Wednesday

Panggilan Tanah kelahiran

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Dt. B. Nurdin Jacub (12 Oktober 1920)
Penerbit    : Balai Pustaka
Tahun        : 1967; Cetakan IV, 1990


Rusman bertunangan dengan Mirna Yusuf, anak seorang pengusaha ekspor-impor. Ia berhasil meraih gelar sarjana berkat bantuan ayah Mirna, Tuan Yusuf. Tuan Yusuf sebenarnya bermaksud menjerat Rusman agar mau kawin dengan putrinya; sedangkan bagi Mirna, pemuda itu tak penting, yang lebih penting adalah gelarnya. Hal ini bisa dimengerti apabila melihat latar belakang pendidikan gadis itu. Meskipun Tuan Yusuf berasal dari Minangkabau, ia tak pernah mengajak putrinya ke daerah asalnya. Suatu ketika Rusman dipanggil oleh pamannya yang menjadi Bupati Solok agar ia berangkat ke Padang. Panggilan ini menimbulkan rasa cemburu pada diri Tuan Yusuf mengingat Bupati Solok tersebut memiliki seorang putri cantik bernama Laila Tabrani.

Sepeninggal tunangannya, Mirna bergaul akrab dengan Navis Iskak, seorang rekan usaha ayahnya. Tampaknya diam-diam Navis jatuh cinta kepada gadis Minang tersebut meskipun ia telah beristri dan beranak.

Sementara itu di Padang, Rusman akrab dengan Laila. Hubungan ini mendapat dukungan dari pamannya, bernama Tabrani, yang memang tak menyetujui hubungan Rusman dengan Mirna. Namun, Tabrani berusaha menutupi maksudnya. Ia berpura-pura, dengan berdalih bahwa pemanggilan kemenakannya itu untuk mengurusi persoalan tanah yang harus diselesaikan dengan Rusman.

Selama bergaul dengan Laila, Rusman sempat berkunjung ke Sungai Durian. Tempat itu mengilhami pemuda itu untuk membuat bendungan guna mengairi sawah penduduk. Tentu saja, rencanaya didukung oleh Bupati Tabrani. Selain itu, Bupati Tabrani meminta Rusman agar mau membujuk calon mertuanya untuk menanamkan uangnya dalam proyek bendungan Sungai Durian.

Sekembalinya Rusman di Jakarta, ia menyampaikan usul Bupati Tabrani kepada Tuan Yusuf. Akan tetapi, orang tua itu menolak mentah-mentah rencana calon menantunya dengan menghina adat-istiadat kampungnya yang dikatakannya kolot. Bahkan, ia mengungkit-ungkit biaya kuliah Rusman yang telah dikeluarkan olehnya. Rusman makin terpojok ketika Mirna pun mengamuk. Calon istrinya itu menuduh Rusman mencari-cari alasan agar bisa pulang ke kampungnya. Sebenarnya kemarahan Mirna bukan karena rencana Rusman, tetapi didasari oleh perasaan cemburu.

Setelah gagal membujuk calon istri dan calon mertuanya, pemuda itu mendatangi beberapa menteri. Di antara beberapa menteri itu ada yang menanggapi dengan baik rencana Rusman meskipun tak menjanjikan kapan bantuan akan direalisasi. Dengan kesal, pemuda itu kembali ke Padang setelah memutuskan pertunangannya dengan Mirna.
Rupanya, selama Rusman di Jakarta, Laila menderita penyakit radang paru-paru. Sebelum gadis itu mengembuskan napas terakhirnya, ia sempat bertemu dengan Rusman dan sempat membicarakan kembali bendungan Sungai Durian. Kematian Laila membuat banyak orang bersedih ditinggalkan seorang guru yang dicintai murid-muridnya. Lain halnya bagi Tabrani, kematian putrinya ditafsirkan sebagai hokum karma atas rencananya memutuskan pertunangan Rusman dan Mirna.

Sejak putus pertunangannya dengan Rusman, Mirna bergaul kian akrab dengan Navis. Akhirnya, hubungan Mirna dan Navis diketahui oleh istri lelaki itu. Istri Navis menyusul suaminya ke Jakarta dan membawa pulang Navis ke Medan. Untuk kesekian kalinya Tuan Yusuf merasa kecewa ketika diketahuinya rekan usahanya itu telah berkeluarga.

Di tanah kelahirannya, Rusman membina hubungan dengan Sri Winarsih. Ayah Sri –Pak Syarif- mendorong Rusman agar merealisasikan rencana bendungan sungai Durian. Rusman mendapat dorongan dari pamannya dengan pemberian uang sebesar sepuluh juta rupiah yang diusahakannya oleh pamannya dengan menghubungi gubernur dan pemerintah pusat.
Di Jakarta, kejahatan Tuan Yusuf yang berkedok usaha ekspor-impor terbongkar. Ia ditangkap karena terbukti merugikan Negara. Mirna dan ibunya sangat terpukul dengan peristiwa itu. Lalu, mereka pulang ke Padang.

Di Padang, Mirna sempat melihat Rusman bersama dengan Sri. Sri disangkanya sebagai Laila Tabrani. Dengan dada penuh cemburu dan disertai keinginan hendak membalas dendam, ia menabrak Sri. Akan tetapi, Sri –yang disangka Mirna adalah Laila- sempat menghindar dengan menjatuhkan diri. Mirna menganggap gadis itu meninggal. Maka, dengan penuh keyakinan, ia menemui Rusman, dengan harapan lelaki itu akan memperbaiki hubungan. Namun, bekas tunangannya itu menolak. Bersamaan dengan kejadian itu, Sri yang masih mengenali orang yang menabraknya, datang. Terbongkarlah kejahatan Mirna. Mirna malu dan meminta maaf atas perbuatannya; lalu ia pergi meninggalkan keduanya. “Dan tinggallah Drs. Rusman kini berdua-dua dengan Sri Winarsih membayang-bayangkan kemakmuran daerah dengan tanahnya yang pengasih di masa depan” (hlm. 176).

                                                                          ***
Novel Panggilan Tanah Kelahiran ini adalah pemenang hadiah kedua Bacaan Dewasa Sayembara Besar Mengarang yang diselenggarakan oleh Penerbit Balai Pustaka tahun 1966. Tidak banyak kritikus yang membicarakan novel ini. Rusman Sutiasumarga (1983: 65-70) juga lebih banyak memaparkan kisah cerita dengan meringkasnya daripada mengulas isinya. Sejauh ini, studi terhadap novel ini baru dilakukan Setyawati  (FS UGM, 1972) sebagai penelitian sarjana mudanya.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top