Friday

Hilanglah si Anak Hilang

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Perjalanan Ke Akherat, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Hilanglah Si Anak Hilang. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Nasjah Djamin (24 Desember 1924)
Penerbit        : Pustaka Jaya
Tahun           : 1963; Cetakan II, 1977

    Kuning adalah seorang anak bungsu dari sebuah keluarga penganut adat dan taat beragama. Sewaktu masih anak-anak, ia merupakan anak yang selalu dibangga-banggakan karena ketaatannya menjalankan perintah agama. Centhani (Ani), kakak perempuannya, sangat sayang kepada adik bungsunya itu. Ani-lah yang mendidik Kuning soal agama. Di tempat tinggalnya, ia selalu dihormati warga kampung karena dialah yang mengajar anak-anak mereka mengaji dan sembahyang. Inilah saatnya Ani bisa bertemu dengan Kuning setelah beberapa tahun lamanya Kuning meninggalkan saudara-saudaranya, hidup sebagai seorang seniman di Yogya.

    Kepulangan Kuning kali ini memang sangat diharapkan oleh keluarga itu. Udin kakaknya, menelegramnya untuk segera pulang. Sebagai seorang ibu yang telah tua dan menjanda, emaknya ingin menjodohkan Kuning dengan Meinar, seorang gadis yang juga didikan Ani. Orang yang pertama kali ditemuinya ketika tiba di rumah adalah Utih, pamannya. Lalu, tak berapa lama kemudian, Kuning bertemu dengan ibunya. Setelah pukul dua belas malam, abangnya –akbar- yang bekerja di percetakan, tiba. Esoknya, Kuning bertemu dengan Ani. Semua saudaranya mempunyai maksud yang sama: agar Kuning berumah tangga. Namun, oleh si Kuning keinginan mereka itu ditolaknya. Menurutnya, “hidup itu perlu mengisi dan saling memberi arti dulu pada hidup ini” (hlm. 11).

    Akbar sangat tersinggung melihat sikap adiknya malam itu. Sebab selama ini ia mengetahui cara hidup Kuning yang bebas tanpa menginginkan adanya suatu pengikatan; cara hidup yang dilakukan Kuning bersama Marni, wanita yang tinggal di ujung gang rumah mereka. Kuning dan Marni hidup tanpa melalui ikatan yang sah. Terlebih lagi Ani. Ia sangat tak senang mengetahui cara hidup adik yang disayanginya itu berlumur noda dan dosa. Itulah sebabnya, Ani ingin meluruskan jalan hidup adiknya. Dengan maksud mengawinkan Kuning dengan Meinar, ia berharap, cara hidup Kuning dapat berubah. “Aku mau melihat kau kawin dengan si Meinar, agar hidupmu baik lagi” (hlm. 44).
Akan tetapi, Kuning tetap pada pendiriannya. Ia ingin agar hidup ini tidak selalu menuruti aturan-aturan yang mesti ditaati dan ditakuti sehingga siapa saja yang berbuat kesalahan; terlebih lagi bila kesalahan itu telah melanggar norma-norma, si pelaku layak mendapat hukuman.

    Akhirnya, perselisihan pun terjadi dalam keluarga itu. Kuning yang keras kepala di satu sisi, dan di sisi lain, Akbar dan Ani tetap memaksakan kehendak mereka. Jika Kuning kawin dengan Meinar, setidaknya nama keluarga yang telah dicemari Kuning, dapat terangkat kembali, sebab Meinar seorang gadis yang taat dan berbudi pekerti baik.

    Namun, sesungguhnya, Meinar bukanlah gadis suci sebagaimana anggapan Ani. Dalam pertemuannya dengan si Kuning di pantai, ia mengutarakan bahwa dirinya sudah tak suci lagi. Dulu, ketika seorang pemuda menjalin hubungan akrab dengan Meinar, Ani-lah yang tidak menyetujui hubungan itu. Di mata Ani, “pemuda pujaan Meinar adalah pemuda immoral” (hlm. 60). Namun, antara pemuda dan Meinar, telah sepakat untuk tetap menjalin hubungan cinta mereka dan Meinar telah memaksa pemuda itu untuk melakukan perbuatan terlarang. Kemudian, pemuda yang sebenarnya moralis itu tak tahan terhadap dirinya sendiri yang telah melakukan perbuatan dosa. Rasa berdosa terus menggelayutinya, sampai pada akhirnya ia mengambil jalan sempit, yaitu bunuh diri.

    Kuning teramat iba mendengar pengakuan Meinar yang tulus itu. Bahkan, batin Kuning terasa terpukul ketika Meinar mengatakan tentang penyakit dalam yang dideritanya, kini telah ikut pula menentukan hidupnya yang tak akan lama lagi.

    Dunia semakin terasa sempit bagi Kuning. Untuk itu, ia memutuskan akan secepat-cepatnya kembali ke Yogya. Namun, sebelum ia meninggalkan keluarganya, ia sempatkan pamit kepada Marni. Sayang, Marni tak bisa lagi ditemuinya. Rupanya, setelah pertemuan mereka beberapa hari yang lalu, Marni tak ingin lagi ditemui oleh siapa pun, termasuk Kuning. Marni mengurung diri dalam kamarnya.

    Seminggu setelah Kuning tiba di kotanya, Yogya, ia menerima telegram dan sebuah surat. Telegram itu dari Pak Kadir, orang yang selama ini memelihara Marni, mengabarkan bahwa Marni telah meninggal dunia karena meminum obat tidur yang melampaui dosis. Surat dari Meinar mengatakan, sebelum Marni meninggal, ia sempat menemui Marni.

    Bagi Kuning, segala pengalamannya itu justru telah membuat dirinya semakin dewasa. Sedikitnya, ia sampai pada kesimpulan, “Ya, manusia tidak butuh saling kasihani, yang perlu ialah saling menghargai. Masih banyak yang harus dirasakan dan dikerjakan dalam hidup ini. Dan aku merasa siap merasakan dan mengalaminya, dengan adaku, dengan kehadiranku, aku sudah tambah dewasa!” (hlm. 96).
                                                                          ***
    Hilanglah si Anak Hilang pertama kali diterbitkan oleh N.V. Nusantara, Bukittinggi –Jakarta, 1963. Sejak tahun 1977 diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya. Pada tahun 1975, novel ini terbit dalam bahasa Perancis. Berjudul Le Depart de I’Enfant Prodigue, hasil penerjemahan Farida Soemargono Labrousse.

    Studi terhadap novel ini antara lain, Dian Endang Setyawati dan Artanti (keduanya dari FS Undip), Dodot Mpu Diantoro (FS UI, 1989) dan Sutantini Supri (FS UGM, 1980). Di Australian National University, Canberra, tercatat ada tiga tesis yang meneliti karya Nasjah Djamin, yaitu S. Pearson (1971), “The Literrary Work and Personality of Nasjah Djamin”, Lesley M. Towsend (1976), “Nasjah Djamin”, dan Sandra Oxley (1968), “Nasjah Djamin’s Hilanglah si Anak Hilang: An Interpretative Essay”.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top