Monday

Cerita Novel Online - Khotbah Di Atas Bukit

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Kuntowijoyo (18 September 1943)
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1976

Cerita Novel Online - Khotbah Di Atas BukitSinopsis Novel Online

Barman, seorang pensiunan pegawai negeri, merasa senang ketika anaknya, Bobi, menganjurkannya untuk mengisi hari tuanya di sebuah vila di pegunungan. Pada mulanya, Dosi, menantunya, kurang setuju dengan gagasan itu, terutama karena usia mertuanya sudah mulai uzur. Akan tetapi, rupanya faktor usia tidak akan menjadi persoalan, sebab udara pegunungan yang sejuk akan membuat Barman lebih tenang dan tanpa gangguan dari cucu-cucunya. Apalagi, anaknya sudah menyanggupi akan menyediakan seorang perempuan muda yang selalu siap melayani Barman setiap saat. Perempuan muda itu bernama Popi. Ia bersedia menjadi istri Barman dan mau hidup jauh dari keramaian bersama suaminya yang sudah tua. Sejak ditinggal istri pertamanya, Barman memang merasa kesepian. Lalu kini, saat menghabiskan sisa hidupnya, ada sebuah “boneka” yang hidup yang cantik dan menyenangkan. “Perjalanan ke bukit itu jadi semacam mimpi indah, hal yang seolah tak ditemukannya sebelumnya” (hlm. 10).

Dalam banyak hal, kehidupan di pegunungan yang semuanya telah tersedia, membawa sepasang suami-istri itu ke alam kebahagiaan; meskipun sebenarnya dalam hal hubungan lebih khusus, Barman tak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan. Lelaki itu sudah terlalu tua untuk hubungan seperti itu. Namun demikian, Popi tak terlalu menuntut banyak. Barangkali pengalaman masa lalunya sebagai kupu-kupu malam, cukup membuat perempuan muda itu dapat bersikap arif.

Suatu hari, ketika Barman berjalan-jalan di seputar pegunungan itu, ia bertemu dengan seorang lelaki yang sama tuanya. Lelaki yang mengaku sebagai penjaga bukit itu, juga bermaksud hidup dalam kesepian dan meninggalkan keramaian kota. Yang aneh, sosok tubuh dan wajahnya, mirip sekali dengan Barman layaknya sebagai saudara kembar saja. Humam, nama lelaki itu, mengesankan sebagai orang yang sudah tak mau peduli dengan kehidupan duniawi. Ia tak mau terikat oleh berbagai keinginan, termasuk juga hasratnya kepada perempuan. Dengan demikian, Humam jadi tampak begitu merdeka, bebas berpikir, dan bebas dari keinginan-keinginan. Suatu karakter yang amat bertolak belakang dengan Barman yang masih terbelenggu berbagai kebutuhan fisik dan psikis. “Saudara kembar” yang masing-masing mempunyai tujuan dan pandangan hidup yang sangat berbeda.

Perjumpaannya dengan Humam –lelaki yang dianggapnya aneh itu-, membuat Barman mulai mempertanyakan keberadaan dirinya. “pengalaman dengan Humam mengejutkan Barman. Laki-laki tua itu telah mengajarnya banyak hal” (hlm. 54). Makin terkejut lagi, saat ia melihat sahabat barunya itu meninggal. Humam meninggal dalam keadaan damai meskipun ia hidup sendiri dan sepi. Pemandangan tersebut ternyata telah meninggalkan kesan yang dalam bagi Barman. Lebih dari itu, muncul pula pemikiran baru dalam dirinya. Mendadak ia merasa begitu bergantung kepada istri mudanya; dan ia ingin lepas, ingin bebas. Ia memang sangat mencintai Popi. Namun, pengalaman barunya dengan Humam, juga tak dapat dilupakannya. Ia ingin lepas, bebas dari segala-galanya, termasuk juga dari istri yang dicintainya. “kalau kitatak menginginkan apa-apa dari milik kita, maka kita telah membebaskan diri” (hlm. 99). Inilah kesadaran baru yang mulai diresapi oleh Barman.

Popi bukan tak merasakan perubahan itu. Ia cemas. Bagaimanapun, perubahan sikap Barman sedikit banyak akan berakibat juga pada kehidupan Popi selanjutnya. Ia mulai merasakan kebahagiaan tersendiri hidup dengan Barman. Ia takut perubahan pada diri suaminya akan berakibat buruk dan merusak kebahagiannya. Oleh karena itu, untuk menyenangkan suaminya, Popi membiarkan Barman melakukan dan berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya, termasuk keinginan lelaki tua itu untuk mengikuti apa yang telah dilakukan Humam.

Barman kini hidup dengan segala kebebasannya. Dengan cara memerdekakan dirinya dari belenggu keinginan-keinginan yang bersifat materi, lelaki tua itu merasakan kedamaian. Ia merasa bahagia. Timbul keinginannya agar orang lain pun mengikuti jejaknya; menemukan kebahagiaan sebagaimana yang ia rasakan. Barman lalu mewartakannya kepada setiap orang. Maka, para penduduk di sekitar pegunungan itu pun berdatangan meminta petunjuknya. Belakangan, makin banyak orang yang datang kepadanya, Barman justru dihinggapi kebingungan. Ia tak tahu berita apa yang harus disampaikan kepada mereka. Dalam kebingungan itu, akhirnya ia berteriak dengan suara yang amat menyayat hati: “Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!” (hlm. 146). Selepas itu, ia terperosok ke dalam jurang. Ia menghilang bersamaan dengan datangnya kabut kelam.

Orang-orang kemudian mencari Barman. Mereka menemukan lelaki tua itu sudah tak bernyawa. Seseorang lalu menggotongnya dan membawa jasadnya menuju vila milik almarhum, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Mereka kemudian berusaha menemui Popi.

Popi sudah menduga peristiwa yang menimpa suaminya. Ia tak mau keluar menemui orang-orang yang menunggunya di luar. Ketika mereka semua tertidur, wanita itu meninggalkan vila. Pergi menjauhi pegunungan itu. Di perjalanan, ia melihat seseorang tidur di mobil. Lalu, dengan kasar ia membangunkan lelaki itu. Saat itulah wanita itu menumpahkan segala hasratnya yang  selama ini terpendam. Ia merasakan suatu kepuasan yang tanpa batas. Setelah itu, ia pergi bersama lelaki itu, entah ke mana.

Resensi Novel Online

                                                              ***
Khotbah di Atas Bukit adalah karya Kuntowijoyo yang ditulis saat ia berumur 33 tahun. Teeuw (1983) dalam Membaca dan Menilai Sastra, menyebutnya sebagai novel ekstrem, provokatif, tetapi tidak kurang kejiwaannya. Menurutnya, novel ini pada hakikatnya merupakan sebuah novel gagasan. Kritikus lain, yakni Mangunwijaya, dalam bukunya Sastra dan Religositas (1988) menyebut Khotbah di Atas Bukit sebagai novel magistral.

Novel ini pernah diteliti sebagai bahan skripsi Murniyati, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top