yang mati menjadi hidup.
Dengan cinta, raja menjadi budak.Dan, hanya dari ilmu cinta itu dapat
tumbuh.”
“Indah ya Mak! Luas kali makna kata tu ya Mak?”

Semua memang tak Mak keluhkan depan Mami dan Papimu. Tapi Mak sering tak mengerti. Dua orang tua kalian kaya raya sebetulnya, kenapa tak perhatikan hal-hal seperti itu?Kenyamanan dan kesehatan kalian semua? Mak bahkan tak ingat kapan terakhir kali Mami menengok kalian di kamar, untuk sekedar mengecek, atau mencium pipi kalian. Tapi tak cintakah mereka pada kalian? Mak sungguh merasa bukan itu alasannya. Tapi Apa?

***
“Mak, kawan cinta . . . . “
“Ya? Kenapa dengan kawan kau tu?”
“Dia . . . .”
Kau tak bisa melanjutkan kata-katamu. Wajahmu yang bulat telur memerah malu. Tersipukah anak Mak ni?”
“Apa pasal kawan kau tu, Cinta?” Usiamu enam belas tahun. Kau sudah besar, tak lagi kanak-kanak. Wajahmu mewarisi kecantikan gadis-gadis Melayu. Ayu, rambut panjangmu melampaui
pinggang, menambah daya tarikmu.

“Dia kawan sedarjah Cinta.”
Kau tahu Mak masih menunggu kelanjutan kalimatmu. Tapi yang terjadi justru wajahmu kian membias merah. Astaga . . . apakah cinta itu . . . .
“Kau cintakan dia, Cinta?”
Cinta tak mengangguk. Juga tak menggelang. Mata Mak yang membelalak takjub, tak kuat kau pandang. Pelan-pelan kepala itu menunduk.
“Tapi apa kau mengerti, Cinta, apa itu cinta?”
“Entahlah Mak. Tapi Cinta suka berada dekatnya.”
“Dan itu cinta?”
Kau tak menjawab. Hanya wajahmu kian bersemu.
“Apakah ia menyentuh?”
Cinta terbelalak. kelopak matanya yang lentik dibuka lebar-lebar.
“Tak bolehkah, Mak? Kami cuma pegang tangan. Kami . . . tak macammacam.”

Mendengar nada suaramu yang tinggi, dan penuh protes, Mak sempat terdiam. Lama. Kau yang tersinggung, meninggalkan Mak di teras. Naik ke kamarmu di lantai dua. Usiamu enam belas. Dan itu pertengkaran pertama kita. Tidakkah kau ingat, Cinta?
Percakapan itu berlalu bagai angin. Momen yang seharusnya Mak manfaatkan dengan lebih baik, andai Mak tak keburu apriori terhadap gejolak yang kau rasa. Sayang, kesempatan itu terlepas. Dan seperti angin, entah kapan Mak bisa menangkapnya kembali. Yang Mak tahu, sejak itu, kita tak lagi seakrab biasa. Pulang sekolah, kau sering melewatkan masakan Mak, dan tergesa-gesa mengunci diri di kamar.

Mendengarkan lagu-lagu cinta Siti Nurhaliza, atau Dayang Fauziah. Mak bersedih. Lebih bersedih, karena tampaknya kedua orang tuamu tak menyadari perubahan dan gejolak rasa dirimu. Betapa kau butuh perhatian mereka, agar dunia cinta yang baru kau kenal tak menyesatkanmu. Tapi mereka tak pernah ada.

Katakan Cinta, apa yang Mak bisa buat?
***

Jarak di antara kita kian terbentang, saat tujuh belas usamu. Mak bukan tak ingin memperbaiki sikap dan mencoba lebih mengerti. Tapi kesibukan dengan ketiga adikmu pun menuntut perhatian. Sementara dua orang tuamu sibuk dengan urusan mereka. Mak sedih. Kau seolah tak membutuhkan lagi nasihat orang tua ini. Asyik dengan dirimu sendiri. Tidak satu dua kali, Mak perhatikan kau sering pulang

terlambat, kadang sampai larut. Anehnya, dua orang tuamu seperti tak ingat ketidakberadaanmu.
Pakaianmu mulai dipendek-pendekkan, atau dibuat pas melekat di badanmu. Memberi citra gadis muda yang baru belia. Bagai buah ranum yang memesona mata. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, Mak menemukan kau mulai berdandan. Lipstik dan pemerah pipi, yang sebelumnya tak perah kausentuh, kini tak pernah absen dari tasmu.

Puncaknya pada malam valentine’s, kau pergi bersama teman-teman, dan tak pulang, meski semalaman Mak menanti. Ke mana kau, Nak? Kenapa tak pulang?

Pukul delapan pagi. Dua orang tuamu baru saja berangkat ke tempat mereka bekerja. Dan kau pulang dengan sedikit terhuyung. Lelah jelas tampak di wajahmu. Tapi senyum tak putus-putus yang tersungging, mulai mengkhawatirkan

Mak. Cinta, apa yang terjadi? Berceritalah pada Mak.
Mak menunggu dan menunggu. Tapi kau tak berkata apa-apa. Hanya
tersenyum dan tersipu-sipu. Hari-hari berikutnya berlalu, kau masih seperti itu.

Hari itu, tak akan pernah terlupa dari benak Mak. Kau pulang, menangis terisak. Di belakangmu, Mami menyusul dengan raut wajah amarah. Kau berlari ke atas kamar, dan menguncinya rapat-rapat. Mami yang masih tampak kesal\ mengejarmu. Pertengkaran terjadi di antara kalian. Mak dengar Mami setengah\ berteriak, lalu menguras isi kamarmu. Kaset-kaset cinta kesayanganmu, lagulagu boysband yang kalian gandrungi, dilemparkan Mami ke bawah anak tangga.
Juga majalah-majalah remaja. Surat-surat cinta.

Mak memunguti satu-satu dengan wajah ikut bersimbah air mata. Tak tega rasanya melihat kau dimarahi sedemikian.
“Biar Mak! Tak usah dirapikan. Biar dibuang ke tempat sampah.”
“Halimah, apa hal?”
“Tak tahu ke? Anak itu sudah tak kena diatur lagi. Mak lihat kan kelakuannya
yang sudah tak patut? Tak kena dihajar. Buang semua itu, Mak!”
“Jangan terlampau keras kau padanya, Halimah!” pinta Mak serak, di antara
sedu sedan yang terdengar dari kamarmu. Mami menarik napas. Wajahnya yang cantik masih gusar. Lalu berlalu ke kamarnya sendiri. Menyibukkan diri di depan komputernya berjam-jam.
Rasa hati, ingin Mak memelukmu, Cinta. Seperti masa kau kecil dulu. Tapi teriakan adik-adikmu, membuat Mak harus menyeret langkah tua ini ke bawah, dan urung menghiburmu.
Apa yang kau lakukan dan membuat Mami marah? Mak tak setuju tindakannya yang drastis padamu. Apalagi mengingat sebelumnya Halimah tak pernah memperhatikan dunia remajamu.

Macam mana pula ia akan mengerti masa transisi yang kau alami? Itulah orang tua, Cinta. Meskipun semua ia lakukan atas nama cinta, tak semuanya bijaksana. Tak semua benar. Ada salah. Ada saat mereka lupa, bahwa semua orang perlu proses. Betapa hubungan orang tua dan anak perlu dibina dan diproses. Ah, berat hati Mak di sini, semakin hari, sayang.

Kalau ada petir nak memekik, rasanya tak akan mengagetkan dan menghancurkan hati Mak seperti kabar yang kau sampaikan.
“Dia cakap, dia cintakan Cinta, Mak. Makanya dia selalu ingin dekat dengan Cinta. Dia cakap pula, karena selalu mau dekat, dia menyentuh Cinta.
Dia cakap idalam cinta tak boleh selfish. Harus ada take and give. Makanya
Cinta ... Cinta pregnant, Mak ...”
“Cinta ... kau ... kau mengandung, Nak?” Wajahmu yang pucat basah air mata. Anggukan kecil kepalamu. Dunia Mak seperti berhenti dari gerak putarnya.
Kenapa Cinta? Kenapa? Suara-suara masa lalu, yang berpuluh tahun Mak coba lupakan, tiba-tiba menguak ingatan Mak kembali.
“Anak sial! Bikin malu orang tua! Ke mana harus Bapak taruh muka
Bapak, Surti!”
“Kak, kenapa Kakak tega memberikan aib pada Emak?”
“Kau ...” Tatapan Emak yang menyayat ... mulutnya yang pucat bergetar ketika mengucapkan kata-kata yang menjadi kalimat terakhir yang pernah didengarnya, “Mulai sekarang kau bukan anak Emak lagi!”

Baju, sekolah, keluarga, kasih sayang Emak, masa depan ... semua terpaksa Emak tinggalkan.
Begitulah perempuan tua ini harus menjadi orang upahan seumur hidup. Itu mungkin tak seberapa. Tapi terasing? Sendiri hingga tua? Tak diakui keluarga? Terampas dari masa depan sebelum Mak sempat membangunnya?

Bayangan Mak menjalani hari-hari dalam kehamilan muda, tanpa lelaki yang menabur benih mau bertanggung jawab, masih melekat kuat. Berjalan tertatih... bekerja apa saja, sampai kandungan Mak besar ... Lalu dukun beranak yang mengatakan dengan suara sendu, “Anakmu meninggal.
”Memang tak pernah, Mak menceritakan ini padamu. Akan serupakah
nasib kita sayang? Kau menatap Mak, bertambah bingung dengan kediaman
perempuan tua ini.
“Mak...,” panggilmu
“Mak...”.
Mata Mak mengabur ... seluruh sendi lemas. Dan di hadapan, kau tertunduk
beruah air mata.
“Mak. cinta itu apa bedanya tu ?”
Cinta kecil berjongkok depan Mak. Seperti sekarang. Cinta, andai Mak bisa menjelaskan kembali, akan Mak ceritakan semua tentang cinta. Juga cinta-cinta masa muda, yang bahkan bukan apa-apa. Andai Mak bisa jelaskan semua ... Andai ...
Isak Cinta masih terdengar, di antara isak perempuan tua , dalam rumah
bertingkat dua.

                                                                    ***
Dikutip dari Cerpen “Luka Telah Menyapa Cinta” Asma Nadia.

Menarik bukan cerpen yang barusan kalian baca? Penasaran dengan cerpen lainnya. silahkan cari saja di website ini, atau mau resensi dan sinopsis novel? Kami menyediakan 100++ kumpulan sinopsis Novel Populer dan Legendaris.

Tuesday

Cerpen Online Terbaru - 300 Tael perak

Cerpen Terbaru - Berikut kami berikan sebuah cerpen anak terbaru yang dikutip dari majalah bobo yang berjudul 300 Tael Perak. Selamat membaca

Cerpen Online Terbaru - 300 Tael perak
 Tael perak

Dahulu kala, di daratan Cina tinggalah Kakek dan Nenek Chen. Mereka tidak mempunyai anak. Hidup mereka sehari-hari hanya mencari kayu bakar di hutan. Kayu itu nantinya dijual Kakek Chen ke kota. Pada suatu pagi, Kakek dan Nenek Chen bersiap-siap berangkat ke hutan.
 
Nenek tak lupa membawa bekal untuk makan siang mereka di hutan. Ketika sudah tiba di hutan, mereka melihat anak burung merpati putih menggelepar di tanah. Rupanya anak burung itu terjatuh dari pohon. "Aduh, kasihan sekali anak burung ini," kata Nenek sambil mengangkat merpati itu. Ia meletakkan anak burung itu di bakul makanan dengan hati-hati. "Kita rawat saja ya Kek," ujar nenek, Kakek Chen mengangguk setuju. Sore harinya setiba di rumah, Nenek Chen merawat anak burung itu dengan hati-hati. Nenek memberinya makanan dan meletakkannya di atas kain perca di dalam kardus. Setelah beberapa minggu, akhirnya burung itu sembuh dan mulai terbang di sekeliling rumah. Nenek amat gembira. "Lihat Kek, anak burungnya sudah sehat! Dia pasti mampu terbang kembali ke hutan!" Kakek Chen melihat sambil tersenyum. Lalu melanjutkan pekerjaannya membelah kayu. Setelah melihat anak burung itu terbang pergi, Nenek Chen kembali ke kamar dan mulai merapikan kamar. Tiba-tiba ia melihat benda berkilauan di balik seprai. Alangkah terkejutnya Nenek Chen saat melihat tumpukan uang perak di atas kasur.

"Kek, Kakek, kemari Kek!" seru Nenek Chen. Tergopoh-gopoh Kakek Chen masuk ke kamar. Ia sama terkejutnya dengan Nenek saat melihat tumpukan uang itu. "Mari kita hitung jumlahnya, Nek," kata Kakek. Ternyata jumlah uang itu banyak juga, tiga ratus tael." Aduh Kek, uang ini dari mana ya? Kita apakan, ya? Nenek takut… kalau dicuri bagaimana? Ujar nenek bingung. Kakek Chen berpikir keras.

"Ah, kita taruh di guci kecil, lalu kita kubur di halaman saja ya Nek," usul Kakek gembira. Nenek pun setuju. Di saat hari mulai gelap, Kakek menggali di halaman. Ia mengubur 300 tael itu di sana. Dua hari kemudian, Nenek masih merasa gelisah. Ia berkata, "Kek bagaimana kalau kita lupa dengan tempat penyimpanan uang itu? Halaman kita begitu luas. Sekarang saja aku sudah bingung.  Apalagi bulan depan!"

"Iya, ya Nek. Apalagi kita sudah mulai pikun. Ah! Bagaimana kalau tempat penyimpanan uang kita beri tanda agar kita tidak lupa?"

Nenek Chen setuju. Malam harinya, Kakek langsung melaksanakan idenya itu. Keesokan paginya, Nenek terbangun karena suara-suara ribut di luar. Tanpa membangunkan Kakek, ia segera beranjak ke luar. Betapa terkejutnya Nenek saat melihat para tetangga sedang berkerumun di halaman rumahnya. Mereka menunjuk-nunjuk palang yang ditancapkan Kakek tadi malam. Di palang itu tertulis : TIDAK ADA UANG 300 TAEL DI SINI.

"Nek, Nenek menyimpan uang di sini ya?" tanya seorang tetangga begitu melihat Nenek. "Uhmmm", Nenek bingung. Tiba-tiba ia melihat anak burung merpati terbang di sekeliling halamannya. Itu anak burung merpati yang pernah dirawatnya dulu. Burung itu masuk ke dalam rumah, lalu berubah wujud menjadi seorang peri cantik.

"Nenek yang baik, terima kasih karena kau telah merawatku sampai sembuh. Uang itu aku berikan sebagai tanda terima kasihku padamu. Tapi rupanya kalian tidak siap menerima pemberianku.

Aku akan mengambil kembali uang itu, " ujar peri lembut. Saat itu juga, guci kecil berisi uang yang ditanam Kakek Chen muncul di tangan peri itu. Palang yang tertancap di halaman juga lenyap. Para tetangga kembali ke rumah masing-masing. Nenek masih terpaku karena kaget dan bingung. Saat akan bicara, tiba-tiba peri itu menghilang. Yang ada hanya asap putih dan cahaya warna-warni dari pakaian sang peri. Lama Nenek terdiam. Tiba-tiba ia melihat benda berkilauan di tempat peri tadi berdiri. Nenek memungut. Ternyata benda yang berkilauan itu adalah uang perak sebanyak 10 tael. Tiba-tiba terdengar sebuah suara,

"Aku tinggalkan uang itu, gunakanlah dengan baik." Tak lama terdengar suara Kakek yang mengagetkan Nenek. "Ada apa Nek? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Nenek Chen memperlihatkan uang 10 tael di telapak tangannya. Lalu menceritakan peristiwa tadi. Kakek tersenyum sabar, "Kita jadi tidak repot mencari tempat menyimpan uang, kan …"

                                                                           (Dongeng dari Cina)
                                                                            Sumber: Bobo, 28 Desember 2006

Demikian Cerpen terbaru dari kami ilmubahasa.net. Semoga bermanfaat. Silahkan melihat kumpulan novel dan materi bahasa indonesia kami yang diharapkan dapat membantu anda dalam mencari hal-hal tentang materi bahasa Indonesia dan Karya sastra Indonesia

Friday

Contoh Cerpen - Rumah Kayu

ilmubahasa.net - Pada kesempatan hari ini kami akan berbagi contoh cerpen atau cerita cerpen online yang berjudul Rumah Kayu. Selamat membaca. Semoga anda terhibur.

Contoh Cerpen - Rumah Kayu

Kematian mbah Kerti tidak saja mengejutkan sebagian besar warga kampung kami, tapi pun menimbulkan heboh besar. Laki-laki berumur tujuh puluh tahun lebih, tapi tetap nampak sehat, gemuk dan berwibawa, tanpa didahului sakit yang berarti, mati. Hampir tak seorang pun mempercayai kenyataan itu. Ia, mbah Kerti yang tiap pagi dan sore berjalan-jalan berkeliling kampung harus meninggalkan tetangga yang dikasihinya begitu mendadak. Semua orang mengenal siapa dia. Tidak saja mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di kampung kami, namun juga para pendatang baru. Kecuali anak-anak kost. Yang terakhir ini di samping menambah sumpeknya kampung juga banyak di antara mereka yang pergi sebelum waktunya. Yang sering terjadi, mereka banyak utang pada penjual makanan. 

Dan ekor dari kematian mbah Kerti adalah lahirnya desas-desus yang segera tersebar luas. Dugaan bahwa mbah Kerti mati dibunuh tersiar dari mulut ke mulut. Maklum orang-orang kampung. Mulut adalah segala-galanya dalam hal penyebaran informasi. Bagaimana mbah Kerti dibunuh? Kemungkinan besar diracun! Begitulah kesimpulan sementara dari desas-desus itu. Sebab tak ada tanda-tanda bahwa ia mati karena tindak-tindak kekerasan atau penganiayaan. Juga waktu orang-orang memeriksa tubuhnya, tak sebuah luka atau bekas pukulan benda keras maupun senjata tajam membekas di tubuhnya. Mereka menduga mbah Kerti diracun karena tak ada tanda-tanda lain yang menyebabkan kematiannya. Sebab usia tua tak bisa dijadikan patokan untuk menentukan batas hidup seseorang

Dua orang cucunya, Ridwan dan Kadir, tidak banyak memberi keterangan yang memuaskan. Keduanya belum dewasa benar. Juga sehari-hari bekerja sebagai buruh percetakan di kampung kami. Keduanya baru pulang setiap menjelang senja. Maklum, anak-anak itu sudah yatim piatu, sementara uang pensiun kakeknya, mbah Kerti, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keduanya. Karena kematian mbah Kerti itulah kini keduanya benar-benar hidup tanpa sanak dan famili. Entah kenapa, garis keturunan dari ayahnya punah atau tersebar di lain tempat. Sementara dari ibunya, tak ada saudara lain. Ibu dua anak itu adalah putri tunggal mbah Kerti. Ketika seseorang mencoba membujuk dua anak itu perihal kakeknya, keduanya seperti ketakutan waktu akan mengatakan sesuatu.

“Percayalah Nak, kami tidak apa-apa. Kami hanya ingin tahu, kira-kira apa saja yang dikeluhkan mbah Kerti pada harihari terakhir ini. Kalau ada. Barangkali masih ingat?”
“Kakek, Kakek tidak pernah mengeluh”, jawab Ridwan cucu mbah Kerti.
“Mungkin dia tidak mengeluh tentang dirinya. Tapi kalau ada hal-hal yang lain mengganggu. Tentang pensiun, tentang rumah ini barangkali. Apakah akan diperbaiki, atau tetap seperti aslinya, semuanya terbuat dari kayu. Dan ini kayu jati Nak. Bisa bertahan puluhan tahun”, lanjut orang itu dengan penuh kebapakan. Ridwan melirik adiknya, seperti minta persetujuan. Tapi yang dilirik diam menundukkan wajahnya. Entah apa yang terbayang dalam benak anak itu. Tapi toh akhirnya Ridwan ingat sesuatu yang pernah dikataan kakeknya beberapa minggu lalu.
“Tentang rumah ini memang kakek pernah mengatakan”, katanya lirih.
“Oh, ya, ya! Apa yang dikatakan almarhum kakekmu, Nak?”
“Dia tidak ingin mengganti rumah ini dengan tembok atau dengan papan lain. Dia bangga sekali dengan rumah yang kata kakek dibuat waktu ibu masih kecil. Semua terbuat dari kayu.
Ya, benar, kakek ingin melihat rumah ini tetap begini saja. Rumah
kayu, katanya.”
“Lalu apa yang ia keluhkan?”
“Mungkin rumah ini akan dibongkar seseorang”, kata anak
itu sedih “Maksudnya?”
“Tanah ini bukan milik kakek. Dia hanya numpang saja. Tapi kata kakek, yang empunya dulu adalah sahabat karibnya. Dan sekarang tanah ini akan diminta oleh ahli waris sahabat kakek. Saya tidak tahu urusannya. Hanya kakek lalu bersedih. Dan katanya, apa pun yang akan terjadi, dia akan tetap tinggal di rumah ini. Bahkan kakek berpesan pada kami berdua, agar tetap tinggal di rumah ini kalau kakek meninggal kelak. Tapi kakek terlalu cepat meninggalkan kami ....”
“Sudahlah Nak, jangan bersedih. Tidak hanya kamu berdua saja yang merasa kehilangan kakekmu, tapi juga sebagaian besar warga kampung ini. Kakekmu adalah termasuk orang tua yang kami hormati bersama. Kau tahu Nak, zaman revolusi dulu kakekmu adalah seorang gerilya yang berani.”
“Ouh, kakek juga pernah bercerita tentang itu. Bahkan katanya, semua kayu ini adalah curian dari gudang milik seorang tuan bule di dekat stasiun. Apa benar?”
“Itu benar Nak. Mencuri pada zaman dulu adalah pekerjaan yang mulia. Apalagi berani mencuri milik orang bule. Wuaah, tak sembarang orang berani melakukannya. Dan anu Nak, siapa kira-kira yang akan meminta tanah ini?” Anak itu menggelengkan kepalanya. Ada perasaan takut untuk mengatakan siapa orangnya. Juga Kadir adiknya. Dia tidak berani berkata apa-apa jika seseorang menanyakan perihal tanah yang akan diminta itu. Empat puluh hari setelah kematian mbah Kerti desas-desus itu semakin jelas arahnya. Kematian mbah Kerti memang erat hubungannya dengan rumah dan tanah itu.

Seseorang dengan paksa ingin membeli rumah itu karena tanahnya akan dipakai. Tapi mbah Kerti menolak. Juga ketika kepadanya ditawarkan uang pesangon untuk memindahkan rumah itu. Mbah Kerti tetap menolaknya. Bahkan ia terang-terangan berkata lebih baik mati daripada berpisah dengan rumahnya itu, rumah kayu, karena memang semuanya terbuat dari kayu. Karena itulah sebagian besar warga kampung kami secara diam-diam menuduh seseorang telah membunuh mbah Kerti. Dan orang itu adalah pemilik sebuah percetakan, pabrik kayu, peternakan ayam dan kolam ikan yang cukup luas.

Mereka pun tidak berani berbuat apa-apa selain memperjelas dugaan demi dugaan dan rasa benci yang memuncak. Ketika seseorang menyampaikan hal itu kepada Ridwan dan Kadir, keduanya tidak begitu terkejut.
“Kakekmu telah dibunuh seseorang tapi kami tidak bisa menemukan buktinya”, kata orang itu dengan yakin.
“Lalu kami harus berbuat apa?” Tanya Ridwan sambil merangkul pundak adiknya. Mereka memang tidak mengerti harus berbuat apa.
“Apakah kalian tidak dendam karena itu?”
“Dendam?”

“Ya, kakekmu telah dibunuh agar orang itu dengan leluasa dapat memindahkan rumah kayu
ini. Dia tidak suka dengan rumah ini. Memang benar dia ahli waris yang syah dari pemilik pekarangan rumah ini. Tapi kan tidak begitu caranya meminta kembali miliknya. Pakai membunuh segala! Kami tidak terima. Tapi seharusnya kamu berdua sebagai ahli waris kakekmu yang tidak terima. Kalian bisa menuntut orang itu!” Keduanya diam. Tak pernah terpikir oleh mereka untuk melakukan tindak-tindak kekerasan seperti yang dianjurkan oleh beberapa orang. Tetapi hampir setiap hari orang silih berganti menyuruh keduanya untuk melakukan pembalasan dendam atas kematian mbah Kerti kakeknya.
“Nyawa harus dibayar dengan nyawa!” Kata mereka membakar hati keduanya. Tapi keduanya tetap diam. Tak mengerti untuk apa hal itu mesti dikerjakan. Pikirannya tak pernah sampai ke situ. Maklum keduanya belum dewasa benar. Ridwan berumur empat belas tahun, adiknya dua belas tahun. Ibu mereka meninggal enam tahun yang lalu karena terserang TBC, sementara bapaknya seolah lenyap ditelan bumi waktu kerusuhan politik beberapa tahun yang lalu. Dan hari itu, enam puluh lima hari setelah kematian mbah Kerti, kampung kami dihebohkan oleh sebuah peristiwa lain. Yaitu terbakarnya percetakan yang terletak di pojok kampung di dekat pabrik tahu.

Keduanya milik orang kaya, konon adik iparnya seorang pejabat di ibu kota. Yang menghebohkan adalah ditahannya Ridwan dan Kadir oleh yang berwajib. Keduanya dituduh sengaja membakar percetakan sebagai pembalasan atas kematian kakeknya. Tidak seperti kematian mbah Kerti dulu, heboh itu tidak berlanjut dan berekor dengan lahirnya desas-desus yang simpang-siur. Mereka tidak berpikir apa kelanjutan dari penahanan kedua anak itu. Yang menarik perhatian mereka kini adalah rumah kayu yang sudah tak berpenghuni lagi itu. Ketika seseorang akhirnya membeli dengan harga mahal, mereka tidak menghalangi-halangi. Dan uang hasil penjualan itu, atas pertimbangan bersama, dibagi sama rata.

Satu minggu kemudian rumah kayu itu dibongkar. Mungkin sampai di situlah nasibnya. Tapi bagaimana nasib Ridwan dan Kadir, dua cucu mbah Kerti ahli waris atas rumah kayu itu yang kini berada dalam tahanan? Atas kesepakatan bersama, mereka menyerahkan kepada Yang Kuasa. Sebab nasib manusia sepenuhnya berada di tangan-Nya. Begitu akhirnya mereka berpendapat.
                                                                                 (Sumber: dikutip dalam Pagelaran, Agnes Yani Sardjono, 1993)

Terimakasih telah berkunjung diartikel Contoh Cerpen kami ini. Pantau terus kumpulan cerpen atau Kumpulan Novel  Online kami agar menambah wawasan anda dalam dunia sastra. Salam kami ilmu bahasa

Thursday

Contoh Cerpen - Penumpang Kereta Malam

Ilmubahasa.net - Halo sahabat imbas. Pada kesempatan kali ini, kami akan memberikan sebuah cerpen yang berjudul Penumpang Kereta Malam. Cerpen ini sangat menarik untuk disimak. Mengingat setting cerita dalam kereta. Selamat membaca

Keinginan untuk pergi ke kota S, memaksa aku mendatangi stasiun kereta api. Berkali-kali bila aku naik kereta, aku merasakan suasana menembus malam yang mengasyikkan. Kereta juga akan menerabas angin, menyibak kesunyian dari kota ke kota, sebelum akhirnya berhenti di sebuah stasiun. Tubuhku terguncang-guncang di dalam gerbong kereta api. Aku selalu naik kereta api, karena aku merindukan suara kereta yang berderak-derak. Sesungguhnya, sudah beratus-ratus kali, bahkan ribuan kali, aku bepergian naik kereta api. Aku senang karena bisa bertemu beratus-ratus penumpang dari berbagai penjuru. Seperti juga sekarang ini, di atas gerbong yang membawaku lari menuju ke arah matahari terbit 

Kereta meliuk-liuk, aku masih terjaga. Menghitung suara yang melaju ke arah matahari terbit. Pemandangan di luar jendela samar-samar. Dua jam, kereta ini sudah meninggalkan naik kereta api tentunya bukan hal baru lagi bagi sekitar dua ratus penumpang. Juga bagi dua ratus calon penumpang atau berkali lipatnya dua ratus penumpang kereta api. Bagiku, ini adalah perjalanan menyenangkan. Sebab, setiap kali aku melakukan perjalanan seperti ini, selalu ada pemandangan berbeda. Aku selalu menolak ditawari naik pesawat.

Kereta Malam
“Terlalu cepat sampai”, alasanku menolak. Aku tidak bisa berkhayal dan mengamati penumpang satu demi satu. Bukankah aku tidak mengejar waktu, sehingga tidak perlu harus cepat sampai?

Seorang penumpang di depanku, yang entah dari mana datangnya, mengajak bercakap-cakap sebelum kereta berangkat. Penumpang di dekatku, seorang perempuan dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil itu, tampak menutupi kesedihannya. “Bapak mau ke mana?” tanyanya. Aku menjawab sebuah kota yang menjadi tujuan kereta api ini. Kalimat pembuka itu menyebabkan ia banyak bercerita secara jujur dan terus terang kalau baru saja dicerai suaminya. Lalu akan pulang ke rumah orang tuanya, menuju arah kereta api ini bergerak. Aku sedikit iba mendengar ceritanya dan begitu jujur ia bercerita tentang keadaannya. Tetapi aku tidak berusaha menyelidik lebih jauh, mengapa sampai bercerai. Aku biarkan saja perempuan kuning itu bercerita dan aku mengangguk-angguk.

Mungkin karena ia melihatku sebagai orang tua, sehingga tak punya perasaan apa-apa padaku, kecuali menemukan tempat untuk mencurahkan perasaannya? Atau, ia sesungguhnya membutuhkan nasihat?

“Suami saya itu jahat. Jahat sekali. Uangnya dihabiskan untuk judi dan main perempuan”, katanya.
Lalu ia masih bercerita tentang suaminya. Air matanya berlinangan. Ia peluk dua anaknya di kiri dan kanan.
“Tapi, itu kan pilihanmu?”
“Memang, dulu aku tak mengira kalau ia jahat seperti ini.”
“Lalu, mau ke mana? Pulang ke rumah orang tua?”
“Ya. Pulang”, jawabnya.
“Orang tuamu sudah tahu kabar ini?”
“Tidak.”
Perempuan itu bercerita penuh semangat. Ia juga bertengkar dengan suaminya, sebelum talak dijatuhkan. Ada dendam membara di wajahnya yang berusaha ditutupi di depan kedua anaknya. Tapi, anaknya terlalu kecil untuk tahu apa yang diderita ibunya.

“Sabar. Semua itu adalah ujian. Kita harus sabar menghadapi ujian. Lebih baik sabar daripada bertindak gegabah”, kataku.
“Apakah ini sudah menjadi nasib saya?”
“Ini ujian bagimu.”
“Anak-anak saya masih kecil. Masih butuh perhatian seorang ayah, tapi ayahnya malah jahat.”

Kereta api bergerak. Menembus malam, menerabas angin, menyibak kesunyian dari stasiun ke stasiun. Aku memang menyukai kereta api, betapa pun naik pesawat jauh lebih cepat. Perjalanan semacam ini sudah aku lakukan sekian puluh tahun. Ada yang tak bisa dihilangkan dari kebiasaan naik kereta api. Begitu meletakkan bokong ke atas tempat duduk di gerbong kereta, akan mengalami peristiwa yang berbeda dengan perjalanan yang lalu. Lima puluh tahun yang lalu, aku sudah melakukan perjalanan seperti ini.

Kereta masih akan menembus beberapa kota, melewati jam demi jam. Aku mengeluarkan makanan kecil. Kemudian aku berikan pada dua anak kecil yang melendot ibunya. Anak itu tampak terkulai di tempat duduk. Dan, sekitar dua ratus penumpang kereta api ini, seperti terlena oleh derak berirama. Angin malam berkesiutan di luar jendela. Warna malam, berselang-seling dengan kerlip lampu rumah-rumah penduduk. Lampu-lampu jalan. Pabrik-pabrik yang sepi tapi berkerlip lampu-lampu menjaganya. Dua ratus penumpang kereta api ini masing-masing membawa persoalannya.
 
                            -----------------------------------&&&&----------------------------------------

Tak ada rembulan menyembul di langit. Kereta terus berderak, menerobos kegelapan. Aku masih terjaga, teringat sebuah senyuman yang pernah singgah. Berapa tahun lalu? Ah, sudah puluhan tahun lalu. Barangkali pernah juga singgah ke hatimu? Sekali dalam perjalananku naik kereta api, seorang perempuan melempar sebuah senyuman. Alangkah sulitnya dilukiskan dengan kata-kata, tetapi itulah yang aku alami sekian puluh tahun lalu. Aku tak tahu, seorang penumpang kereta tersenyum ke arahku. Perempuan dari mana dia? Peristiwa itu masih saja bisa aku ceritakan kepada siapa pun. Bahkan, ketika itu, angin yang mengusik lewat lubang jendela kereta, tak kuasa menghapus senyuman itu untuk beberapa lama. Setelah kereta berderak sekian kilometer, aku masih merasakan senyuman itu.

Ya, senyuman itu memang sangat menawan.

Anehnya, sangat sulit senyuman itu dilukiskan dengan katakata. Aku mencoba melukiskan. Tapi, gagal. Mungkin kalau pada waktu itu aku membawa tustel, aku bisa mengabadikan senyuman itu dan terus memandangnya. Tetapi, aku hanyalahpenumpang kereta yang tak membawa apa-apa kecuali sebuah tas kecil. Di situ ada odol, sikat gigi dan sedikit uang. Jadi, senyum itu hanya lewat begitu saja tanpa bisa aku simpan dalam kantong.

“Hati-hati dengan perempuan yang suka melempar senyum dalam perjalanan”, kata temanku.
“Tapi, tak semua perempuan perlu diwaspadai, bukan?”
“Perempuan itu cantik?”
“Cantik sekali tidak. Tapi, ia perempuan menarik”.

Entahlah, mungkin Tuhan maha tahu, aku dipertemukan kembali dengan perempuan itu. Juga dalam kereta api yang berderak mengejar matahari terbit. Ya, perempuan itu adalah pemilik senyuman yang membuat aku tak kuasa memejamkan mata. Perempuan yang tersenyum denganku di kereta, akhirnya menjadi istriku. Aku selalu membanggakan kenangan itu pada teman-teman. Aku selalu senang bercerita tentang sebuah senyuman.

Setelah kami menikah, bukannya tidak pernah menggunakan kereta api. Justru semakin sering kami menggunakan kereta api, bepergian ke mana pun kota yang bisa dijangkau kereta api. Kadang aku pergi lebih dulu, kemudian istriku menyusul. Atau, aku menyusul istriku yang lebih dahulu pergi ke kota tujuan yang kami tentukan. Tapi, belakangan aku lebih sering bepergian sendirian menggunakan kereta api. Dan, berbagai macam pengalaman masih saja aku alami di atas gerbong.

“Apa masih ada penumpang kereta yang memberi senyum padamu?” Tanya istriku suatu hari.
“Tapi tak ada senyuman yang dahsyat seperti senyumanmu waktu itu”, kataku. Dan, istriku senang mendengar jawaban itu.

Melihat perempuan dengan dua anak yang baru saja dicerai suaminya itu, aku merasa iba. Kereta sudah mendekati sebuah stasiun besar. Perempuan yang baru saja dicerai suaminya itu masih terjaga. Ketika kereta berhenti, ia tampak gelisah. Ditengoknya keadaan di luar jendela. Beberapa penumpang kereta ada yang turun dan ada yang naik.

“Saya akan keluar sebentar”, katanya padaku.
“Mau ke mana?”
“Mencari telepon umum. Titip anak-anak saya”, katanya padaku.
“O, jangan khawatir. Akan aku jaga. Mereka tampak sedang tidur nyenyak, biarkan saja”, kataku.

Lalu, perempuan itu berkelebat meninggalkan kami, keluar melalui pintu terdekat. Suara ramai stasiun terdengar bagaikan tawon yang akan menghisap sari bunga. Padahal, malam sudah larut. Di antara penumpang kereta, ada yang mendadak terbangun. Tapi, ada yang masih melanjutkan tidurnya. Aku melongok keluar jendela.

Aku menemukan orang-orang yang masih berharap mendapatkan rizeki dari penumpang kereta malam. Tapi, aku tak menemukan ke mana perempuan yang meninggalkan anaknya tidur itu. Aku lalu kembali duduk dan memandang dua orang anak kecil yang terlena di atas kursi gerbong.
 
Peluit terdengar nyaring di stasiun. Kereta bergerak pelan. Angin malam masih terasa. Ada yang berteriak di stasiun. Tak jelas. Aku masih menatap dua anak kecil yang tertidur. Ke mana ibunya? Mengapa tidak juga naik ke gerbong? Apakah tidak kembali? Jangan-jangan tertinggal? Aku menaruh curiga ketika kereta kembali menembus malam dengan derak suara yang merintih. Aku mencari-cari, ketika gerbong bergoyang-goyang, ada penumpang yang turun dan ada yang naik. Aku tak melihat perempuan itu datang menghampiri anaknya, hingga kereta sudah meninggalkan stasiun.

Aku berdiri. Perempuan itu masih aku ingat wajahnya. Rambutnya acak-acakan, diikat di belakang. Mengenakan baju terusan. Ia mengenakan baju hangat. Senyumnya menawan. Pasti ia masih menarik bagi laki-laki lain jika ia berdandan. Bibirnya tak bergincu, menyiratkan perempuan sederhana. Tapi, aku tidak tahu siapa namanya. Aku rasa, dalam perjalanan ini ia tidak mengenalkan diri padaku. Aku bertanya, mengapa ia turun dari kereta dan meninggalkan anaknya tidur di dalam gerbong? Apakah ia sudah menemukan keberanian untuk tidak naik ke atas kereta?

Atau, perempuan itu akan mengontak ibunya, yakni nenek anak-anaknya, agar menjemput di stasiun terakhir? Entahlah. Aku masih mencari ke setiap gerbong. Tak aku temukan wajah yang aku cari. Aku tanyakan pada orang-orang yang terjaga mengenai ciri-ciri perempuan yang meninggalkan anaknya di gerbong kereta, mereka semua menggeleng. Lalu aku kembali ke tempat duduk semula. Masih melihat dua anak kecil itu tertidur. Apakah kamu akan ditinggalkan ibumu? Anak-anak itu belum tahu pahitnya kehidupan. Mereka tertidur, seakan tak peduli akan dibawa ke mana oleh kereta api ini. Mereka memasuki dunia mimpinya sambil memeluk boneka. Mereka tak tahu kalau ibunya harus meninggalkan perjalanan malam bersama kereta api ini. Aku masih terjaga. Aku masih memikirkan ada orang yang datang menjemput di stasiun terakhir. Aku masih sempat mengambil boneka yang jatuh dari pelukan dan membenamkan dalam pelukan anak itu.

Dan, kereta sudah bergerak cukup jauh dari stasiun. Memasuki malam dalam detik demi detik yang bergerak cepat. Aku mulai diserang kantuk dan meletakkan kepalaku di sandaran. Tidak untuk tidur, sebab kereta akan sampai stasiun terakhir sekitar empat jam lagi. Kereta masih harus menerabas angin, menyibak malam, menjemput kesunyian dari kota ke kota. Rasanya, perjalanan malam kali ini lebih berat dan panjang.

                                            (Sumber: dikutip dari karya Arwan Tuti Artha Kedaulatan Rakyat, 19 Desember 2004)

Semoga anda menikmati dan terhibur oleh cerpen ini. Silahkan berikan komentar anda pada kami. Jika anda ingin agar karya anda kami tampilkan di website ini, silahkan anda kirimkan karta anda. lewat email kami di [email protected] atau di kolom yang sudah disediakan di website kami. Salam kami

Saturday

Kumpulan Cerpen Online - Tikus di Warung Soto Karya Wiyantono

Ilmubahasa.net - Beikut kami tampilkan salah satu cerpen kami yang dikirim oleh sahabat imbas. Dikirimkan kepada kami karena cerpen ini menginspirasinya dulu waktu beliau masih sekolah. Tikus di Warung Soto judulnya Karya Wiyantono, seorang cerpenis yang karyanya ini pernah dimuat disalah satu media surat kabar. Berikut ceritanya. Selamat membaca

Masa kanak-kanak kami adalah keindahan. Aku dan Gunawan berkawan akrab. Keakraban yang sebenarnya bisa terganjal oleh perbedaan status sosial. Aku anak tukang kayu, sedangkan ayah Gunawan seorang camat. Namun kami tak pernah terusik perbedaan itu. Dan itulah yang kusebut sebagai keindahan. 

Dongeng-dongeng yang dituturkan kakekku maupun eyangnya Gunawan menambah indah masa kanak-kanak kami. Kukatakan sebagai keindahan karena dongeng-dongeng itu menyadarkan kami betapa akan kesetaraan manusia dan keutuhan antar insan yang tidak perlu dikotak-kotak oleh perbedaan manusiawi.


Di suatu sore kakekku mendongeng tentang singa dan tikus. Seekor singa beristirahat dengan tenang di tengah hutan. Lalu datang seekor tikus mendekatinya. Tikus bermain riang dan mengusik ketenangan singa. Hampir saja singa menerkam tikus setelah keberangannya memuncak. Namun, niat itu urung. Singa sadar, sebagai binatang besar tidak pantas menyakiti binatang sekecil tikus. Dan tikus pun terus bermain loncat-loncatan dalam kegirangan, sementara singa bisa tidur mendengkur.

Di lain hari singa terperosok ke semak belukar. Rambutnya terjerat dan melilit pekat di semak. Ia meraung-raung untuk lepas dari jeratan, namun rambutnya tetap kuat melilit di semak. Raungannya di dengar tikus. Dan tikus pun langsung memberi pertolongan. Dengan kelancipan moncong dan ketajaman gigi kecilnya, tikus memotong rambut singa yang terjerat. Tak lama kemudian singa bisa bebas dari jeratan semak belukar, meski harus kehilangan bagian rambut indahnya.

Dongeng serupa juga dibeberkan eyangnya Gunawan di lain kesempatan. Bahkan disertai pesan moral untuk kami, “Jadi yang besar jangan somobong karena merasa kuat. Sebaliknya yang kecil jangan merasa rendah diri, karena yang kecil pun bisa menolong yang besar!”.

Keindahan masa kanak-kanak harus berakhir. Kami tumbuh mendekati remaja. Dan kami pun harus berpisah. Gunawan mengikuti ayahnya pindah ke kota. Di kota ia bukan lagi anak camat, tapi anak bupati. Sedangkan aku tetap bersama orangtuaku, ayahku tetap sebagai tukang kayu, dan simbok-ku tetap berjualan nasi pecel di pasar.
Sejak itu kami tak pernah bertemu. Setelah sunat, aku lebih banyak membantu simbok di pasar. Aku tak punya bakat menjadi tukang kayu. Hari-hariku lebih banyak tersita di pasar. Aku benar-benar menjadi “remaja pasar” yang belajar berdagang.
Sampai aku menikah, tak pernah bertemu Gunawan. Kabar tentang dia pun tak pernah kudengar. Mungkin dia sudahmenjadi priyayi di kota. Dan wajarlah bila melupakan aku.

Kelangsungan hidupku sangat tergantung pada warung soto yang kubuka di tepi jalan peninggalan Belanda. Warung kecil di atas tanah peninggalan Pak De Kromo, kakak ayahku. Tanah itu cukup luas namun tidak terurus. Aku tak perlu menyewa karena hanya memanfaatkan sebagian kecil dari keluasannya untuk warungku yang tak lebih lima kali lima meter. Aku bersyukur, karen awarung kecil bisa menghidupi keluargaku: istriku yang tidak bisa berdagang dan dua anakku yang duduk di sekolah dasar.
Ketenangan rumah tanggaku terusik. Tanah Pak De Kromo dijual kepada pengusaha dari kota. Aku pasti tergusur. Aku tak punya pandangan untuk memindah warung. Di pasar aku tak punya kios. Kanan kiri jalan sudah penuh rumah, toko dan warung. Usahaku benar-benar terancam. Rumah dan tanah warisan orangtuaku berada di tengah kampung, tak cocok untuk membuka warung.

                                               ***********************
“Kita akan bersama lagi seperti masa kanak-kanak”, ucap Gunawan kepadaku dalam pertemuan yang tak kuduga. Kulukiskan pertemuan itu bukan hanya sebagai mukjizat. Betapa tidak? Lebih dari 40 tahun kami berpisah. Selama itu aku tak pernah membayangkan atau memimpikan bertemu Gunawan. Kukubur dalam-dalam kenangan indah di masa kanak-kanak.
“Kita tetap bersama dan sama,” ucap Gunawan lagi.
“Ah, kalian priyayi. Aku jelata.”
“Jangan begitu, Kasiman. Aku bukan priyayi. Aku orang swasta seperti
kalian.”

Gunawan berkisah, usahanya di kota berkembang pesat. Sudah waktunya diperluas sampai ke daerah-daerah. Karena itu, ia membeli tanah Pak De Kromo untuk perluasan industri tekstilnya. Semula aku tak menduga pembeli tanah itu Gunawan. Sewaktu tawar-menawar dilakukan Pak Edi, yang baru belakangan ini kuketahui dia bawahan Gunawan.

“Kalian pasti menggusur warungku?”
“Ah tidak!” tandas Gunawan. “Kalian tetap boleh berjualan di situ. Tidak semua tanah untuk bangunan pabrik. Masih kusisakan beberapa meter untuk penjaja makanan.”
“Syukurlah, terima kasih.”
“Bersyukurlah saja. Tak usah berterima kasih. Kalian tentu masih ingat dongeng tikus dan singa,” Gunawan menepuk pundakku. Lalu kami tertawa riang.

Warungku bertambah ramai. Kalau biasanya Cuma menghabiskan dua ekor ayam untuk soto, berkembang menghabiskan lima ekor ayam setiap hari. Banyak buruh bangunan yang menggarap bangunan pabrik makan di warungku. Setelah pabrik tekstil dioperasikan, warungku lebih ramai. Setiap hari aku memotong delapan ekor ayam. Banyak buruh pabrik yang makan siang di warungku. Ramai sekali. namun kehidupanku tak banyak berubah. Keuntungan menjual soto Cuma cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah kedua anakku. Dan aku memakluminya, karena ku tidak mengambil laba terlalu besar. Semangkok soto kujual lima retus, sudah termasuk minumnya. Harga itu sangat
cocok untuk buruh pabrik.
“Aku harus berterima kasih kepadamu, Man” kata Gunawan yang siang itu
menyempatkan mampir di warungku.
“Lho, saya bisa bantu kalian apa?”
“Sebenarnya pabrik tekstilku ini belum mapan. Beban kreditnya masih berat.
Karena itu, aku tak bisa menyejahterakan buruh, setidaknya sampai saat ini.
Uang makan untuk mereka Cuma lima ratus. Untung ada warungmu, jika tidak
usahaku pasti kacau...”
“Maksudmu?” selaku sebelum Gunawan melanjutkan ucapannya.
“Begini. Soto yang kalian jual sangat murah. Terjangkau para buruhku.
Kalau tidak ada warungmu, apsti mereka makan di warung lain, di pasar atau terminal, yang harganya lebih mahal. Sekali makan mungkin seribu. Nah, dengan sotomu yang murah ini buruh-buruhku tetap bisa makan dengan uang makan yang kuberikan. Kalau warungmu tidak ada, tepatnya tidak ada warung murah, pasti para buruh terus menerus menuntut kenaikan uang makan. Dan aku sulit memenuhi. Tapi karena soto lima ratus inilah, mereka tidak menuntut kenaikan uang makan. Pendeknya, kalian sudah mencegah bahkan menyelamatkan usahaku dari tuntutan kenaikan uang makan. 
Begitu!”
Aku paham. “Bersyukurlah saja. Tak usah berterima kasih kepadaku. Kalian tentu ingat singa dan tikus.” kutepuk pundak Gunawan. Lalu kami tertawa riang.

                                                   **********************
Tahun ini tahun Tikus. Berbagai ramalan beredar. Kata para peramal, keadaan politik cukup seru. Ditandai kebangkitan kaum muda yang akan menggantikan para birokrat yang sudah tua. Tahun Tikus juga akan ditandai goyangnya kemapanan, tetapi tidak menjurus perpecahan. Sebab kegoyangan itu hanya masa peralihan pemegang birokrasi. Tepatnya, yang sudah tua sedikit gusar dan goyang karena belum begitu rela kekauasaannya jatuh ke tangan generasi penerus.

Aku juga dengar ramalan tentang bisnis. Kata para peramal, dunia usaha akan berkembang pesat. Tahun tikus merupakan tahun kesempatan. Tuntutan pasar kian besar dan beragam, maka tak mengherankan bila selama tahun tikus akan ada pertumbuhan industri yang mencengangkan. Mengejutkan. Walau tak pernah mempercayai ramalan, namun aku juga berpikir untuk berkembang di Tahun Tikus. Aku akan bikin kejutan berupa perluasan dua meter untuk warungku agar lebih banyak buruh yang makan siang.

Para buruh di warungku juga ramai membicarakan Tahun Tikus. Ada yang cuma menjadi pendengar cerita kawannya yang sok tahu tentang Tahun Tikus. Ada yang mendebatnya. Dan ada pula yang melerai. “Buat apa berdebat tahun tikus. Tak ada hubungannya dengan burh. Uang makan kita tak akan berubah di tahun tikus, kelinci, singa atau tahun apa saja, sejauh bos masih pelit,” tutur si pelerai itu.
Namun seorang yang dilerai masih tetap membicarakan tahun Tikus.  Ia berkata tandas. “Saya mendapat bocoran. Uang makan kita segera dinaikkan. Perluasan warungku pasti tak sia-sia. Kabarnya mendekati seribu!”

Aku tersenyum mendengarnya. Kalo uang makan naik, berarti harga soto bisa kunaikkan. Perluasan warungku pasti tak sia-sia. Untungku bisa sedikit bertambah.
Setelah para buruh berlalu dari warungku. datang seorang perempuan. Wajahnya cantik. Ia adalah suruhan Gunawan. “ Pak Gunawan minta dikirim dua mangkok soto . Dan Pak Kasiman sendiri yang ahrus mengantarnya ke ruang kerja Pak Gunawan,” tuturnya.
kerja Pak Gunawan,” tuturnya.
Aku bergegas menyiapkan dua mangkok soto. Baru kali ini aku mendapatkan pesanan istimewa. Aku melangkah meninggalkan warung, memasuki lorong-lorong di pabrik, dan sampailah di ruang kerja Pak Gunawan.

“Kita makan siang di sini,” sambut Gunawan setelah kuhidangkan soto di meja kerjanya yang sudutnya penuh dengan tumpukan map dan surat.
Ada keanehan yang kurasakan. Terlebih setelah tangan gunawan mengangkat semangkok soto dan diberikan kepadaku. “Mari kita makan,” ucap Gunawan tanpa basa-basi.
Kusantap soto dengan penuh keheranan. Baru kali ini aku makan bersama bos di ruang kerja ber-AC dan lantainya dilapisi karpet tebal warna coklat. Tapi buat apa aku heran? Tiba-tiba benakku bercetus begitu. Toh Gunawan tetap kawanku. Kami biasa makan bersama di masa kecil

“Man,” ucap Gunawan lirih selesai makan.
“Ada apa, Gun?” tanyaku setelah kulihat Gunawan mendesah beberapa kali, keningnya berkerut dan tidak segera melanjutkan ucapannya.
“Bagaimana makan siang kita ini?” kulihat Gunawan bertanya agak gemetar di tempat duduknya.
“Nikmat. sotoku memang enak. Ada apa? Kurang asin?”
“Ya, nikmat. Tapi sayangnya makan siang kita ini juga merupakan perpisahan kita.”
“Lho? Kalian akan pindah? Lantas siapa yang akan mengurus pabrik di sini?”
“Bukan pindah. Aku tetap di sini, bahkan pabrik ini akan kuperluas.”
“Lalu?”
“Perluasan tentu membutuhkan tanah ....”
“Dan warungku pasti kalian gusur?” kucoba menebak arah penuturan  Gunawan yang agak tersendat itu.
“Begitulah! Pabrik ini sudah waktunya diperluas. Sementara Pemda mendesak aku agar menata lingkungan pabrik. Kawasan ini harus bebas dari warung-warung kumuh.”
Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Lidahku terasa kelu ketika hendak segera bertutur. Badanku gemetar di atas kursi. Dan pandanganku agak kabur ketika kutajamkan tatapan ke wajah Gunawan.
“Gun,” ucapku lirih. Bibirku seperti terjerat, bergetar pelan. “Kalian masih ingat dongeng...”
“Singa dan tikus itu? Masih!”
“Tepatnya ketika tikus itu berusaha memotong rambut singa yang terjerat di semak belukar?”
“Ya. Singa itu bebas berkat pertolongan tikus. Tapi baru sekarang aku mengetahui bahwa sebenarnya pertolongan tikus itu bukanlah yang terbaik.”
“Maksudmu?” Kukerutkan kening.
“Sebenarnya dongeng itu masih berlanjut. Singan itu kecewa sekali karena kehilangan rambutnya. Ia tak lagi gagah. Tak lagi berwibawa. Semua itu akibat ulah tikus yang menolongnya. Di lain hari, menemui tikus dengan kekecewaan  yang memuncak. Singa menekan tikus aagr mengembalikan rambut indah itu. Tapi tikus tak berdaya. Apa boleh buat? Kekecewaan singa terlampiaskan. Ia menerkam tikus itu.”
“Tapi ... tapi dongeng kita dulu tidak berlanjut begitu?”
“Dongeng boleh diubah dan diperpanjang sesuai perjalanan waktu dan
zaman yang terus berubah,” tandas Gunawan.
“Ooo...!” Aku beranjak meninggalkan ruang kerja Gunawan. Ku biarkan dua mangkok tertinggal di meja singa itu. Mudah-mudahan menjadi barang antik koleksi pribadinya.
                                                            
                                                                ***********
                                                                                           Pernah dimuat di republika
Demikianlah yang bisa kami tuliskan. Terimakasih bagi sahabar Aldi di Ponorogo yang sudah mengirimkan naskah cerpennya. Semoga pembaca semua terhibur. Salam

Cerpen Online - Ingin Kelinci

Ilmubahasa.net - Berikut ini kami tampilkan sebuah cerpen karangan dari sahabat Imbas yang dikirimkan kepada kami lewat email kami. Cerpen ini berjudul Ingin Kelinciku  Semoga anda senang. 
 
Kelinci (cerpen Ingin Kelinci)
 
“Maa…Mamaa beliin kelinci Ma, Lili mau kelinci kayak punya Dimas,” rengek Lili pada Mamanya yang sedang mencabut rumput di kebun samping rumah.
 
“Kelinci?” mama Lili heran
 
“Ya, Ma,”
 
“Memangnya Dimas punya?” Tanya mamanya, masih tidak percaya dengan ucapan Lili. Dimas adalah tetangga sebelah Lili. Mereka sudah berteman sejak kecil, kebanyakan benda yang dimiliki Lili adalah benda yang juga dimiliki oleh Dimas. Umur mereka sama-sama enam tahun.
“Punya, tuh Dimas lagi main sama kelincinya,” kata Lili sambil menunjuk ke halaman depan rumah Dimas.
 
Mama Lili ikut melihat kea rah yang di tunjukkan oleh Lili. Mamanya melongok Dimas yang sedang asik bermain dengan seekor kelinci brwarna putih di balik pagar hidup yang juga membatasi halman rumahnya dan rumah Dimas.
 
“Oh, Iya,” gumam mama Lili. Gumamam itu pun di dengar oleh Lili, “Beneran kan Ma, Lili juga pengen punya kelinci Ma,” rengek Lili lagi.
 
“Kalau sudah punya mau diapakan?” Tanya mama Lili sambil kembali menyiangi rumput. Lili ikut jongkok di dekat Mamanya, dia terus merengek-rengek, “Ya, diajak main Ma, dikasih makan, makannya wortel, Ma,”
 
“Kok Wortel?”
 
“Dimas ngasih makan kelincinya wortel, katanya kelinci paling suka makan wortel,”
 
“Ooo. Gitu?” sambung Mama Lili sambil mengangguk.
 
“Boleh ya Ma,” Lili merengek lagi
 
“Kenapa Lili pengen punya kelinci?” tanya Mamanya lagi.
 
“Biar sama kayak Dimas ma, Dimas punya peliharaan, aku juga harus punya,” Lili mulai bicara lebih keras, hampir menangis, sekarang dia menahan air matanya.
 
“Ummm, kalau Dimas suka kelinci kenapa Lili nggak suka kucing saja? Kok Lili ingin menyamai Dimas terus?”
 
“Pokoknya Lili mau kelinci! Lucu bisa diajak main dan di peluk-peluk Ma,”
 
“Nggak mau yang lain?”
 
“Nggak mau!!” Lili menolak keras-keras, air matanya mengalir ke pipinya.
 
Mamanya tersenyum. Lalu melepas sarung tangannya yang kotor kena tanah.  Lili lalu diajaknya duduk diberanda rumah. Lili masih meneteskan air  mata, nangis sesenggukan. Mamanya mengambil air mineral ke dalam dua gelas. Dibawanya ke beranda diberikannya satu gelas kepada lili. Lili meminumnya dan dia mulai tenang.
 
“Kalau dibelikan, Lili  benar-benar mau menjaganya?”
 
Lili mengangguk,” Iya Ma,” katanya, matanya mulai berbinar cerah kembali.
 
“Mau rajin kasih makan setiap hari?”
 
Lili mengangguk lagi
 
“Nggak akan lupa untuk membersihkan kandangnya juga?”
 
Lili bengong. Tidak langsung menjawab seperti sebelumnya.
 
“Kandangnya besar nggak nanti, Ma,”
 
“Sebesar kebun,” kata Mamanya, menggoda Lili
 
“Ha???” Lili kaget, terbengong-bengong
 
Mamanya tertawa, “Hanya bercanda sayang,” katanya
 
Lili yang tadinya cemberut mendengar kata-kata Mamanya kembali tersenyum lega, “Kalau sebesar kebun nggak mau, Ma,” Mamanya tertawa lagi.
 
“Jadi, Lili dibelikan Kelinci?” tanya Lili
 
“Ya, dengan syarat,”
 
Lili senangnya bukan main, “Apa syaratnya Ma?”
 
“Belajar yang giat dan beri makan kelincinya setiap hari,”
 
“Baik Ma,” Lili langsung mengiyakan, dia sangat gembira mengetahui dia akan segera punya kelinci,
 
“Warna kelincinya hitam dan putih ya, Ma,”
 
“Ya, terserah Lili, sekarang Lili harus mandi sudah sore,”
 
Mama menuntun Lili ke kamar mandi. Sebelum masuk ke kamar mandi, Lili masih bertanya, “Kapan kita beli kelincinya, Ma?”
 
“Besok pagi saja ya, besok kan hari minggu,”
 
“Hore!” teriak Lili kegirangan. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia mandi sambil bernyanyi,
 
Lili punya kelinci
Hitam putih warnanya
Sukanya makan wortel
Lili sayang sekali

Dia ulang-ulang terus lagunya. Lagu ciptaanya sendiri sejak dia bermain dengan Dimas sesiang tadi. Mamanya yang mendengarkan di luar kamar mandi tersenyum-senyum.

(Karangan Sahabat Imbas: Linda di Pemalang)
 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top