Tuesday

Mekar Karena Memar

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Pulang, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Mekar Karena Memar. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Alex L. Tobing (12 Juli 1934)
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun           : 1959; Cetakan IV, 1985

    Herman, salah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran, begitu menggebu-gebu studinya, terutama sekali ketika ia dinyatakan lulus ujian tingkat pertama. Sebab selanjutnya ia harus menekuni pelajaran yang lebih mendalam di tingkat dua ini. Rasa giat itulah yang disebut Con Brio.

    Akan tetapi, saat-saat ia mengikuti kegiatan belajar di tingkat dua –khususnya terhadap mata kuliah praktikum- perasaannya menjadi gamang. Rasa gamang itu dialaminya ketika ia di ruang bedah, berhadapan dengan tubuh manusia yang telah terbaring kaku dan siap diporakporandakan oleh tangan-tangan calon dokter. Mayat-mayat itu umumnya adalah mayat yang tak dikenal atau mayat yang tak diambil oleh sanak familinya setelah meringkuk tiga hari di kamar mayat. Mereka itulah yang umumnya dikenal sebagai gelandangan, gembel, atau peminta-minta yang mati dan tak seorang pun mau mengakuinya setelah beberapa hari di kamar mayat. Maka, untuk selanjutnya, bebaslah tangan-tangan yang kelak akan menyandang dokter ahli bedah itu, menyobek atau mengeluarkan isi tubuh sesuai dengan keperluan mereka. Di situlah Herman pertama kali berkenalan dengan harga manusia; sebuah kepala (tengkorak) dapat diperjualbelikan (di kalangan tertentu) dengan harga hanya Rp 40,-. Betapa tak berharganya manusia ketika tubuh telah berpisah dengan bumi. Disamping itu, mayat-mayat itu tak pernah menyatakan protes sekecil apa pun walaupun salah satu anggota tubuhnya telah menjadi hiasan dalam sebuah lemari kaca sang ahli bedah.

    Tidak semua mahasiswa kedokteran dapat dengan mudah melaksanakan tugas praktikum. Mereka sebelumnya harus mampu lolos dari ujian yang diberikan oleh guru besar. Setelah guru besar menyatakan dirinya lolos, sang guru besar akan memberinya selembar nota guna disampaikan kepada asisten. Mengapa asisten? Ya, sebab asisten lebih pintar daripada mahasiswa. Asisten umumnya lebih banyak belajar, tetapi kurang dihajar. Sebaliknya, mahasiswa kurang belajar dan kurang ajar (hlm. 22).

    Hari itu Herman sedang melaksanakan tugas praktikum. Mulanya ia tak melihat adanya seorang asisten di kamar bedah itu. Namun, ia memberanikan diri untuk menyayat kulit sesosok mayat. Tiba-tiba saja, telinganya menangkap suara seorang gadis yang bertanya. Panggilan gadis itu adalah Lita. Nama yang sebenarnya adalah May Kim Lian. Gadis Tionghoa itu telah lama menjadi asisten. Ia tinggal menyelesaikan beberapa mata pelajaran dari enam puluh mata pelajaran ilmu faal. Di ruang bedah inilah Herman berkenalan dengan Lita. Herman kerap kali mendapat bimbingan dari Lita. Seringnya pertemuan mereka itu membuat perasaan Herman tergugah. Bahkan, jika Lita tak muncul di ruang praktikum, Herman merasa seperti adanya sesuatu yang hilang. Herman, dalam hatinya, pernah mengatakan bahwa Lita berbeda dengan wanita lainnya. Ia lebih berasio daripada berperasaan (hlm. 53). Munculnya perasaan Herman dalam menghadapi Lita; perasaan inilah yang disebut Con Sentimento.

    Ilmu jaringan tubuh, seperti mata, telinga, dan hidung adalah suatu ilmu yang penting dalam ilmu kedokteran. Namun, ada yang kurang mendalam dipelajari oleh ilmu jaringan tubuh, yaitu tangan. Bagi Herman, tangan bukan hanya alat peraba dan perasa, tetapi juga baginya merupakan jembatan perantara yang dapat merasakan kuat lemahnya, dingin atau hangatnya, tangan yang lain. Tangan merupakan jalinan keutuhan tersendiri (hlm. 65).

    Oleh karena itu, Herman ingin sekali dapat menjabat tangan Lita. Apalagi dalam saat-saat kegembiraan, tatkala Lita dinyatakan lulus ujian akhir. Akan tetapi, kegembiraan Lita akhir dari perjalanan hidupnya. Sementara Herman terus memacu keinginannya agar dapat berjabatan tangan dengan Lita. Barangkali sebagai ungkapan rasa gembiranya terhadap Lita, Herman pun ingin mengetahui sejauh mana perasaan Lita ketika tangan berpautan. Namun sayang, Herman harus puas setelah ia melihat tubuh Lita yang terbaring di jalan. Sebuah kendaraan telah merenggut nyawa Lita untuk selama-lamanya. Mereka berpisah tanpa berjabat tangan, tanpa dapat merasakan perasaan masing-masing jika tangan saling berpaut. Sebagai ungkapan rasa sedih, itulah yang disebut sebagai Con Dolore.

    Bagi Herman, putusnya hubungan seseorang dengan dunianya bukan berarti pula tamatnya peran orang itu. Buat Herman, kematian Lita merupakan pacuan untuk terus melangkah. Lita telah tiada secara wujud, tetapi batinnya itulah yang tak pernah akan berakhir.

    Mulanya, Herman kurang bersemangat dalam melakukan pekerjaannya. Namun, lama-kelamaan semangat kerjanya pulih kembali. Menurutnya, semangat adalah sesuatu yang bersatu dengan jiwa, sehingga tak dapat dipadamkan (hlm. 75).

    Selanjutnya, Herman berkenalan dengan Gloria (Ria), mahasiswi kedokteran tingkat pertama. Hubungan Ria dengan Herman begitu akrab. Padahal, orang tua (ibu) Ria tak senang melihat anak gadisnya berhubungan akrab dengan Herman, sekalipun Herman seorang dokter. Ibu Ria lebih senang jika anaknya memilih Trisno. Trisno adalah anak seorang pengusaha kaya-raya sehingga dapat dipastikan, masa depan Trisno lebih baik daripada Herman.

    Namun, cinta bukanlah sesuatu yang dapat dibanding-bandingkan dengan harta atau dengan jaminan hidup. Ria tetap memilih Herman sebagai kekasih yang amat dicintainya. Oleh karena itu, betapapun sebelah mata Herman tak berfungsi dengan baik, Ria tak pernah menganggap itu sebagai suatu kelemahan atau kekurangan. Bahkan, saat sebelah mata Herman (yang tadinya berfungsi baik) juga mendapat gangguan, Ria justru semakin berusaha keras meyakinkan kekasihnya bahwa penyakit itu dapat disembuhkan. Namun, Herman selalu menolak pertolongan Ria. Bahkan, Herman telah sampai pada keputusasaan. Untuk itu, ia memohon, agar Ria mau melupakannya. Kemudian Herman meninggalkan Ria dan tinggal di Bandung.

    Ria ingin membuktikan ketulusan cintanya kepada Herman. Namun, Herman mengatakan sebaliknya. Justru, jika Ria mau melupakan Herman, itulah sebenarnya bahwa Ria telah membuktikan ketulusan cintanya.

    Ria tak pantang menyerah. Segala upaya untuk menyembuhkan mata kekasihnya selalu ia lakukan. Sampai-sampai ia menjalin hubungan dengan seorang professor dari University of California di Amerika. Ia begitu yakin bahwa penyakit mata yang diderita kekasihnya dapat disembuhkan. Maka, dengan segala daya-upayanya, ia berhasil membujuk Herman dan membawanya ke Amerika. Operasi mata Herman segera dilaksanakan. Pada operasi yang pertama dan kedua tak membawa hasil yang menggembirakan. Herman semakin putus asa. Namun, Ria tetap yakin, operasi ketiga ini akan berhasil. Kenyataannya, memang berhasil. Herman dapat melihat seperti semula.

    Semuanya telah selesai. Professor Wilsen berkata kepada Gloria: “Take good care of your patient, Glory. You finished your operation very well; do the same when you start your aftercare in a minute!” (hlm. 182). Bersamaan dengan perginya sang professor dan tertutupnya pintu, Herman dan Gloria berpelukan.

                                                                          ***
    Kritikus sastra Indonesia  yang mengomentari novel mekar karena memar ini tidak banyak, kecuali H.B. Jassin (1962; hlm. 222-225), Rusman Sutiasumarga (198Kritikus sastra Indonesia  yang mengomentari novel ini tidak banyak, kecuali H.B. Jassin (1962; hlm. 222-225), Rusman Sutiasumarga (1983; hlm. 47-52) yang juga lebih banyak menyitir pendapat Jassin, dan Ajip Rosidi (1976; hlm. 47-52) yang mengomentarinya hanya dalam satu kalimat. Teeuw bahkan tidak menyebut-nyebut novel ini, dan hanya memuatnya dalam Bibliografi (1989; hlm. 213). Hal yang menarik dari komentar Jassin, Rusman, dan Ajip adalah bahwa ketiganya menyebutkan Mekar karena Memar terdiri atas dua cerita, yaitu “Perkenalan dengan Harga Manusia” dan “Pudar Menjelang Kilau.”

    Studi mengenai novel mekar karena memar ini pernah dilakukan oleh Wedhawati dan Kusdiratin (keduanya dari FS UGM, 1969). Sebuah penelitian yang cukup mendalam (skripsi sarjana, 104 halaman), dilakukan Sitti Faizah Rivai (FS UI, 1961), dengan judul, Mekar karena Memar karangan Alex L. Tobing.”

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top