Sunday

Cerita Novel Online - Warisan

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Chairul Harun (Agustus 1940)
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1979

Cerita Novel Online - WarisanSinopsis Novel

Kedatangan Rafilus ke Kuraitaji sesungguhnya hanya karena ayahnya, Bagindo Tahar, sakit. Pemuda Minang yang kini sudah berhasil dalam penghidupannya di Jakarta, bersama ibu dan adik-adiknya, bermaksud membawa ayahnya berobat ke Jakarta. Dengan maksud itulah ia sengaja datang sendiri menjemput ayahnya.

Namun, sanak keluarganya di Kuraitaji memandang kedatangan Rafilus dalam kaitannya dengan harta kekayaan Bagindo Tahar. Ayah Rafilus di daerah itu memang dikenal sebagai bangsawan kaya yang dihoramati dan disegani. Maka, wajar jika sanak keluarganya mulai rebut dan membincangkan soal harta warisan mengingat keadaan orang tua itu kini dalam keadaan parah. Dapat dipahami pula jika kedatangan Rafilus dihubungkan dengan soal harta warisan ayahnya. Anggapan tersebut tidak hanya datang dari Murni, ibu tirinya, tetapi juga datang dari Siti Baniar, adik perempuan Bagindo Tahar yang bersuamikan Tuanku Salim, anak Siti Baniar dari suami pertama, Sidi Badaruddin dan istrinya, Asnah. Rafilus tidak mau peduli dengan semua anggapan itu. Yang penting baginya, ayahnya dapat berobat ke Jakarta.

Ternyata, ayah Rafilus (70 tahun) tidak dapat begitu saja meninggalkan Siti Baniar dan Sidi Badaruddin yang juga sedang sakit parah. Itulah yang memberatkan Bagindo Tahar, mengingat keduanya termasuk generasi terakhir menurut garis matrilineal, sebagaimana yang berlaku dalam sistem kekerabatan di Minangkabau.
Sungguhpun ajakan Rafilus ditolak ayahnya, ia masih akan mencoba membujuk lagi pada saat yang tepat. Namun, sementara itu ia makin merasakan betapa tidak sedikit sanak keluarga, kerabat, maupun yang tiba-tiba mengaku kerabatnya benar-benar menginginkan harta warisan ayahnya. “Perempuan-perempuan muda, janda-janda kesepian dan menggairahkan; semuanya mau membujuk, hendak mendapatkan keuntungan dari kematian Bagindo Tahar. Semuanya menjengkelkan Rafilus” (hlm. 39).

Suatu hari, beberapa saat setelah kedatangan Tun Rudin˗˗seorang dukun yang terkenal di Kuraitaiji˗˗penyakit Siti Baniar dan Sidi Badaruddin kambuh. “Siti Baniar meraung-raung. Seluruh tubuhnya merah seperti udang dibakar” (hlm. 42). Keadaan Sidi Badaruddin sendiri tidak lebih baik. Ia meraung-raung berkepanjangan. Menjelang malam, Sidi Badaruddin meninggal dunia. Istrinya, Asnah, pada malam itu entah berada di mana.

Esoknya, upacara penguburan segera dilaksanakan. Setelah terjadi silang pendapat perihal tempat dimakamkannya almarhum, Bagindo Tahar memutuskan agar kemenakannya dikubur di depan rumahnya. Beberapa waktu kemudian Asnah bersama Tuan Rudin dan Salim, berusaha memfitnah Murni dengan cara menyebarluaskan berita bahwa kematian Sidi Badaruddin akibat diracuni Murni. Namun, sebelum usaha itu berhasil, Rafilus yang mendengar rencana tersebut segera memberi tahu Bagindo Tahar. Orang tua itu kemudian mendesak Asnah agar membuang racun yang dibawanya. Akibatnya, rencana Asnah malah berbalik kepada dirinya sendiri.

Sementara itu, Rakena yang masih kerabat Bagindo Tahar, bermaksud menjemput Rafilus untuk dijadikan suami putrinya, Arneti.  Rafilus mengetahui bahwa Arneti tak gadis lagi, tetapi ia tak menolak rencana itu. Sejalan dengan itu, hubungan Rafilus dengan seorang janda bernama Maimunah, makin intim. Sungguhpun begitu, rencana perkawinan Rafilus dengan Arneti tetap dipersiapkan tanpa mengganggu hubungan Rafilus dengan Maimunah.

Sebelum perkawinan berlangsung, Siti Baniar meninggal. Rencana perkawinan pun tertunda. Semua kerabat yang tadinya bermaksud menghadiri perkawinan Rafilus dan Arneti, terpaksa menunggu beberapa hari. Selain itu, suami Siti Baniar˗˗Tuanku Salim˗˗ternyata sudah kawin lagi dengan Upik Denok, justru menjelang kematian istrinya.

Perkawinan Rafilus dan Arneti jadi juga dilaksanakan. Namun, malam pengantinnya tidak terjadi, karena Rafilus  pergi ke rumah ayahnya bersama janda bernama Farida. Pada malam-malam berikutnya Rafilus tetap tinggal di rumah ayahnya sampai orang tua itu meninggal dunia. Namun, sebelum Bagindo Tahar wafat, ia sempat membuat surat wasiat yang memberi kuasa sepenuhnya kepada Rafilus untuk membagikan harta warisannya.

“Berlainan dengan kematian Sidi Badaruddin dan Siti Baniar, kematian Bagindo Tahar mendapat perhatian dari segenap lapisan masyarakat Kuraitaji” (hlm. 127). Arneti˗˗istri Rafilus˗˗datang melayat, tetapi sama sekali tidak menyinggung-nyinggung soal mengapa suaminya tak datang ke rumah. Rafilus yang tahu tabiat istrinya, lebih banyak mencurahkan perhatian pada pengurusan penguburan ayahnya.

Pada upacara peringatan 40 hari kematian Bagindo Tahar, Rafilus sengaja hendak membereskan soal warisan di hadapan sanak keluarganya. Oleh karena Bagindo Tahar sudah memberi surat kuasa, setiap anggota tak ada yang memprotes tindakan Rafilus. Rafilus sendiri tak memperoleh apa-apa dari harta warisan ayahnya. Ia hanya bertindak sebagai orang yang membereskan pembagian harta warisan kepada sanak keluarganya.

Setelah segala sesuatunya dibicarakan, ternyata hampir semua harta kekayaan Bagindo Tahar sudah digadaikan. Mengingat Bagindo Tahar meninggalkan warisan utang, maka setiap anggota keluarga hanya akan memperoleh bagian harta warisan jika ia mampu menebus atau melunasi utang almarhum. Utang-utang almarhum sebenarnya akibat kelakuan Asnah dan Tuanku Salim, bukan semata-mata ulahnya sendiri. Kemudian, setelah dihitung-hitung utang almarhum besarnya hampir sama dengan harta warisan yang ditinggalkan bangsawan itu. Akibatnya, tak ada seorangpun yang berminat memperoleh harta warisannya.

Setelah selesai dengan urusan pembagian “harta warisan” itu Rafilus kembali ke Jakarta. Namun, kurang tiga bulan kemudian ia kembali ke Kuraitji untuk menjemput Maimunah yang telah mengandung anak Rafilus. Janda itu kemudian diboyongnya ke Jakarta untuk dijadikan istrinya, sedangkan istri terdahulunya˗˗Arneti˗˗telah diceraikan jauh-jauh sebelumnya.

Resensi Novel

                                                                        ***
Tahun 1976 novel ini direkomendasikan oleh Dewan Juri Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta sebagai novel yang layak diterbitkan. Tiga tahun kemudian (1979). Novel ini memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama, Depdikbud.

Menurut banyak pengamat sastra, salah satu keberhasilan novel ini terletak pada penggambaran latar kedaerahan. Hubungan antar-anggota keluarga, upacara kematian dan perkawinan, serta tata cara pembagian harta warisan, merupakan gambaran yang khas pada masyarakat Minangkabau.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top