Wednesday

Karya Kiriman Sahabat Imbas

Terimakasih atas apresiasi dari sahabat imbas yang telah berkontribusi mengirimkan karyanya kepada kami, berikut ini hasil karyanya.

Judul  : Suasana Desa
Karya : Ribut Kurniawan

Suasana Desa

Angin yang berhembus kencang
Menyejukkan suasana didesa
Dengan matahari yang setia bercahaya
Menambah suasana di desa
Semakin indah dengan bersukaria

Akupun melewati sawah-sawah yang ada diladang
Melihat kedepan memandang gunung dikelilingi oleh hijaunya padi-padi
Bagaikan permata alam yang indah
Kurasakan perdamaian menenangkan hati dan pikiran
Semua masalahpun terlupakan
Serasa melayang-layang di atas awan

Judul    : Arini dan Sepasang Sepatu
Karya   : Puput Pujiati
Email    : puputpujiatii15@gmail.com
Alamat : kp. gn. nyungcung rt 05/01 no.5 desa kampung sawah Kec. Rumpin Kab. Bogor

Cerpen Arini Dan Sepasang Sepatu

Terik mentari kini terselimuti oleh awan hitam dan hujan menjadi penghujungnya. Hujan membasahi hamparan pasir dan jalanan panas. Muncul asap disusul aroma yang menyengat menerobos hidung arini. Lagi-lagi sepasang sepatu arini tak kering. Ia dengan wajah polosnya hanya mampu menatap sepasang sepatu itu tanpa sadar menghelakan nafas yang menyeret hati sang ayah yang kala itu memperhatikannya dari samping dinding yang terbuat dari bambu.


"sepatunya ayah sulap yah nak." Arini yang terlihat kecewa hanya menganggukkan kepala. Namun sang ayah yang selalu berusaha tegar dan kuat mengeluarkan senyum manis dan dekapan tangan yang lembut. Mengeringkan sepatu di atas tungku kayu sudah biasa ayah lakukan setiap musim hujan karena aku yang hanya memiliki satu sepatu. Selama sepatu itu masih layak aku pakai ibu tak pernah memberikan sepatu penggantinya. Ibu bukan orang yang pelit atau tak menyayangi anaknya namun keadaanlah yang mengharuskannya seperti itu. Aku lahir saat masa-masa paling sulit itu menghampiri keluarga kami. Mulai dari pengurangan ketenagakerjaan di perusahaan ayah. Dan negara yang mengalami masa moneter membuat semuanya semakin sulit. Semua perusahaan ayah masuki namun karena umur yang tak muda lagi membuat perusahaan enggan menerimanya.

Teringat saat ada satu pekerjaan yang tak mengenal usia diambilnya demi membantu ibu yang mencari uang dengan berjualan nasi uduk di pinggir jalan berdebu. Setiap hari ayah bekerja membuat peti telur yang satu buahnya hanya dihargai 500 rupiah.

Selalu ada saja kendalanya mulai dari tangan ayah terkena palu karena penglihatan tak lagi jelas, tempat yang tak beratap selalu dikunjungi segerombolan air hujan. Begitupula terik mentari. Selain itu bahan kayu yang dipakai harus ia ambil cukup jauh dari tempat ia bekerja. Mengambilnya pun tak mudah, ayah harus berebut kayu dengan pekerja yang jauh lebih muda. Namun ayah selalu menjalankan pekerjaannya tanpa keluh kesah selalu tersenyum tanpa beban. Aku selalu bermimpi untuk bisa disulap menjadi dewasa selain mengurangi pengeluaran keluarga juga dapat bekerja menghasilkan uang dan kuberikan semuanya kepada ibu dan ayah.

Hidup susah sudah bukan hal yang aneh, aku selalu memahami apapun keadaan kami. Setiap pulang sekolah aku selalu membantu ibu di warung, semua aku lakukan di warung dari belajar, mengerjakan tugas sekolah hingga tidur karena kelelahan.

"Sayaang, tidur di rumah saja posisi tidur kamu sekarang bisa buat kamu sakit." Suara halus dan belaian lembut tangan ibunya yang mendarat di kepala arini membangunkannya.
"Aku bersyukur memiliki bunda seperti ibu." Kata-kata arini membuat air mata ibunya tak berhenti menetes, keadaan menjadi sunyi. Mata polos arini hanya menatap dan tangan mungil di daratkannya pada pipi sang ibu dan mengusap air matanya dengan senyum yang terpancar.

Kejadian yang mengharukan sekaligus membanggakan yang tak terlupakan. Sang ibu yang selalu berpikir bahwa ia gagal menjadi ibu yang baik kini dapat terobati dengan ucapan arini. Upacara bendara dengan sepatu setengah kering membuat kakinya kelu dan kesemutan. Ini bukan kali pertama pula baginya. Karena kemarin sepatu yang terlalu basah membuat sang ayah tak mampu menyulap sepatunya menjadi kering sepenuhnya.

Sinar matahari kala itu sangat terik, matahari seakan tersenyum dan berbisik padanya "aku akan membantu ayahmu menyulap sepatu hitam itu." Arini tersenyum lebar sembari menatap matahari di tengah lapangan yang luas.
 "ini bau sepatu busuk siapa sih." celoteh salah satu teman sekelasnya
"iyah-iyah bau busuk banget" sahut teman-teman yang lainnya Arini yang masih kecil cukup ketakutan dan merapatkan kakinya seakan ia ingin menutupinya. Ia yang menyadari bahwa dirinya berbeda dengan teman yang lain dan selalu di perolok oleh teman-teman yang membencinya membuat ia memutuskan untuk menyendiri namun tak membuat ia mendapatkan nilai terendah. Ia selalu berada di peringkat ke tiga dan kedua meski belum pernah mendapat tempat pertama di kelas namun ayah dan ibunya selalu bangga padanya terlebih karena jam belajarnya di rumah harus dikurangi banyak untuk membantu ibunya di warung.
 "bagaimana sekolah kamu nak, teman-teman kamu baik-baik kan."
"iya bu, mereka sangat menyayangiku layaknya seorang sahabat.
" Semenjak guru arini menemui sang ibu dirumah mengenai sikap arini yang dingin dan tak suka bergaul dengan temannya membuat kecemasan tersendiri bagi sang ibu. Setiap pulang sekolah ibunya selalu menanyakan hal yang sama dan arini terpaksa harus berbohong karena tak ingin membuat ibunya cemas dan merasa takut.

Sebelum 17 agustus datang setiap tahun sekolah mengirimkan murid-murid untuk berlomba gerak jalan dan salah satu yang terpilih adalah aku. Badan yang terlalu bongsor mengharuskan aku berada di urutan pertama. Aku sangat bahagia karena jika aku ikut ibu dan ayah bisa melihatku.
 "ingat anak-anak kalian harus berlatih dengan baik, dan persiapkan segala kebutuhnya dari sekarang." "baik pak." jawab kami serentak "arini..! kamu punya sepatu hitam yang lain kan." arini hanya menatap sepatu hitam yang ia pakai yang sudah pudar.

Sampai malam datang ia masih memikirkan sepatu pudar itu. Sang ayah yang sudah lama memperhatikan tingkah arini dan mulai menghampiri
"anak ayah sedang apa di sini."
"aku hanya melihat bintang-bintang itu ayah, mereka sangat cantik kan." ayahnya tersenyum lebar dan duduk di samping arini.
 "ayaahh... apa ayah juga bisa menyulap sepatuku menjadi lebih hitam?" kepala arini yang disenderkan dibahu ayahnya tiba-tiba langsung di tengokkannya pada raut wajah sang ayah
"ayah? mengapa ayah diam? ayahkan orang yang hebat sama seperti aku." senyuman mungil itu membuat ayahnya tak kuasa menahan air matanya namun ia berusaha kuat dan tersenyum.
"tentu ayah memang orang hebat. kapan kita mulai menyulapnya tuan putri." jawab sang ayah dengan penuh candaan

Malam itu mereka habiskan dengan candaan-cadaan yang dikeluarkan sang ayah, tak lepas dari air mata bahagia sang ibu di balik anyaman bambu. Hari itu pun datang arini mengikuti lomba dengan penuh semangat dan senyumnya terpancar lebar ketika ia melintasi ayah dan ibunya yang sedang melihatnya di kerumunan orang di pinggir jalan.

"sepatu anak kita terlihat seperti baru ya mas, kamu memang berbakat jadi pesulap."
"hmm..kapan aku bisa membelikan sepatu baru untuk arini"
"di cat pun sudah terlihat baru, suatu saat kita pasti bisa membeli sepasang sepatu yang lainnya." jawab sang ibu dengan penuh senyum dan menyemangati sang ayah dengan dekapan tangan yang hangat.

 

Judul        : Ngaku Ngaku
Karya       : Sohib 
Alamat     : kp. Paris Rt/Rw 006/016 Desa Bayur Lor, Kecamatan Cilamaya Kulon, 
                  Kabupaten Karawang.
Email       : sastrasahabat@gmail.com

NGAKU NGAKU

Ngakunya aku,nyatanya bukan aku 
Ngakunya kamu nyatanya bukan kamu 
Ngakunya village chief 
Nyatanya makan beras raskin 
Itu milik wong cilik 
Ngakunya negri ini kaya 
Nyatanya banyak rakyat jelata 
Pak peresiden Ngakunya negri ini adil 
Adil mu, bedil Amplop di kantong kantong 
Ngakunya negri ini aman 
Nyatanya polisi dan TNI tawuran 
Ngakunya Dewan perwakilan rakyat 
Nyatanya dewan perwakilan peribadi 
Ngakunya paham agama 
Nyatanya uang haji di sikat juga 
Ngaku ngaku, 
Jangan ngaku - ngaku kalau tidak mau diaku aku 
Tak semua ngaku ngaku                                         (7 Agustus 2015)

 


Judul        : Hidup Ingat Allah
Karya       : Alif Waisal
Alamat     : Purwokerto, Jawa Tengah
Email       : waisalvation@gmail.com

Hidup Ingat Allah

Hidup di dunia cuma sementara. 
Buat hidupmu lebih bermanfaat dan berguna,juga jangan sia-sia kan hidupmu 
Semua manusia harus tau bahwa ALLOH-lah yang memberikan kita hidup,juga kekuatan untuk melakukan perbuatan yang baik kecuali,perbuatan buruk syaitan lah yang mendukung. 
Jangan biarkan hidup- mu sengsara karena dosa yang kamu laku- kan. 
Abadikan hidupmu dalam menjalankan perintah ALLOH. 
Persiapkan amal baikmu sebagai jembatan menuju syurga ALLOH,
AMIN. 
Hindari perbuatan maksiat maupun dzolim. 
ALLOH pasti mengetahui hambanya yang melakukan maksiat dan dzolim. 
Sebelum terlambat segera bertaubat dan minta ampun dan pertolongan ALLOH S.W.T. 
Agar mendapatkan jalan yang lurus,
AMIN. 

 

Judul    : Puisi Kota Kematian
Karya   : MUASIH
Alamat : Ds.KEMANTREN. KEC.GEDEG KAB.MOJOKERTO
Email   : Muasih gelis

Kota Kematian


Bersandar pada kiblat takdir yang terus menerus merenggek dalam kebencian
Menguburkan sisa-sisa cinta yang ada
Kemudian tersenyum dalam elok rembulan yang membutakan segala
Jadikan tiada…
Lalu menyisir kehadapan para malaikat
Berkepalan tinju
Dengan antrian manusia-manusia suci
Yang merasa tak berdosa
Tak perlu lagi kau melihat berjuta anak kecil berjubel dari rasa ingin
Tak perlu kau bertanya
Siapa mereka?
Hanya terus menunggu di ambang kota kematian
Yang tak pernah bersinar dalam harap…  

 

JUDUL       : PUISI LAUTAN LUKA
KARYA      : SOHIB
ALAMAT   : Ds.KEMANTREN. KEC.GEDEG KAB.MOJOKERTO
EMAIL      :

LAUTAN LUKA

Detik-detik malam, terdengar dari dalamnya danau. 
Menyusuri setiap kedalaman, hingga mengendap di lapisan paling bawah. 
Pekat, tak terlihat. 
Di kegelapan inilah, kadang mutiara menghadirkan dirinya, meski danau bukan tempat asalnya. Warna-warna malam, tak melulu soal kegelapan. 
 Ada merah saat mawar memerah, 
Ada bening saat pipi membasah.

Judul         : Cerpen Perempuanku
Karya       : Sohib
Asal          : Karawang
Email        : sastrasahabat@gmail.com

PEREMPUANKU

Hujan di waktu kemarau membasahi tanah yang gersang di kota karawang. cahaya Bulan dan bintang yang bersembunyi di balik awan. Hujan yang menurunkan rahmat bagi seluruh makhluknya. “ entah dari mana saya memulai cerita ini.

Pagi menggantikan senja waktu itu dan matahari yang mulai kembali ke peraduannya. Berdiri anak muda di pematangan sawah, mengenakan sarung pekalongan, baju koko, kopeyah hitam, dan sorban yang senantiasa di bahunnya.Wahyu namanya, seorang anak muda dari kampung pesisir pantai utara Karawang yang diasuh oleh Niniknya seorang diri, sampai sekarang tamat sekolah Aliyah. Wahyu yang sedang asik dengan lamunannya. Tiba-tiba dari jarak 10 m, berteriak.

“Wahyu…. ayo kembali ke mesjid,! pengajian mau dimulai”. Teriak selamet (sahabat Wahyu)
Tanpa menjawab, wahyu membalikan badannya dengan secepat kilat meninggalkan pematangan sawah. Mengejar sahabatnya yang menuju ketemapat pengajiaan. Namuan di mesjid santri sudah berkumpul memegang kitabnya masing - masing. Wahyu yang terlambat datang. sehingga mengisi tempat paling belakang dari barisan santri laki -laki. yang bersebelahan dengan barisan santri perempuan dan tepat di sebelah kirinya ada anak gadis. Di waktu itu pula Wahyu saling bertemu muka, mulut yang membisu, raut wajah yang sama memerah, demikian lah pertemuan diantara keduanya. Jarak rumah Wahyu yang lumayan jauh dari masjid temapat mengajinya. sehingga Wahyu harus mengianp di masjid dengan anak muda lainya. Wahyu hanya sebulan sekali pulang menemui Niniknya di kampung. Sementara teman dekatnya yaitu Selamet. Rumanya tidak jauh dari masjid dan bersebelahan pula dengan rumah Sepuh Abdul Wahid. Selamat pun kerja kepada Kiyai dermawan ini. jadi selamat jarang sekali menginap di masjid. 

Satu minggu pertemuanya, wahyu mulai mengenang gadis kelahiran Cirebon itu. Pada malam itu pula karena hujan besar, anak - anak gadis yang di jemput oleh ayahnya. Dan dia pun di jemput oleh I,ah farihah anak dari sepuh Abdul Wahid yang berusia 12 tahun. Hujan semakin lebat, anak gadis sudah pulang dengan payung yang beriringan dengan hujan. Selamat yang tidak mebawa payung yang tertahan hujan di masjid. akhirnya memutuskan menginap di masjid. Santri yang lain telah tertidur lelap, Wahyu pun memulai pembicaranya dengan selamat.

“ Met ! ada yang ingin saya tanyakan kepada mu, sudah dari satu minggu dulu sebenarnya pertanyan ini ingin saya tanyakan, tapi belum ada waktu yang tepat untuk menayakanya. Malam ini kebetulan engkau menginap di sini. Boleh saya bertanya kepada mu met?”

“ pertanyan so,al apa yuk ?, bukankah dalam ilmu agama dan pengamalannya engkau jauh lebih tahu, dan saya pun seseorang yang mengagumi mu. Seharusnya aku yang banyak bertanya kepada mu yu.”

“ ah kau Met, jangan berkata begitu, aku ini masih bodoh Met, tak pantas engkau mengagumi ku, yang pantas engkau kagumi hanya Rasullah SAW. Ah.. sudah lah… bukan soal ini yang ingin saya bicarakan. Tapi soal anak gadis baru itu. siapa dia Met?, begitu lugu, cantik dan menenteramkan jiwa ku, andai saja memandang kaum perempuan yang belum mahromnya, tidak diharamkan menurut agama. Ingin rasanya saya berlama lama memandang wajahnya. Tolong ceritakanlah Met siapa dia, dan rupanya dia dekat sekali dengan Sepuh Abdul Wahid, dan anaknnya.” Selamat hanya memeluk dengkul mendenagrkan pertanyan wahyu.

“ Em Wahyu - Wahyu kayanya engkau sedang kasmaran. hati - hati yu dengan perasan mu itu, jangan samapi perasan itu menjadi tumbuh lebih besar yang nantinya ! menjadi bumerang mu sendiri. Sudah banyak kejadinya. Asalnya hanya suka, terus cinta, dan berkasih – kasih, eh malah hamil diluar nikah. memang cinta itu indah, karena sangat indahnya banyak orang yang dilenakanya. lantaran tidak berpegang teguh kepada agamanya. Tidak. hanya hal itu saja terkadang cinta itu akan mebutakan mu. Terkadang pula yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. !” wahyu berfikir mendengarkan perkatan selamet. Lantas selamat melanjutkan perkatanya.

“sebelum aku ceritakan ada hubungan apa gadis itu dengan Sepuh Abdul Wahid. Aku beri tahu dulu namanya, Rokayah. soal mengapa dia itu dekat dengan Sepuh Abdul Wahid dan anaknya I,ah. karena dia itu adik dari istri Sepuh Abdul Wahid, tomatis menjadi adik iparnya dan sekaligus bibi dari I,ah. Namun kenapa dia bisa ada disini. Rokayah Seperti engkau Yu! dia sudah ditinggal mati oleh ibunya, sejak dia dilahirkan, dan baru baru ini pula Abahnya meninggal dunia. semenjak sepeninggal Abahnya Rokayah tinggal sebatang kara di cirebon. Maka dengan itu Rokayah dibawa ke Cilamaya oleh teteh kandungnya Darini yaitu istrinya Sepuh Abdul Wahid.

“ oh… adik ipar Sepuh Abdul Wahid toh!. cantik yo Met?
 “ ya embuh yu.!

Pertemuan pertemuan diantara keduanya berlanjut, semakin sering mereka bertemu muka, di waktu - waktu pengajian, disela- sela waktu luang. Berpapasan sore itu di pesisir pantai, Wahyu yang membawa kitab safinah untuk berangkat mengaji. Tiba tiba seorang anak gadis menghampirinya seraya berkata.

“ akang Wahyu ! darimana akang?” Tanya Rokyah
gugup Wahyu menjawab pertanyan Rokayah yang secara tiba tiba menyapanya. “Ro…..ka…yah.! habis dari rumah selamet mengambil buku. engkau sendiri mau ke mana ?”
 “ oh….! Ini disuruh emba, beli minyak di warung teh Desi. buat menggoreng ikan.”
“saya antar ! tak baik perempuan berjalan sore - sore sendirian, pamali kata orang tua.”
“ tak usah kang ! nanti akang terlambat menggaji karena menggantar saya.”
“ tak apa. Ayo mari….”

Setelah pertemuan di sore itu, perasaan kasihan diantara ke duanya kini menjdi cinta yang mengusai persaan di ke dua. karena pada dasarnya cinta itu timbul dari perasaan kasihan lalu menjadi bayang - bayang. wajah Rokayah semakin jelas dipikiran Wahyu. Dan Rokayah pun selalu terbayang kebaikan budi Wahyu. Penyakit yang sering melanda anak muda yaitu persaan cinta, itulah perasaan yang sedang dirasakan oleh kedua anak muda ini. Seperti pada umumnya anak muda yang dimabuk cinta, enggan makan,enggan tidur. Demikianlah penyakit cinta, yang terkadang para perasanya melakukan sesuatu hal di luar kesadaranya. Wahyu pun memikirkan ucapan selamet sewaktu di masjid.

“ apa yang sedang saya rasakan ini, wajah mu Rokayah ! enggan lepas dalam benak ku!. tidak !...siapa saya, siapa Rokayah. Rokayah adalah dari keluarga berada. Dia anak seorang agengan, kaka iparnya pengusaha ikan, punya banyak perahu, sawah berhektar - hektar, tokoh agama sekaligus guru nagji ku. Sedangkan saya, tidak tentu asal dan keturunan ku. sampai saat ini pun saya tak tahu wajah dan rupa orang tua ku. Ninik tak pernah menceritakan asal dan keturunan ayah dan ibu. hanya menceritakan tentang kebaikan budinya kepada setiap orang.”

Berbulan bulan Wahyu menyembunyikan perasaannya terhadap Rokayah dengan tujuan menjaga fitnah akan Rokayah.” apalagi mamangnya itu sebagai tokoh agama dikampung, yang terkenal dengan baik budi, dermawan, arif dan bijak sana. semua orang menghormatinya. bahkan semua orang kampung dipekerjaknya.

“Ninik yang semakin tua renta sudah sakit sakitan pula, dan setiap malam sudah kebiasaan saya membawakan obat untuk Ninik jika saya sedang ada di rumah, agar esok hari dapat bekerja lagi. Namun Pada jumat malam sewaktu saya pulang dari masjid untuk menemui Ninik. Ninik terlihat begitu lemas, wajah yang berbeda dari sebelumnya, tampak lebih pucat, dan air mata yang panas keluar dari kelopak mata tuanya. Apakah ini suatu bertanda dari tuhan? Dalam benak ku...

“ Nik ini diminum dulu obatnya. !“
“ tidak perlu cucuku, Ninik baik – baik saja.”
Sambil memandang wajah saya dengan mata tuanya yang sudah terlihat letih menjalani hidup dan mengusap kepala ku seraya berkata.

“ Sungguh malang nasib mu cucuku. Diusia semuda ini sudah banyak kepahit yang engkau alami. Yang seharunya belum waktunya engkau mengalaminya, mulai ditinggal mati oleh ayah dan ibu mu. Bekerja membantu Ninik. tak punya kerabat dekat pula, yang nanti apa bila Ninik meninggal engkau akan tinggal dengan siapa.

“ ah Ninik jangan berkata demikian. walau Wahyu tidak merasakan kasih sayang orang tua. Tapi Ninik sudah menggasuh Wahyu lebih dari pada orang tua sendiri, Wahyu sayang Ninik. Ninik pengganti orang tua Wahyu yang di kirim oleh tuhan”. Mata Wahyu berkaca - kaca

“ cucuku ada yang mau Ninik tanyakan. Antara engkau dengan Rokayah. kabar kedekatan mu denagan Rokayah, berhebus begitu ramai di kampung, dari mulut - kemulut samapai kepada telinga Ninik. Apakah engkau mencitai Rokayah?”
“ apakah itu salah Ninik, Wahyu mencintai Rokayah ?.”

“ tidak salah cucuku, namun yang Ninik takutkan engkau akan kecewa, karena siapa itu Rokayah dan siapa kita cucuku. Bukan Ninik bermaksud memutuskan harapan mu. Namun buanglah jauh – jauh , angan – angan mu itu. karena semakin jauh kita mengayauh perahu akan semakin dalam jika kita tenggelam. Hapuskan lah perasaan mu kepada Rokayah itu. Dan Ninik titip pesan kepadamu, jangan lupa mendoakan almarum ibu dan bapak mu. jika Ninik meninggal pula, bacakan surat Yassin di tiap - tiap malam jumat. Dan satu lagi cucuku,? ada peninggalan orang tua mu di koper yang sampai saat ini Ninik jaga, pergunakan lah baik baik, warisan orang tua mu, dan sekaligus rumah ini beserta tanahya akan menjadi kepunyaan mu juga. Ingat lah cucuku, walau nanti Ninik meninggal engkau tidak akan sendiri, masih ada Allah yang akan selalu menemani mu. Jangan pernah tinggalkan sholat. Jadilah anak yang berguna bagi orang lain.

Wahyu hanya diam mendengarkan perkatan Niniknya. Matanya kini mulai memerah dan menderakan air mata, setelah mendengarkan perkatan Niniknya tadi. Jangan - jangan pirasatnya benar. Setelah usai perkatan itu. Niniknya mulai menarik nafas panjang dan di keluarkan dengan secepat - cepatnya, sebanyak tiga kali hembusan. Setelah tarikan nafas ketiga, terlepas lah ruh dari jasadnya. air mata Wahyu yang ditahan akhirnya bongkar juga,.

“ ni…… ni…..kk”. teriak wahyu sambil memeluk Niniknya dengan air mata yang memenuhi pipiknya.
Meninggal Niniknya, menjadi pukulan yang amat dalam dan sekaligus menambah kepahitan hidunya. setelah tujuh hari kematian Niniknya. timbul rumor - rumor tentang kedekatan wahyu dengan Rokayah yang tidak wajar dan dilebih lebikan oleh warga. padahal Rokayah sakit - sakitan lantaran menyimpan perasaan kepada Wahyu dengan secara alamiah dari tuhan. Namun ternyata warga memandangnya bahwa Rokaya diguna - guna dan dipelet oleh Wahyu. Warga yang semakin geram, dan anak muda pun mulai geram akan Wahyu. Wahyu yang disudutkan dari beberapa pihak, apalagi setelah sepeninggal Niniknya, Wahyu tidak punya kerabat yang membelanya, bahkan Selamet sahabatnya pun tidak bisa berbuat apa – apa, lantaran banyaknya warga yang mengerebeg rumahnya. Bertujuan mengusir dari kampung. Akhirnya di hari itu pula wahyu diusir dari kampung. semtara Rokayah hanya meyaksikan orang yang dicintainya diusir oleh warga. diseret keluar dari rumanya secara paksa untuk meninggalkan kampung. Rokayah tak dapat berbuat apa – apa. Rokayah hanya bisa menagis dan mebalikan badanya dan berlari menuju kamar dengan membantingkan badanya ke kesur. Membayankan kesedihan yang dialami orang yang dicintainya. Tak lama dari itu I,ah masuk membujuk bibinya agar tidak bersedih. Rokayah pun duduk disamping keponakanya itu.

“ sudah lah bi.” Tegur I,ah
“ Sungguh kasihan anak muda itu, I,ah. bermacam macam masalah menimpanya, dari mulai dia kecil sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, seminggu yang lalu baru saja ditinggal mati oleh Niniknya, eh…sekarang diusir oleh orang kampung lantaran kesalahan yang tidak pernah dilakukanny. Wahyu itu anak muda yang baik, baik akhlanya, soleh pula. Tak pernah dia menyentuh bibi. Apa lagi semapi berpikir memelet bibi yang di bicarakan oleh banyak orang. bibi merasa bersalah akan dia. sudah bibi terangkan pula kepada Abah mu, namun tidak ada yang mau mempercayai perkatan bibi. Bahwa Wahyu tidak bersalah. Akan kemana wahyu tinggal, lantaran dia tidak punya kerabat. Sungguh malang nasib mu. “
“ sudah lah bi, Jangan meyalahkan diri sendiri.”

Di hari itu pula wahyu meninggalkan kampungnya. Rumahnya kini kosong tak terurus lagi, di penuhi oleh debu, dihuni oleh serangga - serangga. Rokayah yang senantiasa menziarahi rumahya dengan harapan Wahyu akan pulang kembali. Namun yang dilihatnya hanya debu, sarang laba - laba yang memenuhi sudut rumahnya dan sampai saat ini pun tak tau kabar dan berita tentang kepergian Wahyu. entah iya mebunuh dirinya sendiri lantaran keputus asaan dalam menjalani hidup atau berada disuatu tempat yang pernah dicita citakanya. Atau kah berada disalah satu kampung yang anda huni.

September 2015

Biografi ku
Nama saya Sohib di lahirkan di salah satu daereh di Karawang,yaitu di Kelurahan Bayor Lor, Kampung Paris kidul pada tanggal 09 november 1993. Kini saya sedang menepuh kuliah di STKIP Siliwangi Bandung dan aktif di komunitas seni sastra Indonesia di singkat KSSI. Akun fb saya bihosmaulana@yahoo.co.id sedangkan email saya sastrasahabat@gmail.com.

 

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top