Saturday

Sepasang Suami- Istri



Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Mendung, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Sepasang Suami- Istri . Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang  : Satyagaraha Hoerip (7 April 1934)
Penerbit      : Firma Mega Bookstore
Tahun         : 1964

    Nasah, sungguhpun ia sudah berkeluarga dengan empat anak, merasa terpanggil untuk ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa. Ia benci melihat tindak-tanduk Jepang selama ini yang justru menambah pahitnya penderitaan rakyat. Rasa nasionalismenya tergugah. Ia kemudian bergabung dengan gerakan bawah tanah yang diketuai Provkom. Mereka pun kerap mengadakan rapat gelap. Tujuannya, melakukan perlawanan terhadap Jepang dengan berbagai bentuk sabotase, serta menghimpun kekuatan dengan kelompok bawah tanah lainnya yang secita-cita.

    Berbagai pertemuan gelap yang mereka selenggarakan, ternyata sering tidak berjalan mulus. Nasah dan Provkom rupanya punya pandangan berbeda dalam menentukan pelaksanaan bentuk perjuangannya. Nasah yang nasionalis menginginkan agar revolusi dilakukan semata-mata untuk membebaskan penderitaan rakyat secara nasional. Oleh karena itu, kesatuan yang kompak dalam diri sesame pejuang mutlak diperlukan. Perjuangannya juga perlu dilakukan secara matang; tidak terburu-buru agar tidak banyak jatuh korban jiwa. “Jiwa rakyat yang akan kita bela itu justru terkurbankan sia-sia, semata-mata bagi aksi yang keburu nafsu dan belum terorganisir baik-baik dan kompak.” Itulah salah satu alasan Nasah.

    Sebaliknya, Provkom punya pandangan lain. Ia melihat bahwa perjuangan itu bersifat internasional. Maka, yang diperlukan adalah kesatuan proletar di seluruh dunia. Dalam kerangka itu pula, diperlukan “suatu partai yang teguh disiplin dan bersifat diktatoris. Dictator proletar otokratis sewenang-wenang” (hlm. 40).

    Jadi, jika Provkom menekankan perjuangan ekstrem… “secara revolusioner internasional, dan tunduk pada petunjuk-petunjuk komando pusat tertinggi di luar negeri. Sedangkan Nasah dan beberapa kawannya mementingkan aksetuasi kenasionalan, baik dalam bentuk aksi maupun corak Negara Indonesia yang mereka perjuangkan itu” (hlm. 41).
Dalam pertemuan yang terakhir di Hotel Preanger, Bandung, perdebatan antara Nasah dan Provkom, kembali memanas. Provkom yang marah besar, menuduh kelompok Nasah sebagai “golongan psido-radikalis yang berlagak progresif revolusioner” (hlm. 51). Kembali pula, pertemuan itu berakhir tanpa titik temu. Masing-masing tetap bersiteguh pada pendiriannya.

    Bersama teman-temannya, Nasah terus berjuang menghimpun kekuatan. Tujuannya tetap; mengusir Jepang demi tercapainya kemerdekaan, tanpa harus lebih dulu mengenyahkan “golongan kapitalis-kompromistis” yang menurut Provkom sebagai penghambat kemerdekaan. Namun, sial bagi Nasah. Jepang mencium perjuangannya dan berhasil menangkap Nasah dan beberapa temannya. Mereka kemudian dijebloskan ke penjara. Itulah awal penyiksaan kejam dialami lelaki bertubuh kecil itu. Berbagai cara penyiksaan yang dilakukan tentara Jepang untuk membuka mulut Nasah, tetap tak berhasil. Nasah bungkam dan tak mau membocorkan rahasia perjungannya.

    Tinggallah Hardewi, istri Nasah, berjuang untuk menghidupi keempat anaknya. Pabrik tegelnya yang selama ini ia jalankan, mengalami kemunduran. Untuk itu, ia terpaksa meminjam uang kepada adiknya dengan rumah warisan sebagai jaminannya. Tanpa ia ketahui –karena terlalu percaya kepada adiknya- surat yang ia tanda tangani, ternyata surat penjualan rumah yang menjadi jaminan. Maka, alangkah terkejutnya ketika ia hendak mengembalikan uang pinjaman, sebab rumah itu kini diakui sebagai milik adiknya.

    Cobaan berikutnya datang dari ibunya sendiri. Atas kesepakatan pihak keluarga, ibunya mengusulkan agar Hardewi menceraikan suaminya yang tidak dapat menghidupi anak-istri. Dengan cara itu, ibunya berharap dapat membahagiakan Hardewi. Namun, dugaan ibunya ternyata keliru. Hardewi sama sekali tidak merasa menderita walaupun suaminya ditahan. Ia juga tidak kecewa harus membanting tulang karena itu semua semata-mata untuk menghidupi anak-anaknya sendiri. Maka, tak ada alasan bagi Hardewi untuk menceraikan Nasah.

    Sebagai wujud kesetiaan seorang istri kepada suaminya, Hardewi selalu menyempatkan diri menjenguk suaminya di penjara. Ia memahami betul pekerjaan dan langkah yang diambil suaminya itu. Bangsa dan negerinya kini memerlukan orang-orang seperti suaminya itu.

    Suatu malam, setelah siang harinya Hardewi menjenguk suaminya di penjara, Provkom tiba-tiba saja datang. Hardewi yang semula tidak mengetahui hubungan laki-laki yang baru datang itu dengan suaminya, kini mengetahui dengan jelas duduk persoalannya. Provkom mengatakan bahwa perjuangan perlu pengorbanan. Ia menyesal telah menyuruh Nasah melakukan sabotase hingga Nasah ditangkap dan dipenjarakan. Sungguhpun begitu, Provkom berjanji akan berusaha membebaskan Nasah. Ekor dari niat Provkom untuk membebaskan suaminya itu, ternyata mengharuskan Hardewi mengeluarkan uang sekadarnya.

    Seperginya Provkom, Hardewi makin menyadari perjuangan suaminya. Itu berarti, jalan berliku masih terbentang panjang di hadapannya. Hardewi juga sadar  bahwa di rumah, dirinya juga sedang berjuang membela bangsanya; bahu-membahu dengan suaminya yang perjuangannya kini, bertahan untuk tidak mati dalam siksaan musuhnya yang tak akan berhasil mengorek keterangan apa pun. “… jadilah kelak anak-anak yang berguna bagi bangsamu. Bangsa Indonesia yang sudah merdeka dan makmur. … Biarkanlah kami orang tuamu saja yang harus memikul dan menelan segala cobaan ini. Agar kau semua tidak usah lagi” (hlm. 92). Begitulah batin Hardewi berdoa untuk anak-anaknya.

                                                                                 ***
    Di halaman depan novel Sepasang Suami- Istri ini tertulis sebagai: novel perjuangan politik. Namun, di halaman belakang disebutkan bahwa peristiwa dalam novel Sepasang Suami-Istri adalah peristiwa yang benar-benar terjadi dan para pelakunya masih hidup. Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI Muso di Madiun –tempat. novel ini selesai ditulis tahun 1962-, sudah barang tentu maneuver politiknya sudah dilakukan jauh sebelum itu. Itulah salah satu unsur yang menarik dari novel ini, di samping struktur ceritanya yang flashback (sorot balik).

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top