Saturday

Resensi Novel Salah Asuhan Karya Abdul Muis

resensi dan sinopsis novel salah asuhan
Berikut ini IlmuBahasa.net menyajikan resensi novel karya Abdul Muis. 

Resensi Novel Salah Asuhan Karya Abdul Muis

Sastra merupakan salah satu aspek dari kehidupan manusia. Kebudayaan timbul bersama masnusia sebagai pemiliknya. Begitu pula sastra, dia timbul bersamaan dengan adanya kebudayaan itu. Hal ini disebabkan karena sastra selalu terkait dengan problema yang ada di masyarakat.

Sastra yang dapat dibaca dan dinikmati tentunya mempunyai ekspresi baik itu struktur, diksi, kemenarikan cerita dan keterkaitannya dengan masyarakat. Setiap kali karya sastra yang dibuat oleh sastrawan biasanya mencerminkan sifat-sifat pengarangnya. Pada prinsip dasarnya yang membedakan antara karya sastra satu dengan yang lainnya adalah sifat-sifat dari penciptanya itu sendiri. Seorang sastrawan biasanya akan menghadirkan baik itu sifat pengarang itu sendiri ataupun mengangkat peristiwa yang kerap terjadi di masyarakat.

Lewat hasil karya sastranya itu, seorang sastrawan juga ingin mengkomunikasikan ide-ide, pengalaman batin maupun sikapnya kepada orang lain secara jujur, bahkan lebih luas lagi ia ingin mengungkapkan realita kehidupan. Sesudah ide-ide itu dibaca maupun dinikmati, disinilah terjadi dialog antara pembaca dan penulis itu sendiri.

Sastra mempengaruhi masyarakat dan perubahan sosial dengan mendidik kepekaan cita-cita masyarakat dalam berpikir mengenai hidup, baik buruk, benar salah. Sebagai penikmat sastra hendaknya memberikan penilaiannya secara jujur terhadap karya sastra yang sedang dibaca atau dihayati. Mengingat kejujuran pembaca berbeda dengan kejujuran pengarang itu sendiri yang mana dengan kejujuran itu. Karena dengan itu pengarang bisa menginstropeksi diri dalam karya sastra selanjutnya.

Tidak lepas dari situ, Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis dan Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar  tercipta karena realita yang ada di masyarakat. Kedua novel tersebut termasuk kategori novel dimana menganut Aliran Romantisme. Menurut beliau Prof.Dr. Suminto A.Sayuti bahwasannya Aliran Romantisme adalah aliran kesenian-kesusastraan yang mengutamakan perasaan. Di jelaskan bahwa dalam aliran romantisme, pengarang berusaha mengidealisasikan kehidupan dan pengalaman manusia dengan menekankan pada hal yang lebih baik, lebih enak, lebih indah dan menyenangkan.

Aliran romantisme biasanya memandang masa yang akan datang lebih indah dari masa kini. Pandangan inilah yang akhirnya melahirkan pendapat bahwa tujuan seni bukanlah untuk memecahkan soal-soal yang rumit, tetapi disini bertujuan untuk menghibur, mengajak pembaca  untuk tertawa, manangis, bersedih, gembira sehingga mereka para pembaca seolah-olah bahwa hari esok yang akan datang akan lebih baik.


Unsur Instrinsik Novel Salah Asuhan

Tema Novel Salah Asuhan

Pengarang sengaja mengusung tema adat istiadat, dimana tidak diperbolehkan adanya perkawinan campuran antara kaum timur (hanafi) dan kaum barat (Corrie) 


Tokoh dan Watak Dalam Novel Salah Asuhan 

Hanafi : Keras kepala, Pencemburu, kukuh, sangat mencintai corrie.

“Corrie , dari kecil kita sudah bergaul, cinta yang timbul dari pergaulan serupa itu memang menerima secara adanya saja dan tidak lagi berkehendak secara mestinya. Bukanlah aku tertawan pada elok parasmu, melainkan asyiklah aku mencintai engkau,karena—engkau!!” (dikutip hal 132 par 2).

Sebenarnya hanafi amat keras kepala; jika kehendaknya dibantah atau katanya `disolang`, kadang-kadang perangainya serupa kanak-kanak yang suka berguling-guling di tanah, sebab pintanya tidak berlaku.

Jika dada Hanafi sudah terlalu sesak melihatkan perangai istrinya yang serupa itu, maka marahlah dia dengan tidak ketentuan apa yang dikatakannya. Corrie lalu mengangkat kepalanya. Menentang sejurus pada suaminya. (dikutip hal 147 par 7).

Melihat putung rokok, padahal kepunyaan Tante Lien, marahlah Hanafi.

“Belum waktunya mevrou!, belum waktunya engkau mendapat sebutir pil daripada perkakas yang terletak di atas meja itu. Aku hendak menangkap tangan baharulah senang hatiku, ahh.. malang sungguh aku dating kesiangan!” (dikutip hal 162 par 7).

Corrie: rendah hati, mau menerima cinta Hanafi,baik

Contohnya :
“Perkawinan yang terikat oleh cinta itu saja, mudah putusnya, Han! Karena cinta itu tidak boleh habis. Ketahuilah olehmu bahwa bermula engkau bercita-cita hendak meminta aku jadi istrimu, maka yang terlebih kurasai atas dirimu ialah kasihan. Kasihan yang tak terhingga. (dikutip hal 139 par 5)

Rapiah : teguh iman, teguh hati, pasrah.
 Contoh kutipannya :
“ sudah kedelapan kali kamis ini aku berpuasa sunat,ibu ,dan selama itu pula ayah syafei meninggalkan kita. (dikutip hal 112).

“ibu” kata Rapiah setelah membaca surat dari Hanafi.” Jika sungguh-sungguh ibu hendak mengambil aku pengganti Hanafi, bawalah aku kemana kehendak ibu. Hanya bilaibu rindu hendak ke betawi, antarkanlah kami ke Bonjol”.( dikutip hal 126 par 1).

Ibu Hanafi : Penyabar, rela anaknya memutuskan hubungan,

“ Engkau sendiri telah melihat bagaimana perangai Hanafi kepada ibu. Serambut pun tak ada ikhtiarnya buat mengikat hatiku supaya lekat kepadanya. Rapiah! Dengan perbuatan seperti ini, Hanafi seolah-olah sudah memutuskan tali silaturahim antara ia dengan ibunya. Apalagi kalau ia sudah menjadi kaum belanda, sudah keluarlah dia dari kaum kita, lahir dan batin. Engkau kehilangan suami, ibu kehilangan anak, sudikah engkau menggantikan Hanafi….

“Apakah perlunya orang tua buruk kampung totok ini dating ke Betawi. Hendak merendah-rendahkan martabat dan derajatnya saja.” (dikutip hal 124-125)


Alur Novel Salah Asuhan

Berdasarkan tahapan-tahapan cerita berawal dari salah asuhan hanafi di keluarga belanda sampai dengan klimaks matinya corrie karena penyakit kolera dan ditutup dengan matinya Hanafi akibat keputus asaan ditinggal corrie, maka bias diambil kesimpulan bahwa Novel Salah Asuhan memakai alur Maju/Progesif.


Latar Novel Salah Asuhan

Sebuah Novel tidak akan terbangun suasana apabila tidak ada latar. Berikut ini latar dari Novel Salah Asuhan. Antara lain :

·Lapangan tennis.

“Tempat bermain tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon kelepa disekitarnya, masih sunyi” (dikutip hal.1, par 1)

·Minangkabau

“Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal di kampung saja, tapi sebabkasihan kepada anak, ditinggalkannyalah rumah gedang di Koto Anau, dan tinggallah ia bersma-sama dengan Hanafi di Solok.” (dikutip hal 23, par 3)

“Maka tiadalah ia segan-segan mengeluarkan uang buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya.” (dikutip hal 23, par4)

·Betawi

“Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di Betawi”( dikutip hal.23, par 1)

“Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah Jakarta, Corrie!” (dikutip hal 103, Par 2)

·Semarang

“Pada keesokan harinya Hanafi sudah dating pula ke rumah tumpangan itu, dan bukan buatan sedih hatinya, demikian mendengar bahwa Corrie sudah berangkat. Seketika itu ia berkata hendak menurutkan ke Semarang.” (dikutip hal 186, par 8)

·Surabaya

“Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu pension kecil,mengaku nama Tuan dan Nona Han.” (dikutip hal 144, par 1)


Gaya Penulisan Bahasa Novel Salah Asuhan

Karena novel ini menceritakan mengenai cinta terlarang antara kaum timur dan barat( Belanda), maka banyak muncul Gaya penulisan dari novel ini apabila dilihat dari segi bahasa adalah bahasa Melayu dan ada juga diselipkan bahasa Belanda. Dalam penulisannya terdapat pantun dan sedikit pribahasa. Gaya bahasa novel Salah Asuhan ini cukup sulit untuk diartikan. Karena novel ini adalah novel lama dan dilamnya juga terdapat bahasa Belanda. Pada novel ini juga terdapat : Seperti kalimat:

·         “kau minta verlof seminggu….” (dikutip hal 134)

·          “Belum waktunya mevrou!...”(dikutip hal 162)

·         Pantun disaat Rapiah menimang anaknya yang menangis menunggu ayahnya pulang.

Jangan menggulai bayam juga,

Gulai belinggang di belanga,

Jangan anak menangis  juga,

Bapak merantau takkan lama

             Bukanya puntung nan elok,

             Medang di lurah patah dalam

             Bukannya putung nan elok

             Minta suratan bersalahan  ( dikutip hal 115)

·Peribahasa.

“saat ini, air mukamu jerni, keningmu licin, bolehkah ibu menuturkan niatku itu, supaya tidak menjadi duri dalam daging” (dikutip hal 25, par 3)

·Majas Perbandingan

“Sesungguhnya tiadalah berdusta apabila ia berkata sakit kepala, karna sebenarnyalah kepalanya bagai dipalu” (dikutip hal 47 par 2)

Setelah diuraikan berdasarkan unsur Instrinsik, Beliau Abdul Muis dalam menggambarkan tokoh  juga dengan metode Campuran. Seperti yang diuraikan dari atas tadi bahwasannya pengarang mencampur adukkan metode Diskursif dan Dramatis.
 

Metode Diskursif dalam Novel Salah asuhan

Seperti dalam kutipan sbb : Maka tante Lien dengan dengan slop sebelah mengejar koki Mina di sekeliling kebun di belakang, hingga seekor anjing  orang di sebelah yang tempatnya hanya dibatasi oleh pagar bambu yang jarang dari halaman Corrie, turut pula menggonggong menghambur-hambur hendak keluar pagarnya. Mina lari ke dapur dan mengunci pintu dari dalam..( dikutip hal 154 par 2)
 

Metode Dramatis dalam Novel Salah Asuhan

“Sirih, Tante ??! berrr! Larang keras, hoor.”

“Lu gak ade sigaret nyang enak, Non,”

“o, sigaret tante boleh habiskan satu dos. Sudah tentu enak, ayoh coba!”

Maka masuklah ia ke dalam, lalu membawa sebuah kotak sigaret,yang hamper penuh isinya. Tempat abu rokok pun dibawanya pula.

“ liat tante, kepalanya juga emas, tiga sen setengah satu. Suamiku biasa meminumnya jika habis makan saja atau kalau kami sedang berkomidi”….      (  dikutip hal 155 par 3)


Sinopsis Novel Salah Asuhan Karya  Abdul Muis


Seorang anak asal betawi yang bernama Hanafi di perintah ibunya untuk bersekolah di HBS (Hoogere Burger School). Meskipun Ibu Hanafi ini berstatus janda,Tentu juga menginginkan anaknya menjadi orang yang sukses dan mampu membahagiakan orang tua. Walaupun Janda (Ibu hanafi) ini sering mengalami kesulitan dalam hal biaya, tapi dia tetap berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi itu semua. Terkadang dia juga meminta bantuan kepada orang terdekatnya, Sutan Batuah.
 

Kehidupan hanafi di betawi sudah terpengaruh dengan gaya belanda, sebab selama di daerah ini dia di titipkan ibu nya di keluarga yang berdarah belanda. Pergaulan Hanafi setamat HBS juga tidak terlepas dari lingkungan orang-orang Eropa. Hanafi bekerja di salah satu kantor asisten residen yang bertempan di solok. Terkadang dengan gaya hidup hanafi yang seakan orang eropa (belanda) menimbulkan suatu kebanggaan tersendiri baginya, meskipun dia hanya orang pribumu ( asli indonesia ). 

Setelah sekian lama hidup di lingkungan yang ke barat-baratan, Hanafi sempat jatuh hati pada gadis yang bernama corrie. Gadis ini adalah seorang gadis yang berdarah  indo Perancis-Belanda. Corrie dan Hanafi memiliki hubungan pertemanan yang sangat dekat. Namun, dengan kedekatan ini, Hanafi merasa cinta nya di balas oleh corrie. Dengan rasa percaya diri yang tinggi tadi, Hanafi memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati nya ke Corri, namun corrie menolaknya secara halus. Perbedaan budaya lah yang membuat corrie tidak bisa sehati dengan Hanafi. 

Demi menjaga perasaan hanafi, corrie memutuskan untuk berpindah ke betawi. Di suatu ketika hanafi menerima suatu surat dari corrie. Entah kenapa setelah menerima surat itu, Hanafi jatu sakit. Selama sakit, Hanafi di nasihati Ibu nya untuk menikah dengan wanita pribumi saja. 

Akhirnya Hanafi pun menikah dengan wanita Pribumi yang bernama Rapiah. Keluarga Hanafi – Rapiah ini tidak nyaman dan tentram, mungkin sebab nya karena pernikahan itu  tidak di dasarkan akan cinta di antara kedua nya. Bahkan Hanafi sering menyakiti hati istrinya dengan perlakuan kasar. Tetapi Rapiah dapat bersabar dengan segala prilaku tersebut. 

Suatu ketika Hanafi di gigit oleh seekor anjing gila. Hanafi pun berobat ke jakarta . Tak di sangka ternyata Hanafi berjumpa dengan corrie. Saat itu juga, Hanafi memohon-mohon agar corrie mau bertunangan dengan nya. Entah apa yang ada di fikiran corrie, akhirnya dia menyetujui pertunangan itu. 

Pesta pertunangan tersebut di laksanakan di rumah teman belanda corrie. Namun, dalam pesta ini tuan rumah tidak menyambut meriak akan pertunangan mereka.Ibu hanafi dan Rapiah terus menunggu kedatangan Hanafi di desa. Padahal mereka sudah tahu bahwa hanafi tidak akan kembali karena akan menikah dengan corrie. Walau ditinggalkan suaminya, Rapiah masih tetap tinggal bersama mertuanya atas permintaan Ibu hanafi. Rasa sayang Ibu hanafi terhadap Rapiah sangat besar, ini di karenakan sifat Rapiah yang baik, Tabah dan Sabar. Padahal selama ini Hanfi berperilaku kasar padanya. Ternyata kasus pernikahan Hanafi dan Corry sama saja dengan pernikahan Hanafi-Rapiah sebelumnya. Mereka tidak mendapatkan ketentraman dan kenyamanan. Bahkan orang terdekat keluarga Hanafi-corrie pun tidak menganggap mereka sebagai orang yang terdekat lagi. (Bayu Pratama)

Novel Salah Asuhan dari Abdul Muis termasuk dalam novel populer dengan penggunaan gaya bahasa yang dapat mengajak kita seolah-olah merasakan dan mengalami kejadian yang ada dalam novel tersebut. Tak jarang dalam penulisan novel ini terdapat gaya bahasa yang bervariasi. Untuk dapat mendalami kisah novel ini ada baiknya anda juga memahami Macam-Macam Gaya Bahasa (Majas).



Anda juga dapat melihat sinopsis karya sastra dan resensi kami lainnya, seperti Robert Anak Surapati, Pertemuan Jodoh Surapati, dan masih banyak lainnya.
 

Demikian hasil resensi novel kami dari tim ilmubahasa.net semoga bermanfaat bagi anda.


 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top