Tuesday

Cerita Novel Online - Ibu Kita Raminten

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Muhammad Ali (23 April 1927)
Penerbit       : Sinar Harapan
Tahun           : 1982

Sinopsis Novel 

Cerita Novel Online - Ibu Kita RamintenKehidupan pengamen Markeso dan istrinya, Raminten, yang pas-pasan dan tak pernah berlebih, telah memaksa suami-istri itu menyerahkan anak-anaknya setiap kali dilahirkan. Beruntung masih banyak orang-orang yang mau mengambil dan mengasuhnya atau menjadi orang tua angkat. Maka kedua belas bayi yang dilahirkan Raminten, satu per satu harus berpisah dengan ayah dan ibu kandungnya.

Sungguhpun demikian, Markeso dan Raminten tetap menginginkan anaknya dapat mereka asuh sendiri. Mereka tetap berharap dapat membesarkan anaknya dengan keringat dan jerih payah sendiri, hingga anak itu kelak dapat membantunya. keinginan inilah yang membuat suami-istri itu berjanji bahwa anaknya yang ketiga belas nanti akan mereka asuh dengan kasih sayang mereka sendiri.

Namun, entah mengapa Raminten belum juga hamil. Markeso pun berusaha dengan berbagai cara, termasuk berziarah ke makam keramat atau bertapa di tempat tertentu, semata-mata agar istrinya segera hamil dan melahirkan. Kemudian, masa penantian itu pun berakhir. Raminten melahirkan seorang bayi laki-laki yang montok. Stambul, itulah namanya. Ia pun besar dalam asuhan dan didikan yang penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Bersamaan dengan itu, kedua belas anaknya yang kini sudah menjadi anak angkat orang lain, tumbuh pula dalam didikan dan asuhan orang tua angkatnya masing-masing. Mereka pun beruntung dapat mengecap pendidikan sampai perguruan tinggi. Orang tua angkat mereka yang hidup berkecukupan, memungkinkan mereka mencapai cita-cita yang diharapkan. Ningsih berhasil menjadi dokter; Fadli menjadi mubalig; Dewi menjadi seorang istri insinyur; Joko menjadi wartawan; dan Ningrum menjadi hakim pengadilan negeri. Itulah di antara kedua belas anaknya yang telah dibesarkan dan dididik oleh orang tua angkatnya.

Sementara itu, Stambul dalam didikan dan asuhan orang tua kandung sendiri, malah tumbuh tidak seperti yang diharapkan. Tabiatnya liar. Pergaulannya dengan para penjahat, telah ikut pula mempengaruhi sikap dan kebiasaannya. Stambul tumbuh menjadi laki-laki yang akrab dengan tindak kriminal. Lebih dari itu, tak segan-segan pula ia memeras orang tua sendiri. Tak heran jika keadaan orang tuanya makin menderita. Markeso, di samping usianya yang makin lanjut, juga kesehatannya makin memburuk. Markeso akhirnya meninggal di tengah kehidupannya yang selalu serba kekurangan. Sejak itulah kehidupan Raminten makin sulit.

Dalam keadaan yang demikian, Stambul makin tak dapat dikendalikan. Kerap ia juga selalu memaksa ibunya, Raminten, untuk menyediakan sejumlah uang. Tentu saja uang itu ia gunakan untuk berfoya-foya atau perbuatan lainnya yang tak terpuji.

Suatu malam, Stambul pulang mendapatkan ibunya sedang termenung sendiri. Dengan berani, ia meminta ibunya agar menjadi gundik Babah Wong, seorang Cina tua yang kabarnya doyan perempuan, terutama daun-daun muda. Seenaknya saja Stambul memanggil ibunya dengan menyebut namanya saja, “Ram”. “Stambul menganggap ibunya seperti temannya sendiri” (hlm. 85).

Mendengar ajakan anaknya, tentu saja Raminten marah dan mengusir anak yang tak tahu adat itu. Beberapa hari kemudian, Stambul datang lagi dan mengutarakan maksud yang sama. Dimintanya agar ibunya mau tinggal di rumah Babah Wong. Entah mengapa, kali ini Raminten tidak menolak ajakan anaknya. Malam itu juga mereka berangkat menemui Cina tua itu. Setelah menyerahkan ibunya, Stambul pergi setelah menerima uang lima ribu dari Babah Wong sebagai upahnya. Cina tua itu sebenarnya menjanjikan uang dua puluh lima ribu. Namun, karena yang dibawa Stambul bukan seorang perawan, babah hanya memberikan seperlimanya saja.

Malam itu, setelah Raminten selesai mandi, Babah Wong bermaksud menggaulinya. Ternyata, Cina tua yang konon doyan perempuan itu, tidak lebih dari seorang laki-laki impoten. Apa yang dilakukan Babah Wong kemudian, sungguh di luar dugaan Raminten. Tubuh janda itu secara beringas digigitinya. Tentu saja Raminten kesakitan dan berusaha menyelamatkan diri. Dalam suatu kesempatan, Raminten berhasil kabur.

Dengan kesakitan, Raminten datang ke rumah dokter Ningsih˗˗yang sebenarnya anaknya sendiri. Dokter itu, yang tidak tahu bahwa pasiennya itu adalah ibu kandungnya sendiri, lalu meminta Raminten agar mau tinggal di rumahnya. Namun, Raminten menolak dan kemudian meninggalkannya.

Sementara itu, di rumah Babah Wong, Stambul sedang bertengkar mulut. Babah Wong tidak mau menerima perlakuan Raminten. Dikatakannya pula bahwa apa yang dilakukan Stambul tidak lebih daripada perbuatan seekor kera, sebab hanya kera yang mau menyerahkan ibunya sendiri untuk dijadikan sebagai seorang gundik.
Pada saat yang bersamaan, datang Raminten. Stambul yang melihat keadaan ibunya merasa kasihan juga. Ia menjadi sangat benci kepada Babah Wong. Perkelahian pun tak terelakkan. Babah Wong yang sebenarnya pandai ilmu bela diri itu, akhirnya tewas akibat hantaman besi yang dilakukan Stambul. Ibu dan anak itu akhirnya kabur meninggalkan mayat Babah Wong yang berlumuran darah.

Stambul membawa ibunya yang kepayahan ke rumah Insinyur Ibnu Zaiki. Tentu saja tuan rumah tak mengenal kedua tamunya itu. Pada saat itu, datang petugas keamanan menangkap Stambul dan Raminten. Sebelum Raminten meninggalkan rumah insinyur itu, ia sempat bertatapan mata dengan istri tuan rumah. Keduanya merasakan ada getaran lain dalam hatinya, karena memang, Dewi, istri Insinyur Ibnu Zaiki itu, tidak lain adalah Raminten.

Stambul dan ibunya kemudian diajukan ke meja hijau. Dalam keterangan di persidangan, Raminten menyebutkan ketiga belas anaknya beserta orang tua angkatnya masing-masing. Hakim ningrum yang menangani kasus pembunuhan Babah Wong alias Prihatmo, segera meminta agar semua orang tua angkat dan anak-anak Raminten agar dihadirkan dalam persidangan.

Persidangan itu berakhir dengan keputusan hukuman lima tahun untuk Stambul yang terbukti telah membunuh Babah Wong. Di ruang sidang itu kemudian, tinggallah Raminten bersama kedua belas anaknya. Mereka berangkulan penuh baru. Rasa haru yang begitu dalam telah membuat detak jantung Raminten makin lemah. Ia jatuh dan tak ingat apa-apa lagi. Jatuh di hadapan kedua belas anaknya.

Resensi Novel

                                                                  ***
Ibu Kita Raminten yang tersurat dari judulnya saja, tampak hendak menampilkan sosok pribadi seorang ibu yang bagaimanapun juga tidak dapat menghilangkan naluri-naluri keibuannya. Dari gambaran tokoh Raminten, pengarang terkesan hendak menegaskan bahwa cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, tak akan pernah habis sampai akhir hayatnya. Itulah kira-kira amanat yang hendak disampaikan novel Ibu Kita Raminten.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

3 komentar

maaf sebnernya ringkasan anda membantu saya dalam menyelesaikan tugas, tapi apakah ada cara untukl saya mengcopy.. terimakasih..

Untuk mengcopy silahkan pencet tombol pada keyboard Ctrl+A, kemudian Ctrl+C... setelah itu paste kan pada lembar kerja anda...Terimakasih :)

Mohon maaf sebelumnya kira-kira dimana saya bisa mendapatkan novel ini untuk tugas skripsi saya?
Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top