Friday

Perbedaan Puisi dan syair



Ilmubahasa.net - Salam hangat dari kami untuk anda sahabat imbas. Pada kesempatan yang baik ini, kami akan mengulas sedikit perbedaan antara puisi dan syair. Sebelumnya sahabat imbas sudah membaca tentang macam-macam syair bukan?. Masih jelas tentu dalam benakmu tentang syair, bukan? Tahukah kalian, kalau syair adalah nenek moyang puisi yang kini kalian kenal?, Perbedaannya jelas saja mencolok,mulai dari tipografi sampai bahasa yang digunakan. Kami berikan contoh puisi dan syair dibawah ini,
AKU
Karya Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku binatang jalang
Dari kumpulan yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka yang bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Deru Campur Debu, 1959:7)
===>> Ini adalah Puisi
Sementara itu, simaklah karya sastra berikut ini, kami berharap anda langsung paham perbedaannya

 Syair Siti Zubaedah
Inilah pesan dagang yang lata
kepada sekalian adik dan kakak
membaca syair jangan dikata
karena tulisan terlalu leta
Pesan kedua ikhlas di hati
kepada sekalian encik dan siti
pikirkan kisah dengan seperti
dari awal akhir ditamati
Encik dan tuan lebai dan haji
jika tuan berkehendak membeli
syair dan kitab banyak sekali
harganya murah tiada terperi ======>>> Ini adalah Syair

Perbedaan Puisi dan Syair

Berdasarkan salah satu contoh di atas, jelaslah bahwa puisi dan syair sangat jauh berbeda. Perbedaan utama terdapat pada bahasa. Puisi menggunakan bahasa Indonesia sedangkan syair bahasa Melayu lama. Namun, keduanya memiliki persamaan yakni bahasa yang digunakan bersifat kiasan, konotatif, dan mengandung unsur metafora. Artinya, katakata dalam puisi dan syair dipilih secara cermat sehingga memiliki makna yang lebih dalam, bukan makna sebenarnya dan multitafsir. Bahasanya yang konotatif dan berkias itu membuat bahasa puisi menjadi indah dan menarik untuk dihayati maknanya. Proses penghayatan terhadap puisi sehingga pembaca merasa memperoleh kenikmatan ketika membaca puisi termasuk salah satu proses apresiasi terhadap puisi. 

Proses apresiasi itu dapat dilakukan dengan banyak cara. Bisa membacanya dalam hati, mendeklamasikannya, atau menyanyikan lariknya. Proses melagukan larik puisi disebut musikalisasi puisi. Kegiatan ini sangat menyenangkan, karena kalian dipersilakan untuk menjadikan puisi sebagai lirik lagu dengan irama sesuka hatimu. Namun, tentu saja, harus selaras dengan tema puisi. Puisi berisi kesedihan, kematian, dan kegalauan tidak mungkin dinyanyikan dengan nada tempo cepat, begitu pula puisi kebahagiaan, semangat, atau perjuangan tidak mungkin dilagukan dengan nada lambat. Intinya, ketika mengaransemen sebuah musik untuk puisi unsur harmonisasi pun harus menjadi pegangan.
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top