Wednesday

Cerita Novel Online- Telegram

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Putu Wijaya (11 April 1944)
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1973; Cetakan III, 1986

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online- TelegramSeorang lelaki berfirasat akan mendapat telegram dari keluarganya di Denpasar, Bali. Baginya, telegram dan sejenisnya, membawa kabar yang tak menyenangkan, katanya “banyak surat yang kuterima isinya malapetaka. Salahku juga. Aku menganggap surat-menyurat barang sepele. Jadi, dari pihak pengirim-pengirim sudah ada kebiasaan: hanya hal-hal luar biasa saja yang pantas diabadikan dalam sebuah surat. Teristimewa telegram. Dah hal yang lebih istimewa dari semua rupanya yang bernama malapetaka,” (hlm. 14). Firasat itu mengantarkan pada angan-angan seakan-akan ia benar-benar menerima telegram.

Isi telegram membawa kabar: ibunya meninggal. Kabar itu mengharuskannya pulang ke Bali; dan hal itu juga berarti ia harus menerima tanggung jawab resmi sebagai kepala rumah tangga besar yang mengurusi beberapa hektar tanah, tiga buah rumah tua beserta penghuninya, tugas keluarga kepada banjar, tugas menyelenggarakan ngaben, dan tugas-tugas adat lainnya dalam rumah itu. Bagi lelaki itu, tugas yang dibebankan ke pundaknya itu sama dengan pembunuhan. Namun, ia tak punya hak untuk menolaknya, “kecuali kalau berani memutuskan hubungan keluarga,” (hlm. 15).

Lelaki itu terpaksa berbohong ketika Sinta, anak pungutnya, menanyakan isi telegram. Ia tak ingin Sinta terpengaruh –seperti biasanya apabila menerima telegram. Ia mengatakan bahwa paman Sinta yang tinggal di Surabaya akan datang dan minta dijemput di Stasiun Gambir.
Kemudian, lelaki itu berpura-pura menjemput familinya di Gambir bersama anak pungutnya. Tanpa disadarinya, Sinta telah mengetahui isi telegram yang sebenarnya. Terpaksalah ia berterus terang kepada gadis kecil itu. Lalu mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Bali.
Bebarengan dengan persoalan telegram, datang masalah dari ibu kandung Sinta. Wanita itu meminta anak gadisnya. Mulanya, lelaki itu menolak keinginan wanita itu, tetapi akhirnya menyerahkan keputusan kepada Sinta.

Masalah lain yang timbul adalah perihal kesehatannya yang menurun. Ia takut telah tertular penyakit kelamin dari Nurma, pelacur yang selalu digaulinya. Kekhwatirannya semakin bertambah ketika seorang teman karibnya ketakutan anaknya akan lahir cacat karena ayahnya sering tidur dengan pelacur. Persoalan-persoalan lain menderas masuk dalam pikirannya. Ia juga memikirkan kekasihnya, Rosa, yang memutuskan hubungannya; padahal tiga bulan lagi akan dikawininya. Ia berusaha mempertahankan Rosa, tetapi tak bisa. Lelaki itu terpukul meskipun sebenarnya Rosa hanyalah kekasih dalam lamunannya (hlm. 120).

Lelaki itu mengalami krisis kejiwaan. Khayalan dan angan-angannya telah menjadi satu dengan kenyataan hingga ia tak dapat membedakannya. Ia sendiri tak mempercayai kewarasannya. “Aku ingin sekali berkata: ‘Aku waras. Aku tidak gila!’” (hlm. 119), katanya di hadapan tukang warung yang terheran-heran memperhatikannya.
Sementara itu, detik-detik keberangkatannya ke Bali bertambah dekat. Lelaki itu dan anak pungutnya bersiap-siap ke Bali. Rumah sudah dititipkan pada bibi yang biasa mengurus rumahnya. Tiket pesawat sudah dipesan. Tinggal menunggu waktu keberangkatan saja. Semua sudah siap.

“Pintu diketok. Bibi keluar menjenguk. Ia masuk lagi membawa secarik kertas. Telegram. Hatiku bereaksi. Telegram dibuka. Isinya seperti yang sudah kuduga. Ibu telah meninggal!” (hlm. 143). Ya, itulah kabar sesungguhnya. Telegram yang sebenarnya; sedangkan yang terdahulu adalah bunga angan-angannya saja, khayalannya saja.

Resensi Novel Online

                                                              ***
Telegram merupakan novel Putu Wijaya yang dipandang oleh banyak kritikus sebagai novelnya yang berhasil. Pamusuk Eneste (1990: 145) secara tegas menyebutnya sebagai novel yang menampilkan corak baru dalam penulisan novel Indonesia tahun 70-an. Menurut Teeuw (1980: 208) menyebutnya sebagai masalah yang sangat penting; paradox manusia modern dalam keterasingannya.

Novel ini juga dijadikan sebagai bahan penelitian skripsi, antara lain: M.H. Nadjib (FS UGM, 1981); Kusdiratin (tesis S2, FS UGM, 1983) yang berjudul Struktur dan Makna Pabrik, Telegram, dan Stasiun karya Putu Wijaya; Adnyana Ida Bagus Made Surya (FS Udayana, 1984) berjudul Analisis Telegram Berdasarkan Pendekatan Strukturalisme; dan Utjen Djusen Ranadibrata (FS UI, 1980) menganalisis Telegram secara mendalam sebagai novel arus kesadaran.
Novel ini merupakan pemenang pertama sayembara mengarang roman yang diselenggarakan Panitia Tahun Buku Internasional 1972. Setahun kemudian baru diterbitkan sebagai buku. Novel  ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jepang.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top