Kajian Lengkap Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikulum 2004), Wajib Untuk Guru!

Posted on
Kajian Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikulum 2004) – Kurikulum pendidikan yang berlaku di tahun 2004 merupakan
kurikulum 2004 atau biasa disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
KBK adalah salah satu bentuk inovasi kurikulum yang disebabkan adanya
semangat dari reformasi pendidikan. Hal ini dimulai dengan adanya kebijakan
pemerintah daerah atau dikenal dengan otonomi daerah yang disusun dalam
Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999. Munculnya kebijakan tersebut disebabkan
oleh perubahan dan tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap perkembangan dunia
terhadap globalisasi yang ditandai dengan munculnya ilmu pengetahuan dan
teknologi yang begitu menonjol, sehingga menimbulkan kehidupan yang penuh
dengan persaingan dalam segi hal apapun. Oleh sebab itu, setiap individu
wajib untuk mempunyai yang handal agar mampu 
berkompetensi dalam berbagai bidang sesuai dengan minat, bakat, dan
kemampuan yang dikuasainya.

1

Pengertian Dari Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) 

 Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kompetensi merupakan
suatu kemampuan dalam melakukan sesuatu yang berbeda hanya dengan mengetahui
sesuatu. Kompetensi wajib didemonstrasikan sesuai dengan standar yang berlaku
pada proses di lapangan kerja (Hamalik, 2000). Kompetensi dapat berupa hanya
pengetahuan saja, atau keterampilan, dan sikap dalam kebiasaan untuk berfikir
dan bertindak. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ialah seperangkat rencana
dan pengaturan terkait masalah kompetensi dan hasil belajar yang harus
dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan
sumber daya pendidikan dan mengembangkan sekolah (Depdiknas, 2002). KBK
sendiri berkembang dan dikembangkan untuk memberikan keterampilan sekaligus
keahlian dalam suatu bidang  sesuai
standar kompetensi yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing di
tengah-tengah persaingan perekonomian global pada pasar global, dan
permasalahan sosial, politik, serta budaya budaya.

KBK sendiri
beranggapan bahwa siswa tidak hanya harus memahami materi pelajaran untuk
memperluas kemampuan intelektual, namun bagaimana cara agar pengetahuan yang
telah dipahami bisa mengembangkan perilaku yang ditampakkan dalam dunia
nyata. Menurut Gordon (dalam Sa’ud, 2008: 91) terdapat 6 aspek yang harus
terkandung dalam kompetensi, yaitu:
a. Pengetahuan
(knowledge), yaitu pengetahuan yang digunakan untuk melakukan proses
berpikir 
b. Pemahaman
(understanding), yaitu tingkat kognitif dan afektif yang dimiliki individu
c. Keterampilan (skill),
yaitu sesuatu yang dimiliki setiap orang untuk melakukan tugas – tugas yang
dibebankan padanya
d. Nilai (value), yaitu
dasar standar perilaku yang telah dipercaya sehingga akan mewarnai sebuah
tindakan yang dikerjakan
e. Sikap (attitude),
yaitu perasaan atau reaksi terhadap sebuah bentuk rangsangan yang datang dari
luar, perasaan senang atau tidak senang terhadap suatu masalah
f. Minat (interest),
yaitu kecenderungan seseorang dalam melaksanakan suatu tindakan atau
perbuatan untuk mempelajari materi pelajaran.
Sanjaya (2005)
menyatakan bahwa terdapat 4 kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa, yaitu
:
a. Kompetensi akademik,
yaitu peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam
mengatasi tantangan dan persoalan hidup
b. Kompetensi
okupasional, yaitu peserta didik wajib memiliki kesiapan mental dan mampu
beradaptasi terhadap dunia kerja
c. Kompetensi kultural,
yaitu peserta didik wajib bisa menempatkan diri sebaik-baiknya dalam sistem
budaya dan tata nilai dalam bermasyarakat
d. Kompetensi temporal,
yaitu peserta didik tetap eksis pada saat menjalani kehidupannya sesuai
tuntutan perkembangan zaman.

2

Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK
sebagai berikut : 
a. Menekankan pada sebuah
pencapaian kompetensi baik secara individual maupun klasikal. KBK memuat
beberapa kompetensi yang wajib dicapai siswa dan kompetensi tersebut sebagai
sebuah tolak ukur minimal atau kemampuan dasar. 
b. Berorientasi pada
hasil belajar dan keberagaman, maksudnya adalah keberhasilan dalam pencapaian
kompetensi dasar yang diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah
yang dijadikan sebagai acuan kompetensi yang diharapkan. Proses pencapaiannya
bergantung pada kemampuan dan kecepatan yang berbeda pada setiap siswa.
c. Penyampaian dalam
suatu pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi sesuai
dengan keberagaman siswa. 
d. Sumber belajar tidak
hanya guru, tetapi sumber belajar lain yang memenuhi usur edukatif bisa
dikatakan sebagai guru, artinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi informasi. Guru berperan sebagai fasilitator agar mempermudah
proses belajar siswa dari berbagai macam sumber belajar. 
e. Penilaian menekankan
pada proses dan hasil belajar. Dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu
kompetensi, KBK menempatakan hasil dan proses belajar sebagai dua sisi yang
sama pentingnya.

3

Implikasi KBK terhadap
Pengembangan Aspek Pembelajaran Pengembangan Rancangan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran
dalam KBK sendiri diarahkan agar dapat menggali dan megembangkan potensi yang
dimiliki peserta didik. Proses pembelajaran KBK sendiri berorientasi pada
siswa sebagai subjek pada pembelajaran. Terdapat beberapa hal yang harus
ditinjau lebih jauh dalam merancang pembelajaran, antara lain (Sa’ud, 2008:
98) :
a. Rancangan kegiatan
pembelajaran wajib memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari, mengolah,
dan menemukan sendiri pengetahuannya. Kegiatan pembelajaran inipun dirancang
agar siswa bisa mengembangkan keterampilan dasar mereka pada suatu mata
pelajaran yang bersangkutan.
b. Rancangan pembelajaran
harus disesuaikan dengan sumber belajar dan saran pembelajaran.
c. Pembelajaran harus
disesuaikan dengan mengordinasikan berbagai pendekatan belajar. 
d. Pembelajaran harus
bisa memberikan pelayanan terhadap kebutuhan individual peserta didik,
seperti minat, bakat, kemampuan, dan lain-lain.

4

Pengembangan Proses Pembelajaran

Cara belajar yang
dinginkan oleh KBK, bukan menumpuk ilmu pengetahuan tetapi proses berubahnya
perilaku melalui pengalaman belajar, dan diharapkan terjadi kemajuan di
berbagai aspek pada setiap peserta didik. Guru bertugas untuk mengelola
pembelajaran baik dalam segi pengembangan strategi pembelajaran ataupun
menggunakan berbagai sumber belajar. Oleh sebab itu, proses pembelajaran
tidak hanya ditunjukkan agar siswa mampu menguasai materi pembelajaran tetapi
lebih diarahkan pada penguasaan kompetensi sesuai kurukulum.

5

Pengembangan Evaluasi

Kriteria keberhasilan
suatu hasil belajar siswa dapat dilihat dari beberapa aspek berikut ini :
aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Aspek kognitif sendiri berhubungan
dengan kemampuan kecerdasan dan intelektual pada setiap siswa. Aspek afektif
berhubungan dengan penilaian sikap dan minat siswa terhadap suatu pelajaran
dan pada proses pembelajaran. Aspek psikomotor berhubungan dengan tingkat
penguasaan pengetahuan dalam bentuk praktek langsung.
Referensi :
Departemen Pendidikan
Nasional. 2002. Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Keterampilan
Hidup (Life Skill) Melalui Pendidikan Broad Based Education dalam Pendidikan
Luar Sekolah dan Pemuda.
Jakarta: Ditjen PLS
dan Pemuda. Hamalik, O. 2000. Model- Model Pengembangan Kurikulum.
Bandung: Pasca Sarjana UPI. Sanjaya, W. 2005. Pembelajaran dalam
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. 
Jakarta: Prenada Media. Sa’ud, S.S. 2008. Inovasi
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Departemen Pendidikan
Nasional. 2002. Pedoman Umum Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Keterampilan
Hidup (Life Skill) Melalui Pendidikan Broad Based Education dalam Pendidikan
Luar Sekolah dan Pemuda. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *