Friday

Contoh Cerpen - Rumah Kayu

ilmubahasa.net - Pada kesempatan hari ini kami akan berbagi contoh cerpen atau cerita cerpen online yang berjudul Rumah Kayu. Selamat membaca. Semoga anda terhibur.

Contoh Cerpen - Rumah Kayu

Kematian mbah Kerti tidak saja mengejutkan sebagian besar warga kampung kami, tapi pun menimbulkan heboh besar. Laki-laki berumur tujuh puluh tahun lebih, tapi tetap nampak sehat, gemuk dan berwibawa, tanpa didahului sakit yang berarti, mati. Hampir tak seorang pun mempercayai kenyataan itu. Ia, mbah Kerti yang tiap pagi dan sore berjalan-jalan berkeliling kampung harus meninggalkan tetangga yang dikasihinya begitu mendadak. Semua orang mengenal siapa dia. Tidak saja mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di kampung kami, namun juga para pendatang baru. Kecuali anak-anak kost. Yang terakhir ini di samping menambah sumpeknya kampung juga banyak di antara mereka yang pergi sebelum waktunya. Yang sering terjadi, mereka banyak utang pada penjual makanan. 

Dan ekor dari kematian mbah Kerti adalah lahirnya desas-desus yang segera tersebar luas. Dugaan bahwa mbah Kerti mati dibunuh tersiar dari mulut ke mulut. Maklum orang-orang kampung. Mulut adalah segala-galanya dalam hal penyebaran informasi. Bagaimana mbah Kerti dibunuh? Kemungkinan besar diracun! Begitulah kesimpulan sementara dari desas-desus itu. Sebab tak ada tanda-tanda bahwa ia mati karena tindak-tindak kekerasan atau penganiayaan. Juga waktu orang-orang memeriksa tubuhnya, tak sebuah luka atau bekas pukulan benda keras maupun senjata tajam membekas di tubuhnya. Mereka menduga mbah Kerti diracun karena tak ada tanda-tanda lain yang menyebabkan kematiannya. Sebab usia tua tak bisa dijadikan patokan untuk menentukan batas hidup seseorang

Dua orang cucunya, Ridwan dan Kadir, tidak banyak memberi keterangan yang memuaskan. Keduanya belum dewasa benar. Juga sehari-hari bekerja sebagai buruh percetakan di kampung kami. Keduanya baru pulang setiap menjelang senja. Maklum, anak-anak itu sudah yatim piatu, sementara uang pensiun kakeknya, mbah Kerti, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keduanya. Karena kematian mbah Kerti itulah kini keduanya benar-benar hidup tanpa sanak dan famili. Entah kenapa, garis keturunan dari ayahnya punah atau tersebar di lain tempat. Sementara dari ibunya, tak ada saudara lain. Ibu dua anak itu adalah putri tunggal mbah Kerti. Ketika seseorang mencoba membujuk dua anak itu perihal kakeknya, keduanya seperti ketakutan waktu akan mengatakan sesuatu.

“Percayalah Nak, kami tidak apa-apa. Kami hanya ingin tahu, kira-kira apa saja yang dikeluhkan mbah Kerti pada harihari terakhir ini. Kalau ada. Barangkali masih ingat?”
“Kakek, Kakek tidak pernah mengeluh”, jawab Ridwan cucu mbah Kerti.
“Mungkin dia tidak mengeluh tentang dirinya. Tapi kalau ada hal-hal yang lain mengganggu. Tentang pensiun, tentang rumah ini barangkali. Apakah akan diperbaiki, atau tetap seperti aslinya, semuanya terbuat dari kayu. Dan ini kayu jati Nak. Bisa bertahan puluhan tahun”, lanjut orang itu dengan penuh kebapakan. Ridwan melirik adiknya, seperti minta persetujuan. Tapi yang dilirik diam menundukkan wajahnya. Entah apa yang terbayang dalam benak anak itu. Tapi toh akhirnya Ridwan ingat sesuatu yang pernah dikataan kakeknya beberapa minggu lalu.
“Tentang rumah ini memang kakek pernah mengatakan”, katanya lirih.
“Oh, ya, ya! Apa yang dikatakan almarhum kakekmu, Nak?”
“Dia tidak ingin mengganti rumah ini dengan tembok atau dengan papan lain. Dia bangga sekali dengan rumah yang kata kakek dibuat waktu ibu masih kecil. Semua terbuat dari kayu.
Ya, benar, kakek ingin melihat rumah ini tetap begini saja. Rumah
kayu, katanya.”
“Lalu apa yang ia keluhkan?”
“Mungkin rumah ini akan dibongkar seseorang”, kata anak
itu sedih “Maksudnya?”
“Tanah ini bukan milik kakek. Dia hanya numpang saja. Tapi kata kakek, yang empunya dulu adalah sahabat karibnya. Dan sekarang tanah ini akan diminta oleh ahli waris sahabat kakek. Saya tidak tahu urusannya. Hanya kakek lalu bersedih. Dan katanya, apa pun yang akan terjadi, dia akan tetap tinggal di rumah ini. Bahkan kakek berpesan pada kami berdua, agar tetap tinggal di rumah ini kalau kakek meninggal kelak. Tapi kakek terlalu cepat meninggalkan kami ....”
“Sudahlah Nak, jangan bersedih. Tidak hanya kamu berdua saja yang merasa kehilangan kakekmu, tapi juga sebagaian besar warga kampung ini. Kakekmu adalah termasuk orang tua yang kami hormati bersama. Kau tahu Nak, zaman revolusi dulu kakekmu adalah seorang gerilya yang berani.”
“Ouh, kakek juga pernah bercerita tentang itu. Bahkan katanya, semua kayu ini adalah curian dari gudang milik seorang tuan bule di dekat stasiun. Apa benar?”
“Itu benar Nak. Mencuri pada zaman dulu adalah pekerjaan yang mulia. Apalagi berani mencuri milik orang bule. Wuaah, tak sembarang orang berani melakukannya. Dan anu Nak, siapa kira-kira yang akan meminta tanah ini?” Anak itu menggelengkan kepalanya. Ada perasaan takut untuk mengatakan siapa orangnya. Juga Kadir adiknya. Dia tidak berani berkata apa-apa jika seseorang menanyakan perihal tanah yang akan diminta itu. Empat puluh hari setelah kematian mbah Kerti desas-desus itu semakin jelas arahnya. Kematian mbah Kerti memang erat hubungannya dengan rumah dan tanah itu.

Seseorang dengan paksa ingin membeli rumah itu karena tanahnya akan dipakai. Tapi mbah Kerti menolak. Juga ketika kepadanya ditawarkan uang pesangon untuk memindahkan rumah itu. Mbah Kerti tetap menolaknya. Bahkan ia terang-terangan berkata lebih baik mati daripada berpisah dengan rumahnya itu, rumah kayu, karena memang semuanya terbuat dari kayu. Karena itulah sebagian besar warga kampung kami secara diam-diam menuduh seseorang telah membunuh mbah Kerti. Dan orang itu adalah pemilik sebuah percetakan, pabrik kayu, peternakan ayam dan kolam ikan yang cukup luas.

Mereka pun tidak berani berbuat apa-apa selain memperjelas dugaan demi dugaan dan rasa benci yang memuncak. Ketika seseorang menyampaikan hal itu kepada Ridwan dan Kadir, keduanya tidak begitu terkejut.
“Kakekmu telah dibunuh seseorang tapi kami tidak bisa menemukan buktinya”, kata orang itu dengan yakin.
“Lalu kami harus berbuat apa?” Tanya Ridwan sambil merangkul pundak adiknya. Mereka memang tidak mengerti harus berbuat apa.
“Apakah kalian tidak dendam karena itu?”
“Dendam?”

“Ya, kakekmu telah dibunuh agar orang itu dengan leluasa dapat memindahkan rumah kayu
ini. Dia tidak suka dengan rumah ini. Memang benar dia ahli waris yang syah dari pemilik pekarangan rumah ini. Tapi kan tidak begitu caranya meminta kembali miliknya. Pakai membunuh segala! Kami tidak terima. Tapi seharusnya kamu berdua sebagai ahli waris kakekmu yang tidak terima. Kalian bisa menuntut orang itu!” Keduanya diam. Tak pernah terpikir oleh mereka untuk melakukan tindak-tindak kekerasan seperti yang dianjurkan oleh beberapa orang. Tetapi hampir setiap hari orang silih berganti menyuruh keduanya untuk melakukan pembalasan dendam atas kematian mbah Kerti kakeknya.
“Nyawa harus dibayar dengan nyawa!” Kata mereka membakar hati keduanya. Tapi keduanya tetap diam. Tak mengerti untuk apa hal itu mesti dikerjakan. Pikirannya tak pernah sampai ke situ. Maklum keduanya belum dewasa benar. Ridwan berumur empat belas tahun, adiknya dua belas tahun. Ibu mereka meninggal enam tahun yang lalu karena terserang TBC, sementara bapaknya seolah lenyap ditelan bumi waktu kerusuhan politik beberapa tahun yang lalu. Dan hari itu, enam puluh lima hari setelah kematian mbah Kerti, kampung kami dihebohkan oleh sebuah peristiwa lain. Yaitu terbakarnya percetakan yang terletak di pojok kampung di dekat pabrik tahu.

Keduanya milik orang kaya, konon adik iparnya seorang pejabat di ibu kota. Yang menghebohkan adalah ditahannya Ridwan dan Kadir oleh yang berwajib. Keduanya dituduh sengaja membakar percetakan sebagai pembalasan atas kematian kakeknya. Tidak seperti kematian mbah Kerti dulu, heboh itu tidak berlanjut dan berekor dengan lahirnya desas-desus yang simpang-siur. Mereka tidak berpikir apa kelanjutan dari penahanan kedua anak itu. Yang menarik perhatian mereka kini adalah rumah kayu yang sudah tak berpenghuni lagi itu. Ketika seseorang akhirnya membeli dengan harga mahal, mereka tidak menghalangi-halangi. Dan uang hasil penjualan itu, atas pertimbangan bersama, dibagi sama rata.

Satu minggu kemudian rumah kayu itu dibongkar. Mungkin sampai di situlah nasibnya. Tapi bagaimana nasib Ridwan dan Kadir, dua cucu mbah Kerti ahli waris atas rumah kayu itu yang kini berada dalam tahanan? Atas kesepakatan bersama, mereka menyerahkan kepada Yang Kuasa. Sebab nasib manusia sepenuhnya berada di tangan-Nya. Begitu akhirnya mereka berpendapat.
                                                                                 (Sumber: dikutip dalam Pagelaran, Agnes Yani Sardjono, 1993)

Terimakasih telah berkunjung diartikel Contoh Cerpen kami ini. Pantau terus kumpulan cerpen atau Kumpulan Novel  Online kami agar menambah wawasan anda dalam dunia sastra. Salam kami ilmu bahasa
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top