Wednesday

Anak Perawan di sarang Penyamun

http://www.ilmubahasa.net/2014/12/anak-perawan-di-sarang-penyamun.html
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Karena Anak Kandung, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : S. Takdir Alisjahbana
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun           : 1940; Cetakan XI, 1990

     Medasing terpaksa keluar dari persembunyiannya ketika kobaran api mulai membakar habis rumahnya. Sekawanan penyamun tidak hanya menjarah harta benda dan membunuh penduduk yang tak berdosa, tetapi juga membumihanguskan pemukiman di desa terpencil itu. Di antara teriakan penduduk yang melarikan diri dan mayat bergelimpangan itulah, bocah itu menangis. Tak tahu apa yang harus diperbuat.

     Kawanan penyamun itu lalu membawa si bocah bersama hasil jarahannya, masuk hutan kembali ke sarangnya. Salah seorang di antara penyamun itu, lalu mengasuh dan membesarkan Medasing. Tumbuhlah ia sebagai bagian dari kehidupan penyamun. Berbagai ilmu bela diri ia pelajari. Setelah ayah angkatnya itu meninggal dunia, Medasing –karena kesaktiannya- dipercayakan untuk menjadi kepala penyamun. “Medasing ialah kepala penyamun berlima itu; kata orang ia kebal, tahan besi dan ada padanya ilmu halimun untuk melenyapkan diri” (hlm. 7).

     Demikianlah sosok Medasing yang kini merencanakan penjarahan rumah Haji Sahak, saudagar kaya-raya di Pagar Alam, yang hendak pulang bersama anak dan istrinya, setelah haji itu baru saja menjual sejumlah kerbaunya di Palembang. Persiapan pun dilakukan.

     Di kegelapan malan, kelima penyamun itu –Amat, Sohan, Tusin, Sanip, dan Medasing, sang pemimpin- mulai beraksi. Namun, perlawanan yang diberikan Haji Sahak dan pengiringnya menyebabkan Sohan tewas, Tusin dan Amat luka parah. Haji Sahak sendiri, tewas. Istrinya pingsan, dan para pengiringnya melarikan diri. Tinggallah kini, Sayu, anak perawan haji itu yang selamat. Namun, kemudian, Medasing membawa anak perawan itu ke sarangnya. Tentu saja berikut  harta kekayaan hasil jarahannya.

     Kehadiran seorang gadis di tengah para penyamun itu ikut pula mempengaruhi pikiran mereka. Setidak-tidaknya, Samad, salah seorang penyamun yang bertugas sebagai mata-mata, bermaksud hendak membawa kabur gadis itu, sekaligus membinasakan keempat kawanan penyamun.

     Setelah beberapa hari Samad tak sempat melaksanakan niatnya, tibalah saat yang dinantikannya. Ketika itu mereka bermaksud melakukan aksi perampokan pada seorang kaya yang akan pulang ke Pasemah, sungguhpun orang kaya itu dikawal tentara dengan persenjataan lengkap. Namun, belum sempat mereka beraksi, secara tak sengaja Medasing menginjak ranting yang menyebabkan kehadiran mereka diketahui para pengawal calon korbannya. Akibatnya, Tusin tewas tertembak. Samad yang kemudian dicurigai punya niat busuk, melarikan diri entah ke mana.

     Kawanan penyamun itu kini tinggal berdua. Amat sendiri mati akibat luka-lukanya ketika menjarah Haji Sahk. Jadi, di sarang penyamun itu tinggal Medasing, Sanip, dan Sayu. Belakangan, karena perbekalan mereka makin berkurang, kedua penyamun itu pergi berburu. Sarang mereka hanya ditunggui Sayu, si perawan cantik yang sudah mulai terbiasa dengan kehidupan para penyamun itu. Perburuan Medasing dan Sanip, rupanya mendatangkan kesialan. Keduanya terjerumus ke jurang. Tanpa sengaja Sanip tertusuk tombaknya sendiri, sedangkan Medasing hanya mengalami patah tulang.

     Sementara itu, istri almarhum Haji Sahak yang ternyata selamat dan kembali ke rumahnya, masih terus diliputi kesedihan. Suaminya meninggal, dan anak gadisnya, Sayu, dibawa kabur oleh para penyamun. Dengan demikian, ia harus tetap mengurus kebutuhannya sehari-hari. Belum lagi tagihan dri pemilik kerbau yang tempo hari menitipkan kerbaunya untuk dijual. Bedu, kakak Nyi Haji Andun, akhirnya menyarankan agar janda Haji Sahak itu menjual rumahnya, lalu pindah ke pinggiran kampung, dekat hutan.

     Medasing yang tengah tulang sikunya patah, dengan susah payah akhirnya sampai juga di markasnya di tengah hutan. Dalam keadaan demikian, penyamun itu hanya dapat menerima perawatan Sayu. Rupanya gadis itu merasa iba melihat keadaan Medasing yang tergeletak tak berdaya. Berhari-hari Sayu merawat Medasing. Lama-kelamaan timbul juga rasa khawatir perawan itu mengingat persediaan makanan sudah sangat tipis. Ia lalu mengusulkan agar mereka secepatnya meninggalkan hutan dan kembali ke kampungnya, Pagar Alam. Menyadari bahwa dalam keadaan demikian mereka akan mati kelaparan, Medasing tak menolak keinginan Sayu. Pergilah keduanya meninggalkan hutan, menuju Pagar Alam.

     Betapa terkejutnya Sayu ketika ia bersama Medasing sampai di kampung halamannya. Kini, rumah orang tuanya itu sudah milik orang lain. Menurut penghuni baru itu, Nyi Haji Andun sekarang tinggal di pinggiran desa. Dengan keterangan itu, keduanya melanjutkan perjalanan, mencari tempat tinggal Nyi Haji Andun.

     Saat itu, Nyi Haji Andun sedang sakit. Ia selalu mengigau tentang anak gadisnya yang dibawa kabur penyamun. Pada saat yang demikian itulah, tiba-tiba saja Medasing dan Sayu sampai di sana. Kini, anak gadisnya yang selama ini ia rindukan, mendadak muncul di hadapannya. Tumpah sudah kerinduan ibu-anak itu. Namun, beberapa saat kemudian, karena keadaan Nyi Haji Andun memang sudah begitu parah, ia pun meninggal di depan putrinya tersayang.

     Sungguh, pemandangan itu telah mampu mengubah pikiran Medasing. Ia sadar akan perbuatannya selama ini. Maka, saat itu bulatlah sudah keputusannya untuk meninggalkan gadis itu.

     Lima belas tahun berlalu. Penduduk Pagar Alam kini ramai hendak menyambut kedatangan Haji Karim beserta istrinya yang baru menunaikan ibadah haji. Kedua suami-istri itu sudah dikenal baik oleh masyarakat Pagar Alam sebagai hartawan yang baik budi dan suka menolong penduduk yang kekurangan. Wajarlah jika kembalinya suami-istri itu disambut sukacita.

     Malam harinya, Haji Karim yang dermawan itu, termenung sendiri. Ia teringat masa lalunya. Pada saat demikian, tiba-tiba terdengar seorang mendekatinya. Betapa terkejutnya Haji itu, sebab tanpa diduga, orang yang tampak begitu miskin itu, tidak lain adalah Samad, salah seorang penyamun yang bertugas sebagai mata-mata, beberapa waktu lalu. Haji Karim tentu saja masih mengenalnya karena orang itu bekas anak buahnya sendiri. Karim kemudian mengajak sekeluarga tinggal bersamanya. Namun, pagi harinya, Samad yang dalam perjalanan hidupnya tak pernah jauh dari penderitaan, memutuskan untuk pergi meninggalkan Haji Karim dan istrinya; meninggalkan bekas pemimpinnya, Medasing –yang kini bernama Haji Karim- dan istrinya yang tidak lain adalah Sayu- anak perawan Haji Sahak yang dulu hendak ia larikan.

      Medasing dan Sayu –Haji Karim dan istrinya- hidup bahagia bersama kedua anaknya, sedangkan Samad, “hina-miskin dan sebatang kara menuju harapan yang tak dapat diharapkan” (hlm. 130).

                                                                           ***
      Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun, pertama kali muncul sebagai cerita bersambung di majalah Peninjauan tahun 1932. Jadi novel ini ditulis pada saat Alisjahbana berusia 24 tahun. Delapan tahun kemudian, novel ini baru diterbitkan (1940) oleh penerbit Pustaka Rakyat, Jakarta. Pada tahun 1964, novel ini terbit pula di Malaysia dalam edisi bahasa Melayu. Sebelumnya, yaitu tahun 1962, novel ini mengalami ekranisasisi; diangkat sebagai cerita film dengan Usmar Ismail sebagai Sutradaranya.

      Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Tji’ Inah (FS UI, 1961) dan Suhardiyono (FS UGM, 1971) sebagai bahan skripsi sarjana muda. Adapun yang dilakukan Pamusuk Eneste sebagai bahan skripsi sarjananya (setebal 226 halaman, FS UI, 1977), meneliti Anak Perawan di Sarang Penyamun –dan dua novel lainnya, Salah Asuhan dan Atheis- dalam kaitannya dengan perfilman (ekranisasi) ketiga novel itu, dengan analisis yang cukup tajam dan mendalam.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top