Thursday

Contoh Cerpen - Penumpang Kereta Malam



Ilmubahasa.net - Halo sahabat imbas. Pada kesempatan kali ini, kami akan memberikan sebuah cerpen yang berjudul Penumpang Kereta Malam. Cerpen ini sangat menarik untuk disimak. Mengingat setting cerita dalam kereta. Selamat membaca

Keinginan untuk pergi ke kota S, memaksa aku mendatangi stasiun kereta api. Berkali-kali bila aku naik kereta, aku merasakan suasana menembus malam yang mengasyikkan. Kereta juga akan menerabas angin, menyibak kesunyian dari kota ke kota, sebelum akhirnya berhenti di sebuah stasiun. Tubuhku terguncang-guncang di dalam gerbong kereta api. Aku selalu naik kereta api, karena aku merindukan suara kereta yang berderak-derak. Sesungguhnya, sudah beratus-ratus kali, bahkan ribuan kali, aku bepergian naik kereta api. Aku senang karena bisa bertemu beratus-ratus penumpang dari berbagai penjuru. Seperti juga sekarang ini, di atas gerbong yang membawaku lari menuju ke arah matahari terbit 

Kereta meliuk-liuk, aku masih terjaga. Menghitung suara yang melaju ke arah matahari terbit. Pemandangan di luar jendela samar-samar. Dua jam, kereta ini sudah meninggalkan naik kereta api tentunya bukan hal baru lagi bagi sekitar dua ratus penumpang. Juga bagi dua ratus calon penumpang atau berkali lipatnya dua ratus penumpang kereta api. Bagiku, ini adalah perjalanan menyenangkan. Sebab, setiap kali aku melakukan perjalanan seperti ini, selalu ada pemandangan berbeda. Aku selalu menolak ditawari naik pesawat.

Contoh Cerpen - Penumpang Kereta Malam
Kereta Malam
“Terlalu cepat sampai”, alasanku menolak. Aku tidak bisa berkhayal dan mengamati penumpang satu demi satu. Bukankah aku tidak mengejar waktu, sehingga tidak perlu harus cepat sampai?

Seorang penumpang di depanku, yang entah dari mana datangnya, mengajak bercakap-cakap sebelum kereta berangkat. Penumpang di dekatku, seorang perempuan dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil itu, tampak menutupi kesedihannya. “Bapak mau ke mana?” tanyanya. Aku menjawab sebuah kota yang menjadi tujuan kereta api ini. Kalimat pembuka itu menyebabkan ia banyak bercerita secara jujur dan terus terang kalau baru saja dicerai suaminya. Lalu akan pulang ke rumah orang tuanya, menuju arah kereta api ini bergerak. Aku sedikit iba mendengar ceritanya dan begitu jujur ia bercerita tentang keadaannya. Tetapi aku tidak berusaha menyelidik lebih jauh, mengapa sampai bercerai. Aku biarkan saja perempuan kuning itu bercerita dan aku mengangguk-angguk.

Mungkin karena ia melihatku sebagai orang tua, sehingga tak punya perasaan apa-apa padaku, kecuali menemukan tempat untuk mencurahkan perasaannya? Atau, ia sesungguhnya membutuhkan nasihat?

“Suami saya itu jahat. Jahat sekali. Uangnya dihabiskan untuk judi dan main perempuan”, katanya.
Lalu ia masih bercerita tentang suaminya. Air matanya berlinangan. Ia peluk dua anaknya di kiri dan kanan.
“Tapi, itu kan pilihanmu?”
“Memang, dulu aku tak mengira kalau ia jahat seperti ini.”
“Lalu, mau ke mana? Pulang ke rumah orang tua?”
“Ya. Pulang”, jawabnya.
“Orang tuamu sudah tahu kabar ini?”
“Tidak.”
Perempuan itu bercerita penuh semangat. Ia juga bertengkar dengan suaminya, sebelum talak dijatuhkan. Ada dendam membara di wajahnya yang berusaha ditutupi di depan kedua anaknya. Tapi, anaknya terlalu kecil untuk tahu apa yang diderita ibunya.

“Sabar. Semua itu adalah ujian. Kita harus sabar menghadapi ujian. Lebih baik sabar daripada bertindak gegabah”, kataku.
“Apakah ini sudah menjadi nasib saya?”
“Ini ujian bagimu.”
“Anak-anak saya masih kecil. Masih butuh perhatian seorang ayah, tapi ayahnya malah jahat.”

Kereta api bergerak. Menembus malam, menerabas angin, menyibak kesunyian dari stasiun ke stasiun. Aku memang menyukai kereta api, betapa pun naik pesawat jauh lebih cepat. Perjalanan semacam ini sudah aku lakukan sekian puluh tahun. Ada yang tak bisa dihilangkan dari kebiasaan naik kereta api. Begitu meletakkan bokong ke atas tempat duduk di gerbong kereta, akan mengalami peristiwa yang berbeda dengan perjalanan yang lalu. Lima puluh tahun yang lalu, aku sudah melakukan perjalanan seperti ini.

Kereta masih akan menembus beberapa kota, melewati jam demi jam. Aku mengeluarkan makanan kecil. Kemudian aku berikan pada dua anak kecil yang melendot ibunya. Anak itu tampak terkulai di tempat duduk. Dan, sekitar dua ratus penumpang kereta api ini, seperti terlena oleh derak berirama. Angin malam berkesiutan di luar jendela. Warna malam, berselang-seling dengan kerlip lampu rumah-rumah penduduk. Lampu-lampu jalan. Pabrik-pabrik yang sepi tapi berkerlip lampu-lampu menjaganya. Dua ratus penumpang kereta api ini masing-masing membawa persoalannya.
 
                            -----------------------------------&&&&----------------------------------------

Tak ada rembulan menyembul di langit. Kereta terus berderak, menerobos kegelapan. Aku masih terjaga, teringat sebuah senyuman yang pernah singgah. Berapa tahun lalu? Ah, sudah puluhan tahun lalu. Barangkali pernah juga singgah ke hatimu? Sekali dalam perjalananku naik kereta api, seorang perempuan melempar sebuah senyuman. Alangkah sulitnya dilukiskan dengan kata-kata, tetapi itulah yang aku alami sekian puluh tahun lalu. Aku tak tahu, seorang penumpang kereta tersenyum ke arahku. Perempuan dari mana dia? Peristiwa itu masih saja bisa aku ceritakan kepada siapa pun. Bahkan, ketika itu, angin yang mengusik lewat lubang jendela kereta, tak kuasa menghapus senyuman itu untuk beberapa lama. Setelah kereta berderak sekian kilometer, aku masih merasakan senyuman itu.

Ya, senyuman itu memang sangat menawan.

Anehnya, sangat sulit senyuman itu dilukiskan dengan katakata. Aku mencoba melukiskan. Tapi, gagal. Mungkin kalau pada waktu itu aku membawa tustel, aku bisa mengabadikan senyuman itu dan terus memandangnya. Tetapi, aku hanyalahpenumpang kereta yang tak membawa apa-apa kecuali sebuah tas kecil. Di situ ada odol, sikat gigi dan sedikit uang. Jadi, senyum itu hanya lewat begitu saja tanpa bisa aku simpan dalam kantong.

“Hati-hati dengan perempuan yang suka melempar senyum dalam perjalanan”, kata temanku.
“Tapi, tak semua perempuan perlu diwaspadai, bukan?”
“Perempuan itu cantik?”
“Cantik sekali tidak. Tapi, ia perempuan menarik”.

Entahlah, mungkin Tuhan maha tahu, aku dipertemukan kembali dengan perempuan itu. Juga dalam kereta api yang berderak mengejar matahari terbit. Ya, perempuan itu adalah pemilik senyuman yang membuat aku tak kuasa memejamkan mata. Perempuan yang tersenyum denganku di kereta, akhirnya menjadi istriku. Aku selalu membanggakan kenangan itu pada teman-teman. Aku selalu senang bercerita tentang sebuah senyuman.

Setelah kami menikah, bukannya tidak pernah menggunakan kereta api. Justru semakin sering kami menggunakan kereta api, bepergian ke mana pun kota yang bisa dijangkau kereta api. Kadang aku pergi lebih dulu, kemudian istriku menyusul. Atau, aku menyusul istriku yang lebih dahulu pergi ke kota tujuan yang kami tentukan. Tapi, belakangan aku lebih sering bepergian sendirian menggunakan kereta api. Dan, berbagai macam pengalaman masih saja aku alami di atas gerbong.

“Apa masih ada penumpang kereta yang memberi senyum padamu?” Tanya istriku suatu hari.
“Tapi tak ada senyuman yang dahsyat seperti senyumanmu waktu itu”, kataku. Dan, istriku senang mendengar jawaban itu.

Melihat perempuan dengan dua anak yang baru saja dicerai suaminya itu, aku merasa iba. Kereta sudah mendekati sebuah stasiun besar. Perempuan yang baru saja dicerai suaminya itu masih terjaga. Ketika kereta berhenti, ia tampak gelisah. Ditengoknya keadaan di luar jendela. Beberapa penumpang kereta ada yang turun dan ada yang naik.

“Saya akan keluar sebentar”, katanya padaku.
“Mau ke mana?”
“Mencari telepon umum. Titip anak-anak saya”, katanya padaku.
“O, jangan khawatir. Akan aku jaga. Mereka tampak sedang tidur nyenyak, biarkan saja”, kataku.

Lalu, perempuan itu berkelebat meninggalkan kami, keluar melalui pintu terdekat. Suara ramai stasiun terdengar bagaikan tawon yang akan menghisap sari bunga. Padahal, malam sudah larut. Di antara penumpang kereta, ada yang mendadak terbangun. Tapi, ada yang masih melanjutkan tidurnya. Aku melongok keluar jendela.

Aku menemukan orang-orang yang masih berharap mendapatkan rizeki dari penumpang kereta malam. Tapi, aku tak menemukan ke mana perempuan yang meninggalkan anaknya tidur itu. Aku lalu kembali duduk dan memandang dua orang anak kecil yang terlena di atas kursi gerbong.
 
Peluit terdengar nyaring di stasiun. Kereta bergerak pelan. Angin malam masih terasa. Ada yang berteriak di stasiun. Tak jelas. Aku masih menatap dua anak kecil yang tertidur. Ke mana ibunya? Mengapa tidak juga naik ke gerbong? Apakah tidak kembali? Jangan-jangan tertinggal? Aku menaruh curiga ketika kereta kembali menembus malam dengan derak suara yang merintih. Aku mencari-cari, ketika gerbong bergoyang-goyang, ada penumpang yang turun dan ada yang naik. Aku tak melihat perempuan itu datang menghampiri anaknya, hingga kereta sudah meninggalkan stasiun.

Aku berdiri. Perempuan itu masih aku ingat wajahnya. Rambutnya acak-acakan, diikat di belakang. Mengenakan baju terusan. Ia mengenakan baju hangat. Senyumnya menawan. Pasti ia masih menarik bagi laki-laki lain jika ia berdandan. Bibirnya tak bergincu, menyiratkan perempuan sederhana. Tapi, aku tidak tahu siapa namanya. Aku rasa, dalam perjalanan ini ia tidak mengenalkan diri padaku. Aku bertanya, mengapa ia turun dari kereta dan meninggalkan anaknya tidur di dalam gerbong? Apakah ia sudah menemukan keberanian untuk tidak naik ke atas kereta?

Atau, perempuan itu akan mengontak ibunya, yakni nenek anak-anaknya, agar menjemput di stasiun terakhir? Entahlah. Aku masih mencari ke setiap gerbong. Tak aku temukan wajah yang aku cari. Aku tanyakan pada orang-orang yang terjaga mengenai ciri-ciri perempuan yang meninggalkan anaknya di gerbong kereta, mereka semua menggeleng. Lalu aku kembali ke tempat duduk semula. Masih melihat dua anak kecil itu tertidur. Apakah kamu akan ditinggalkan ibumu? Anak-anak itu belum tahu pahitnya kehidupan. Mereka tertidur, seakan tak peduli akan dibawa ke mana oleh kereta api ini. Mereka memasuki dunia mimpinya sambil memeluk boneka. Mereka tak tahu kalau ibunya harus meninggalkan perjalanan malam bersama kereta api ini. Aku masih terjaga. Aku masih memikirkan ada orang yang datang menjemput di stasiun terakhir. Aku masih sempat mengambil boneka yang jatuh dari pelukan dan membenamkan dalam pelukan anak itu.

Dan, kereta sudah bergerak cukup jauh dari stasiun. Memasuki malam dalam detik demi detik yang bergerak cepat. Aku mulai diserang kantuk dan meletakkan kepalaku di sandaran. Tidak untuk tidur, sebab kereta akan sampai stasiun terakhir sekitar empat jam lagi. Kereta masih harus menerabas angin, menyibak malam, menjemput kesunyian dari kota ke kota. Rasanya, perjalanan malam kali ini lebih berat dan panjang.

                                            (Sumber: dikutip dari karya Arwan Tuti Artha Kedaulatan Rakyat, 19 Desember 2004)

Semoga anda menikmati dan terhibur oleh cerpen ini. Silahkan berikan komentar anda pada kami. Jika anda ingin agar karya anda kami tampilkan di website ini, silahkan anda kirimkan karta anda. lewat email kami di [email protected] atau di kolom yang sudah disediakan di website kami. Salam kami
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top