Sunday

Analisis Intrinsik

Materi Bahasa Indonesia - Materi tentang unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik telah kamu dapat pada pelajaran sebelumnya. Itu artinya kamu telah mengerti dan memahami unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dalam sebuah karya sastra. Pada materi bahasa indonesia kali ini kamu akan belajar tentang menganalisis unsur intrinsik. Tentu bagi anda bingung, sebenarnya bagaimana caranya dan apa ang dimaksud dengan unsur intrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur yang berada di dalam karya sastra itu sendiri, yang meliputi tokoh dan penokohan, setting (latar) cerita, alur (jalan) cerita, sudut pandang penceritaan (point of view), dan tema penceritaan. 

Analisis Intrinsik

Nah.. Bagian-bagian di bawah ini adalah cara analisis intrinsik yang benar. Analisis intrinsik ini berlaku pada karya sastra cerpen ataupun novel ya teman-teman. Berikut adalah cara menganalisis unsur intrinsik novel atau cara menganalisis unsur intrinsik cerpen yang kami tulis untuk anda.

1. Tokoh dan Penokohan
Peristiwa dalam cerita seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diperankan oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Pelaku yang memerankan peristiwa dalam cerita sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Istilah tokoh merujuk pada orangnya, pelaku cerita. Keberadaan tokoh dapat dihubungkan dengan jawaban terhadap pertanyaan: “Siapakah tokoh utama novel itu?”, atau “ada berapa orang jumlah pelaku dalam novel itu?” Jika menghadapi suatu cerita, orang selalu bertanya, “ini cerita (tentang) siapa?” atau “siapa pelaku cerita ini?” (Sudjiman, 1988:16). Tokoh dalam cerita seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita, selalu memiliki watakwatak tertentu. Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Pengarang mengunakan beberapa teknik dan cara untuk menghadirkan tokoh dalam novel yang dihasilkannya.

Ditinjau dari segi keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh dibedakan menjadi dua, yakni tokoh sentral atau tokoh utama dan tokoh periferal atau tokoh tambahan (bawahan). Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Sebaliknya, tokoh tambahan (bawahan) hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita dengan porsi penceritaan yang pendek.

Pemunculan tokoh tambahan tidak dipentingkan dan kemunculannya harus ada keterkaitan dengan tokoh utama, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tokoh sentral biasanya merupakan tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita. Peristiwa atau kejadiankejadian itu menyebabkan terjadinya perubahan sikap dalam diri tokoh dan perubahan pandangan kita sebagai pembaca terhadap tokoh tersebut. Untuk menentukan tokoh utama atau tokoh sentral dalam sebuah cerita dapat dilakukan dengan tiga cara.
Pertama, tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema.
Kedua, tokoh itu yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain.
Ketiga, tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.

Tokoh dalam cerita juga dapat dibedakan berdasarkan fungsi penampilan tokoh dalam keseluruhan cerita. Fungsi penampilan tokoh merupakan keberadaan tokoh dihubungkan dengan perilaku pembaca yang sering melakukan identifikasi dan melibatkan diri secara emosional dengan tokoh-tokoh yang ada dalam novel. 

Berdasarkan fungsi penampilan, tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan refleksi dari norma dan nilai yang ideal bagi kita.Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Tokoh yang menjadi penyebab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis. Pada umumnya tokoh antagonis selalu beroposisi (berlawanan) dengan tokoh protagonis baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam bahasa yang sederhana, kalau tokoh protagonis memunculkan perilaku kepahlawanan (hero), tokoh antagonis melahirkan perilaku yang dianggap antipati (jahat).

2. Setting (latar) Cerita
Sebuah karya fiksi, baik cerpen maupun novel, harus terjadi pada suatu tempat dan dalam suatu waktu, seperti halnya kehidupan ini yang juga berlangsung dalam ruang dan waktu. Unsur yang menunjukkan kepada kita di mana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut setting ’latar.’ Dengan demikian, yang termasuk di dalam latar ini ialah tempat atau ruang yang dapat diamati, seperti di sebuah desa, di kampus, di dalam sebuah penjara, di rumah, di kapal, dan seterusnya; waktu, hari, tahun, musim, atau periode sejarah, seperti di zaman revolusi fisik, di saat upacara sekaten, di musim kemarau yang panjang, dan sebagainya (Suminto, 2000).

Dalam bentuknya yang konkret dapat disebutkan sebagai contoh bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Kubah berlangsung di Pulau B, di Pagetan, di istana Lopajang, di rumah, di sawah, di masjid, di jalan, dan seterusnya; pada masa sebelum geger  Oktober 1965, pada masa sesudah geger Oktober 1965, sesudah Pengakuan Kedaulatan pada tahun 1949, pada tahun 1971, dan seterusnya, di lingkungan petani, di lingkungan politikus, di kalangan tahanan politik, dan seterusnya. Deskripsi latar dalam karya sastra secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian, yakni latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat adalah hal yang berkaitan dengan masalah geografis, latar waktu berkaitan dengan masalah historis, dan latar sosial berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan.
Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu peristiwa cerita yang terjadi, misalnya latar tempat dalam Kubah, yang menunjuk latar pedesaan, perkotaan, atau latar tempat lainnya. Melalui tempat terjadinya peristiwa diharapkan tercermin pemerian tradisi masyarakat, tata nilai, tingkah laku, suasana, dan hal-hal lain yang mungkin berpengaruh pada tokoh dan karakternya.

Latar waktu mengacu kepada saat terjadinya peristiwa, dalam plot, secara historis. Melalui pemerian waktu kejadian yang jelas, akan tergambar pula tujuan fiksi tersebut secara jelas pula. Rangkaian peristiwa tidak mungkin terjadi jika dilepaskan dari perjalanan waktu, yang dapat berupa jam, hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan zaman tertentu yang melatarbelakanginya.

Latar sosial merupakan lukisan status yang menunjukkan hakikat seorang atau beberapa orang tokoh di dalam masyarakat yang ada di sekelilingnya. Statusnya di dalam kehidupan sosialnya dapat digolongkan menurut tingkatannya, seperti latar sosial bawah atau rendah, latar sosial menengah, dan latar sosial tinggi.

3. Alur (jalan) Cerita
Seorang penulis cerita harus menciptakan plot atau alur bagi ceritanya itu. Hal ini berarti bahwa plot atau alur cerita sebuah fiksi menyajikan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian kepada pembaca tidak hanya dalam sifat kewaktuan atau temporalnya, tetapi juga dalam hubungan hubungan yang sudah diperhitungkan. Dengan demikian, alur sebuah cerita akan membuat pembaca sadar terhadap peristiwa-peristiwa yang dihadapi atau dibacanya tidak hanya sebagai subelemen-subelemen yang jalin-menjalin dalam rangkaian temporal, tetapi juga sebagai suatu pola yang majemuk dan memiliki hubungan kausalitas atau sebab akibat. Struktur alur sebuah fiksi dapat dibagi secara umum menjadi tiga bagian, yaitu awal, tengah dan akhir. Struktur alur dapat dirinci lagi ke dalam bagian-bagian kecil lainnya.

Pada awal cerita pengarang melakukan eksposisi memperkenalkan tokoh dan melukiskan keadaan tertentu. Tokoh-tokoh mulai menunjukkan perilaku tertentu, misalnya berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sehingga lahirlah peristiwa dan konflik tertentu. Dari titik ini peristiwa atau keadaan mulai menanjak masuk ke dalam komplikasi tertentu: persentuhan konflik, perbenturan antara kekuatan-kekuatan tertentu yang saling berlawanan. Komplikasi ini menanjak mencapai titik puncak tertinggi: klimaks, yang tidak dapat dipertinggi lagi. Klimaks merupakan lanjutan dari komplikasi sebelumnya, juga merupakan kelanjutan dari perkembangan karakter tokoh dalam jaringan konflik yang wajar dan masuk akal. Puncak komplikasi yang tertinggi memerlukan penyelesaian atau pemecahan. Pada perkembangan titik ini pembaca disuguhi suatu pergumulan konflik dengan tegangan yang terkuat, dan akhirnya meluncur menuju akhir: denoument.

4. Sudut Pandang Penceritaan
Menceritakan suatu hal dalam karya fiksi, pengarang memilih sudut pandang tertentu untuk menyajikan cerita. Bisa saja pengarang berdiri sebagai orang yang berada di luar cerita dan mungkin pula ia mengambil peran serta dalam cerita itu. Sudut pandang atau pusat pengisahan (point of view) dipergunakan untuk menentukan arah pandang pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di dalam cerita sehingga tercipta suatu kesatuan cerita yang utuh. Sudut pandang menyangkut masalah teknik bercerita, yakni soal bagaimana pandangan pribadi pengarang akan dapat terungkapkan sebaik-baiknya dalam cerita. Untuk itu, pengarang harus memilih tokoh manakah yang akan disuruh bercerita. Sudut pandang menyangkut masalah pemilihan peristiwa yang akan disajikan, menyangkut masalah ke mana pembaca akan diarahkan atau dibawa, menyangkut masalah apa yang harus dilihat pembaca, dan menyangkut masalah kesadaran siapa yang disajikan. Secara garis besar sudut pandang dibedakan menjadi dua kelompok, yakni

(1) sudut pandang orang pertama: akuan,
(2) sudut pandang orang ketiga: diaan.

Pada kelompok akuan, pembaca akan merasa lebih dekat dengan segala peristiwa yang tersaji dalam fiksi. Sebaliknya, pada kelompok diaan pembaca terasa agak berjarak segala peristiwa yang tersaji dalam fiksi.

5. Tema Penceritaan
Dalam pengertiannya yang paling sederhana, tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Wujud tema dalam karya sastra, biasanya, berpangkal pada alasan tindak atau motif tokoh. Tema dalam karya sastra umumnya diklasifikasikan menjadi lima jenis, yakni tema physical ‘jasmaniah’, tema organic ‘moral’, social ‘sosial’, egoic ‘egoik’, dan divine ‘ketuhanan.’ Tentu, tema fiksi masih dapat diklasifikasikan dengan cara selain ini, misalnya tema tradisional dan tema modern. Klasifikasi di atas lebih merupakan pembagian yang didasarkan pada subjek atau pokok pembicaraan dalam fiksi. Tema jasmaniah merupakan tema yang cenderung berkaitan dengan keadaan jasmani seorang manusia. Tema jenis ini terfokus pada kenyataan diri manusia sebagai molekul, zat, dan jasad. Oleh karena itu, tema percintaan termasuk ke dalam kelompok tema ini.

Karya sastra populer yang banyak melibatkan tokoh-tokoh remaja yang sedang mengalami fase “bercinta” merupakan contoh fiksi yang cenderung menampilkan tema jasmaniah. Tema organic diartikan sebagai tema tentang ‘moral’ karena kelompok tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral manusia, yang wujudnya tentang hubungan antarmanusia, antarpria-wanita. Tema sosial meliputi hal-hal yang berada di luar masalah pribadi, misalnya masalah politik, pendidikan, dan propaganda. Tema egoik merupakan tema yang menyangkut reaksi-reaksi pribadi yang pada umumnya menentang pengaruh sosial.

Tema ketuhanan merupakan tema yang berkaitan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Pada pembahasan di atas terlihat bahwa setiap cerita yang disajikan merupakan refleksi dari peristiwa atau kejadian dalam kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. Oleh karena itu keterkaitan antara isi dalam cerita dengan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat akan bisa diungkapkan dan dijelaskan. Perhatikan penggalan cerita berikut!
“Beberapa bulan lagi Badri akan genap tiga puluh tahun. Dibandingkan dengan angkatannya, ia sudah dipandang sangat terlambat memperoleh istri. Bukan karena telunjuknya bengkok ataupun kompong, melainkan idealismenya yang meluap-luap dalam lapangan sosial dan kebudayaan. Ketika ia menyadari bahwa perjuangan tidak akan selesai meski ia akan hidup terus sebagai jejaka, namun untuk memperoleh seorang tidaklah begitu mudah baginya. Ada tiga macam halangan yang tidak begitu mudah ditembus akal sehatnya. Demi turunannya, agar generasi muda masa mendatang tidak lagi pendekpendek potongan tubuhnya, ia merindukan seorang gadis yang tinggi semampai. Paling kurang 160 cm tingginya. Dan itu tidak mudah ditemuinya dalam masyarakat yang berbakat pendek. Halangan lainnya, karena Badri berdarah campuran yang dianggap kurang bermutu menurut pandangan adat minangkabau yang lebih menyukai perkawinan awak sama awak. Halangan lain, ialah kalkulasi biaya hidup yang tak kan klop lagi bila ia nikah.”

Penggalan cerita di atas secara sepintas menceritakan tentang idealisme seorang tokoh yang bernama Badri tentang kehidupan berumah tangga yang bakal dijalaninya. Tentang harapan mendapatkan pasangan dengan tinggi 160 cm, tentang kalkulasi biaya hidup yang akan ditanggung bila kelak ia menikah dan tentang kualitas dirinya yang dianggap sebagai produk kurang bermutu di mata budaya Minangkabau. Kegalauan seorang Badri pun tentunya ada dan banyak ditemui di dalam kehidupan nyata bermasyarakat.

Nah... Kalian sudah mengerti bukan sekarang tentang analisis Intrinsik. Analisis intrinsik ini berlaku pada novel dan cerpen. Sehingga setelah kalian membaca ini, diharapkan bisa menerapkannya langsung pada tugas atau tulisan kalian. Sebarkan artikel ini jika bermanfaat bagi anda dan berikan komentar anda pada kami sebagai wujud apresiasi anda terhadap kami. Semoga tulisan yang tidak sempurna ini bermanfaat bagi anda. Salam kami
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top