Saturday

Tanpa Nama: Domba-domba Revolusi

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Mendung, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Tanpa Nama: Domba-domba Revolusi . Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : B. Soelarto (11 September)
Penerbit       : Nusantara
Tahun           : 1964

    Kota Utara tak dapat dipertahankan dari serangan musuh. Tentara Republik terpaksa menyingkir. Tujuan mereka adalah kota selatan, sebab kota ini dijadikan pusat pemerintahan sementara. Untuk mencapai Kota Selatan, mereka terlebih dahulu harus melewati Kota Tengah. Namun, rupanya musuh telah mencium gerakan Tentara Republik sehingga mereka terpaksa tertahan di Kota Tengah, di sebuah losmen bernama ’Losmen sederhana’.

    Pasukan Gagak Lodra adalah sebuah kesatuan yang bertugas melindungi pemimpin dan kedua orang penting yang tertahan di kota itu. Pemilik losmen adalah seorang wanita yang entah mengapa tak mau meninggalkan losmennya kendati serangan musuh begitu gencar. Di samping ketiga orang penting yang tinggal di situ, ada seorang wartawan majalah perjuangan republic, yang lebih senang disebut sebagai seoran penyair.

    Dua orang yang menyebut diri mereka sebagai orang penting masing-masing: seorang pedagang dan seorang yang lebih dikenal sebagai Profesor Tabib.
 
     Diketahui bahwa pedagang itu adalah orang yang selama ini mengaku telah banyak membantu Tentara Republik. Dialah yang menyuplai bahan makanan demi kelancaran perjuangan. Namun, sebenarnya keikutsertaannya dalam perjuangan itu hanyalah demi kepentingannya sendiri. Komandan yang diikutinya telah menjanjikan akan membayar seluruh utang jika telah tiba di Kota Selatan. Ia bahkan tak ambil peduli akan Kota Utara atau Kota Tengah yang telah digempur musuh. Hal yang penting baginya adalah bagaimana mendapatkan uangnya yang berjumlah dua juta itu. “… Sebab bagiku persetan Kota Selatan dan kota ini direbut musuh. Persetan pula Kota Utara sudah jadi daerah pendudukan musuh. Pokoknya aku terima yang dua juta, aku bayar kekurangan uang komisi…” (hlm. 28).

    Tak berbeda dengan si Pedagang, Profesor Tabib pun ibarat ‘setali dua uang’. Kebetulan, ia memperoleh kepercayaan dari berbagai kesatuan dalam menyuplai obat-obatan. Berkat kemampuan yang dimilikinya: inteligensi yang lumayan, berpendidikan, serta serta selalu berpenampilan rapi. Semboyan yang menjadi prinsipnya: “Jangan lepaskan tiap kesempatan manis” (hlm. 22).

    Akhirnya, dalam situasi yang tak aman itu, kedua orang penting itu mati terbunuh. Si Pedagang mati di tangan musuh setelah Profesor Tabib mengelabuinya dan memfitnahnya. Pada saat yang sama, Profesor Tabib pun mati di tangan wanita pemilik losmen.

    Belakangan, diketahui bahwa wanita pemilik losmen dan si Penyair, memiliki pertalian batin yang erat. Sejak kedatangan Penyair di losmen itu, pemilik losmen selalu memberi perhatian khusus dan pelayanan yang baik kepada Penyair. Akibatnya, tak mustahil jika si Penyair jatuh hati. Suatu saat, si Penyair menceritakan perjalanan hidupnya yang malang bahwa ayahnya pernah mengawini seorang wanita setelah ibunya meninggal. Namun, perkawinan itu tak bertahan lama. Ayah si Penyair meninggalkan wanita itu dengan alasan yang tidak jelas.

    Wanita pemilik losmen yang mendengarkan cerita si Penyair itu sangat terharu. Sesungguhnya, ia mengetahui, pemuda yang ada di hadapannya tidak lain adalah anak tirinya. Namun, keadaan juga yang menuntut mereka jadi korban. Wanita pemilik losmen itu mati dengan keris pusakanya sendiri, setelah ia membunuh Profesor Tabib yang memaksanya demi memuaskan nafsu setan. Juga si Penyair mati dalam berondongan peluru musuh setelah ia mengadakan perlawanan demi kehidupan dan demi bangsanya. “Losmen sederhana hanya tinggal puing yang membara dan lesu mengepulkan asap kelam-kelam. Terkuburlah di bawah reruntuhan dan sekitarnya pengkhianatan dan pejuang-pejuang tanpa baju seragam, tanpa bintang, tanpa nama, dan tanpa pertanda” (hlm. 99).

                                                                             ***

    Novel Tanpa Nama: Domba-domba Revolusi ini, pada tahun 1962, dinyatakan sebagai pemenang pertama dari majalah Sastra. Dua tahun kemudian (1964) baru diterbitkan sebagai buku. Pada tahun 1988, cerita novel ini pernah pula diangkat sebagai cerita sinetron TVRI.
Studi terhadap novel Tanpa Nama: Domba-domba Revolusi ini, yaitu dari FS UGM (1974) dan dari FS Universitas Jember (1985).

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top