Monday

Cerita Novel Online - Kubah

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Ahmad Tohari (13 Juni 1948)
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1980; Cetakan II, 1988

Sinopsis Novel

Cerita Novel Online - KubahSesungguhnya Karman masih keturunan priyayi. Namun, sejak ia ditinggalkan ayahnya, Pak Mantri, ia hidup sengsara bersama ibu dan adik perempuan satu-satunya. Ayahnya, pada saat memasuki zaman perang kemerdekaan, diciduk para pemuda pejuang karena ia lebih suka menjadi recomba daripada ikut perang gerilya. Sejak saat itu tak terdengar lagi kabar beritanya.

Bagi Karman, itulah awal kehidupan yang penuh derita. Keadaan demikian itu berlangsung sampai beberapa tahun lamanya. Kemudian, karena keluarga Haji Bakir merasa kasihan, ia diajak tinggal bersama keluarga itu. Sambil ikut membantu-bantu, ia juga bertugas mengasuh Rifah, anak haji itu. Lambat-laun keluarga Haji Bakir memperlakukan Karman seperti anggota kelurga sendiri, bahkan berkesempatan pula menamatkan sekolah rakyat.

Berkat anjuran Hasyim, paman Karman, bekas anggota laskar Hisbullah, Karman dapat melanjutkan sekolahnya ke SMP. Sementara itu, hubungannya dengan keluarga Haji Bakir bertambah akrab. Lebih-lebih terhadap Rifah. Ia merasakan adanya kemesraan terhadap gadis itu.

Setelah tamat SMP, Karman tak dapat melanjutkan sekolahnya karena memang tak ada biaya untuk itu. Pada saat itu, datang Triman, seorang kader PKI, menawarkan pekerjaan. Tentu saja tawaran itu diterima Karman dengan sukacita. Padahal, di balik itu, sesungguhnya Triman punya rencana lain. Dengan dibantu kader PKI lainnya, Margo, Karman hendak dijadikan kader mereka. Usaha kedua anggota itu dimungkinkan pula dengan ditolaknya lamaran Karman kepada Rifah oleh Haji Bakir. Padahal, penolakan itu sebenarnya hanya karena lamaran Karman datang terlambat. Waktu itu, Rifah sudah lebih dulu dilamar Abdul Rahman, anak keturunan Pakistan, saudagar batu akik.

Karman kecewa. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Margo dan Triman untuk menanamkan kebenciannya kepada Haji itu. Maka laksana setitik api yang tersiram minyak, berkobarlah kebencian Karman, dan menggumpal menjadi dendam. Dendam itu merembet pula pada sikap keagamaannya sendiri. Ia secara sadar meninggalkan sembahyang˗˗juga sembahyang wajib˗˗sebagai usaha melampiaskan dendamnya kepada Haji Bakir. Dalam keadaan jiwa Karman yang demikian itulah, masuk pengaruh Margo dan Triman tentang ajaran-ajaran komunis secara perlahan dan pasti. “Hanya setahun sejak perkenalannya dengan kelompok Margo, perubahan besar terjadi pada kepribadian Karman. Ia merasa sinis. Segala sesuatu ditanggapi dengan prasangka buruk. Dalam penampilannya sehari-hari Karman sudah jarang tampak dengan kain sarung dan kopiah” (hlm. 90).

Sedemikian kuat pengaruh kedua kader PKI itu sehingga mencapai puncaknya. Karman menentang pamannya dengan keras. Kini Karman sudah menjadi salah seorang kader PKI. Akan tetapi, perasaannya terhadap Rifah masih tetap tidak berubah. Ia masih mengharapkan dapat memiliki putri Haji Bakir itu. Lebih-lebih, ketika suami Rifah, Abdul Rahman, meninggal akibat tabrakan. Dengan sendirinya, janda kembang itu makin mengganggu pikirannya. Maka, lamaran pun ia ajukan.

Namun, Karman kini tidak lagi seperti dulu. Yang diketahui Haji Bakir sekarang adalah ia kader PKI yang sudah meninggalkan masjid dan sembahyang. Inilah yang menjadi alasan ditolaknya lamaran Karman yang kedua kalinya. Ia kecewa kembali. Dendam pun makin berkobar. Saat itulah, Margo dan Triman kembali beraksi. Mereka mengangkat Karman sebagai sekretaris Partindo.

Kehadiran gadis Marni sedikit mengobati luka hati Karman. Tak lama kemudian, ia mengawininya sampai kemudian dikaruniai tiga orang anak. Sejalan dengan itu, ia juga makin aktif dalam kegiatan partainya.

Beberapa saat setelah pecah pemberontakan PKI, Karman secara tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya. Ia sadar, partainya terlibat dalam pemberontakan itu. Terlihat pula ia mulai rajin ke masjid. Sesungguhnya, Karman merasa takut. Apalagi operasi penumpasan sisa-sisa anggota PKI makin gencar dilakukan. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur, setelah Margo dieksekusi. Triman juga tertangkap dan siap didor.

Pelarian Karman tak jadi dilaksanakan. Setelah bersembunyi lebih dari sebulan lamanya, ia tertangkap dalam keadaan sakit parah. Oleh karena keadaannya yang demikian itulah, aparat keamanan yang menangkapnya tak tega membunuhnya. Ia lalu dibuang ke Pulau Buru. Di pulau itulah kesadaran Karman tumbuh. Apalagi setelah datang surat Murni, istrinya, yang minta keikhlasan Karman untuk mengizinkan istrinya menikah lagi dengan lelaki lain. Dengan berat hati, Karman merelakan maksud istrinya. Namun, ia sendiri putus asa. Saat itulah datang Kapten Somad menjelaskan pentingnya manusia beragama dan meminta pertolongan kepadaNya.

Setelah Karman dibebaskan, ia kembali ke desanya di Pegaten. Kedatangannya ini dengan membawa kesadaran baru sebagai manusia beragama. Ternyata, penduduk Desa Pegaten juga menerimanya tanpa dendam. Penerimaan itu makin nyata ketika Tini, anaknya, menikah dengan Jabir, anak Rifah, cucu Haji Bakir.

Karman benar-benar bertobat. Pertobatannya itu diwujudkan dengan mempersembahkan sebuah kubah untuk masjid desa itu. Sebuah kubah yang berhiaskan kalimat: “Hai jiwa yang tentram, yang telah sampai kepada kebenaran hakiki. Kembalilah engkau kepada Tuhanmu. Maka masuklah engkau ke dalam barisan hamba-hamba-Ku” (hlm. 184). Dengan langkah itulah ia berharap akan mendapatkan martabatnya sebagai manusia.

Resensi Novel

                                                                        ***
Kubah sebenarnya merupakan novel kedua Ahmad Tohari, tetapi novel inilah yang pertama kali diterbitkan sebagai buku. Oleh karena itu, beberapa pengamat sastra˗˗Jakob Sumardjo, misalnya˗˗menyebutkan bahwa novel ini merupakan novel pertama Ahmad Tohari. Naskahnya sendiri diterima penerbit Pustaka Jaya tahun 1979, dan baru pada tahun berikutnya diterbitkan (1980). Setahun kemudian, novel ini dinyatakan sebagai novel terbaik untuk novel yang terbit tahun 1980 dan berhak memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama, Depdikbud (1981).

Pada tahun 1986, novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan diterbitkan oleh sebuah penerbit di Tokyo.
Studi terhadap novel ini pernah dilakukan oleh Maman S. Mahayana (FSUI, 1986) yang membandingkannya dengan sudut pandang, tokoh dan tema novel Atheis. Peneliti lainnya adalah Jumono (FS-UGM, 1983), yang membicarakannya bersama karya-karya Ahmad Tohari lainnya, serta Dwi Agung MW (FS-UGM, 1991) yang melihat berbagai masalah yang dihadapi tokoh-tokoh dalam karya Ahmad Tohari.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top