Saturday

Robert Anak Surapati

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel La Hami, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Robert Anak Surapati. Novel yang sengaja kami masukkan kedalam daftar kumpulan Novel ini, agar bisa menambah wawasan dan pengetahuan anda, juga menambah referensi anda dalam membaca. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Abdul Muis
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1953; Cetakan VI, 1987

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

     Kapal layar Dolfijn, yang datang dari Indonesia menuju ke negeri Belanda, telah melalui Tanjung Harapan, di sebelah Selatan benua Afrika, dan sedang menghampiri pulau Sint Helena.” (hlm. 5). Salah seorang penumpang kapal itu, Suzane Moor, tergeletak kepayahan. Ibu muda ini mengerti derita yang sedang dirasakan ibunya. Beruntung, Tuan van Reijn, penumpang kapal itu yang kamarnya bersebelahan, datang menjenguknya. Suzane Moor kemudian memohon agar van Reijn dan istrinya mau memelihara anaknya. Ia juga menyerahkan sepucuk surat untuk anaknya yang baru boleh diberikan van Reijn jika anak itu berusia 21 tahun. Itulah pesan terakhir Suzane Moor. Sebab setelah itu, maut datang menjemputnya. Suami-istri van Reijn kemudian memutuskan untuk menjadikan anak yang masih kecil itu sebagai anak angkatnya.

     Di tangan suami-istri van Reijn, Robert –demikian anak itu diberi nama- tumbuh dan hidup dalam limpahan kasih sayang yang berlebihan. Istri van Reijn yang meninggal lebih cepat, belum sempat menanamkan budi pekerti yang baik. Di satu pihak van Reijn lebih mewujudkan kasih sayangnya dalam bentuk limpahan uang dan kebebasan. Jadilah Robert tumbuh sebagai anak laki-laki yang suka bermabuk-mabukan dan berkelahi.

     Suatu hari, ketika Robert sedang berpesta di rumah kekasihnya, Digna, datang kabar yang amat mengejutkan pemuda itu; ayah angkatnya meninggal. Bagi Robert yang belum mengetahui bahwa van Reijn hanyalah ayah angkatnya, kematian itu amat merisaukannya. Lebih-lebih, bahwa sejauh itu ayahnya belum sekali pun memberitahukan perihal haknya untuk mengurusi harta warisan almarhum.

     Untuk mengetahui apakah ayahnya menulis surat wasiat atau tidak, ia memberanikan diri memeriksa meja tulis almarhum ayahnya. Robert menemukan sebuah surat bertuliskan: “Kepada Robert. Boleh dibuka jika ia telah berumur 21 tahun.” (hlm. 26). Robert sebenarnya hendak menaati pesan tersebut, apalagi jika mengingat bahwa dalam tiga bulan mendatang, ia akan genap berusia 21 tahun.

     Namun, rupanya, sang nasib harus menentukan lain. Percekcokan dengan pamannya, Gerard van Reijn, telah membuat Robert makin penasaran terhadap surat itu. Maka, dibukalah surat itu. Betapa terkejut campur sedih hati Robert. Kini, terbukti siapa dirinya yang sebenarnya. Jelas sudah, mengapa pamannya begitu berambisi hendak menguasai harta warisan Jozef van Reijn.

     Surat itu juga sekaligus telah memperkuat pesan terakhir almarhum kepada Robert, yang belum selesai ditulis seluruhnya, “Robert yang tercinta! Tidak patut aku lebih lama menyembunyikan suatu keterangan yang harus engkau ketahui. Engkau sebenarnya bukan anakku, meskipun…” Surat yang belum selesai itulah yang kemudian dijadikan senjata oleh Gerard untuk menguasai harta ayah angkat Robert.

     Betapapun hati Robert kecewa, ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menerima kenyataan yang dihadapinya kini. Maka, bulatlah sudah keputusannya; pergi meninggalkan Belanda, meninggalkan kekasihnya bersama kekecewaan dan kepedihan hatinya, hingga sampailah ia ke Jakarta.

     Di Jakarta, menjadi serdadu Kompeni adalah pilihan Robert. Ia mulai merasakan bahwa sesungguhnya masing-masing orang memikul tanggung jawabnya sendiri; baik kepada dirinya, pekerjaannya, maupun kepada negaranya; suatu kesadaran yang tumbuh sejalan dengan usaha mencari dan menemukan jati dirinya. Maka, ketika tanpa diduga ia bertemu kembali dengan Digna, ia menghadapinya dengan sikap lebih dewasa. Terlebih lagi, Digna kini sudah resmi menjadi istri Voorneman, seorang duda beranak satu.
Walaupun demikian, Voorneman yang mulai sakit-sakitan itu, justru memandang pertemuan istrinya dengan Robert, penuh dengan rasa cemburu dan tak bersahabat. Di hadapan Digna, Robert berjanji untuk membalas dendam atas kematian Kapten Tack, ayah Digna, yang tewas akibat perlawanan Surapati.

     Ketika Edeler Herman de Wilde membutuhkan seorang mata-mata untuk membongkar kekuatan Surapati di Pasuruan, Robert segera mengajukan diri. Walaupun masih muda, Robert diterima untuk mengemban tugas itu. Penerimaan oleh Herman de Wilde itu sebenarnya bukan karena Robert akan mampu menjalankan tugas itu, melainkan semata-mata karena kebenciannya kepada Robert.

     “Malang bagi Robert, ketika ia memasuki daerah Pasuruan ….” (hlm. 91), penyamarannya terbongkar. Ia kemudian ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Esoknya, demi mendengar bahwa tahanan itu seorang peranakan, Surapati datang. Betapa terkejutnya Surapati ketika ia memeriksa barang-barang Robert. Lebih terkejut lagi ketika Robert yang waktu itu mengaku bernama Walter menyerahkan surat yang ditulis Suzane Moor. Bagi Surapati, persoalannya kini sudah jelas bahwa orang yang di hadapannya itu tidak lain adalah anaknya. Maka, dibeberkanlah segala tabir rahasia yang menyelimuti diri Robert. Surapati yang hendak dibunuh oleh Robert adalah ayahnya sendiri. Kemudian kini, orang itu ada di hadapannya; mengajaknya bersekutu melawan Kompeni. Bahkan, hendak memberinya kekuasaan, dan tidak sekadar sebuah pangkat kopral yang disandangnya kini.

     Pertemuan ayah-anak itu tak menyenangkan kedua belah pihak. Robert yang merasakan asuhan keluarga Belanda, hidup dalam suasana dan lingkungan Belanda, menganggap bahwa bangsa dan negaranya adalah Belanda, bukan Jawa. Itulah pilihan yang diambil Robert. Apabila ia bersekutu dengan Surapati –betapapun ia ayahnya sendiri-, keputusan anaknya itu tentu amat menyedihkannya. Namun, sebagai seorang pemimpin yang berjuang untuk membebaskan bangsa dan tanah airnya dari cengkeraman penjajah, ia tak boleh hanyut oleh sentiment pribadi. Robert tetap harus diperlakukan sebagai tawanan.

     Dalam suatu penyerbuan Belanda ke daerah kekuasaan Surapati, Surapati yang berusaha mempertahankan daerahnya, terluka parah. Ia segera dibawa ke tempat yang lebih aman. Pada saat itulah timbul keinginan untuk menyadarkan kembali anaknya. Robert kembali diminta agar mau melanjutkan perjuangan ayahnya karena sesungguhnya tanah dan bangsanya adalah Jawa; bukan Belanda. Namun, entah mengapa, keputusan tetap tak berubah walaupun pertemuan dengan ayahnya yang terakhir ini telah dapat mempertemukan perasaan masing-masing. Hanya karena Robert tetap merasa sebagai orang Belanda, tak ada pilihan lain, kecuali melangkah menurut keyakinan masing-masing. Surapati sendiri tak dapat memaksakan kehendaknya.

     Setelah pertemuan itu, Surapati meninggal, sedangkan Robert dibebaskan dan diantar oleh para prajurit Surapati sampai ke perbatasan wilayah Belanda. Namun, apa yang dihadapi Robert kemudian, sungguh di luar dugaan. Patrol Belanda menuduhnya sebagai mata-mata penjara. Beruntung ia dapat menemui Herman de Wilde yang kemudian membebaskannya walaupun ia tetap dicurigai sebagai mata-mata Surapati. Sungguhpun perlakuan teman-teman seperjuangannya amat menyakitkan hatinya, Robert tetap bertekad untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan mata-mata, bukan sampah masyarakat, sebagaimana yang ia terima dari para pejabat Belanda. Ia akan membuktikan bahwa dirinya patriot sejati bangsa Belanda. Tekad itu ia sampaikan pula kepada Digna yang kini memahami keadaan Robert setelah ia mendengar penuturan bekas kekasihnya.
    Belakangan, Digna mendengar kabar dari pamannya, Van Hoorn, bahwa Robert yang lebih dikenal  dengan nama Walter, gugur dalam sebuah pertempuran hebat. “Ia telah membukakan mata khalayak umum yang biasa memperhinakannya dengan suatu kenyataan yang jarang-jarang diperlihatkan orang di dalam sejarah perjuangan Oost Indishe Compagnie di negeri ini. Sekarang tahulah orang banyak, bahwa orang yang terbuang-buang itu sebenarnya ialah seorang pahlawan tanah air yang mahal tandingannya. Ia gugur beserta lima puluh orang kawannya, sebagai pahlawan, di bawah kelindungan si tiga warna, yang dapt dipancangkannya di benteng musuh, dengan mengurbankan nyawanya.” (hlm. 141). Robert gugur sebagai pahlawan bangsa Belanda.

Resensi Novel - Tentang Novel

                                                                        ***
     Novel ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari Novel Abdul Muis, Surapati. Seperti tersurat pada judulnya, Robert Anak Surapati, novel ini menceritakan  perjalanan hidup anak pertama Surapati dari hasil perkawinan dengan Suzane Moor, putri bekas majikannya, Edeler Moor. Tanggapan Teeuw (1989: 5) terhadap kedua novel Abdul Muis, antara lain, bahwa “… Abdul Muis dapat diharapkan berhasil mengubah cerita menarik mengenai pahlawan nasional ini menjadi roman-roman yang indah.” Novel ini merupakan salah satu novel populer dijamannya.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top