Tuesday

Hakikat dan Pengaruh Epistimologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu

Hakikat dan Pengaruh Epistimologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu - Topik pembahasan ini pun menjadi salah satu pembahasan yang paling sering diperdebatkan dan dibahas oleh para ahli dalam bidang filsafat. Contoh seperti : apa itu pengetahuan, dan bagimana karekteristiknya dari pengetahuan, serta apa hubungannyadengan kebenaran, kaitannya, serta dengan keyakinan. Namun apa itu epistimologi ?, epistimologi sendiri memiliki arti dalam bahasa yunani yaitu episteme (pengetahuan) dan logos ( pembicaraan / ilmu / kata ) . Yang dimana pengertian dari epistimologi sendiri adalah “cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, karakter, sifat, serta jenis pengetahuan”.

Dari pemaparan awal diatas, kajian epistimologi menjadi salah satu bagian yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan. Kajian mengenai epistimologi sendiri bersangkutan dengan pertanyaan pertanyaan seputar pengetahuan. Epitemologi sendiri dalam filsafat ilmu dikenal sebagai sub sistem dari filsafat, karena epistimologi sendiri adalah teori pengetahuan, yang dimana membahas tentang bagaimana cara agar mendapatkan suatu pengetahuan dari sebuah objek yang dipikirkan.
Hakikat dan Pengaruh Epistimologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu
Hakikat dan Pengaruh Epistimologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu

Epistimologi sendiri memiliki keterkaitan dengan ontologi, dan aksiologi. Namun untuk menyatakan mana yang lebih penting antara ketiganya sangatlah susah, karena seperti pada umumnya keterkaitan antara suatu suatu sub-sistem dalam suatu sistem menggambarkan betapa sulitnya untuk menyatakan satu lebih penting dengan yang lainnya. ketika membahas epitemologi, sama dengan halnya kita membahas bahasan tentang cara dan upaya, atau langkah – langkah untuk memperoleh suatu pengetahuan. Dari sini kita mendapatkan perbedaan yang cukup signifikan, kalau bahwasanya aktifitas berpikir dalam ruang lingkup epitemologi merupakan suatu kegiatan yang (paling) mampu mengembangkan kreatifitas suatu bidang ilmu dibandingkan dengan ontologi dan aksiologi.

Pengertian Epistimologi

Epistimologi memiliki banyak pengertian yang telah diungkapkan oleh para ahli untuk dijadikan sebagai dasar  untuk dapat memahami apa itu sebenarnya epitemologi. Secara mudahnya epitemologi juga disebut sebgai teori pengetahuan . Pengetahuan sendiri memiliki artian yaitu sebuah usaha yang dikerjakan secara sadar baik itu dalam tahap proses atau pengambilan kesimpulan mengenai suatu kebenaran. Dalam kajia ini kebenaran lebih dari sebuah eksistensi, mengingat banyak kemungkinan pendapat yang timbul mengenai suatu objek yang dikaji dalam filsafat.

Epistimologi sendiri dapat didefinisikan sebagai salah satu cabang ilmu filsafat, namun epistimologi mempelajari asal mula atu sumber , metode, struktur, dan sahnya atau validitasnya sebuah pengetahuan. Suatu kajian kebenaran dalam epistimologi haruslah bersifat objektif, sehinga siapapun bisa mendapatkan paham yang sama saat memandang suatu masalah dan solusi. Kajian reletivistik mungkin saja masuk kedalam bagian ranah ini, namun dalam pandangan sebuah ilmu pengetahuan , semua pengamat memiliki pendapat yang benar namun hanya saja melihat dari sisi yang berbeda, oleh sebab itu saat sudut pandang semua pengamat dicocokkan maka akan muncul sisi yang sama.

Pengertian lain, epistimologi merupakan suatau pembahasan tentang bagaimana mendapatkan satu pengetahuan atau lebih memfokuskan pada sebuah proses pencarian ilmu, contoh : apa saja sumber – sumber pengetahuan ? , apakah hakikat, ruang lingkup, dan jangkauan dari pengetahuan ?. Sampai ke tahap mana pengetahuan yang mungkin mampu untuk ditangkap oleh manusia.

Selanjutnya, pengertian epistimologi yang lebih jelas telah diungkapkan oleh Dagobert D. Runes. Dia mengungkapkan bahwa epistimologi adalah suatu cabang ilmu filsafat yang membahas struktur, metode, sumber, dan validitas pengetahuan sementara itu Azyuardi Azra menambahkan, kalau bahwasanaya epistimologi merupakan ilmu yang membahas tentang keautentikan atau keaslian , metode, struktur, dan validitas ilmu dari sebuah pengetahuan.

Ruang Lingkup Epistimologi

M. Arifin merincikan raung lingkup dari eistemologi, meliputi hakikat, sumber serta validitasnya sebuah pengetahuan. Mudlor Achmad merincikan menjadi enam aspek  yaitu, hakikat, macam, unsur, tumpuan, batas,  dan sasaran pengetahuan. Bahkan A.M Saefuddin mengatakan bahwa epistimologi mencakup berupa pertanyaan yang harus dijawab, contoh : apakah ilmu itu?, dari mana asalnya?, apa sumbernya ?, apa hakikatnya ?, dan bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar ?,. Semua masalah itu dapat diringkas menjadi dua permasalahan inti, yaitu masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.

M. Amin Abdullah menilai bahwa seringkali kajian epistimologi cenderung lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi sumber ilmu atau asal – usul secara konseptual filosofis. Sedangkan Paul suparni menilai epistimologi lebih banyak membicarakan mengenai apa yang dapat membentuk pengetahuan secara ilmiah. Sementara itu, aspek yang lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistimologi atau setidaknya jarang mendapatkan perhatian yang layak.

Kecenderungan sepihak ini menimbulkan persepsi seolah – olah pembahasan epistimologi itu hanya terbatas terhadap metode dan sumber pengetahuan saja, bahkan epistimologi tak jarang hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Terlebih lagi kalau dikaitkan dengan Ontologi dan Aksiologi secara sistematik. Seseorang kadang lebih cenderung untuk menyederhanakan pemahaman, sehingga minbulkan makna epistimologi sebagai metode pemikiran, ontolgi sebagai objek pemikiran, sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai positif dan negatif . Padahal yang sebenarnya terjadi adalah metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari wilayah cakupan epistimologi.

Objek dan Tujuan dari Epistimologi

Dalam kehidupan keseharian kita, masyarakat sering menyamakan antara objek dan tujuan, sehingga menimbulkan kerancuan pada pengertiannya. Jika dilihat secara detail, objek dan tujuan sebenarnya tidaklah sama. Objek lebih ke arah sasaran, dan sedangkan tujuan hampir ke arah harapan. Pada filsafat sendiri terdapat dua objek, yaitu objek material dan formal.

    Objek material: Secara garis besarnya meliputi hakikat Tuhan, alam, dan manusia. Bisa diartikan sebagai proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh sebuah pengetahuan.
    Objek Formal: Objek formal merupakan usaha untuk memperoleh sebuah informasi yang mendalam yang dilakukan secara radikal (sedalam –dalamnya )tentang objek material filsafat.

Menurut Jujun S. Suria sumatri : objek pada epistimologi berupa segenap proses yang terlibat dalam usaha kita memperoleh pengetahuan. Tujuan dari epistimologi sendiri telah dipaparkan oleh Jacques Martain, ia mengatakan “tujuan epistimologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab sebuah pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang mungkin saya dapat ketahui”. Hal ini menggambarkan bahwa epistimologi bukan untuk memperoleh pengetahuan, namun keadaan ini tidak bisa dihindarkan. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian yang lebih penting dari tujuan epistimologi adalah  memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.

Landasan Epistimologi

Kholil yasin mengatakan pengetahuan dengan pengetahuan biasa (ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan ditempatkan sebagai pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanyalah sebuah sebutan lain. Disamping istilah antara pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga dapat dikatakan pengetahuan sehari – hari atau dengan pengalaman sehari – hari . Disamping disebut sebagai ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, biasanya juga disebut ilmu dan sains. Sebutan – sebutan tersebut hanyalah merupakan sebuah pengayaan istilah. Sedangkan substansinya cenderung sama. Kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan , misalnya antara sain dan limu melalui sebuah pelacakan akar dari sejarah dari dua kata tersebut. Sumber – sumbernya , batasnya, dan lainnya.

Metode penelitian ilmiah berperan dalam bentuk tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju sebuah ilmu pengetahuan. Bisa atau tidaknya sebuah pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan tergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah merupakan standar dalam menilai dan mengukur suatu kelayakan ilmu pengetahuan. Suatu pengetahuan logis namun tidak diiringi data yang empiris juga tidak termasuk dalam sebuah ilmu pengetahuan, melainkan ke arah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah hanya memiliki dua pilar utama yaitu rasio dan fakta secara integratif.

Hubungan Epistimologi, Metode dan Metodologi

Peter  R.Senn mengemukakan “ bahwa metode merupakan suatu cara atau prosedur untuk mengetahui sesuatu yang memiliki langkah – langkah yang sistematis “ . Dan metodologi sendiri adalah suatu bentuk kajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Sederhananya metodologi adalah bidang ilmu yang mempelajari prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu. Kalau metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu , maka yang mengkerangkainya secara konseptual adalah metodologi. 
 
Hakikat dan Pengaruh Epistimologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu
Hakikat dan Pengaruh Epistimologi Dalam Kajian Filsafat Ilmu

Metodologi  membahas suatu konsep teoritik dari berbagai metode, kelebihan, dan juga kelemahannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan penentuan metode yang dipakai. Pemakaian metode penelitian yang tidak disertai dengan metode logisnya akan mengakibatkan seseorang buta akan filsafat ilmu yang dianutnya. Rata – rata peneliti awam tidak bisa membedakan pradigma penelitian saat dia mengadakan penelitian kuantitatif atau kualitatif. Seharusnya seorang peneliti benar – benar harus memahami , kalau penelitian secara kuantitatif menggunakan pradigma positivisme, sehingga yang menentukan adalah sebab akibat (mengikuti sebuah paham determinasi atau sesuatu yang telah ditentukan oleh orang lain ). Berbeda dengan kuantitatif, penelitian secara kualitatif menggunakan pradigma naturalisme. Oleh sebab itu metodologi juga menyentuh bahasan mengenai suatu aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan sebuah metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan tersebut berada dalam wilayah epistimologi.

Urutan urutan struktural dan teoritis antara epistimologi , metodologi, dan metode adalah sebagai berikut : Dari epistimologi , dilanjutkan dengan merinci terhadap suatu  metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau pada tekhnik . karena epistimologi sendiri merupakan sub dari sistem bagian dari filsafat, maka metode yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Filsafat mencakup pembahasan epistimologi, dan epistimologi mencakup pembahasan metodologis. Oleh sebab itu mengapa diperoleh metode. Jadi metode adalah sebuah perwujudan dari metodologi, dan metodologi sendiri ialah salah satu aspek yang tercakup di dalam epistimologi. Dan kembali lagi, adapun epistimologi merupakan bagian dari sebuah filsafat.

Hakikat Epistimologi

Epistimologi mencoba memberikan definisi ilmu pengetahuan, membedakan cabang – cabangnya yang pokok atau utama. Mengedintifikasi sumber – sumber dan menetapkan batasannya. “Apa yang dapat kita ketahui serta bagaimana cara kita mengetahuinya” adalah problematika sentral pada epistimologi.

Karena filsafat lebih mengedepankan pendayagunaan fikiran, dan kalau diingat bahwasanya filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. Jadi, seluruh disiplin ilmu biasanya memiliki hubungan dengan pekerjaan manusia, terutama saat pengaplikasian metode deduktif yang dipenuhi oleh sebuah penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima secara logis dengan akal sehat. Ini bukan berarti tidak ada disiplin ilmu lain kecuali ilmu psikologi, padahal realitanya sangat banyak.

Perbedaan pandangan mengenai eksistenti epistimologi ini sepertinya bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt yang menilai epistimologi rumit dan penuh dengan kontroversial. Sejak awal , epistimologi merupakan salah satu bagian dari filsafat berbentuk sistematik yang paling sulit. Karena epistimologi dapat menjangkau berbagai permasalahan yang seluas jangkauan meta fisika sendiri, sehingga tidak ada satupun yang bo;eh untuk dihilangkan darinya.

Epistemologi ini juga dapat menjadi penentu cara dan arah berpikir manusia. Orang yang senantiasa condong, atau menjelaskan sesuatu dengan arah yang bertolak dari teori yang bersifat umum menuju khusus, berarti dia memakai pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada juga yang cenderung namun tetap bertolak dari sebab yang sama, baru dilakukan penarikan kesimpulan secara umum, berarti dia memakai pendekatan induktif. Ada masanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masi panjang untuk dilalui, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek untuk saat ini dan ada pula orang yang berpikir tanpa melihat kedepan, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. terkadang kita menjumpai eorang yang beraktivitas dengan serba strategis dan instan, sebab jangkauan dia berpikir adalah masa depan. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sebuah kegiatan dan itu hanya sia-sia, hal itu disebabkan karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek, kalau dilihat dari sisi kepentingan jangka panjang, maka tindakannya itu hanya merugikan saja.

Pengaruh Epistimologi

Secara global epistemologi berdampak terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, kemungkinan dibentuknya oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek yang ada pada studi manusia, mulai dari filsafat, ilmu murni dilanjutkan sampai ilmu sosial. Epistemologi yang berasal dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu dan suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu tersebut dipandang melalui keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. sains dan teknologi sendiri tentu akan maju pada sebuah negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistimologi.

Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa suatu fenomena alam, yang menyebabkan kemajuan sains dan teknologi tanpa adaynya dukungan dari kemajuan epistimologi. Epistemologi menjadi sebuah modal dasar dan alat yang strategis dalam membentuk rekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi satu produk sains yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Dan itu juga yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi kalau dilacak lebih jauh lagi, ternyata teknologi marupakan akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. Lantas bagaimana dengan kaidah pengemabangan Ilmu Sosial? Keterbatasan penulis dalam mengkaji aspek sosial adalah penghalang untuk menjelaskan peran Epistemologi dalam suatu kajian ilmu sosial, namun penulis tetap memiliki keyakinan  bahwa pandangan Social Science selalu ada, dimana setiap fenomena individu yang terjadi secara berulang pada orang banyak merupakan sebuah fenomena sains karena sains berbicara tentang fakta yang tidak bisa ditolak hanya berdasarkan suatu pendapat (Rasional) tanpa adanya bukti atau data secara empiris.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Silahkan kirimkan komentar terbaik anda untuk kami agar kami senantiasa meningkatkan kualitas kinerja website kami bagi anda sebagai pembaca setia kami. Salam kami Ilmu Bahasa.
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top