Sunday

Cerita Novel Online - Si Bongkok



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Parakitri (28 Desember 1947)
Penerbit    : Gramedia
Tahun        : 1981

Sinopsis Novel

Cerita Novel Online - Si BongkokGindo, alias si Bongkok, adalah anak tunggal Andreas Garoga, seorang karyawan yang dituduh terlibat peristiwa G30S/PKI di daerahnya. Andreas mati dalam masa penahanannya. Ketika itu Gindo berusia 14 tahun. Tak lama kemudian, di dalam tahanan khusus wanita, ibu Gindo, bunuh diri (hlm. 21). Selanjutnya, Gindo diasuh oleh sahabat karib ayahnya, Biliam, untuk beberapa lama, sebelum anak itu diserahkan kepada kakeknya, Kakek Panuan. Namun, Kakek Panuan meninggal sebelum dapat mengurus cucunya.

Gindo selalu kembali ke Sepinggan, kampung halaman orang tuanya. Namun, di situ tidak ada keramahan dalam menyambut kedatangannya. Orang kampung selalu berusaha menghindar bila bertemu dengan pemuda bongkok itu, apalagi setelah mereka mengetahui bahwa Gindo adalah cucu Panuan. Gindo tak mengerti mengapa orang-orang kampung menghindarinya. Ia terlalu lugu untuk memahami ketakutan mereka. Mereka begitu takut dituduh sebagai pemberontak G30S/PKI bila berhubungan dengan keturunan Andreas Garoga (hlm. 70). Terpaksalah Gindo tinggal bersama Biliam dan kawan-kawannya di Bahung, sebuah rawa di pinggir kampung.

Dalam pada itu, kehadiran Gindo di Sepinggan, juga tak disukai Sebulon dan keluarganya. Keluarga Sebulon sangat berpengaruh di kampung itu yang turun-temurun menjabat kepala negeri. Sebaliknya, Kakek Panuan adalah keturunan pemberontak terhadap pemerintah sejak zaman kolonial. Hal inilah yang membuat keturunan Panuan dimusuhi oleh keluarga Sebulon.

Ketidaksukaan keluarga Sebulon semakin menjadi ketika Gindo dan Biliam berinisiatif menjalankan usaha dagang. Perdagangan Gindo dan Biliam maju dan mendapat sambutan dari penduduk kampung, dan tentu saja usaha ini menjadi saingan keluarga Sebulon. Maka, tak ada cara lain bagi Sebulon, kecuali membayar orang untuk membunuh Gindo.
Gindo nyaris terbunuh ketika ia dipukuli oleh sekelompok orang. Namun, berkat kepandaian bela dirinya, ia berhasil membabakbelurkan pengeroyok itu. Ternyata, peristiwa itu berbuntut panjang, yang membawanya sampai masuk tahanan.

Empat tahun dalam penjara membuat kepribadian Gindo sangat matang. Ia mengoreksi dan merenungi jalan hidup orang tuanya dan jalan hidupnya sendiri. Setelah habis masa tahanan, ia berangkat ke Jakarta.

Di ibu kota Gindo menjadi tukang parker. Lalu, ia bentrok dengan Wim, preman yang menguasai daerah parker Gindo. Wim nyaris dibunuh oleh Gindo. Untuk menghindari balas dendam Wim beserta kelompoknya, akhirnya Gindo melarikan diri.

Gindo bertemu Gana ketika ia menolong gadis itu dari sekelompok pencopet. Sebelumnya, waktu di Sepinggan, ia juga pernah menyelamatkan Gana dari kecelakaan kapal feri. Selanjutnya, Gindo dibawa oleh Gana dan Ester, tantenya yang tinggal bersama keluarga Japet Romas, suami Ester yang mandul.
Atas desakan Ester, Gindo memberikan benihnya ke dalam Rahim wanita itu, lantaran Japet Romas tak dapat memberikan anak. Dalam adat leluhurnya anak adalah pokok utama. Oleh sebab itu Ester mengkhianati suaminya dengan berbuat serong.

Pada mulanya hubungan intim Gindo dengan Ester tidak dipermasalahkan Gindo. Akan tetapi, lambat-laun timbul kesadaran dalam diri Gindo. Ia merasa terhina ketika timbul kesadaran bahwa dirinya hanyalah dijadikan pejantan “…Nauda hanya mau memperoleh semuanya, dan aku alatnya. Kenapa Nauda melakukan hal itu terhadapku? Begitu tak berhargakah aku sehingga hanya pantas dijadikan pejantan? (hlm. 235).

Sementara itu, Biliam malang-melintang dalam dunia hitam di Jakarta. Ia menjadi bos bagi preman-preman. Lewat Wim, Biliam mengetahui bahwa Gindo ada di Jakarta. Lalu, ia mencari kemenakannya itu di berbagai pelosok Jakarta, sampai akhirnya ia bertemu dengan Gindo di rumah keluarga Japet Romas.
Waktu itu Gindo sedang bertengkar dengan Ester. Saat itulah Biliam datang dan takjub melihat Ester˗˗yang ternyata mantan kekasih Biliam˗˗bersimpuh di kaki Gindo. Pertengkaran itu dapat dilerai oleh Biliam.

Gindo dibawa Biliam ke “markas”-nya. Di tempat itu Gindo bertemu dengan Benan, yang dulu memusuhi Gindo. Lalu, ia mendapat penjelasan tentang asal-usul keluarga Gindo yang cukup rumit dan menjadi rahasia selama ini.

Kakek Panuan tak dapat memberikan anak karena mandul. Padahal anak menurut adat sangat penting untuk meneruskan keturunan keluarga. Atas putusan seidang keluarga, nenek Gindo˗˗istri kakek Panuan˗˗harus menerima benih dari lelaki lain tanpa sepengetahuan suaminya. Meskipun tak setuju dengan keputusan itu, karena nenek Gindo mencintai suaminya, dengan terpaksa ia melakukannya. Lelaki yang memberikan benih adalah Batua. Hasil hubungan itu lahirlah Andreas Garoga, ayah Gindo. Jadi sebenarnya Gindo bukanlah cucu Kakek Panuan, melainkan cucu Kakek Batua.

Kakek Batua mempunyai anak, Sebulon dan Japet Romas, dari istri sahnya. Anak Sebulon, salah satunya adalah Benan. Jadi Benan dan Gindo sebenarnya satu keturunan. Sedangkan Japet Romas mempunyai istri bernama Ester, yang telah dihamili Gindo. Jadi, Sebulon dan Japet Romas adalah om bagi Gindo dan Ester adalah tantenya.
Jika dilihat dari sejarah keluarga, perbuatan Gindo menghamili tantenya adalah mengulangi sejarah nenek moyangnya. Juga dengan satu alasan yang sama: demi melanjutkan keturunan.

Gindo merenungi nasibnya setelah mendengarkan sejarah keluarga. Ia sebetulnya bukanlah cucu Kakek Panuan, tetapi telah mendapat didikan dan jiwa keluarga Panuan. Akhirnya, Gindo menerima kenyataan itu. Ia menerima˗˗seperti yang diajarkan keluarga Panuan˗˗untuk tidak menuntut, tetapi memberi segalanya, seperti bunga anggrek. “....Yang paling penting daripadanya kau telah memenangkan Benan, cucu Batua. Ia saudaramu. Kau memang bukan darah Panuan. Tapi sifat dan jiwanya telah menempa ayahmu. Seberapa pentingnya darah dibanding dengan hal ini? …” (hlm. 246). Demikianlah, Gindo, Si Bongkok, akhirnya memperoleh jawaban atas segala misteri tentang keberadaannya yang selama ini selalu diliputi tabir rahasia.

Resensi Novel

                                                                      ***
Novel Si Bongkok karya Parakitri alias Tahi Simbolon ini, adalah pemenang hadiah kedua Sayembara Mengarang Novel Gramedia˗˗Kompas tahun 1978 dan baru diterbitkan tahun 1981. Seperti juga novel pertamanya, Ibu (1969), Si Bongkok pun dirangkai lewat jalinan peristiwa yang berliku-liku, dan baru pada bagian akhir tabir rahasianya terjawab sudah.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top