Thursday

KAJIAN PUISI INDONESIA TERBARU | PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM



Kajian Puisi - Selamat datang kembali di website kami ilmu bahasa. Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi dengan teman-teman semuanya mengenai kajian puisi populer, yang pada kesempatan ini kajian puisi yang akan kami paparkan adalah puisi populer milik salah satu penyair terkenal di Indonesia yakni Gunawan Muhammad. Sebuah penghargaan tertinggi bagi kami karena diberi kesempatan untuk mengulas puisi beliau yang berjudul Perempuan Itu Menggerus Garam. Anda juga dapat melihat berbagai macam puisi lama kami berserta contoh-contohnya agar dapat mengetahui lebih dalam seluk beluk sebuah karya sastra.Berikut ini puisinya. 

 KAJIAN PUISI INDONESIA TERBARU | PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM

PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM 

                                                                         KARYA GUNAWAN MUHAMMAD
Perempuan itu menggerus garam pada cobek
disudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi yeremiah

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapanya, diangkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.

Tapi  ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun,  seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan katakutan akan matahari.
“itu semua anakku,” katanya. “semua anakku.”

Ia tidak tahu kemana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“mak, kami hanya pengkhianat”

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali.)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan
bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,
ia tidak berani tahu

Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
1995

Setelah anda mengamati puisi di atas, tentunya anda harus tau seperti apa dan bagaimana menganalisis sebuah puisi yang baik, disamping anda harus tau cara membaca puisi yang baik, cara mengidentifikasi puisi yang baik, cara mengetahui struktur fisik dan batin sebuah puisi , cara memaknai puisi, agar anda dapat memahami bagaimana sebuah puisi dibedah dan untuk tujuan apa sebuah puisi dibedah. 

Unsur-unsur Pembangun Puisi Perempuan Itu Menggerus Garam

Djoko Pradopo (1990), menafsirkan ada  7 unsur pembangun dalam puisi:
1.    Bunyi                            6. Bentuk visual
2.    Diksi                             7. Makna
3.    Bahasa kiasan
4.    Citraan
5.    Sarana retorika
 
Untuk mengetahui seberapa jauh unsur-unsur pembangun dalam puisi maka akan dijelaskan dalam poin-poin selanjutnya.

Bunyi

Salah satu peran utama dalam puisi adalah agar puisi itu merdu jika didengarkan sebab pada hakikatnya puisi adalah untuk di dengarkan(Suminto A. sayuti). Dengan hal ini apabila di kaitkan  Dalam puisi “PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM” karya Gunawan Muhammad, ada persajakan yang apabila di amati akan di temukan hubungan dalam pemilihan diksinya.
 
 Si bungsu, dari sebuah kota di rusia, tak pernah
Menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“mak, kami hanya pengkhianat”
 
Ada sajak yang dimana ketika kita baca jatuh pada konsonan (t) pada kata surat, kalimat, dan pengkhianat . bila ini dibaca maka akan mendapatkan sebuah nuansa yang dramatik karena dalam pembacaan tentu akhir dalam kata “mak, kami hanya pengkhianat” akan menjadi penekanan dalam pembacaan puisi ini. Oleh karena itu bunyi dalam kajian puisi juga bisa menjadi pembahasan yang utama karena pada hakikatnya puisi merupakan kata-kata  dahsyat yang di sampaikan kepada penikmat puisi.

Diksi

Peranan diksi sangatlah penting dalam puisi, karena kata-katanya adalah segala-galanya dalam puisi. Gunawan Muhammad sering menggunakan pemilihan kata-kata yang sulit untuk diartikan. banyak sekali kata yang asing dalam puisi ini seperti kata:

cobek yang menurut arti dalam (KBBI) adalah batu atau tanah untuk menggiling lombok, sambal, dsb.
Bubungan yang menurut arti dalam (KBBI) adalah asap yang mengepul keatas dan pekat sekali.
Busut-busut yang menurut arti dalam (KBBI) adalah membukit karena banyak.

Dalam pemilihan diksi ini setiap pengarang memiliki pengaruh yang berbeda-beda dalam setiap penuliasanya. Pemilihan diksi juga bisa mencerminkan karakter penulis dan sebuah keunikan Gunawan Muhhammad adalah memiliki pemilihan diksi yang berbeda dengan penulis yang lain. Oleh karena itu pemilihan kata-kata tidak sekedar berperan sebagai sarana yang menghubungkan pembaca dengan penyair, seperti peran kata dalam bahasa sehari dan prosa umunya.

Bahasa kiasan

Diksi atau pemilihan kata sangatlah erat dengan bahasa kias, yakni sarana untuk memperoleh efek puitis. Bahasa kias menggunakan ungkapan lain yang berbeda dengan makna aslinya, sebab dalam puisi sering ditemukan kata-kata yang berbeda makna, berdasarkan kecenderunganya bahasa kias dikelompokan menjadi tiga golongan besar, yaitu pembanding (metafora-simile), penggantian (metonimi-sinekdoki), dan pemanusiaan (personifikasi) Suminto A.sayuti (2008:195)
 
Banyak bahasa kias dalam puisi “PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM” karya Gunawan Muhammad seperti kata . Bubungan seperti warna dunia dalam mimpi yeremiah, bubungan yang berarti asap, warna dunia apabila kita melihat langit putih, hal ini sudah mendapatkan makna konotasi (metafora-simile) apalagi di perkuat oleh kata seperti,  katanya, “pada batu hitam dan.”Ia sering berpesan dengan bahasa diam asap pabrik dalam kata ini maka kita akan temukan makna bahasa kias yang seolah-olah memberikan gambaran bahwa benda mati seolah hidup dalam kata pada batu hitam yang seolah-olah bicara dan  asap pabrik akan bisa membawakan pesannya, memberikan gambaran bahwa puisi inis menggunakan majas (personifikasi) untuk meberikan nuansa dalam penyampaian puisi ini.

Citraan

Dalam puisi pada dasarnya juga selalu terkait dengan bahasa kias, diksi secara umum dan sarana retorik. Karena puisi ini merupakan suatu bentuk keindahan yang bersarana utama bahasa. Bahasa yang menjadi sarana mutlak bagi seorang penyair. Melalui keindraan maka penyair dapat memberikan sentuhan kesan bahwa puisi ini bisa hidup, dengan adanya pembaca yang menikmati tentunya. Pengalaman keindraan itu dapat juga disebut sebagai kesan yang terbentuk dalam rongga imajinasi yang disebabkan oleh sebuah kata atau serangkaian kata. Kata atau rangkaian kata yang mampu mengguah pengalaman keindraan itu, dalam puisi disebut citraan (Suminto A.sayuti). Dalam puisi ini banyak citraan yang bisa ditemukan seperti dalam kata seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya, merupakan citraan penglihatan (citra visual). seperti hujan menggerutu merupakan citraan pendengaran (citra auditif) karena hujan sebenarnya tak bisa berkeluh kesah. katanya, “pada batu hitam.” Ini juga bisa termasuk dalam citraan pencecapan. Dapat disimpulkan bahwa citraan merupakan unsur pembangun dalam puisi yang akan menjadikan ciri khas penulis dalam mengekspresikanya dalam puisi.

Sarana Retorika

    Dalam khazanah perpuisian Indonesia modern dapat banyak dijumpai ragam sarana retorik. Namun, hanya beberapa ragam saja yang mempunyai frekuensi pemakaian yang tinggi, yang hamper setiap penyair mempergunakanya, salah satu yang akan dibahas dalam sarana retorik ini adalah repetisi (pengulangan) dan ironi (sindiran). Pengulangan yang paling banyak ditemukan adalah kata mimpi, mimpi sebagai pengulangan memberikan penekanan kepada pembaca bahwa dalam puisi ini terdapat harapan tersirat ynag disampaikan oleh penulis bagi pembaca. Ironi adalah sindiran secara halus, dalam karya ini ada beberapa sindiran secara halus seperti mak, kami hanya pengkhianat. Bisa di jelaskan bahwa dalam puisi ini ada sindiran kepada ibu pertiwi yang tak memberi kebebasan secara langsung kepada rakyatnya, karena pada saat itu masih terdapat rezim soeharto yang memberikan pendiritaan terhadap rakyat. Dalam hal ini Gunawan Mohammad menggunakan realita dan ekspresional.

Bentuk visual

Bentuk visual merupakan salah satu unsur puisi yang paling mudah dikenal. Bentuk puisi meliputi tipografi dan susunan baaris. Bentuk visual biasanya berhubungan denga makna puisi. Dalam karya ini menggunakan bentuk visual konvensional, karena dalam format penulisanya hanya biasa-biasa saja.

Makna

Makna merupakan wilaya isi sebuah puisi, setiap puisi mengandung makna, baik disampaikan secara tidak langsung, implinsit atau simbolis. Makna tersebut pada umunya berkaitan dengan pengalaman dan permasalahan yang dialami dalam kehidupan manusia. Dalam puisi “PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM” karya Gunawan Muhammad. Bisa dimaknai bait perbait, 

bait pertama

Perempuan itu menggerus garam pada cobek
disudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,”  katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi yeremiah
 
arti dalam bait pertama ini menurut penulis adalah pasrah tentang takdir yang dijalaninya, hal ini di kuatkan perempuan yang mengerus garam pada cobek di sudut dapur yang kekal namun ada penjelasan bahwa di kalimat selanjutnya bahwa harapan masih ada untuk mengubah nasib yang karena kata asap tak pernah singkat yang menjelaskan bahwa hidup ini panjang dan jangan pernah sampai putus harapan.
Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapanya, diangkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.

Bait Kedua

Dalam bait kedua ini puisi ini menjelaskan tentang tokoh ia yang mempunyai kemampuan namun karena terkurung dan dibatasi. Namun tokoh ia tetap berfikir bahwa masih ada harapan untuk mereka yang masih bias meraih mimpi.
 
Tapi  ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun,  seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan katakutan akan matahari.
“itu semua anakku,” katanya. “semua anakku.”

Bait Ketiga

Dalam bait ketiga ini menjelaskan tentang adanya perubahan nasib namun karena sebuah kondisi tokoh ia tak mampu untuk merubahnya, apa lagi ketika tokoh ia melihat sebuah realita bahwa anak-anak masih harus diperjuangkan walaupun nasib tak mendukungnya.
 
Ia tidak tahu kemana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“mak, kami hanya pengkhianat”
 
Beban hidup yang semakin berat dengan keadaan yang tak karuan membuat sang anak pun pergi tanpa memberi kebebasan, namun dalam hal ini anak melarikan diri ke suatu tempat yang memberikan kebebasan disimbolkan pada kata rusia, karena dalam peradaban dunia Negara yang paling bebas adalah Negara rusia.
 
Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali.)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan
bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,
ia tidak berani tahu

Bait Keempat

dalam bait ke empat ini menjelaskan bahwa semua mimpi tentang kebebasan hanyalah impian belaka yang jauh dari harapan, karena ada kekuasan yang tak bias di langgar bias di jelaskan lewat kata ia tidak berani tahu.
 
Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
Menjelaskan tentang realita bahwa kehidupannya memang belum bisa berubah.
Jadi dapat disimpulkan keseluruhan puisi ini menceritakan sebuah kehidupan wanita yang tidak bias berkembang di masanya. Karena adanya pembatasan yang tidak memberikan kebebasan pada perempuan dan  sebuah harapan yang tak pernah kesampaian tentang kebebesan walaupun ia tahu perjalanan masih panjang dan ia harus menerima tentang nasib itu (nasib perempuan dimasanya)

Setelah diketahui bagaimana unsur-unsur pembangun puisi diatas, kami mencoba memaparkan puisi diatas dengan sebuah kajian sastra, yakni sosiologi sastra

Unsur  Sosiologi Sastra dalam puisi “PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM”  karya Gunawan Mohammad.

    Dunia nyata dan dunia sastra selalu saling berkaitan, realitas biasanya tercermin dalam karya sastra. Seperti juga sosiologi, sastra secara sungguh-sungguh berkenaan dengan dunia sosial manusia, yaitu penyusiaannya, dan keinginannya mengubah dunia social. Puisi sebagai jenis sastra utama dari masyarakat, dapat dilihat sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia social tentang hubunganya dengan keluarga, politik, Negara. Bahkan hal ini bias berkembang dalam bentuk konflik dan pertentangan antara kelas social (learson, 1971).

    Banyak yang bisa di analisis dalam puisi jika puisi ini dikaitkan pada latar belakang kondisi tertentu. Pada tahun 1995 Indonesia mengenal sistem otoriter yang dimana pada masa ini masih banyak tangan dingin pemerintah yang mengintimidasi rakyat. Pada masa ini pemerintah yang di pimpin oleh soeharto belum begitu mengangkat kaum wanita setara dengan kaum pria, maka dari itu puisi “Perempuan Itu Menggerus Garam” muncul sebagai kritikan terhadap lingkungan umun agar kaum wanita bisa di setarakan. Dalam makna puisi inipun menggambarkan bahwa wanita mempunyai sesuatu yang bisa dihandalakan tidak hanya di dapur, wanita punya harapan, wanita juga ingin kebebasan, Oleh karena itu penulis berharap agar bisa mengangkat derajat wanita yang ada pada jamanya, paling tidak bisa memiliki profesi yang berbeda, bisa dikatakan bahwa puisi ini juga memperjuangkan emansipasi wanita karena dalam hakikatnya wanita memang ditakdirkan untuk menjadi pengikut laki-laki namun wanita juga mempunyai kemampuan untuk berjuang dalam memenuhi kebutuhan keluarganya dan wanitapun mempunyai impian yang harus diperjuangkan, kalo kita bisa memberikan gambaran tidak hanya seperti ikan yang di pajang dan ikan itu tidak tahu bahwa ikan tersebut memiliki keindahan. Selain itu kata “mak, kami hanya pengkhianat” merupakan sindiran terhadap pemerintah, anak indonesia memilih tidak kembali ke negara ini karena di negara lain, kebebasan sudah menjadi hal yang begitu indah. Kebebasan ini di lambangkan dengan kata dari sebuah kota di Rusia, Rusia merupakan kota terbebas di dunia ini yang menyimbolkan bahwa bangsa kita masih belum bisa memberikan kebebasan pada rakyat kecil kaum wanita dan yang lain

    Dalam struktur sosiologi karya sastra maka puisi “PEREMPUAN ITU MENGGERUS GARAM”  karya Gunawan Mohammad. Bisa menjadikan cermin dimasanya, tentang keadaan kaum wanita yang belum bisa setara dengan kaum laki-laki, karena Sastra yang bagus adalah yang mencerminkan keadaan disikitarnya.

Demikian pemaparan kajian puisi "Perempuan itu Menggerus Garam". Kajian ini hanyalah sebuah kajian dasar mengenai puisi. Pemaparan di atas bisa lebih diperdalam lagi ataupun dikembangkan agar dapat lebih mengulas persoalan yang tersirat dalam puisi tersebut. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi wawasan tersendiri bagi anda mengenai karya sastra. Salam Kami Ilmu Bahasa
 
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top