Friday

Cerita Novel Online - Pertemuan Dua Hati

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Nh. Dini
Penerbit    : Gramedia
Tahun        : 1986

Sinopsis Novel Online

Kepindahan suami Bu Suci ke Semarang, memaksa guru sekolah dasar itu juga ikut pindah ke sana. Beruntung ada salah satu sekolah yang menerimanya sehingga Bu Suci tidak terlalu lama  menganggur. Bahkan “ada kemungkinan aku akan mengajar lebih dini dari yang telah direncanakan semula” (hlm. 18). Menurut kepala sekolah, ada seorang guru yang mengalami kecelakaan. Bu Suci menggantikan tempat guru yang mendapat kecelakaan itu, yakni mengajar dua kelas.

Cerita Novel Online - Pertemuan Dua HatiPada awal menjalankan tugasnya sebagai guru yang memegang dua kelas, keduanya kelas tiga, Bu Suci menjalankan tugasnya dengan baik. Semua berjalan lancar. Begitu pula urusan rumah tangganya tak menemui masalah. Namun, pada hari keempat, Bu Suci, yang telah mempunyai sepasang putra, memperoleh keterangan bahwa salah seorang muridnya, Waskito, belum juga masuk kelas. Ia heran, sebab semua murid yang sekelas dengan Waskito tak satupun yang mengetahui mengapa murid itu belum juga masuk kelas. Ternyata, di kalangan teman-temannya, Waskito dikenal sebagai murid yang bengal. Begitu pula guru-guru menyebutnya sebagai murid yang nakal, murid yang sering membuat kekacauan.

Itulah masalah yang dihadapi oleh Bu Suci. Ia bertekad untuk mengembalikan Waskito menjadi murid yang wajar. Bersamaan dengan itu, masalah lain datang pula. Itu menyangkut anaknya sendiri. Si Bungsu ternyata mengidap penyakit ayan. Itu berarti anaknya harus memperoleh perawatan intensif seorang neorolog, ahli saraf. Berarti pula perhatian khusus harus diberikan demi kesembuhan anak keduanya itu. Dengan demikian, dua masalah sekaligus datang menimpa Bu Suci. Saat itu terbersit keraguannya dalam menyelesaikan masalah ini. Sebagai ibu, ia tak ingin masa depan anaknya suram; dan sebagai guru, ia juga berharap agar semua muridnya menjadi anak yang baik, anak yang berguna bagi sesamanya.

Pernah pula terlintas dalam pikiran Bu Suci untuk lebih memperhatikan anaknya sendiri; “sepintas lalu, tentu saja aku mementingkan anakku daripada muridku. Tetapi benarkah sikap itu?” (hlm. 46). Di lain pihak, ia juga menyadari profesinya sebagai guru; sebagai orang tua bagi murid-muridnya. Maka, keputusan Bu Suci adalah tidak memilih salah satu dari persoalan itu, melainkan memilih keduanya. “Anak dan Murid. Bukan anak atau murid. Ya, akhirnya itulah yang harus kupilih: keduanya” (hlm. 47).

Sementara Bu Suci terus memperhatikan anak bungsunya, ia berusaha mencari keterangan perihal latar belakang kehidupan Waskito. Dari sejumlah informasi, akhirnya ia menyimpulkan bahwa kenakalan Waskito sesungguhnya hanya semacam kompensasi anak yang merasa kurang mendapat perhatian kedua orang tuanya. “Jenis anak-anak lain tidak akan memandang hal itu sebagai satu masalah. Namun, bagi Waskito, yang sedari kecil merasa ditolak, tidak diperhatikan, hal itu merupakan beban yang mengganjal di hatinya” (hlm. 52).

Kesimpulan tersebut telah memperkuat tekad Bu Suci untuk mengembalikan Waskito menjadi murid yang wajar, sama seperti murid yang lain. Waskito pada mulanya menanggapinya secara baik. Murid-murid lainnya juga mulai menerima Waskito sebagaimana biasanya hubungan sesama murid.

Sungguhpun demikian, beberapa rekan sejawat Bu Suci ada yang menanggapinya secara lain. Beberapa guru, ada yang kurang mendukung itikad baik Bu Suci, yang menurut mereka berlebihan. Mereka juga beranggapan bahwa anak macam Waskito yang sudah terbiasa dimanja dengan harta, tak bakal dapat disembuhkan lagi. Anggapan itu kemudian seolah-olah memperoleh pembenaran, ketika suatu hari Waskito mengamuk.

Tentu saja peristiwa itu sangat memukul hati Bu Suci. Ia mulai meragukan kemampuannya untuk menyadarkan murid bengal itu. Di samping itu, peristiwa itu juga telah “menggoncangkan kepercayaan sekolah kepada Waskito” (hlm. 69). Bu Suci kemudian diberi waktu sebulan dalam usahanya menyadarkan Waskito. Bagaimanapun, idealisme sebagai seorang guru memberi keyakinan yang kuat pada dirinya bahwa dengan pendekatan dan cara yang tepat, pastilah murid bengal itu akan kembali menjadi murid yang wajar. Keyakinan Bu Suci ternyata benar. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Tidak hanya itu, ia juga menjadi murid yang baik.
Tentu saja Bu Suci merasa senang. Terlebih lagi, kesehatan anak bungsunya juga makin baik dan tidak lagi memperlihatkan tanda-tanda kambuh.

Resensi Novel Online

                                                                    ***
Agak berbeda dengan novel-novel Nh. Dini lainnya, Pertemuan Dua Hati memperlihatkan minat sastrawati yang produktif ini kepada persoalan dunia pendidikan. Studi yang cukup mendalam mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Oktaviani (FSUI, 1991) sebagai bahan penelitian skripsi sarjananya.
Tahun 1989, novel ini diangkat menjadi sinetron TVRI, dengan Titiek Sandhora sebagai pemeran utamanya.
     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

2 komentar

cara download novel pertemuan dua hati gmna ya ,.saya cari novelnya di gramedia dan udah cari belum dapet ?

Dian = Novel ini merupakan novel populer di tahunnya... Tapi Gramedia sudah tidak menerbitkan novel ini beberapa tahun yang lalu. Jika boleh memberikan rekomendasi, belilah di toko buku bekas, karena salah satu rekan kami mendapatkan novel ini di pasar buku bekas di jogja. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top