Monday

Ilmu Bahasa - Ciri dan Fungsi Bahasa Baku Bahasa Indonesia



Ilmu Bahasa - Ragam bahasa baku orang yang berpendidikan, yakni bahasa dunia pendidikan, merupakan pokok yang sudah agak banyak ditelaah orang. Ragam itu jugalah yang kaidah-kaidanya paling lengkap dibandingkan dengan ragam bahasa lainnya. Ragam itu tidak hanya ditelaah saja sebagai bahasa komunikasi, juga sebagai wadah dalam dunia pendidikan sebagai pengajaran di sekolah. Apa yang dulu disebut bahasa Melayu Tinggi juga disebut sebagai bahasa sekolah. Sejarah umum perkembangan bahasa menunjukkan bahwa ragam itu memperoleh gengsi dan wibawa yang tinggi karena ragam itu juga dipakai oleh kalangan yang berpendidikan sebagai sarana komunikasi di berbagai bidang, seperti forum komunikasi, seminar dll. Pejabat pemerintah, hakim, pengacara, perwira, sastrawan, cendikiawan, ilmuwan, pimpinan perusahaan, wartawan, guru, dari generasi ke generasi dalam lingkup wilayah sekolah pada tingkat apapun, sehingga ragam bahasa baku dijadikan tolak ukur dalam berbahasa yang baik dan benar. Fungsinya sebagai tolak ukur menghasilkan nama bahasa baku atau bahasa standar baginya. 

Ilmu Bahasa - Ciri dan Fungsi Bahasa Baku Bahasa Indonesia
Ilmu Bahasa
Proses tersebut banyak terjadi di dalam banyak masyarakat bahasa yang terkemuka, seperti Prancis, Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol, Italia, dan Amerika Serikat. Sementara di Indonesia keadaannya sedikit berbeda, pejabat tinggi,pemuka, dan tokoh masyarakat kita dewasa ini yang berusia 45 an 65 tahun tidak semuanya mendapatkan kesempatan untuk belajar dan memahami bahasa baku dengan maksimal, baik, dan sempurna. Peristiwa revolusi kemerdekaan kita agaknya yang menjadikan penyebabnya. Karena itu, mungkin tidak amat tepatnya menyamakan bahasa Indonesia yang baku dengan bahasa golongan pemimpin masyarakat secara menyeluruh. Masalahnya di Indonesia ialah kemahiran berbahasa yang benarm walaupun dihargai, belum tentu menjadi indikator kedudukan yang tertinggi di masyarakat kita. betul bukan?, mengingat kenyataan tersebut di atas kita perlu kembali ke dunia pendidikan yang menurut adat menjadi persemaian para pemimpin. Ragam bahasa yang diajarkan dan dikembangkan di dalam lingkungan itulah yang akan menjadi ragam bahasa pemimpin kita yang mendatang, sehingga pada suatu saat bahasa Indonesia yang baku memang dapat disamakan dengan ragam bahasa golongan pemuka yang memancarkan gengsi dan wibawa kemasyarakatannya. Oleh karena itu, di Indonesia, semua proses pembakuan hendaknya bermula pada ragam bahasa perguruan dengan berbagai coraknya dari sudut pandang sikap, bidang, dan sarananya.

Ragam bahasa standar memiliki kemampuan dinamis, yang berupa kaidah aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat diubah setiap saat. Kaidah pembentukan kata yang menerbitkan bentuk perasa dan perumus dengan taat asas harus dapat menghasilkan bentuk perajin dan perusak, bukan pengrajin dan pengrusak. Kehominiman yang timbul akibat penerapan kaidah itu bukan alasan yang cukup berat yang dapat menghalalkan penyimpangan itu. Bahasa manapun tidak dapat lput dari kehomoniman. Di lain sisi, kemantapan itu tidak kaku, tetapi cukup luwes atau dinamis sehingga memungkinkan terjadi adanya perubahan yang bersistem dan teratur di bidang kosa kata dan peristilahan, dan mengizinkan perkembangan berjenis ragam yang diperlukan di dalam kehidupan modern. Misalnya, di bidang peristilahan muncul keperluan membedakan pelanggan orang yang berlanggan(an) dan langganan orang yan tetap menjual barang kepada orang lain; hal menerima terbitan atau jasa atas pesanan secara teratur. Ragam bahasa baku yang baru dalam penulisan laporan, karangan ilmiah, undangan, percakapan telepon, perlu dikembangkan lebih lanjut dengan sistem terstruktur dan dinamis agar tidak terjadi ketimpangan penggunaan bahasa atau munculnya bahasa baru yang tida terdeteksi namun sudah banyak dikenal di masyarakat. Ciri kedua yang menandai bahasa baku ialah sifat kecendekiaannya. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalarannya atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal. 

Proses pencendekiaan bahasa itu amat penting karena pengenalan ilmu dan teknologi modern, yang kini umumnya masih bersumber pada bahasa asing, harus dapat dilangsungkan atau dibuat dan dikembangkan secara berkesinambungan ke dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, karena proses bernalar secara cendekia bersifat semesta dan bukan monopoli suatu bangsa semata-mata, pencendekiaan bahasa Indonesia tidak perlu berarti pemberatan bahasa. Baku atau standar anggapan perlu adanya keseragaman kebahasaan dengan pembakuan sebelumnya. Proses pembakuan bahasa sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman variasi bahasa. Itulah ciri ketiga bahasa yang baku. 

Setelah mengenali ciri umum yang melekat pada ragam standar bahasa kita, tentunya teman-teman kini sudah mulai paham bukan mengenai Bahasa Baku dalam Bahasa Indonesia. Masih banyak hal yang akan kita bahas mengenai Bahasa Indonesia dan segala hal yang mengikatnya. Ikuti terus laman kami ini agar anda mendapatkan artikel terbaik yang ditulis oleh tim kami. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan anda sebagai seorang cendekiawan dari generasi terbaru negeri pertiwi. Salam kami. Ilmu Bahasa
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top