Friday

Cerita Novel Online - Olenka

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Budi Darma
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1983; Cetakan III, 1986


Cerita Novel Online - OlenkaPertemuan antara Fanton Drummond dan Olenka hanya secara kebetulan. Mereka bertemu di lift apartemen Tulip Tree, tempat tinggal mereka. Pertemuan yang terus-menerus membuat Fanton tidak bisa melupakan bayangan Olenka dari pikirannya. Setiap saat Fanton selalu membayangkan wajah dan tubuh Olenka, sekaligus ingin memperistrinya.
Meskipun Fanton akhirnya mengetahui bahwa Olenka sudah bersuami dan mempunyai anak, ia tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan ia terkadang merasa cemburu pada Wayne Danton, seorang pengarang amatir, yang bisa memperistri Olenka.

Sebelum Fanton Drummond hadir dalam kehidupan Olenka, keadaan keluarga Wayne-Olenka sedang guncang walaupun belum sampai pada tahap perceraian. Keadaan itu disebabkan suami-istri itu mempunyai gaya hidup yang berbeda; Wayne seorang pengarang dan Olenka seorang pelukis. Di antara mereka tidak ada kecocokan. Wayne sering menempelkan sobekan-sobekan kertas, yang berisi kata-kata yang akan digunakannya dalam pembuatan cerpen atau novel, di dinding kamar; sedangkan Olenka sering membaca buku yang seolah-olah tidak mau ditegur orang lain.

Tingkah laku Fanton yang menunjukkan bahwa ia menginginkan Olenka dapat ditangkap oleh wanita itu. Mungkin karena Fanton sering memuji-muji hasil karyanya, Olenka menjadi akrab dengan pria itu. Bahkan, hubungan mereka semakin intim seperti layaknya suami-istri.

Fanton dan Olenka berjanji bahwa pada suatu waktu mereka harus berpisah. Lalu, memang demikianlah nyatanya. Mereka berpisah. Namun, kenyataannya Fanton tak bisa melupakan Olenka setelah mereka berpisah. Untuk menghilangkan kegelisahannya, Fanton berusaha melupakan dan menghilangkan bayangan Olenka dari pikirannya, tatapi justru terjerat pada bayangan tubuh Olenka. Akhirnya, ia berkelana mencari jejak wanita itu ke Indiana, Kentucky, dan kembali ke Illinois.

Di Chicago Fanton berkenalan dengan Mary Carson di hotel La Salle. Perkenalan singkat ini dimanfaatkan oleh Fanton untuk melenyapkan bayangan Olenka yang sering berkelebat dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyatakan cintanya keapada Mary. Namun, ditolak secara halus oleh wanita itu karena ia belum berpikir untuk kawin. Melihat kenyataan seperti ini, Fanton merasakan diri seperti melayang. Akhirnya, ia menulis surat-surat masturbasi; menulis surat untuk Mary, tapi tidak dikirim, melainkan disimpan beberapa hari, kemudian dibaca sendiri suratnya. Setelah itu, ia bertindak seakan-akan seperti Mary yang membalas suratnya˗˗padahal ia sendiri yang menulis surat jawaban itu˗˗, lalu disimpannya surat itu untuk beberapa lama, kemudian i abaca surat itu, demikian seterusnya.

Tak berapa lama setelah kejadian itu, Fanton mendapat surat yang sangat panjang dari Olenka. Dalam surat itu Olenka menceritakan asal-usulnya secara menyeluruh. Juga tentang rasa kasihannya kepada Wayne, tentang cintanya yang sesungguhnya kepada Fanton, bahkan kisah hidupnya sebagai lesbian dengan seorang wanita yang dinamainya Winifred.

Kisah hidupnya ini mirip dengan kisah hidup Ursula dan Winifred dalam novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Olenka juga mengatakan bahwa perkawinannya dengan Wayne hanyalah karena keterpaksaan, yakni agar ia dapat hidup normal sebagai seorang wanita. Meskipun Olenka mencintai Fanton, ia sadar bahwa bagaimanapun Wayne adalah suaminya dan Steven adalah anaknya, ia akan menolong hidup kedua orang itu.

Surat Olenka tersebut justru membuat Fanton semakin tergila-gila pada wanita itu. Ia kemudian mencarter pesawat terbang untuk mengelilingi Bloomington sekadar melupakan Olenka. Ia masih tetap berharap agar Olenka mengirimkan surat untuknya lagi, tetapi sia-sia, Olenka tidak pernah menulis surat lagi.

Fanton akhirnya dapat bertemu dengan Mary Carson lagi, yang kini sudah cacat akibat kecelakaan pesawat terbang yang ditumpanginya. Meskipun Mary cacat, Fanton masih bersedia mengawininya. Mary tetap menolak karena ia tak mau nantinya lelaki itu hanya aka berperan sebagai juru rawat saja. Padahal, dalam hati wanita itu sebenarnya ia sangat mencintai Fanton semenjak pertemuan mereka dulu di Chicago, tetapi pada waktu itu Mary dalam keadaan bimbang, sehingga tidak dapat memberikan suatu keputusan.

Sepulangnya Fanton dari Aliquippa˗˗dari rumah Mary˗˗, ia membaca berita di surat kabar yang berisi tentang pemalsuan lukisan oleh Olenka Danton˗˗yang kemudian ditemui pingsan di kamar hotelnya karena terlalu banyak menelan obat tidur.

Selanjutnya, Fanton berusaha menemui Olenka di rumah sakit. Namun, “menurut Loket Penerangan Rumah Sakit, Olenka sudah meninggalkan rumah sakit lebih kurang  seperempat jam yang lalu melalui pintu samping. Saya tidak menyesal, tidak kecewa. Yang saya pendam dalam hati hanyalah kekosongan” (hlm. 213).

Begitulan, ketidakhadiran Olenka kali ini sama sekali tak membuatnya bersedih. Ia sudah tak lagi memikirkan Olenka. Yang dipikirkannya kali ini adalah dirinya sendiri yang tak pernah ia mengerti siapa dirinya, mau ke mana dan akan berhenti di mana perjalanannya. Ia kini sadar bahwa apa yang ada dalam hati nuraninya, dan apa yang ada dalam pikirannya harus dapat dipertanggungjawabkan. “Dan saya harus mempertanggungjawabkannya. Maka, dalam usaha saya untuk menjadi pemeluk teguh, saya bergumam, ‘Tuhanku, dalam termangu, aku ingin menyebut nama-Mu’” (hlm. 215). Inilah kesadaran Fanton akan keberadaan dirinya sebagai makhluk-Nya yang tak mempunyai kekuasaan apa-apa dibandingkan kekuasaan-Nya.

                                                                 ***
Sambutan para kritikus sastra˗˗ yang terungkap sejumlah resensi˗˗umumnya memberi tanggapan yang memuji sebagai karya pembaharuan atau sebagai karya eksperimental yang berhasil. Menurut Panuti Sudjiman (1988: 113) teknik penceritaan dalam Olenka, termasuk teknik penceritaan kolase.

Novel Olenka sebelumnya adalah pemenang hadiah pertama Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980. Setelah diterbitkan sebagai buku pada tahun 1983, novel ini berhasil memperoleh hadiah sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun yang sama.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top