Monday

Gaya Bahasa Pertentangan


Halo Sahabat Imbas yang setia, seperti janji kami pada postingan sebelumnya mengenai Gaya Bahasa atau Majas, bahwa kami akan mengulas lebih dalam satu persatu mengenai kategori majas sebelumnya bahwa gaya bahasa dipakai untuk menghidupkan dan memberi jiwa pada karya tulis. Menurut isi dan jenisnya, gaya bahasa dapat dibedakan menjadi: 
a. Gaya bahasa penegasan 
b. Gaya bahasa perbandingan 
d. Gaya bahasa sindiran

Pada pertemuan kali ini kami akan mengulas lebih mendalam mengenai Gaya Bahasa Pertentangan. Berikut Majas-majasnya.

1) Hiperbola

Gaya bahasa yang mengandung suatu pemyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya).
Contoh:Kurus kering tiada daya kekurangan pangan sebagai pengganti kelaparan
Tabungannya berjuta-juta, emasnya berkilo-kilo, rumahnya berpuluh-puluh, sebagai pengganti dia orang kaya.
2) Litotes
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya, dinyatakan dengan menyangkallawan katanya, mengingkari kebalikannya.
Contoh:Ellyas bukanlah petinju kampungan yang bisa dianggap enteng.
H.B. Jasin bukanlah kritikus murahan
3) Ironi
Suatu aeuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi merupakan suatu upaya literer yang efektif karena ia menyarnpaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud berolok-olok.
 Contoh:Aduh bersihnya kamar lID, puntung rokok dan sobekan kertas bertebaran dilantai.   
4) Oksimoron   
Suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalarn frasa yang sarna, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajarn dari paradoks. Contoh:Olah raga mendaki gunung memang menarik hati walaupun sangat berbahaya.
Untuk mencintai ada kalanya kita kita harns membenci.
5) Paronomasia
Kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi. Merupakan permainan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.
Contoh:Oh adinda sayang, akan kutanamkan bunga tanjung di pantai tanjung hatimu.
Kami menerima ban tuan ini sebagai bantuan yang sangat berharga.
6) Paralis
Gaya bahasa yang dipergunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri.
Contoh:Semoga Tuhan menolak doa kita, (maaf) bukan, maksud saya mengabulkannya
7) Silepsis dan zeugma
Gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar. Dalam zeugma, kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya (baik secara logis maupun secara gramatikal). Contoh:Wanita itu kehilangan harta dan kehormatannya.
Anak. itu memang rajin dan malas di sekolah.
8) Satire
Ungkapan yang menertawakan sesuatu, mengandung kritik terhadap kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis maupun estetis. Ungkapan yang menolak sesuatu, baik secara terang-terangan atau sindiran.
Contoh:BungUsman:
Hendak tinggi?
Mau tinggi.
Di muka bumi????
Panjat kelapa
Sampai ke puncak!!!
Alangkah tinggi
Di muka bumi!!!
9) Inuendo
Semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenamya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak 1angsung, dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat.
Contoh:Setiap ujian Sipenmaru dia gagal karena sedikit kurang membaca buku pelajaran
10) Antifrasis
Semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangka1 kejahatan, rohjahat, dan sebagainya. Contoh:
Mari kita sambut kedatangan siswa teladan! (maksudnya: siswa yang paling malas)
Memang kau orang pintar! (maksudnya orang to101)
11) Paradoks
Gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya.
Contoh:Aku kesepian di tengah keramaian.
Ternan karib ada kalanya merupakan musuh sejati.
12) Klimaks
Gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya.
Contoh:Setiap guru yang berdiri di muka kelas haruslah mengetahui, memahami, menguasai, serta menghayati bahan pelajaran yang diajarkan.
13) Antiklimaks
Suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting.
Contoh:Pembangunan besar-besaran dilaksanakan di kota-kota, di desadesa, dan di dusun-dusun terpencil.
14) Apostrof
Gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh:Wahai roh-roh nenek moyang kami yang bertahta di negeri atas, tengah, dan bawah, lindungilah cucumu warga desa Linggajulu ini.
15) Anastrof
Gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Contoh:Diceraikannya istrinya tanpa setahu sanak saudaranya.
Kucium pipinya dengan mesra.
16) Apofasis
Sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkalnya. Contoh:Saya tidak ingin menyingkapkan dalam rapat ini bahwa putrimu itu telah hamil, telah berbadan dua.
17) Histeron proteron
Gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Juga disebut hiperbaton.
Contoh:Pidato yang berapi-api pun keluarlah dari mulut orang yang berbicara terbata-bata itu.
Dia membaca cerita itu cepat sekali dengan cara mengejanya kata demi kata.
18) Hipalase
Gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang ain. Hipalase adalah suatu kebalikan dari suatu relasi alamiah anatara dua komponen gagasan.
Contoh:Kami tetap menagih bekas mertuamu utang prnJaman kepada pakcikmu. (maksudnya: Kami tetap menagih utang pinjaman bekas mertuamu kepada pakcikmu)
19) Sinisme
Suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sinisme adalah ironi yang lebih kasar sifatnya.
Contoh:Memang andalah tokohnya yang sanggup menghancurkan desa ini dalam sekejap mata.
20) Sarkasme
Suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan selaan yang getir. Olok-olokan atau sindiran pedas dan menyakitkan hati.
Contoh:Mulutmu harimaumu.
Meminang anak gadis orang memang mudah dan menyenangkan, tetapi memeliharanya setengah mati!

Cukup sekian ulasan lengkap mengenai Gaya Bahasa Pertentangan. Selanjutnya kami akan membahas lagi mengenai sub gaya bahasa lainnya. Semoga artikel kami bermanfaat bagi anda. berikan kritik dan saran lewat komentar dibawah ini agar kami bisa selalu meningkatkan kualitas kami untuk anda. salam hangat dari kami

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top