Saturday

Cerita Novel Online - Canting

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Arswendo Atmowiloto (26 November 1948)
Penerbit    : Gramedia
Tahun        : 1986


Entah bagaimana perasaan orang tuanya ketika Tuginem akan dijadikan istri Raden Ngabehi Sestrokusumo. Sebagai buruh batik yang secara turun-temurun mengabdi pada keluarga Sestrokusumo, orang tua Tuginem hanya percaya bahwa memang sudah demikianlah takdir yang digariskan Gusti Allah hingga membawa anak gadisnya menjadi seorang priyayi.

Cerita Novel Online - CantingBagi Tuginem, peruntungan seperti itu justru makin menyadarkan dirinya akan arti sebuah pengabdian. Berbakti lahir dan batin kepada suami˗˗dalam segala-galanya˗˗adalah pengenjawatahannya. Maka, ketika resmi menjadi istri Raden Ngabehi Sestrokusumo˗˗yang biasa dipanggil Pak Bei˗˗yang ada dalam pikiran wanita itu adalah berbakti dan menyenangkan suami. Ia pun tak lagi menjadi buruh batik, tak lagi menjadi wong cilik. Nama Tuginem pupus sudah karena ia kini resmi menjadi Bu Bei; dan itu berarti menjadi priayi, menjadi pengatur rumah tangga Dalem Ngabean Sestrokusuman.

Apa yang dilakukan Pak Bei, dengan mengawini Tuginem yang buruh pabrik, sesungguhnya merupakan tindakan yang menyimpang dari tradisi keraton. Ia sadar bahwa penyimpangan itu bukan tanpa mendatangkan sikap antipati, bahkan kecaman dari keluarga keraton lainnya yang kukuh mempertahankan tradisi keningratannya. Nyatanya, semua itu akhirnya berlalu sejalan dengan waktu. Pak Bei sendiri merasa cukup bahagia.

Dari perkawinan itu, satu per satu bayi dilahirkan. Mula-mula Wahu Dewabrata; kemudian berturut-turut Lintang Dewanti, Bayu Dewasunu, Ismaya Dewakusuma, Wening Dewamurti, dan si bungsu Subandini Dewaputri Sestrokusuma yang lalu biasa dipanggil Ni.

Begitulah, Bu Bei berhasil mengemban wangsit Sang Maha Pencipta. Baginya, Pak Bei adalah sosok seorang pelindung. Bu Bei percaya bahwa perlindungannya akan selalu mendatangkan kebaikan. Oleh karena itu, ia pun merasa berkewajiban untuk menjadikan pelindungnya benar-benar kukuh kuat sebagai tonggak keluarga. Kesadaran ini pula yang menyebabkan Bu Bei harus mampu mengatur segala pengeluaran dan pemasukan yang memungkinkan sang pelindung tetap berdiri kokoh sebagai tonggak keluarga. Hal ini dilakukannya secara diam-diam, tanpa campur tangan suaminya.

Menurut Bu Bei, tugas suaminya sudah cukup berat. Sejumlah keluarga yang tinggal di Dalem Ngabean Sestrokusuman adalah juga tugas suaminya untuk terus menghidupi mereka turun-temurun, seperti juga yang diterima orang tua Bu Bei turun-temurun. Semua keluarga abdi dalem itu harus menerima perhatian dan perlakuan yang sebaik-baiknya. Untuk itulah, Bu Bei merasa perlu untuk tetap menghidupkan usaha batik keluarga Sestrokusumo.

Pasar Klewer adalah basisnya. Di sini Bu Bei tampil sebagai wanita karier. “Bu Bei yang memijati kaki suaminya dengan tabah, setia, bakti, penuh kasih sayang, dan juga ketakutan, adalah juga Bu Bei yang galak dan bisa memaki polisi, yang bisa bercanda, mencolek dan dicolek, dan dengan keberanian memutuskan masalah-masalah yang sulit. Mengambil keputusan sampai dengan ratusan ribu rupiah dalam satu tarikan nafas” (hlm. 49).

Begitulah perjalanan hidup Bu Bei yang dalam situasi yang berbeda dapat memerankan perannya dengan sama baik, yakni sebagai istri dan ibu yang berbakti sepenuhnya untuk kepentingan keluarga, sebagai pengusaha, wanita karier yang harus gesit, tegas, dan berani˗˗tanpa ragu-ragu˗˗memutuskan dan menyelesaikan segala sesuatunya sendiri. Kedua peran itu pula yang mengantarkan anak-anaknya sampai pada cita-cita yang dirintis mereka masing-masing. Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri colonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi doktoranda yang kemudian menjadi kontraktor terkemuka, dan si bungsu Subandini Dewaputri menjadi sarjana farmasi. Mereka juga masing-masing sudah berkeluarga, punya anak, dan hidup bahagia; kecuali si bungsu yang baru menemukan calon suaminya, dan tinggal menentukan hari perkawinannya.

Namun sebelum itu, melihat keadaan Bu Bei yang semakin dimakan usia dan melihat usaha batik canting yang telah mengantarkan anak-anaknya menjadi manusia terhormat, makin mundur dan kalah bersaing dengan usaha batik yang lebih modern; tiba-tiba Ni ingin melanjutkan usaha batik ibunya. Keputusan yang diambil Ni ini tak diharapkan oleh Bu Bei. “Sejak pertama kali mendengar gagasan bahwa Bu Bei diminta untuk tidak mengurusi batik lagi, Ni merasa terpanggil untuk bertindak. Mengambil alih perusahaan batik” (hlm. 191). Mulailah terjadi geger melanda keluarga besar Sestrokusumo. Bu Bei, tak berapa lama sesudah itu, mendadak meninggal.

Persoalannya ternyata tidak berhenti sampai di sana. Ni kemudian dicurigai pula sebagai anak hasil hubungan gelap. Masalah pun lalu terus datang silih berganti. Pak Bei tetap tampil meyakinkan, menyelesaikan masalah. Namun, di antara anak-anaknya mulai timbul persaingan yang tak sehat; pertikaian terselubung terjadi dan masing-masing ingin memperlihatkan peranannya yang lebih menonjol. Mereka juga kurang setuju jika Ni melanjutkan usaha batik canting keluarga Sestrokusumo.

Ni tetap kukuh pada panggilan hati nuraninya. Ia harus melanjutkan usaha batik yang pernah dirintis ibunya, meskipun perusahaan-perusahaan batik yang lebih modern dan bermodal raksasa menggeser usaha batik tradhisional. Ni masih tetap yakin pada bayang-bayang masa lalu kebesaran usaha batik canting yang dirintis ibunya. Ia juga yakin merasa mampu untuk menghidupkannya lagi. Namun, kenyataan berbicara lain. Batik canting tetap tenggelam. Surut oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Sampai akhirnya Ni jatuh sakit dan nyaris dijemput maut. Pada saat itulah ia sadar, betapa ramanya dan kakak-kakaknya, serta buruh batik semuanya sungguh-sungguh mencintainya. Hal ini telah melahirkan sikap baru dalam dirinya. “Canting tak perlu mengangkat bendera tinggi-tinggi… karena Canting sekarang ini bukan cap yang dulu dianggap adi luhung oleh sebagian besar pemakainya” (hlm. 384).

Maka, tak ada pilihan lain bagi Ni. Jika ingin tetap hidup dan menghidupkan kembali usaha ibunya, ia harus melebur diri; Canting harus melebur dirinya: “Cara bertahan dan bisa melejit, bukan dengan menjerit. Bukan dengan memuji keagungan masa lampau, bukan dengan memusuhi. Tapi dengan jalan melebur diri. Ketika ia melepaskan cap Canting, ketika itulah usaha batiknya jalan” (hlm. 385-386).

Begitulah, sikap ini telah menghidupkan kembali harapannya. Ni berangsur-angsur sembuh. Ia lalu menikah dengan Himawan tepat pada hari selamatan setahun meninggalnya Bu Bei. Kakak-kakaknya ikut membantu memasarkan batik-batiknya atau mempromosikannya pada turis-turis asing. Para buruh dan abdi dalem kembali merasakan kehidupan yang hidup. Ketika anak pertamanya lahir, para abdi dalem itu menyambutnya dengan rasa syukur dan suka cita yang mendalam. Canting Daryono˗˗demikian nama bayi itu˗˗telah lahir.

                                                                       ***
Novel Canting ini pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung harina Kompas. Dengan subjudul “Sebuah Roman Keluarga” Canting memang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga; keluarga Jawa yang amat khas, lengkap dengan berbagai symbol dan tradisi keningratannya, filsafat dan sikap hidupnya, dan naluri-naluri tradisional yang makin terdesak oleh kemajuan zaman.

Analisis yang menarik terhadap novel ini˗˗yang dikaitkan dengan cerpen Umar Kayam, “Sri Sumarah”, dan puisi liris Linus Suryadi AG˗˗Pengakuan Pariyem˗˗pernah dilakukan oleh Bakdi Soemanto 1987 dalam makalahnya yang berjudul “Sri Sumarah, Pariyem, Bu Bei”. Menarik, karena menurut Bakdi, Bu Bei dalam Canting lebih merupakan reaksi atas gambaran citra wanita Jawa dalam “Sri Sumarah” dan Pengakuan Pariyem.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top