Thursday

Cerita Novel Online - Bako



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Darman Moenir (27 Juli 1952)
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1983; Cetakan III, 1988

“Biola tua itu kini kian hari kian berdebu. Ia diletakkan di atas lemari” (hlm. 11). Alat musik itu memang sudah hampir sepuluh tahun lamanya dibiarkan tak terawat. Padahal, dulu si bocah laki-laki yang biasa dipanggil Man itu, sering melihat ayahnya memainkannya. Ia belum juga mengerti, mengapa ayahnya kini tak lagi mau menjamah benda itu. Dan sesungguhnya ia ingin sekali mengetahui alasan ayahnya menghentikan kebiasaannya memainkan biola itu.

Cerita Novel Online - BakoSuatu ketika ayahnya bercerita tentang pengalaman masa mudanya. Dari cerita itulah bocah sedikit banyak mengetahui bahwa ayahnya pernah gagal menamatkan sekolah di SMA. Kegagalan itulah yang mendorong ayahnya pulang ke kampung halaman. Walaupun begitu, semangat untuk menuntut ilmu sama sekali belum pudar. Ayahnya kemudian memasuki SGB (Sekolah Guru Bawah) di PP. Diceritakan pula bahwa sewaktu di SMA, sang ayah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita, putri sulung seorang polisi.
Hubungan cinta itu terus berlanjut lama, walaupun orang-orang di kampungnya menentang hubungan itu. Diceritakannya pula bahwa wanita itu sudah tidak gadis lagi. Ia seorang janda dengan dua orang anak. Dan, bukan orang sekampungnya. Namun, cinta lebih kuat dari semua itu. Perkawinan itu pun terjadi hingga lahir seorang laki-laki yang kemudian disusul oleh adik-adiknya. Oleh karena itulah, si bocah di bawa ke rumah bako, yakni keluarga sepertalian darah dengan ayah.

Belakangan, setelah anak laki-laki itu beranjak dewasa, ia mengetahui bahwa ibunya menjadi gila karena ditinggal lama oleh sang ayah. Meskipun begitu, ia masih belum mengerti mengapa ibunya sampai menjadi gila. Tidak adakah penyebab lain yang membuat pikiran ibunya sampai tak waras begitu. Itulah pertanyaan yang selalu ia coba jawab atas dasar cerita-cerita ayahnya kemudian, dan keterangan dari neneknya.

Satu hal yang jelas adalah keadaan dirinya cacat. Penyakit polio-lah yang membuat kakinya cacat. Namun, itu tidak menjadikan lelaki itu putus harapan. Ia tetap bertekad untuk terus melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Paling tidak, ia berhasil merasakan pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia Negeri.

Selamat pendidikan di salah satu akademi, pemuda itu tidak langsung bekerja. Ayahnya sebenarnya berharap agar ia dapat bekerja sebagai pegawai negeri. Namun, pemuda itu justru berpikiran lain. Menuntut ilmu bukanlah untuk bekerja sebagai pegawai negeri, demikian pendiriannya. Meskipun adik-adiknya membutuhkan uluran tangannya untuk membiayai sekolah mereka, ia tetap ingin bekerja sesuai dengan kehendak hatinya.

Mungkin sikap tersebut tidak terlepas dari pendidikannya sewaktu tinggal bersama uminya˗˗kakak perempuan ayahnya. Pada diri uminya, pemuda itu banyak belajar agama dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Pada saat itu mulai tumbuh sikap ingin mandiri atau sedikitnya bertanggung jawab pada diri sendiri. Walaupun begitu, ia harus mengakui bahwa biaya sewaktu kuliah lebih banyak diterima dari uminya. Menyadari hal itu, ia tidak mau menyia-nyiakan waktu; ia banyak belajar dan membaca. Ia juga mulai mengenal para pengarang terkenal. Semua itu memberi pengaruh cukup kuat pada dirinya. Paling tidak, ia mulai membiasakan diri untuk membuat karangan atau mulai rajin berkecimpung dalam kegiatan tulis-menulis. Memang, dunia itulah yang hendak ia jadikan pekerjaannya.

Sementara itu, sejalan dengan penyadaran dirinya untuk menentukan masa depannya, lelaki itu mencoba bercermin pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ibunya, misalnya, yang tak waras lagi, sama sekali tak dapat diharapkan lagi. Ayahnya, dengan gaji yang pas-pasan sebagai seorang guru, masih tetap repot mengurusi anak-anaknya, sementara pemuda itu tak dapat membantu apa-apa. Pemuda itu juga tak dapat terus menggantungkan hidup pada uminya, meskipun perempuan itu memiliki sawah dan lading yang cukup luas. Seorang lagi, Bak Tuo˗˗yang masih sekerabat dengan uminya˗˗sungguh merupakan kepala keluarga yang tak patut dijadikan contoh teladan. Kebiasaan berjudi dan menghabiskan uang pensiunannya hanya untuk judi, telah menyebabkan keluarganya telantar. Bahkan, Bak Tuo mulai berani pula mencuri uang ayah pemuda itu. Akibatnya, kedua orang tua yang sebenarnya sudah berumur itu, berkelahi.

Bagi si pemuda, kehidupan Bak Tuo memberinya kesadaran betapa penting kehidupan masa muda. Kehidupan masa muda Bak Tuo, sampai ia menghabiskan masa pensiunnya, hampir tak pernah lepas dari kebiasaan berjudi. Dari situlah si pemuda mengambil sikap seperti ini: “aku menyimak dan menarik pelajaran dari apa yang dialami Bak Tuoku. Ia adalah  contoh yang amat tepat untuk dijadikan sebagai manusia yang sia-sia di masa tua sesudah mengabaikan masa dan hari mudanya” (hlm. 83).

Seorang lagi yang ikut mempengaruhi sikap hidup pemuda adalah seorang petani sejati yang biasa disebut Gaek. “Mempunyai tempat di hatiku, rasanya ia adalah laki-laki seribu dongeng. Setiap dongeng yang ia ceritakan selalu mengena di hatiku, di benakku. ia adalah laki-laki yang mengisi masa kanak-kanakku secara lebih sempurna” (hlm. 93). Lebih dari itu, si pemuda˗˗betapapun ia hidup cacat˗˗makin menyadari bahwa sesungguhnya hidup adalah kerja. Ternyata Gaek mampu hidup dan menghidupi masa depannya karena ia mencintai kerja. Lelaki itu benar-benar telah berhasil memberi makna dalam hidupnya. Pemaknaan bagi kehidupan inilah yang kini ditemukan si pemuda dalam diri orang-orang sekitarnya. Kelak ia akan berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh makna. Itulah yang menjadi tekad si pemuda.

                                                                 ***
Novel Bako ini sesungguhnya lebih menyerupai catatan biografis sebuah keluarga. Sebagai karya sastra, dalam hal bentuk, novel ini boleh dikatakan menampilkan pembaharuan. Boleh jadi karena itulah novel ini dinyatakan sebagai pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top