Sunday

Cerita Novel Online - Perjanjian Dengan Maut



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Harijadi S. Hartowardojo
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun            : 1976

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online - Perjanjian Dengan MautSuwardjo (Wardjo) dan beberapa teman sekolahnya di Sekolah Pelayaran di Tegal merencanakan kabur dari asramanya. Mereka tidak tahan lagi menerima perlakuan yang kejam dan disiplin yang terlalu keras yang diterapkan di sekolah pelayaran itu. Pihak Jepang, terutama Kenpeitai sudah terlalu sering melakukan penyiksaan berat terhadap siswa yang melakukan kesalahan, sungguhpun kesalahannya itu tidaklah seberapa. Belum lagi bom yang dimuntahkan pesawat-pesawat Amerika atau sekutu, sudah beberapa kali jatuh di depan asrama Sekolah Pelayaran. Maka, rencana pun disusun dengan sangat rahasia. Sabotase akan dilaksanakan. Rencana tersebut menjadi makin matang setelah mereka dihubungi dan diberi perangkat pakaian, berikut sejumlah alat peledak, termasuk granat, oleh sekelompok pejuang bawah tanah. Bulat sudah keputusan Wardjo dan beberapa temannya untuk melarikan diri pada saat datang serangan udara.

Persiapan dilakukan dan berjalan sesuai dengan rencana. Lalu, pada saat terdengar suara sirene udara, mereka bergerak cepat. Bersiap meledakkan beberapa kapal latih yang berlabuh. Ternyata, ledakan yang terlalu hebat di luar perhitungan mereka. Wardjo terhempas ke laut. Tak diketahui, bagaimana nasib teman-temannya. Beruntung, Wardjo selamat. Ia terdampar di pesisir Pekalongan.

Dalam usaha menghindari patrol tentara Jepang, Wardjo menjauhi daerah pesisir dan bersembunyi beberapa saat di lading pertanian penduduk. Sepasang kakek-nenek memergokinya. Mereka menolong Wardjo. Si kakek membawanya menghadap Embah Slamet, seorang kakek penghuni sebuah gua di Gunung Slamet. Konon, kakek itulah Sang Penunggu Gunung Slamet dan jika bukan karena jodoh, mustahil Wardjo beruntung jumpa dengan kakek sakti itu. Pemuda mantan siswa sekolah Pelayaran itu diberinya sebuah tongkat kayu galih asem, sebuah tongkat berwarna hitam legam.

Setelah menyerahkan tongkat keselamatan itu, Embah Slamet kemudian menyarankan agar Wardjo pergi ke pantai selatan, tepatnya Karangbolong. Kelak di sana, Nyai Roro Kidul akan menjumpai Wardjo.

Di Karangbolong, di sebuah gua yang jauh dari tempat tinggal nelayan, Wardjo menyepi. Beberapa hari lamanya ia berteman karang terjal dan suara ombak pantai selatan. Sampai akhirnya pada suatu malam purnama, Wardjo tergelincir dan diterkam ombak. Ternyata, gulungan ombak membawa tubuh pemuda itu menghadap Nyai Roro Kidul. Menyadari berhadapan dengan wanita cantik, Wardjo seketika jatuh cinta. Ia bersumpah untuk tidak kawin dengan gadis lain. Jika Wardjo telah melakukan pelanggaran, ia berarti akan terkena kutuk Sang Ratu, “Sumpahmu sudah terucapkan, tak dapat kau menariknya kembali. Baiklah, aku menerima sumpahmu. Karena itu dengarkan pesanku yang terakhir. Janganlah kau berikan hatimu kepada gadis mana pun sebelum kau mencapai umur dua puluh lima tahun. Jika kau mampu memenuhi syaratku ini, maka kutukku tidak akan turun atas dirimu” (hlm. 60). Begitulah syarat yang diberikan kepada Wardjo. Namun, Ratu Pantai Selatan itu juga berjanji akan tetap menjaga keselamatan pemuda itu, asalkan Wardjo memanggilnya.

Setelah kejadian itu, gulungan ombak melemparkan kembali tubuh Wardjo ke dunia nyata. Para nelayan yang menemukan Wardjo segera membawanya ke rumah sakit di Cilacap. Di tengah perjalanan, seseorang mengenalinya sebagai siswa Sekolah Pelayaran yang melakukan sabotase. Oleh karena waktu itu Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan, Wardjo dinyatakan sebagai pahlawan yang membuatnya dapat perlakuan istimewa. Lebih dari itu, Wardjo bahkan dibawa ke markas pejuang.
Wardjo kemudian bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat. Bahkan, ia kini telah menjadi salah seorang pemimpin perjuangan. Dengan “tongkat komando” galih asemnya, Wardjo memimpin beberapa kali pertempuran melawan pasukan Inggris dengan tentara Gurkhanya, dan selalu menang. Kemenangannya itu tidak hanya berkat tongkat saktinya, tetapi juga karena pertolongan Ratu Selatan yang selalu datang di saat-saat bahaya.

Setelah pasukan Inggris digantikan tentara NICA, pasukan Wardjo tetap hampir selalu memperoleh kemenangan dalam berbagai pertempuran. Anak buahnya semakin segan dan hormat. Tongkat galih asem pun kemudian terkenal sebagai tongkat penangkal bahaya. Namun, setelah berlangsung perundingan Linggarjati yang kemudian disusul dengan diberlakukannya gencatan senjata (cease firei), pasukan Wardjo dan kelompok pejuang lain lebih banyak “menganggur”. Di samping itu, tidak sedikit pula di antara mereka yang kemudian melakukan tindak kriminal. Pembunuhan orang-orang tak berdosa, pencurian, dan pemerkosaan mulai banyak terjadi, terutama di daerah-daerah pendudukan.
Wardjo sendiri pernah memergoki peristiwa yang nyaris dialami Dokter Fadil dan dua perawatnya, Fatima dan Ling Ling. Ketiga paramedic ini sedianya hendak pulang setelah mereka bertugas mengobati beberapa pejuang, anak buah Wardjo yang terluka. Di tengah jalan, Dokter Fadil dan dua gadis perawatnya itu dihadang delapan orang tak dikenal. Mereka mengikat Dokter Fadil dan dua hendak memerkosa kedua perawat itu. Saat itu pula –berkat petunjuk Nyai Roro Kidul- Wardjo datang menolong ketiga petugas kesehatan itu.

Sejalan dengan perjalanan waktu, kehadiran Ling Ling ternyata punya arti khusus bagi Wardjo. Ia jatuh hati, tetapi takut pula kutukan Nyai Roro Kidul. Kehadiran Sang Ratu yang selalu memberi petunjuk dan menyelamatkan dirinya. Kini, setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dan pemberontakan PKI dapat ditumpas, Sang Ratu tak lagi diperlukan. Begitulah anggapan Wardjo. Bahkan, ia merasakan bahwa sumpahnya kepada Ratu Selatan itu, hanyalah sebagai penghalang kebahagiannya. Ia ingin bebas dari sumpahnya sendiri. Ingin terlepas dari kutukan Nyai Roro Kidul. Ling Ling juga ternyata bersedia masuk Katolik. Maka, sesuai rencana, mereka menikah secara agama itu. Sebelumnya, beberapa kali perjumpaannya dengan Ratu Selatan, sebenarnya telah memberi kelonggaran akan syarat-syarat yang harus dijalankan Wardjo sehubungan dengan sumpahnya kepada Sang Ratu.

Dalam perjalanan bulan madunya dari Bandung, kendaraan Wardjo diberondong peluru oleh Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). “Waktu jeep membelok ke jalan Sumatera, sebuah rentetan tembakan senapan mesin menghujaninya dengan peluru…” “Ia melompat turun disambut oleh semburan peluru bren” (hlm. 173). Para korban kemudian dibawa ke rumah sakit. Pada saat itu Ling Ling, istrinya, kebetulan tidak ikut bersama Wardjo. Ia segera mengajak bibinya pergi ke rumah sakit. Diketahui kemudian sopirnya meninggal, sedangkan Wardjo dalam keadaan koma, dan sedang dilakukan pembedahan terhadapnya.

Ketika Ling Ling menunggu di depan ruang operasi, tiba-tiba datanglah Nyai Roro Kidul. Keduanya kemudian ke ruangan itu. Terjadilah kemudian dialog panjang antara Wardjo, Nyai Roro Kidul, dan Ling Ling.

Belakangan, diketahui bahwa Nyai Roro Kidul masih menyelamatkan nyawa Wardjo. Ia selamat dari perjanjian dengan maut.

Resensi Novel Online

                                                                      ***
Novel Perjanjian dengan Maut merupakan novel kedua Harijadi S. Hartowardojo setelah Orang Buangan (1971). Perjanjian dengan Maut berhasil meraih hadiah kedua dalam Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional tahun 1972 DKI Jakarta. Tahun 1976, kemudian diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Pustaka Jaya, Jakarta. Jakob Sumardjo dalam bukunya, Pengantar Novel Indonesia (1983) memuji novel ini sebagai karya sastra yang berhasil. Namun Teeuw dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) menyebutnya sebagai karya yang menunjukkan langkah mundur besar. …perkembangan cerita itu pun kacau balau dan timpang (hlm. 187).
The Technique Modern Fiction (1976: 69-71), jenis novel seperti ini disebut sebagai novel Shandian, yaitu novel yang mengembangkan ceritanya dengan menggunakan rangkaian peristiwa yang penuh dengang ketidakmungkinan, kebetulan, lanturan.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top