Monday

Cerita Novel Online - Rafilus



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Budi Darma
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1988

Cerita Novel Online - RafilusJika dikatakan bahwa Rafilus telah mati dua kali dan badannya tidak terbuat dari daging, melainkan dari besi itu tidak akan hancur, itu sebenarnya hanyalah pikiran Tiwar saja yang sering ngelantur kemana-mana. Memang, pikiran Tiwar yang membayangkan macam-macam itu, sering tidak hanya membuatnya hanyut ke dalam dunia yang ia bayangkan sendiri, melainkan juga merasa bahwa bayangannya itu benar-benar terjadi. Di mata Tiwar atau orang-orang yang kebetulan berjumpa dengan Rafilus, lelaki itu telah mengundang banyak perhatian. Kadang-kadang kulitnya mengkilap seolah-olah tubuh Rafilus benar-benar dari besi. Matanya merah mirip mata setan, kalau ia benar-benar setan. Demikian pikiran Tiwar sering merasa terganggu oleh sosok tubuh Rafilus.

Suatu ketika Tiwar memenuhi undangan Jumarup, hartawan dan dermawan yang sudah terkenal di Surabaya. Jumarup yang menyelenggarakan pesta khitanan anaknya mengundang banyak orang  yang sebenarnya tidak dikenalnya, termasuk Tiwar dan Rafilus. Ternyata, Jumarup, anaknya, dan kerabat keluarganya tidak hadir dalam pesta itu. Jadi, para tamu hanya dilayani oleh para pelayannya. Pada saat itulah, Tiwar berkesempatan untuk mengamati kembali Rafilus. Semakin ia mengamati, semakin keanehan-keanehan dalam diri Rafilus.

Sementara Tiwar berusaha mendekati Rafilus, sekadar untuk dapat berbincang-bincang dengannya, ketidakhadiran Jumarup telah membuatnya sangat kecewa. Ia menduga, Jumarup mengundang semua orang yang tak dikenalnya itu semata-mata agar orang tahu keadaan rumahnya, atau memang sengaja untuk menghina semua orang. Belakangan diketahui bahwa ketidakhadiran jutawan itu karena ia jatuh sakit dan penyakitnya makin parah.

Tiwar rupanya masih juga penasaran. Rafilus tetap bagai makhluk aneh bagi Tiwar. Oleh karena itu, ketika opas Munandir mengantar surat Pawestri untuk Tiwar, ia lebih suka menanyakan asal-usul Rafilus kepada opas pos itu. Dari cerita Munandir, sedikit banyak diketahui tempat tinggal dan kebiasaan Rafilus. Konon Munandir sering pula diberinya makan dan sejumlah uang yang tidak sedikit. Rupanya Rafilus selalu berusaha berbuat baik kepada opas pos itu. Dari cerita Munandir pula diketahui pula bahwa Rafilus memiliki kekuatan yang hampir sama denganVan der Klooning, seorang Belanda yang hidup sendiri seperti halnya Rafilus. Namun, perlakuan Rafilus dan Van der Klooning sangat berlawanan dengan seorang Belanda lainnya. Belanda yang satu itu bernama Jaan van Kraal. Ia selalu memperlihatkan sikap bermusuhan dengan setiap orang yang datang ke rumahnya, termasuk juga Munandir yang secara tetap menyampaikan surat maupun wesel pos.

Tiwar juga secara tetap menerima surat dari Pawestri. Tentu saja ia menerima surat itu melalui Munandir. Sang opas pos yang belakangan diketahui sudah pensiun. Pertemuan Tiwar dengan Pawestri yang berkembang jadi korespondensi bagi keduanya, terjadi sekitar lima bulan sebelum Tiwar bertemu dengan Rafilus. “Saya bertemu dengan Pawestri untuk pertama kali di kantor ‘Surabaya Kota’…” (hlm. 55), demikian pengakuan Tiwar. Kejadiannya bermula dari hal yang bagi keduanya tak terduga. Secara kebetulan, keduanya terkena lingkaran foto berhadiah yang diselenggaraan harian itu. Keduanya, secara sendiri-sendiri lalu datang ke Surabaya Kota. Di situlah mereka bertemu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu, mereka pun sepakat untuk melangsungkan pernikahan.

Entah perkawinan itu benar-benar terjadi atau hanya dalam pikiran Tiwar, bukanlah persoalan bagi Tiwar. Begitu pula bagi Pawestri, yang sangat mendambakan seorang anak. Yang penting adalah Tiwar mengetahui asal-usul dirinya. Maka, lewat surat-surat yang ditulisnya, terungkaplah pengakuan Pawestri bahwa ia seorang anak yang tak jelas siapa ayahnya. Ia juga bercerita tentang kesibukan di kantornya yang membuat dirinya mirip sebuah mesin yang harus melayani sekian banyak orang. Ada pula cerita tentang siapa sebenarnya kedua orang Belanda, Van der Klooning dan Jaan van Kraal.

Bagitulah, berbagai cerita disampaikan oleh Pawestri kepada Tiwar lewat serangkaian suratnya. Belakangan, ia meminta tolong kepada Tiwar agar bersedia mempertemukan dirinya dengan Rafilus. Rupanya Pawestri juga merasa begitu terpesona pada keanehan tubuh Rafilus. Menurut wanita itu, Rafiluslah laki-laki yang mampu memberi benih yang ia harapkan sehingga kelak akan lahir seorang anak yang perkasa. Pawestri berusaha menarik perhatian Rafilus, tetapi orang itu˗˗kalau benar dia orang˗˗malah bersikap acuh tak acuh, bahkan berkesan hendak memperhinakan Pawestri.

Tiwar yang pada dasarnya juga ingin tahu lebih banyak perihal Rafilus, ditambah lagi dengan adanya permintaan Pawestri, segera melakukan pencarian. Namun, ketika ia berhasil menjumpai Rafilus di rumahnya, Tiwar justru makin merasa penasaran. Rafilus makin membuatnya tak habis mengerti.

Sejalan dengan itu, berbagai peristiwa yang dialami Tiwar, makin membuatnya terlelap dalam pikiran-pikirannya yang selalu melantur ke mana-mana. Munandir tewas tergilas kereta. Ia sendiri nyaris hancur tertabrak kereta yang sama. Lalu, kecelakaan beruntun terjadi. Seorang laki-laki tertabrak sebuah mobil dan penabraknya kabur begitu saja meninggalkan mayat yang tergeletak di tengah jalan. Belakangan diketahui bahwa kemungkinan besar yang menabraknya adalah Sinyo Minor, yang juga kemudian mati ditabrak Rafilus.

Sedikit demi sedikit Tiwar mulai mengetahui asal-usul Rafilus, dan siapa sesungguhnya dia. Namun, pada saat tabir yang menyelimuti diri Rafilus mulai terkuak, Rafilus tewas tertabrak kereta. Saat itu Tiwar baru saja berhasil menemui Rafilus dan Pawestri. Pertemuan itu sendiri berakhir buntu sebab masing-masing tak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian, Tiwar mengajak Rafilus dan Pawestri pergi dengan mengendarai mobil Rafilus. Pada saat mobil melintasi rel kereta api, mobil itu tiba-tiba berhenti. Saat itulah kereta datang. Tiwar dan Pawestri selamat. Namun, Rafilus tewas dengan kepala menggelinding, terpisah dari badannya. Itulah akhir hidup Rafilus si misterius.

Kematian Rafilus ternyata mengundang masalah. Tak ada seorang pun, termasuk RT dan RW-nya, mengenali Rafilus. Orang-orang pun bingung, akan dikubur di mana mayat Rafilus. Beruntung, pada saat semua orang tak dapat menentukan tempat penguburannya, datang seorang yang bernama Rabelin. Ia tak mengenal Rafilus, tetapi dialah yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan penguburan Rafilus. “Lalu ia berbicara keras-keras, seolah sedang memimpin rapat orang-orang dungu. Rapat memutuskan, Rafilus akan dimakamkan di Pemakaman Ngagel besok pagi” (hlm. 184). Pemakaman itu konon untuk peristirahatan terakhir orang-orang terkemuka. Di sanalah Rafilus akan dikuburkan. Esoknya, ambulans membawa mayat Rafilus menuju pemakaman Ngagel. Kalau orang-orang terhormat yang akan dimakamkan di pekuburan itu selalu diiringi oleh para pelayat, lengkap dengan parade kehormatannya, Rafilus hanya diantar oleh beberapa orang saja, termasuk Tiwar. Pada saat yang sama, Jumarup yang entah karena apa mendadak mati, juga akan dikuburkan di sana. Namun, mengingat Jumarup termasuk orang dermawan yang kaya-raya dan dikenal luas masyarakat Surabaya, pemakamannya diiringi oleh sekian pelayan, sekian kendaraan, dan sekian parade. Akibatnya, ambulans yang membawa Rafilus tersisih. Jalan menuju pemakaman itu dengan sendirinya macet.

Ambulans yang membawa mayat Rafilus tertahan sekian lama dan hanya dapat bergerak merangkak. Lalu, pada saat ambulans itu melewati rel kereta api, mendadak datang kereta api dengan kecepatan luar biasa. Semua penumpang yang berada dalam ambulans melompat ke luar, menyelamatkan diri. Tinggallah mayat Rafilus. Untuk kedua kalinya kereta menabrak tubuhnya. Kembali kepala Rafilus menggelinding, terpisah dengan tubuhnya. “Kepala Rafilus menggelinding lagi, seolah memang sudah tidak sudi lagi bersatu dengan tubuhnya. Entah dengan cara bagaimana, kepalanya meloncat ke tiang, menancap, dan mengejek orang-orang yang mendekatinya” (hlm. 186).

                                                                   ***
Novel karya Budi Darma ini sesungguhnya amat unik. Oleh karena itu, Nirwan Dewanto dalam resensinya yang dimuat di harian Kompas, menyebutkan novel ini merupakan novel pengakuan.

Oleh karena semua peristiwa itu muncul lewat pengakuan para tokohnya, maka terkesan novel ini lebih mementingkan gagasan yang ada dalam pikiran para tokohnya. Novel-novel yang seperti itulah˗˗yang lebih mementingkan gagasan˗˗yang disebut sebagai aliran sastra gagasan (literature of ideas).
Studi terhadap novel ini pernah dilakukan secara cukup mendalam oleh Sutini (1991) yang melihat tokoh-tokoh novel Rafilus sebagai manusia-manusia absurd.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top