Sebuah puisi yang diucapkan pada seorang khalayak yang penuh syarat makna dan perngharapan pada kegundahan lingkungan dan keadaan.
terimalah hati syair, betapa pucat dan gemetar
pun ia
rabalah dengan telapak perasaan dan kenalilah
dalamnya
denyut demi denyut cintamu yang habis-habisan
berjuang
melawan kebencian, keangkuhan, khianat, dan
dengki
airmata dan empedu dendam yang diam-diam
kaujatuhkan ke dalam kalbu
akan meluap hingga tenggorokan dan
menenggelamkan jiwa
dengarlah suara-suara hati nuranimu yang mengepakkan
sayap
pada kata-kata penyair menemukan kembali
saudara-saudaramu yang hilanng
wahai, kaum yang diceraikan oleh kepicikan dan
wasangka
tak ada tempat bertemu bagi kalian di dalam sajak;
sebuah hati, berapa pucat dan tercincang pun ia
adalah milikmu. reguklah harapan dari nganga
lukanya
(Saini K.M., Tonggak 2, hlm.335-336)

