Thursday

99+ Contoh Cerpen Persahabatan

99+ Contoh Cerpen Persahabatan - Cerpen tentang persahabatan adalah salah satu contoh cerpen yang isi nya mengandung nilai-nilai kehidupan dalam bersosial. Isi cerpen persahabatan biasanya bercerita tetang lika-liku persahabatan. Terdapat cerita gembira, sedih duka ataupun yang menyeramkan.

Cerpen tentang persahabatan biasanya memiliki hikmah yang dapat diambil pembaca di akhir ceritanya. Itulah kenapa cerpen yang bertema tentang persahabatan sangat menarik untuk dibaca. Sebagai bentuk apresiasi kepada pecinta cerpen tentang persahabatan, kami telah membuatkan rangkuman cerpen tentang persahabatan dengan daftar judul yang dapat dilihat dibawah ini:




Di sebuah pulau karang kecil ombak berdebur-debur memukul-mukul hamparan luas nan indah sisir pantai. Di pulau itu bersarang seekor burung rajawali yang berbadan besar dan gagah perkasa. Tubuhnya berwarna coklat kehitaman dengan leher berwarna kuning emas. Seandainya sang rajawali menerkam kambing atau rusa, ia sanggup membawanya terbang ke atas membumbung tinggi di awan-awan. Sayapnya yang lebar dan indah menambah keperkasasaan si rajawali tersebut. 

"Tidak ada Makhluk yang segagah dan kuat aku. Pulau ini adalah wilayah ku. Barangsiapa melawanku akan aku cakar dengan kuku kuku ku yang tajam", gumam sang rajawali sambil mengepakkan sayap dan menggoreskan kukunya yang tajam diantara bebatuan. Pada saat sang rajawali sedang asyiknya bergumam menyombongkan dirinya, melintaslah seekor burung camar yang sejak tadi memperhatikannya dari langit.

"Ah... belum tentu wahai rajawali". sahut sang burung camar sambil bertebangan mengelilingi sang Rajawali. 

"Hah.....??, apa katamu burung kerdil, hah.", kata sang rajawali dengan mata yang memerah seraya mengawasi burung camar yang senyum-senyum di udara. 

"Jangan lekas marah wahai sahabatku. Di tengah lautan sana, masih ada makhluk yang lebih perkasa dan kuat daripada kau. Jika dibandingkan dengna kau, baahhh,,,, belum ada apa-apanya kau.hahaha" ejek burung camar,

Kemarahan sang rajawali makin menjadi-jadi karena tersinggung oleh perkataan burung camar. berasa kebarakaran jenggot meluap-luap. "Manaa.... Tunjukkan padaku makhluk yang bisa melebihi keperkasaanku," teriak sang rajawali sembari membusungkan dadanya. 

"Kau tidak percaya wahai sahabatku, Terbanglah ke arah selatan dan kita buktikan siapa yang lebih besar dan perkasa." kata burung camar seraya meledek sahabatnya si rajawali. Lanjut membaca 

Sudah pukul tujuh pagi Andi belum juga berangkat ke sekolah. ia telah berpakaian dan menyiapkan tasnya. rupanya masih ada yang dipikirkannya. ia duduk di serambi muka menunggu kawannya, Majid. Sebentar kemudian munculah si Majid di depan rumahnya seperti  biasanya.

"Selamat pagi, An! Ayo, sudah pukul tujuh lewat ini" serunya.
"Majid, hari ini saya tidak masuk sekolah"
"Ah, mengapa? Sudah berpakaian rapi. Ayolah, jangan sampai terlambat", Jawab Majid keheranan.
"Jid, benar-benar saya tidak masuk sekolah. Sekarang tanggal dua belas. Uang SPP tanggal sepuluh sudah harus dibayarkan. Saya bingung hari ini. Ayah sedang ke pasar menjual buah-buahan, mungkin juga untuk mencari uang untuk membayar SPP itu. Ibu sudah dua hari sakit panas. Dua adik saya sudah berangkat sekolah dan keduanya juga belum membayar SPP juga".

Majid sudah tidak tahan lagi mendengar keluhan sahabat karibnya tersebut, Andi tampaknya wajahnya sudah memerah, hendak meneteskan air mata kepiluannya. Matanya mulai berlinangan air mata.

"Baiklah An, jika begitu saya pergi sendiri saja tidak mengapa. Tidak usah kamu masuk sekolah. Nanti akan saya utarakan kepada guru kita. Bantu ibumu saja dirumah. Pulang sekolah nanti saya akan singgah kemari lagi untuk menemuimu."

Andi tidak bisa berkata sepatah pun, Suaranya tersendat-sendat dan tidak dapat keluar. ia hanya mengangguk dan memandangi sahabatnya itu. Majid tampak tergesa-gesa. 

Sesampainya di sekolah, Majid berdebar-debar melihat pekarangan sekolahnya sudah sepi, pertanda bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Tahulah ia bahwa sudah terlambat. Apa yang harus dilakukannya. Segera ia menuju ke kantor Pak Tata, Kepala Sekolahnya, dan menerangkan kepadanya mengapa dia terlambat. Pak Tata kemudian mengambil secarik kertas, dibuatnya catatan diatasnya, kemudian diberikannya kepada Majid. Setelah ia memberi hormat kepada Pak Tata kemudian ia langsung masuk kedalam ruang kelasnya. Lanjut membaca

Kau bertanya pada Mak tentang cinta. Usiamu kala itu sebelas tahun. teman-teman sekolah suka menggodamu dengan kata itu. “Cinta itu apa, Mak?”tanyamu dalam logat Malaysia yang kental.

Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Kenapa tak kau tanyakan masalah sepenting ini pada Mami dan Papi, Cinta?

“Mak macam tak tahu saja. Mami Papi busy terus. Bila pula Cinta nak ketemu mereka?” Jawabanmu tepat sasaran. Kesibukan dua orang tuamu memang luar biasa. Belum dengan waktu yang sedikit kau masih harus berbagi pula dengan tiga adik perempuan, yang hanya berjarak satu atau dua tahun. Kecuali si kecil, Aminah yang baru berusia enam bulan. Bocah mentel itu hadir di tengah-tengah langkah awalmu menginjak usia remaja. Apa yang bisa Mak cakap, begitulah adanya. Dua orang tuamu ketika pulang, langsung disibukkan terutama oleh ulah si kecil. Dan Cinta? Mau tak mau tampaknya Emak yang dungu ini yang harus menjelaskan rasa ingin tahumu, ya?

“Cinta itu ...” Aku merangkai kata, dengan pandangan serona mawar. Mestinya cinta sesuatu yang indah. Namun, hingga usiaku kala itu, menjelang

lima puluh tahun, tak juga kumengerti arti kata yang cuma lima huruf itu. Apa suatu saat aku akan mengerti? Entah. Tak tahu, Mak, Cinta.
“Mak tak pendidikan tinggi macam Mami dan Papi kau, Cinta.”
“Tak soallah, Mak jawapkan saja soalan itu.”
“Mak pikir, cinta itu istimewa. Dia memberi kemampuan tanpa batas untuk memberi pada yang dicintai. Puas kau sekarang?” Jujur, Mak belum puas, ucapku dalam hati. Waktu itu kudapati kau merunduk. Rambutmu yang panjang menyentuh pinggang bagai ikut tepekur beberapa lama.
“Menurut Mak, cintakah Mami dan Papi pada Cinta?”
“Tentu saja mereka sayang dan cintakan kau, Cinta! Pertanyaan apa pula tu’?” suaraku tegas menepis keraguanmu. Lalu dengan mata polos yang tak kudustai, kudengar kalimatmu bernada sedih.

“Tapi mereka tak ada ketika Cinta perlukan? Mereka always busy. Mereka tak memberi . kecuali uang! Kalau cintakan kami, kenapa mereka tak hendak play dengan kami. Tak membacakan story ketika kami nak tidur?” Lanjut membaca
Demikianlah cerpen tentang persahabatan yang kami rangkum untuk pecinta cerpen persahabatan. Semoga bermanfaat dan cintai karya sastra Indonesia khususnya cerpen persahabatan. 
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)


Close (X) 2x Untuk Memastikan Menutup

Selamat Datang

Di Ilmubahasa.net

×

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top