Saturday

Cerita Novel Online - Ziarah



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Iwan Simatupang (18 Januari 1928-4 Agustus 1970)
Penerbit    : Djambatan
Tahun        : 1968; Cetakan V, 1988


Pelukis berbakat itu benar-benar kehilangan. Istri tercinta tiba-tiba meninggal. Ia masih juga belum percaya istrinya meninggal meskipun ia melihat sendiri penguburannya. Oleh karena itu, ia masih selalu berharap agar bisa bertemu kembali dengan istrinya. “Besok! Besok aku pasti bertemu dia!” (hlm. 5). Begitulah lelaki itu tentang menggantang harapannya. Dialah yang disebut sebagai tokoh kita, si pelukis yang kini tak lagi melukis. Hidupnya menggelandang, mencari istrinya yang sudah tiada.

Ketika bertemu dengan opseter kuburan kotapraja, ia sedikit merasa senang karena ditawari pekerjaan mengapur tembok di sekeliling kompleks kuburan. Ia ingat, istrinya juga dimakamkan di sana. “Di dalam perkuburan itu, istri bekas pelukis yang amat berbakat itu dikubur… Dia ingin mempersaksikan tingkah lakunya ketika mengapur nantinya. Dia tentulah tahu istrinya dikubur di pekuburan yang justru dipagari tembok-tembok itu” (hlm. 9).
Baru tiga hari tokoh kita melaksanakan tugasnya, Walikota ternyata mengetahui juga apa yang sedang dilakukan bekas pelukis itu. Walikota kemudian memutuskan agar pekerjaan pengapuran yang sedang dilakukan tokoh kita segera dihentikan. Ia juga segera memberhentikan opseter kuburan yang dinilainya telah membuat kekacauan. Kalangan pers, radio, dan film menyambut tindakan Walikota sebagai hal yang patut dicontoh, sebagai perbuatan yang terpuji. Publisitas besar-besaran pun gencar dilakukan media massa, termasuk publisitas tokoh kita.

Bagi sang Walikota, publisitas yang sedemikian gencar itu, ternyata sama sekali tidak membuatnya gembira. Bahkan sedih, bingung. Ia merasa telah termakan taktiknya sendiri. Semula ia membayangkan bahwa dengan tindakan pemecatan terhadap opseter kuburan itu, namanya akan melambung tinggi, reputasinya naik sebagai Walikota teladan. Dalam beberapa bulan saja, tentu pangkatnya akan naik menjadi gubernur, kemudian menjadi menteri, dan akhirnya menjadi kepala Negara.
Dalam keadaan demikian, Walikota tiba-tiba terkejut melihat kenyataan bahwa opseter tua itu kini mati. Ia segera menyuruh kepala dinas pekerjaan umum untuk mengurus penguburannya. Opseter itu kemudian dikubur di pekuburan yang dijaganya hampir lebih dari separuh hidupnya.

Akan tetapi, persoalan baru muncul. Siapa yang bakal menggantikannya? Tak seorang pun mau. Iklan lowongan pekerjaan untuk jabatan opseter segera dipasang di berbagai surat kabar. Namun, hasilnya nihil. Tak seorang pun mau. Kepala Jawatan Penempatan Tenaga Kerja yang menangani masalah ini mulai khawatir; cemas karena jika jabatan itu tak kunjung terisi, Walikota sangat boleh jadi akan memecatnya.

Beruntung, seorang pemuda, mahasiswa tingkat doctoral Fakultas Sastra dan Filsafat, menyatakan bersedia memangku jabatan yang lowong itu. Maka, opseter pekuburan kotapraja sekarang dipegang oleh seorang pemuda –yang biasanya hanya orang-orang berumur yang mau melakukan pekerjaan itu. Pemuda itu pun langsung menempati rumah dinasnya di komplek pekuburan. Opseter baru ini, berkat kecerdasannya, ternyata dapat cepat menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Buruh-buruh pekuburan puas. “Demikian juga dengan atasan-atasannya, termasuk kepala dinas pekerjaan umum kotapraja” (hlm. 35).

Kemampuannya menyesuaikan diri serta kecemerlangan otaknya, ia buktikan pula pada aturan dan kebijasanaan perdana menteri baru, pengganti kepala Negara yang sebelumnya, yang meninggal justru karena sebelumnya berkunjung ke tempat opseter muda itu. Pendeknya, opseter muda ini benar-benar memperlihatkan cara kerja yang baik. Sungguhpun begitu, beberapa menyayangkan potensial anak muda itu. Paling tidak, hal ini dikemukakan oleh dua lelaki yang datang menghadap Walikota; yang seorang adalah ayah opseter muda itu dan seorang lagi seorang mahaguru. Keduanya meminta kepada Walikota agar memecat opseter itu.

“Dia adalah anak saya satu-satunya, jadi, ini berarti dia adalah ahli waris satu-satunya bagi seluruh harta kekayaan saya.” Demikianlah alasan ayah opseter itu kepada Walikota; sedangkan mahaguru itu mengemukakan alasan “Dan dia … adalah mahasiswa saya. Dia telah duduk di tingkat doctoral. Dia termasuk mahasiswa saya yang terpintar” (hlm. 46). Namun, jawaban opseter muda itu adalah ia tak mau diganggu oleh siapa pun.

Sementara itu, tokoh kita –mantan pelukis- kembali ke pekerjaannya: mengapur tembok kuburan. Sore harinya ketika ia pulang, didapatinya sebuah lukisan di kamarnya hilang. Setumpuk uang asing tergeletak di mejanya. Pelukis yang tidak pernah melukis lagi itu, tak ambil peduli. Ia tukar uang itu dengan uang nasionalnya. Hasilnya, ia memperoleh uang begitu banyak. Oleh karena amat bingungnya, ia mempertaruhkan semua uangnya dalam sebuah pertandingan bola. Ternyata, dia menang! Ia makin bingung. Uang terus bertambah. Setiap kali mengikuti taruhan, ia menang. Sampai akhirnya ia bermaksud: bunuh diri.

Rupanya nasib membawanya lain. Bekas pelukis itu justru kawin dengan seorang gadis. Ke mana-mana ia bawa istrinya. Sampai pada suatu saat, sebuah kejadian yang tak diinginkannya datang. Untuk kedua kalinya, istrinya meninggal. “Besoknya, istri pelukis itu dikubur” (hlm. 112).

Suatu ketika, si pelukis yang kembali ke pekerjaannya mengapur tembok, bertemu dengan opseter muda bekas mahasiswa sastra dan filsafat. Pasalnya, bermula dari keputusan si pelukis untuk menghentikan pekerjaannya. “Saya berhenti untuk seterusnya. Maafkan saya” (hlm. 134). Itulah keputusan yang disampaikan si pelukis kepada opseter muda. Dari sinilah kemudian terjadi dialog panjang. Kedua orang itu masing-masing mengungkapkan sikap hidupnya.
“Besoknya perkuburan itu geger. Opseter didapati mati, menggantung dirinya di rumah dinasnya” (hlm. 138).

Selesai penguburan, bekas pelukis itu bertemu dengan seorang kakek bertubuh kecil yang bekerja di pekuburan itu juga. Ternyata, kakek itu adalah mahaguru opseter yang baru dikuburkan. Pertemuan ini sedikitnya membawa kesadaran baru bagi si pelukis. Maka, ia berketetapan akan bekerja sebagai opseter menggantikan opseter yang mati bunuh diri. Di samping itu, dengan berkerja sebagai opseter, ia akan dapat setiap saat menziarahi kuburan istrinya yang tercinta.
Lelaki itu sadar. “Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan” (hlm. 151).

                                                                  ***
Kajian atas novel Ziarah
ini dilakukan oleh Okke KS Zaimat dalam disertasi doktornya yang berjudul “Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang” (UI, 1990) yang juga ditulisnya dalam bahasa perancis berjudul “Lecture Ltinerante De Ziarah D’Iwan Simatupang. Novel yang memperoleh Hadiah Sastra ASEAN tahun 1977 ini pada tahun 1975 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dengan judul The Polgrim.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top