Monday

Cerita Novel Online - Burung- burung Manyar

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Y.B. Mangunwijaya (6 Mei 1929)
Penerbit    : Djambatan
Tahun        : 1981; Cetakan V, 1988

Cerita Novel Online - Burung- burung ManyarMasa kecil Setadewa (Teto) sungguh merupakan masa penuh bahagia. Sebagai anak tunggal Letnan Barjabasuki, Teto hidup dalam bayangan ayahnya yang lulusan Akademi Breda di Belanda dan keturunan keraton, serta ibu yang Indo-Belanda. Di Magelang, tempat ayahnya bertugas di Garnisun divisi II, Teto merasakan nikmatnya hidup sebagai anak tentara kolonial yang bebas bergaul dengan anak-anak inlander.

Tiba-tiba saja segala berubah dengan cepat. Jepang datang, dan Belanda hanya mampu memperlihatkan kekalahan dirinya dengan cara yang sangat memalukan; dalam sekejap Jepang dapat menguasai segalanya. “Dunia-serba-gemilang kami telah cepat runtuh. Jepang datang. KNIL kalah dan kabur” (hlm. 25). Belakangan, Letnan Barjabasuki tertangkap di Jakarta, dan istrinya˗˗Marice˗˗diharuskan memilih: nyawa suaminya melayang atau dirinya dijadikan gundik kempeitai. Pilihan terakhir itulah yang menyelamatkan mantan tentara KNIL itu.

Bagi Teto semua itu adalah peristiwa yang luar biasa. Jepang telah mencampakkan semua yang pernah menjadi kebanggannya selama ini. “Dan semakin terpencillah seluruh jiwaku kepada yang berbau Jepang… Sejak itu, aku bersumpah untuk mengikuti jejak Papi: menjadi KNIL” (hlm. 34). Itulah keputusan yang diambil Teto. Maka, setelah Indonesia diproklamirkan dan Jepang kabur tanpa syarat, yang kemudian disusul dengan masuknya kembali Belanda, Teto langsung hendak bergabung dengan tentara KNIL. Lewat bantuan Mayor Verbruggen, Teto bisa diterima di kesatuan tentara Belanda. Dalam waktu dua bulan, ia sudah menjadi komandan patrol dengan pangkat letnan dua. Lewat informasi Mayor Verbruggen diketahui bahwa Brajabasuki ternyata masih hidup atau mungkin bergabung dengan tentara Republik. Namun, ibu Teto belakangan diketahui sudah tak waras lagi. Ia menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Sementara Teto dalam petualangannya mencari kepuasan balas dendam, Larasati (Atik)˗˗teman sepermainan Teto sejak kecil˗˗bekerja di Kementerian Luar Negeri. Jadi, pada saat Negara ini baru lahir, Atik secara sadar memilih berjuang untuk bangsanya sendiri, untuk mempertahankan kemerdekaan dari cengkeraman tentara Belanda˗˗yang di dalamnya bergabung Teto.

Setelah Belanda gagal melancarkan perang fisik dan diplomatik, Teto memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. “Ia lari, barangkali karena tidak kuat menghadapi situasinya, menghadapi konflik bathin antara nafsu membalas dendam ayah dan ibunya dan perasaan terhadap dia, Atik” (hlm. 143). Teto kemudian melanjutkan studinya di Harvard hingga membawanya menjadi pakar computer. Bertepatan dengan diraihnya gelar doktor, ia mendengar kabar bahwa ibunya tak dapat bertahan hidup. Sebelumnya, Teto mendengar kabar mengenai perkawinan pujaan hatinya, Atik.

Ketika Teto mengetahui adanya kecurangan dalam perhitungan komputer yang amat dilakukan Pacific Oil Wells Company terhadap pemerintah Indonesia˗˗dan itu amat merugikan Indonesia˗˗, Teto bertekad untuk membongkar manipulasi itu meskipun ia akan dipecat dari perusahaannya. Ia kembali ke Indonesia setelah sebelumnya mengetahui keadaan keluarga Atik.

Indonesia˗˗yang sekian lama telah ditinggalkan Teto˗˗sudah berubah. Berbagai kemajuan telah dicapai negeri ini yang dahulu pernah dianggap Teto sebagai negeri yang belum siap merdeka. Demikian pula dengan manusia-manusianya, termasuk Atik. Wanita yang˗˗sadar atau tidak˗˗dicintainya itu kini sudah menjadi Nyonya Janakatamsi. Ia juga sudah mendengar bahwa Atik menjadi Kepala Direktorat Pelestarian Alam. Maka, ketika ia mendengar bahwa Atik akan mempertahankan disetasinya, ia merasa perlu untuk menghadiri acara tersebut.

Tesis Atik mempertahankan burung-burung manyar˗˗yang perilakunya˗˗mempunyai kesamaan dengan apa yang selama ini dilakukan Teto, boleh jadi hal ini hanya merupakan suatu kebetulan. Namun, bagi Teto, tesis itu ibarat penelanjangan dirinya. Setidaknya kini Teto merasa “kesombongankulah dulu akhirnya menghempaskan sarangku berantakan di tanah” (hlm. 212). Teto memang tak cukup berani untuk mengucapkan “selamat” atas keberhasilan yang diraih Atik, seperti juga tak cukup berani menyampaikan ucapan yang sama ketika Atik menikah dengan janakatamsi.

Esoknya, tanpa diduga, Atik dan suaminya datang ke tempat Teto menginap. Lelaki yang sudah duda itu˗˗bercerai dengan istrinya, Barbara, putri bosnya di Pacific Oil Wells˗˗tentu saja amat terkejut. Betapapun juga pertemuan itu sungguh tak diharapkan.

Pertemuan itu makin menyadarkan Teto bahwa sesungguhnya ia masih mencintai Atik, suatu perasaan yang ia takutkan jika berjumpa dengan wanita itu. Masalahnya kini Atik sudah resmi menjadi milik Janakatamsi dan ketiga anaknya. Belakangan diketahui pula bahwa Janakatamsi adalah anak direktur Rumah Sakit Jiwa Kramat, tempat ibu Teto dulu dirawat. Janakatamsi bukan tak menyadari “makna” Teto bagi istrinya. Oleh karena itu, ia menerima Teto sebagai kakaknya.

Atas ajakan Janakatamsi, Teto akhirnya mau mengunjungi rumah Atik di Bogor. Sebelumnya Teto menyempatkan diri menginap di rumah Bu Antana, ibu Atik, yang memang sudah dekat hubungannya ketika mereka masih kanak-kanak dan keluarga Brajabasuki dan keluarga Antana sering mengunjungi.

Sebagaimana niatnya kembali ke Indonesia, Teto kemudian menyampaikan keinginannya untuk membongkar manipulasi computer yang dilakukan perusahaannya. Mendengar hal itu Janakatamsi bersedia membantu Teto, sungguhpun sadar bahwa kemungkinan besar ia juga bakal dipecat. Dugaan pemecatan itu ternyata benar. Pembongkaran kecurangan itu telah menyebabkan Teto dipecat dari perusahaannya. Begitu juga halnya dengan Janakatamsi.

Suatu saat Teto mendapat pesan dari ayah Janakatamsi, yang kini sudah pension, dari rumah sakit jiwa bahwa suami Atik sebaiknya menunaikan ibadah haji. Pesan itu pun dilaksanakan berkat dana bantuan Teto. Atik dan suaminya pergi melaksanakan ibadah haji. Belakangan muncul berita˗˗yang ditegaskan lagi oleh Departemen Perhubungan melalui telegram˗˗bahwa pesawat yang ditumpangi suami-istri itu mengalami musibah di Kolombo,”…gugur dalam perjalanan ziarah ke Tuhan” (hlm. 260).

“Tetapi untunglah Tuhan Yang Maha Pemurah masih sudi memberi kesejukan bagi siang dan petang kurun hidupku; atas persetujuan keluarga dan atas permintaan ayah Jana, …ketiga anak Atik kuangkat jadi anakku. Hadiah terindah dari Atik dan suaminya ingin kujaga dan kuantar ke hari depan mereka sesuai dengan jati-diri dan bahasa citra yang sebening mungkin” (hlm. 261). Itulah keputusan Teto yang selalu merasa memperoleh ketidaktercapaian dalam perjalanan hidupnya; seorang anak manusia yang karena kesombongannya, merasa selalu gagal dalam pencapaian jati dirinya yang sejati, betapapun seorang pakar matematika-komputer banyak dibutuhkan.

                                                                     ***

Sejauh ini hampir semua kritikus yang membicarakan novel ini, tak ada yang tidak memberikan pujian. “Bahasanya segar dan gurih… Isinya penuh pengalaman dahsyat, keras dan kasar, tapi juga romantic penuh kelembutan dan kemesraan.” Demikian antara lain komentar H.B. Jassin tentang novel ini. Tidak sedikit pula pengamat asing yang merasa sangat kagum dan terkesan pada kekayaan makna yang terkandung dalam novel ini. Tidak berlebihan jika para kritikus sastra Indonesia menempatkan novel ini sebagai salah satu karya penting yang ikut menonggaki perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia.

Tahun 1983 novel ini memperoleh penghargaan sebagai pemenang Hadiah Sastra Asean (South East Asia Write Award). Tahun 1987 Burung-burung Manyar diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul Arasi no Naka no Manyar (oleh Imura BunkaJigyosyo) dan ke dalam bahasa Belanda berjudul Het Boek van Weaverbirds hasil terjemahan Thomas Hunter.

Sebagai salah satu bahan pengajaran sastra, novel ini niscaya akan menambah wawasan baru akan gambaran sebuah revolusi dan makna nasionalisme, setidak-tidaknya jika dilihat dari kaca mata yang tak pro-republik.

Novel ini pernah dijadikan bahan skripsi oleh Eviati Suhaemi (FSUI, 1988) yang menganalisis sudut pandangnya.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top