Wednesday

Cerita Novel Online - Telepon

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Sori Siregar
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun         : 1882


Cerita Novel Online - TeleponDaud bekerja pada sebuah toko di Jakarta. Sebetulnya ia sudah sangat bosan dengan pekerjaannya. Namun, karena tak ada pekerjaan lain, ia terpaksa melakukannya juga. Daud mempunyai hobi yang tak biasa, ia gemar sekali menelepon. Kegemaran yang dimulai dari iseng-iseng itu lama-kelamaan menjadi semacam kebutuhan. Ia tak peduli kapan, di mana, dan kepada siapa ia menelepon. Yang penting, apabila hasrat hatinya untuk menelepon sudah terpenuhi, ia akan segera senang. Ia seakan terbebas dari beban yang mengimpitnya.

Demikianlah, telepon yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang baik, berubah fungsinya di tangan Daud. Ia menggunakan telepon untuk mengancam, menakut-nakuti orang yang diteleponnya walaupun dalam hatinya tak ada niat jahat. Ia hanya ingin melampiaskan keinginan˗˗yang tak dapat dihindarinya˗˗yang timbul sesaat.

Orang yang pertama kali ditakut-takutinya adalah Tajudin, direktur perusahaan yang telah memecat Burhan, teman Daud. Lalu Ibu Suroso, pelanggan tetap toko buku tempat Daud bekerja. Daud sangat puas setelah menakut-nakuti mereka dengan ancaman atau omongan yang sama sekali tak ada faktanya. Pada malam hari setelah Daud menakut-nakuti mangsanya, ia akan membayangkan keadaan orang yang menjadi korbannya itu. Kadang-kadang terbersit rasa sesal di hatinya, apalagi bila yang ditakut-takutinya itu adalah orang yang baik, seperti Ibu Suroso.

Demikianlah, perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu ketika, Lisa˗˗kekasihnya˗˗memergokinya. Daud terpaksa mengakui perbuatan yang telah dilarang pacarnya itu. Akibatnya, Lisa mengancam akan memutuskan hubungan mereka. Ancaman Lisa membuat takut dan berjanji sekali lagi untuk tidak mengulangi perbuatan yang merugikan orang lain. Namun, untuk menghentikan kegemarannya itu, ternyata tidaklah semudah seperti mengucapkannya; ia tetap menelepon orang-orang yang menurutnya harus diancam.

Rupanya perasaan Daud tidak selamanya tenang. Hal itu terjadi ketika ia iseng-iseng menelepon seseorang. Orang menerima telepon itu mengaku sebagai orang yang dimaksud Daud, padahal ia menyebutkan sekadar nama yang tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya.

Sejak peristiwa itu Daud mulai dihinggapi rasa gelisah; dan kegelisahan itu memuncak ketika tanpa diduga ia menerima telepon dari sekretaris Tajudin yang memberitahukan bahwa Tajudin telah mengetahui siapa yang mengancamnya, yaitu Daud. Lebih jauh bahkan telah meminta polisi untuk menangkap Daud dengan alasan melakukan ancaman pembunuhan disertai bukti-bukti berupa rekaman pembicaraan telepon.

Daud mulai menduga-duga bahwa telah terjadi pengkhianatan terhadap dirinya. Ia menduga Lisa dan Burhanlah yang melakukannya, karena hanya kedua orang tersebut yang mengetahui kegemaran Daud. Namun, ternyata bukan mereka. Lalu siapa?

Dalam kegelisahan itu, Daud mulai menimbang-nimbang untuk menghentikan ancaman-ancaman lewat telepon, seperti yang disarankan Lisa dan Situmeang, teman seperantauan Daud. Usaha yang dilakukannya adalah tidak melakukan kontak telepon dengan siapa pun. Di dalam dirinya telah timbul rasa ngeri jika melihat telepon. Ia juga sudah berpikir untuk meminta maaf kepada orang-orang yang telah menjadi korbannya.

Hal yang tak diduga sama sekali oleh Daud adalah ketika Simangunsong datang ke rumah kontrakannya di Kebon Kacang. Yang lebih mengejutkan lagi ketika tiba-tiba ia dipukuli sahabat seperantauannya itu. Simangunsong berang karena perayaan pernikahan adik sepupunya berantakan akibat ulah seorang penelepon gelap mengatakan bahwa di tempat pesta itu terdapat bom yang sewaktu-waktu dapat meledak. Para undangan tentu saja bubar begitu mendengar berita yang kemudian terbukti hanya omong kosong itu. Simangunsong berkesimpulan bahwa penelepon gelap itu tak lain adalah Daud. Padahal bukan. Kalau bukan Daud, lalu siapa?

Simangunsong lalu mencari informasi siapa pengacau itu. Terungkaplah bahwa pelakunya seorang wanita yang kehilangan anak yang sedang dikandungnya. Ia kesepian di rumahnya yang besar, dan untuk membunuh rasa sepinya, setiap hari ia menelepon siapa saja. Kegemaran yang sudah menjadi semacam penyakit itu, kabarnya akan hilang jika wanita itu dikaruniai seorang anak lagi.

Akan halnya Daud, ia terpaku mendengar cerita Simangunsong itu. Di dalam benaknya terlintas telepon dari seorang wanita yang nada suaranya begitu kesepian. Timbul rasa takutnya: apakah dirinya seperti wanita itu? Daud membayangkan, jangan-jangan dia tidak waras seperti wanita itu. “Daud merangkul Simangunsong, membenamkan wajahnya ke dada sahabatnya itu dan tersedu di sana.

Di tengah-tengah keheningan ruangan itu, suara Simangunsong terdengar jelas. “Tidak. Kau tidak sakit, Daud. Kau tidak sakit” (hlm. 96).

                                                                ***
Judul novel ini, Telepon, mengisyaratkan bahwa akan terjadi komunikasi antaranggota masyarakat lewat hasil peradaban manusia. Novel ini adalah pemenang harapan Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top