Friday

Kumpulan Cerpen Online - Luka Telah Menyapa Cinta

ilmubahasa.net - Berikut ini adalah salah satu cerpen koleksi kami yang kami kutip dari  Cerpen “Luka Telah Menyapa Cinta” Asma Nadia. Semoga Kami bisa menghibur anda. Selamat membaca.

kumpulan cerpen online

Kau bertanya pada Mak tentang cinta. Usiamu kala itu sebelas tahun.
teman-teman sekolah suka menggodamu dengan kata itu. “Cinta itu apa, Mak?”
tanyamu dalam logat Malaysia yang kental.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Kenapa tak kau tanyakan masalah
sepenting ini pada Mami dan Papi, Cinta?
“Mak macam tak tahu saja. Mami Papi busy terus. Bila pula Cinta nak
ketemu mereka?” Jawabanmu tepat sasaran. Kesibukan dua orang tuamu
memang luar biasa. Belum dengan waktu yang sedikit kau masih harus berbagi
pula dengan tiga adik perempuan, yang hanya berjarak satu atau dua tahun.
Kecuali si kecil, Aminah yang baru berusia enam bulan. Bocah mentel itu hadir
di tengah-tengah langkah awalmu menginjak usia remaja. Apa yang bisa Mak
cakap, begitulah adanya. Dua orang tuamu ketika pulang, langsung disibukkan
terutama oleh ulah si kecil. Dan Cinta? Mau tak mau tampaknya Emak yang
dungu ini yang harus menjelaskan rasa ingin tahumu, ya?
“Cinta itu ...” Aku merangkai kata, dengan pandangan serona mawar.

****
Mestinya cinta sesuatu yang indah. Namun, hingga usiaku kala itu, menjelang
lima puluh tahun, tak juga kumengerti arti kata yang cuma lima huruf itu. Apa
suatu saat aku akan mengerti? Entah. Tak tahu, Mak, Cinta.
“Mak tak pendidikan tinggi macam Mami dan Papi kau, Cinta.”
“Tak soallah, Mak jawapkan saja soalan itu.”
“Mak pikir, cinta itu istimewa. Dia memberi kemampuan tanpa batas untuk
memberi pada yang dicintai. Puas kau sekarang?”
Jujur, Mak belum puas, ucapku dalam hati.
Waktu itu kudapati kau merunduk. Rambutmu yang panjang menyentuh
pinggang bagai ikut tepekur beberapa lama.
“Menurut Mak, cintakah Mami dan Papi pada Cinta?”
“Tentu saja mereka sayang dan cintakan kau, Cinta! Pertanyaan apa pula
tu’?” suaraku tegas menepis keraguanmu. Lalu dengan mata polos yang tak
kudustai, kudengar kalimatmu bernada sedih.
“Tapi mereka tak ada ketika Cinta perlukan? Mereka always busy. Mereka
tak memberi . . . kecuali uang! Kalau cintakan kami, kenapa mereka tak hendak
play dengan kami. Tak membacakan story ketika kami nak tidur?”
Ah, Cinta. Tak tahukah kau biaya kehidupan tinggi di mana-mana? Belum
Mami dan Papimu masih harus menyimpan untuk tabungan masa tua pada kas
negara. Begitulah yang berlaku di Malaysia. Tapi semua jerih payah itu tentu
saja untukmu dan adik-adik. Kau beruntung Cinta, tak harus berjauhan dengan
Mamimu. Tidakkah kau bayangkan kalau seorang ibu harus berpisah dengan
anaknya sedemikian jauh? Seperti Mak dan temen-temen Mak lain yang
meninggalkan negri dan mencari nafkah di negri orang? Menerima teguran keras,
makian, kadang penyiksaan?
Kala berpikir seperti itu, Mak menyukuri hingga setua ini tak ada yang
menikahi Mak. Hingga Mak tak perlu tinggalkan darah daging Mak. Pasti
menyakitkan berjauhan dengan yang kita . . . cintai.
Tapi apa itu cinta, Cinta?
Tiga bulan kemudian kau memberi kabar, Mami akan melanjutkan kuliah
S2-nya di KL. Itu berarti kalian akan semakin jarang bertemu dengan Mami.
Dan Cinta? Meski menerima semuanya dalam diam. Tapi dari manarasumber,
Mak tahu . . . kau masih bertanya tentang cinta yang mereka miliki untuk kalian.

****

“Mak, Cinta tu apa bendanya ke?”
Kau masih bertanya hal yang sama. Sudah dua tahun berlalu, dan kau masih
saja merecoki Mak tua ini dengan masalahmu yang kini sudah akil baligh.
Aku masih menyusun jawaban. Adikmu Laila dan Laili sedang bermain
play station di atas, dan Aminah, si bungsu sudah tertidur pulas di kamar Mak
yang hanya disekati kain gorden tua yang kumal. Setelah seperti biasa tak lupa
Mak harus mendendangkan lagu-lagu melayu tiga-empat kali refrain, untuk
meninabobokannya. Berbusa rasanya mulut tua Mak ni.
“Kau mau kita cuba tengok dari buku?”
Kepalamu yang dikuncir ekor kuda bergoyang-goyang. Wajahmu memerah
karena gembira. Seperti sapuan pemerah pipi tertumpah semua padamu.
Aku mengajakmu ke kamar narasumber, di mana Mami dan Papimu biasa
menyusun buku-buku mereka dalam sebuah perpustakaan keluarga.
“Cuba, kau tengoklah mana-mana yang berhubungan dengan cinta?”
Manarasumber yang besar cepat melalap judul-judul buku yang berderetderet.
Tentunya orang-orang besar, tokoh-tokoh dunia punya definisi mereka
sendiri tentang cinta. Itu pikiran sederhana Mak. Paling tidak menyibukkanmu
dengan buku-buku di sini, bisa menjadi penawar rindu bagi dahagamu aakan
kasih Mami dan Papi yang selalu bepergian. Itulah maksud orang tua ini waktu
itu.
“Mak, tengoklah!”
Dari Rumi. Kubaca kalimat-kalimat singkatnya tentang cinta.
“Dengan cinta, yang pahit menjadi manis.
Dengan cinta, tembaga menjadi emas.
Dengan cinta, sampah menjadi jernih.
Dengan cinta, yang mati menjadi hidup.
Dengan cinta, raja menjadi budak.Dan, hanya dari ilmu cinta itu dapat
tumbuh.”
“Indah ya Mak! Luas kali makna kata tu ya Mak?”
Semua memang tak Mak keluhkan depan Mami dan Papimu. Tapi Mak
sering tak mengerti. Dua orang tua kalian kaya raya sebetulnya, kenapa tak
perhatikan hal-hal seperti itu?Kenyamanan dan kesehatan kalian semua? Mak
bahkan tak ingat kapan terakhir kali Mami menengok kalian di kamar, untuk
sekedar mengecek, atau mencium pipi kalian. Tapi tak cintakah mereka pada
kalian? Mak sungguh merasa bukan itu alasannya. Tapi Apa?

****

“Mak, kawan cinta . . . . “
“Ya? Kenapa dengan kawan kau tu?”
“Dia . . . .”
Kau tak bisa melanjutkan kata-katamu. Wajahmu yang bulat telur memerah
malu. Tersipukah anak Mak ni?”
“Apa pasal kawan kau tu, Cinta?”
Usiamu enam belas tahun. Kau sudah besar, tak lagi kanak-kanak. Wajahmu
mewarisi kecantikan gadis-gadis Melayu. Ayu, rambut panjangmu melampaui
pinggang, menambah daya tarikmu.
“Dia kawan sedarjah Cinta.”
Kau tahu Mak masih menunggu kelanjutan kalimatmu. Tapi yang terjadi
justru wajahmu kian membias merah. Astaga . . . apakah cinta itu . . . .
“Kau cintakan dia, Cinta?”
Cinta tak mengangguk. Juga tak menggelang.
Mata Mak yang membelalak takjub, tak kuat kau pandang. Pelan-pelan
kepala itu menunduk.
“Tapi apa kau mengerti, Cinta, apa itu cinta?”
“Entahlah Mak. Tapi Cinta suka berada dekatnya.”
“Dan itu cinta?”
Kau tak menjawab. Hanya wajahmu kian bersemu.
“Apakah ia menyentuh?”
Cinta terbelalak. kelopak matanya yang lentik dibuka lebar-lebar.
“Tak bolehkah, Mak? Kami cuma pegang tangan. Kami . . . tak macammacam.”
Mendengar nada suaramu yang tinggi, dan penuh protes, Mak sempat
terdiam. Lama. Kau yang tersinggung, meninggalkan Mak di teras. Naik ke
kamarmu di lantai dua.
Usiamu enam belas. Dan itu pertengkaran pertama kita. Tidakkah kau ingat,
Cinta?
Percakapan itu berlalu bagai angin. Momen yang seharusnya Mak
manfaatkan dengan lebih baik, andai Mak tak keburu apriori terhadap gejolak
yang kau rasa. Sayang, kesempatan itu terlepas. Dan seperti angin, entah kapan
Mak bisa menangkapnya kembali.
Yang Mak tahu, sejak itu, kita tak lagi seakrab biasa. Pulang sekolah, kau
sering melewatkan masakan Mak, dan tergesa-gesa mengunci diri di kamar.
Mendengarkan lagu-lagu cinta Siti Nurhaliza, atau Dayang Fauziah. Mak
bersedih. Lebih bersedih, karena tampaknya kedua orang tuamu tak menyadari
perubahan dan gejolak rasa dirimu. Betapa kau butuh perhatian mereka, agar
dunia cinta yang baru kau kenal tak menyesatkanmu. Tapi mereka tak pernah
ada. Katakan Cinta, apa yang Mak bisa buat?

***
Jarak di antara kita kian terbentang, saat tujuh belas usamu. Mak bukan
tak ingin memperbaiki sikap dan mencoba lebih mengerti. Tapi kesibukan dengan
ketiga adikmu pun menuntut perhatian. Sementara dua orang tuamu sibuk dengan
urusan mereka.
Mak sedih. Kau seolah tak membutuhkan lagi nasihat orang tua ini. Asyik
dengan dirimu sendiri. Tidak satu dua kali, Mak perhatikan kau sering pulang
terlambat, kadang sampai larut. Anehnya, dua orang tuamu seperti tak ingat
ketidakberadaanmu.
Pakaianmu mulai dipendek-pendekkan, atau dibuat pas melekat di
badanmu. Memberi citra gadis muda yang baru belia. Bagai buah ranum yang
memesona mata. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, Mak menemukan kau
mulai berdandan. Lipstik dan pemerah pipi, yang sebelumnya tak perah kau
sentuh, kini tak pernah absen dari tasmu.
Puncaknya pada malam valentine’s, kau pergi bersama teman-teman, dan
tak pulang, meski semalaman Mak menanti. Ke mana kau, Nak? Kenapa tak
pulang?
Pukul delapan pagi. Dua orang tuamu baru saja berangkat ke tempat mereka
bekerja. Dan kau pulang dengan sedikit terhuyung. Lelah jelas tampak di
wajahmu. Tapi senyum tak putus-putus yang tersungging, mulai mengkhawatirkan
Mak. Cinta, apa yang terjadi? Berceritalah pada Mak.
Mak menunggu dan menunggu. Tapi kau tak berkata apa-apa. Hanya
tersenyum dan tersipu-sipu. Hari-hari berikutnya berlalu, kau masih seperti itu.

****

Hari itu, tak akan pernah terlupa dari benak Mak. Kau pulang, menangis
terisak. Di belakangmu, Mami menyusul dengan raut wajah amarah. Kau berlari
ke atas kamar, dan menguncinya rapat-rapat. Mami yang masih tampak kesal
mengejarmu. Pertengkaran terjadi di antara kalian. Mak dengar Mami setengah
berteriak, lalu menguras isi kamarmu. Kaset-kaset cinta kesayanganmu, lagulagu
boysband yang kalian gandrungi, dilemparkan Mami ke bawah anak tangga.
Juga majalah-majalah remaja. Surat-surat cinta.
Mak memunguti satu-satu dengan wajah ikut bersimbah air mata. Tak
tega rasanya melihat kau dimarahi sedemikian.
“Biar Mak! Tak usah dirapikan. Biar dibuang ke tempat sampah.”
“Halimah, apa hal?”
“Tak tahu ke? Anak itu sudah tak kena diatur lagi. Mak lihat kan kelakuannya
yang sudah tak patut? Tak kena dihajar. Buang semua itu, Mak!”
“Jangan terlampau keras kau padanya, Halimah!” pinta Mak serak, di antara
sedu sedan yang terdengar dari kamarmu.
Mami menarik napas. Wajahnya yang cantik masih gusar. Lalu berlalu ke
kamarnya sendiri. Menyibukkan diri di depan komputernya berjam-jam.
Rasa hati, ingin Mak memelukmu, Cinta. Seperti masa kau kecil dulu.
Tapi teriakan adik-adikmu, membuat Mak harus menyeret langkah tua ini ke
bawah, dan urung menghiburmu.
Apa yang kau lakukan dan membuat Mami marah? Mak tak setuju
tindakannya yang drastis padamu. Apalagi mengingat sebelumnya Halimah tak
pernah memperhatikan dunia remajamu. Macam mana pula ia akan mengerti
masa transisi yang kau alami?
Itulah orang tua, Cinta. Meskipun semua ia lakukan atas nama cinta, tak
semuanya bijaksana. Tak semua benar. Ada salah. Ada saat mereka lupa,
bahwa semua orang perlu proses. Betapa hubungan orang tua dan anak perlu
dibina dan diproses. Ah, berat hati Mak di sini, semakin hari, sayang.

****



Kalau ada petir nak memekik, rasanya tak akan mengagetkan dan
menghancurkan hati Mak seperti kabar yang kau sampaikan.
“Dia cakap, dia cintakan Cinta, Mak. Makanya dia selalu ingin dekat
dengan Cinta. Dia cakap pula, karena selalu mau dekat, dia menyentuh Cinta.
Dia cakap idalam cinta tak boleh selfish. Harus ada take and give. Makanya
Cinta ... Cinta pregnant, Mak ...”
“Cinta ... kau ... kau mengandung, Nak?” Wajahmu yang pucat basah air
mata. Anggukan kecil kepalamu. Dunia Mak seperti berhenti dari gerak
putarnya.
Kenapa Cinta? Kenapa? Suara-suara masa lalu, yang berpuluh tahun Mak
coba lupakan, tiba-tiba menguak ingatan Mak kembali.
“Anak sial! Bikin malu orang tua! Ke mana harus Bapak taruh muka
Bapak, Surti!”
“Kak, kenapa Kakak tega memberikan aib pada Emak?”
“Kau ...” Tatapan Emak yang menyayat ... mulutnya yang pucat bergetar
ketika mengucapkan kata-kata yang menjadi kalimat terakhir yang pernah
didengarnya, “Mulai sekarang kau bukan anak Emak lagi!”
Baju, sekolah, keluarga, kasih sayang Emak, masa depan ... semua terpaksa
Emak tinggalkan.
Begitulah perempuan tua ini harus menjadi orang upahan seumur hidup. Itu
mungkin tak seberapa. Tapi terasing? Sendiri hingga tua? Tak diakui keluarga?
Terampas dari masa depan sebelum Mak sempat membangunnya?
Bayangan Mak menjalani hari-hari dalam kehamilan muda, tanpa lelaki
yang menabur benih mau bertanggung jawab, masih melekat kuat. Berjalan
tertatih... bekerja apa saja, sampai kandungan Mak besar ... Lalu dukun beranak
yang mengatakan dengan suara sendu, “Anakmu meninggal.”
Memang tak pernah, Mak menceritakan ini padamu. Akan serupakah
nasib kita sayang? Kau menatap Mak, bertambah bingung dengan kediaman
perempuan tua ini.
“Mak...,” panggilmu
“Mak...”.
Mata Mak mengabur ... seluruh sendi lemas. Dan di hadapan, kau tertunduk
beruah air mata.
“Mak. cinta itu apa bedanya tu ?”
Cinta kecil berjongkok depan Mak. Seperti sekarang.
Cinta, andai Mak bisa menjelaskan kembali, akan Mak ceritakan semua
tentang cinta. Juga cinta-cinta masa muda, yang bahkan bukan apa-apa. Andai
Mak bisa jelaskan semua ... Andai ...
Isak Cinta masih terdengar, di antara isak perempuan tua , dalam rumah
bertingkat dua. 

Semoga menambah khasanah dan menghibur anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top