Satu minggu pertemuanya, wahyu mulai mengenang gadis kelahiran Cirebon itu. Pada malam itu pula karena hujan besar, anak - anak gadis yang di jemput oleh ayahnya. Dan dia pun di jemput oleh I,ah farihah anak dari sepuh Abdul Wahid yang berusia 12 tahun. Hujan semakin lebat, anak gadis sudah pulang dengan payung yang beriringan dengan hujan. Selamat yang tidak mebawa payung yang tertahan hujan di masjid. akhirnya memutuskan menginap di masjid. Santri yang lain telah tertidur lelap, Wahyu pun memulai pembicaranya dengan selamat.
“ Met ! ada yang ingin saya tanyakan kepada mu, sudah dari satu minggu dulu sebenarnya pertanyan ini ingin saya tanyakan, tapi belum ada waktu yang tepat untuk menayakanya. Malam ini kebetulan engkau menginap di sini. Boleh saya bertanya kepada mu met?”
“ pertanyan so,al apa yuk ?, bukankah dalam ilmu agama dan pengamalannya engkau jauh lebih tahu, dan saya pun seseorang yang mengagumi mu. Seharusnya aku yang banyak bertanya kepada mu yu.”
“ ah kau Met, jangan berkata begitu, aku ini masih bodoh Met, tak pantas engkau mengagumi ku, yang pantas engkau kagumi hanya Rasullah SAW. Ah.. sudah lah… bukan soal ini yang ingin saya bicarakan. Tapi soal anak gadis baru itu. siapa dia Met?, begitu lugu, cantik dan menenteramkan jiwa ku, andai saja memandang kaum perempuan yang belum mahromnya, tidak diharamkan menurut agama. Ingin rasanya saya berlama lama memandang wajahnya. Tolong ceritakanlah Met siapa dia, dan rupanya dia dekat sekali dengan Sepuh Abdul Wahid, dan anaknnya.” Selamat hanya memeluk dengkul mendenagrkan pertanyan wahyu.
“ Em Wahyu - Wahyu kayanya engkau sedang kasmaran. hati - hati yu dengan perasan mu itu, jangan samapi perasan itu menjadi tumbuh lebih besar yang nantinya ! menjadi bumerang mu sendiri. Sudah banyak kejadinya. Asalnya hanya suka, terus cinta, dan berkasih - kasih, eh malah hamil diluar nikah. memang cinta itu indah, karena sangat indahnya banyak orang yang dilenakanya. lantaran tidak berpegang teguh kepada agamanya. Tidak. hanya hal itu saja terkadang cinta itu akan mebutakan mu. Terkadang pula yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. !” wahyu berfikir mendengarkan perkatan selamet. Lantas selamat melanjutkan perkatanya.
“sebelum aku ceritakan ada hubungan apa gadis itu dengan Sepuh Abdul Wahid. Aku beri tahu dulu namanya, Rokayah. soal mengapa dia itu dekat dengan Sepuh Abdul Wahid dan anaknya I,ah. karena dia itu adik dari istri Sepuh Abdul Wahid, tomatis menjadi adik iparnya dan sekaligus bibi dari I,ah. Namun kenapa dia bisa ada disini. Rokayah Seperti engkau Yu! dia sudah ditinggal mati oleh ibunya, sejak dia dilahirkan, dan baru baru ini pula Abahnya meninggal dunia. semenjak sepeninggal Abahnya Rokayah tinggal sebatang kara di cirebon. Maka dengan itu Rokayah dibawa ke Cilamaya oleh teteh kandungnya Darini yaitu istrinya Sepuh Abdul Wahid.
“ oh… adik ipar Sepuh Abdul Wahid toh!. cantik yo Met?
“ ya embuh yu.!
Pertemuan pertemuan diantara keduanya berlanjut, semakin sering mereka bertemu muka, di waktu - waktu pengajian, disela- sela waktu luang. Berpapasan sore itu di pesisir pantai, Wahyu yang membawa kitab safinah untuk berangkat mengaji. Tiba tiba seorang anak gadis menghampirinya seraya berkata.
“ akang Wahyu ! darimana akang?” Tanya Rokyah
gugup Wahyu menjawab pertanyan Rokayah yang secara tiba tiba menyapanya. “Ro…..ka…yah.! habis dari rumah selamet mengambil buku. engkau sendiri mau ke mana ?”
“ oh….! Ini disuruh emba, beli minyak di warung teh Desi. buat menggoreng ikan.”
“saya antar ! tak baik perempuan berjalan sore - sore sendirian, pamali kata orang tua.”
“ tak usah kang ! nanti akang terlambat menggaji karena menggantar saya.”
“ tak apa. Ayo mari….”
Setelah pertemuan di sore itu, perasaan kasihan diantara ke duanya kini menjdi cinta yang mengusai persaan di ke dua. karena pada dasarnya cinta itu timbul dari perasaan kasihan lalu menjadi bayang - bayang. wajah Rokayah semakin jelas dipikiran Wahyu. Dan Rokayah pun selalu terbayang kebaikan budi Wahyu. Penyakit yang sering melanda anak muda yaitu persaan cinta, itulah perasaan yang sedang dirasakan oleh kedua anak muda ini. Seperti pada umumnya anak muda yang dimabuk cinta, enggan makan,enggan tidur. Demikianlah penyakit cinta, yang terkadang para perasanya melakukan sesuatu hal di luar kesadaranya. Wahyu pun memikirkan ucapan selamet sewaktu di masjid.
“ apa yang sedang saya rasakan ini, wajah mu Rokayah ! enggan lepas dalam benak ku!. tidak !...siapa saya, siapa Rokayah. Rokayah adalah dari keluarga berada. Dia anak seorang agengan, kaka iparnya pengusaha ikan, punya banyak perahu, sawah berhektar - hektar, tokoh agama sekaligus guru nagji ku. Sedangkan saya, tidak tentu asal dan keturunan ku. sampai saat ini pun saya tak tahu wajah dan rupa orang tua ku. Ninik tak pernah menceritakan asal dan keturunan ayah dan ibu. hanya menceritakan tentang kebaikan budinya kepada setiap orang.”
Berbulan bulan Wahyu menyembunyikan perasaannya terhadap Rokayah dengan tujuan menjaga fitnah akan Rokayah.” apalagi mamangnya itu sebagai tokoh agama dikampung, yang terkenal dengan baik budi, dermawan, arif dan bijak sana. semua orang menghormatinya. bahkan semua orang kampung dipekerjaknya.
“Ninik yang semakin tua renta sudah sakit sakitan pula, dan setiap malam sudah kebiasaan saya membawakan obat untuk Ninik jika saya sedang ada di rumah, agar esok hari dapat bekerja lagi. Namun Pada jumat malam sewaktu saya pulang dari masjid untuk menemui Ninik. Ninik terlihat begitu lemas, wajah yang berbeda dari sebelumnya, tampak lebih pucat, dan air mata yang panas keluar dari kelopak mata tuanya. Apakah ini suatu bertanda dari tuhan? Dalam benak ku...
“ Nik ini diminum dulu obatnya. !“
“ tidak perlu cucuku, Ninik baik - baik saja.”
Sambil memandang wajah saya dengan mata tuanya yang sudah terlihat letih menjalani hidup dan mengusap kepala ku seraya berkata.
“ Sungguh malang nasib mu cucuku. Diusia semuda ini sudah banyak kepahit yang engkau alami. Yang seharunya belum waktunya engkau mengalaminya, mulai ditinggal mati oleh ayah dan ibu mu. Bekerja membantu Ninik. tak punya kerabat dekat pula, yang nanti apa bila Ninik meninggal engkau akan tinggal dengan siapa.
“ ah Ninik jangan berkata demikian. walau Wahyu tidak merasakan kasih sayang orang tua. Tapi Ninik sudah menggasuh Wahyu lebih dari pada orang tua sendiri, Wahyu sayang Ninik. Ninik pengganti orang tua Wahyu yang di kirim oleh tuhan”. Mata Wahyu berkaca - kaca
“ cucuku ada yang mau Ninik tanyakan. Antara engkau dengan Rokayah. kabar kedekatan mu denagan Rokayah, berhebus begitu ramai di kampung, dari mulut - kemulut samapai kepada telinga Ninik. Apakah engkau mencitai Rokayah?”
“ apakah itu salah Ninik, Wahyu mencintai Rokayah ?.”
“ tidak salah cucuku, namun yang Ninik takutkan engkau akan kecewa, karena siapa itu Rokayah dan siapa kita cucuku. Bukan Ninik bermaksud memutuskan harapan mu. Namun buanglah jauh - jauh , angan - angan mu itu. karena semakin jauh kita mengayauh perahu akan semakin dalam jika kita tenggelam. Hapuskan lah perasaan mu kepada Rokayah itu. Dan Ninik titip pesan kepadamu, jangan lupa mendoakan almarum ibu dan bapak mu. jika Ninik meninggal pula, bacakan surat Yassin di tiap - tiap malam jumat. Dan satu lagi cucuku,? ada peninggalan orang tua mu di koper yang sampai saat ini Ninik jaga, pergunakan lah baik baik, warisan orang tua mu, dan sekaligus rumah ini beserta tanahya akan menjadi kepunyaan mu juga. Ingat lah cucuku, walau nanti Ninik meninggal engkau tidak akan sendiri, masih ada Allah yang akan selalu menemani mu. Jangan pernah tinggalkan sholat. Jadilah anak yang berguna bagi orang lain.
Wahyu hanya diam mendengarkan perkatan Niniknya. Matanya kini mulai memerah dan menderakan air mata, setelah mendengarkan perkatan Niniknya tadi. Jangan - jangan pirasatnya benar. Setelah usai perkatan itu. Niniknya mulai menarik nafas panjang dan di keluarkan dengan secepat - cepatnya, sebanyak tiga kali hembusan. Setelah tarikan nafas ketiga, terlepas lah ruh dari jasadnya. air mata Wahyu yang ditahan akhirnya bongkar juga,.
“ ni…… ni…..kk”. teriak wahyu sambil memeluk Niniknya dengan air mata yang memenuhi pipiknya.
Meninggal Niniknya, menjadi pukulan yang amat dalam dan sekaligus menambah kepahitan hidunya. setelah tujuh hari kematian Niniknya. timbul rumor - rumor tentang kedekatan wahyu dengan Rokayah yang tidak wajar dan dilebih lebikan oleh warga. padahal Rokayah sakit - sakitan lantaran menyimpan perasaan kepada Wahyu dengan secara alamiah dari tuhan. Namun ternyata warga memandangnya bahwa Rokaya diguna - guna dan dipelet oleh Wahyu. Warga yang semakin geram, dan anak muda pun mulai geram akan Wahyu. Wahyu yang disudutkan dari beberapa pihak, apalagi setelah sepeninggal Niniknya, Wahyu tidak punya kerabat yang membelanya, bahkan Selamet sahabatnya pun tidak bisa berbuat apa - apa, lantaran banyaknya warga yang mengerebeg rumahnya. Bertujuan mengusir dari kampung. Akhirnya di hari itu pula wahyu diusir dari kampung. semtara Rokayah hanya meyaksikan orang yang dicintainya diusir oleh warga. diseret keluar dari rumanya secara paksa untuk meninggalkan kampung. Rokayah tak dapat berbuat apa - apa. Rokayah hanya bisa menagis dan mebalikan badanya dan berlari menuju kamar dengan membantingkan badanya ke kesur. Membayankan kesedihan yang dialami orang yang dicintainya. Tak lama dari itu I,ah masuk membujuk bibinya agar tidak bersedih. Rokayah pun duduk disamping keponakanya itu.
“ sudah lah bi.” Tegur I,ah
“ Sungguh kasihan anak muda itu, I,ah. bermacam macam masalah menimpanya, dari mulai dia kecil sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, seminggu yang lalu baru saja ditinggal mati oleh Niniknya, eh…sekarang diusir oleh orang kampung lantaran kesalahan yang tidak pernah dilakukanny. Wahyu itu anak muda yang baik, baik akhlanya, soleh pula. Tak pernah dia menyentuh bibi. Apa lagi semapi berpikir memelet bibi yang di bicarakan oleh banyak orang. bibi merasa bersalah akan dia. sudah bibi terangkan pula kepada Abah mu, namun tidak ada yang mau mempercayai perkatan bibi. Bahwa Wahyu tidak bersalah. Akan kemana wahyu tinggal, lantaran dia tidak punya kerabat. Sungguh malang nasib mu. “
“ sudah lah bi, Jangan meyalahkan diri sendiri.”
Di hari itu pula wahyu meninggalkan kampungnya. Rumahnya kini kosong tak terurus lagi, di penuhi oleh debu, dihuni oleh serangga - serangga. Rokayah yang senantiasa menziarahi rumahya dengan harapan Wahyu akan pulang kembali. Namun yang dilihatnya hanya debu, sarang laba - laba yang memenuhi sudut rumahnya dan sampai saat ini pun tak tau kabar dan berita tentang kepergian Wahyu. entah iya mebunuh dirinya sendiri lantaran keputus asaan dalam menjalani hidup atau berada disuatu tempat yang pernah dicita citakanya. Atau kah berada disalah satu kampung yang anda huni.
September 2015
Biografi ku
Nama saya Sohib di lahirkan di salah satu daereh di Karawang,yaitu di Kelurahan Bayor Lor, Kampung Paris kidul pada tanggal 09 november 1993. Kini saya sedang menepuh kuliah di STKIP Siliwangi Bandung dan aktif di komunitas seni sastra Indonesia di singkat KSSI. Akun fb saya [email protected] sedangkan email saya [email protected].