Saturday

Cerita Novel Online - Siklus

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Mohammad Diponegoro (28 Juni 1926-9 Mei 1982)
Penerbit        : Pustaka Jaya
Tahun           : 1975

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online - SiklusSebuah peluru yang menerjang bahu kiri Amir, telah membuat pemuda pejuang kemerdekaan itu, luka parah. Bukan tidak mungkin ia akan gugur jika temannya, Busrodin, tidak segera menolongnya. Saat itu, Amir melihat sebuah kalung tergantung pada leher temannya itu. “Sementara Busrodin membalut luka Amir, mainan kalung itu berayun-ayun di atas wajah Amir” (hlm. 7). Apa yang dilakukan Busrodin ternyata harus dibayar mahal. Ia terkena peluru musuh hingga menyebabkannya gugur. Amir sendiri kemudian pingsan setelah sebelumnya mengambil kalung milik temannya itu yang tergeletak di tanah. Rupanya, peluru musuh ikut memutuskan rantai kalung itu.

Itulah awal misteri yang dihadapi Amir. Hal itu terjadi justru setelah hampir seperempat abad lamanya peristiwa gugurnya Busrodin berlalu. Kini, Amir yang sudah menjadi salah seorang pejabat penting di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, memakai kalung itu lagi. Kalung yang konon berasal dari seorang serdadu Gurkha yang terbunuh di Surabaya itu, ikut terbawa Amir yang mendapat tugas menghadiri Konferensi Kebudayaan Internasional di Taiwan.

Di Taipeh, secara kebetulan, John Fletcher, seorang Amerika, sahabatnya sewaktu di Jakarta, mengetahui kehadiran Amir di sana. Pertemuan Amir dengan antropolog Amerika itu, ternyata mengangkat kembali persoalan kalung yang penuh misteri itu. John yang tanpa sengaja melihat kalung itu tersembul keluar dari sela kemeja sahabatnya, tertarik untuk mengetahui lebih jauh asal-usulnya. John kemudian memperlihatkan buku The African Voodoo yang di dalamnya tertera keterangan mengenai kalung itu. Menurut keterangan buku tersebut, kalung itu dibuat oleh seorang dukun Afrika sekitar tiga abad yang lalu. Semula benda itu dimaksudkan untuk mengutuk suatu keluarga secara turun-temurun. Belakangan, kemudian dijadikan semacam jimat yang dapat mendatangkan malapetaka pada siklus waktu setiap dua puluh empat tahun sekali. Demikianlah hasil penelitian John Fletcher selanjutnya.

Oleh karena benda itu dipandang dapat mendatangkan malapetaka, John berkeras untuk memilikinya. Ia akan menyimpannya di museum pribadinya di Blair. Maka, diajukannyalah tawaran untuk membeli kalung itu seharga 500 dolar. Amir, pada waktu itu belum dapat memutuskan, mengingat benda itu sebagai kenang-kenangan dari sahabatnya, Busrodin. Ia ingat, betapa teman seperjuangannya itu gugur karena berusaha menyelamatkan nyawanya.

Kalung mainan berukiran topeng itu, akhirnya dijual juga. Amir menerima 750 dolar. Dengan gembir, John membawa kalung itu ke rumahnya. Ia yang sedang menulis buku tentang misteri kalung tersebut, terus melakukan penelitian terhadap rahasia yang terkandung di dalamnya. Dalam rangka itu pula, guru besar antropologi itu, bermaksud mengumpulkan data mengenai kalung itu ke Brazzaville.

Dalam pada itu, John sendiri rupanya punya masalah dengan istrinya Susan. Perbedaan usia suami-istri yang terlalu jauh –Susan lebih muda dua puluh tahun-, perhatian John yang hampir sepenuhnya untuk kepentingan profesinya, serta kurangnya perhatian Susan pada pekerjaan suaminya, telah menciptakan keretakan dalam hubungan suami-istri itu. Di samping itu, skandal gelapnya dengan Ching, salah seorang yang berpengaruh di Taiwan, makin menyulut keretakan itu. Susan bermaksud menceraikan John untuk kemudian menikah dengan konglomerat Taiwan itu. Sungguhpun pada akhirnya Susan meninggalkan Ching yang ternyata diketahui sudah beristri, hubungan Susan dengan John, masih belum begitu baik.

John bukan tidak menyadari permasalahannya dengan Susan. Bagaimanapun, ia berharap istrinya dapat memahami dan sedikit menaruh perhatian pada profesinya sebagai antropolog. Maka, wajarlah jika ilmuwan itu merasa begitu gembira ketika pada suatu saat, ia melihat kalung yang berukiran topeng hantu itu, dalam keadaan tertelungkup. Menurut dugaannya, Susan telah melihat kalung yang sedang  ditelitinya itu dan kemudian menyimpannya kembali dalam keadaan tertelungkup. Padahal, sebelumnya, John meletakkannya dalam keadaan sebaliknya.

Segera John mengambil kalung itu, mencari istrinya dan bermaksud menceritakan ihwal misteri yang terkandung di dalamnya. Dengan bergegas, ilmuwan yang juga kolektor benda-benda aneh itu, segera hendak menemui Susan yang kebetulan sedang berada di lantai atas. Akan tetapi, saat berada di tangga teratas, ia terpeleset. Tergelincir dan tubuhnya terguling, meluncur ke bawah. Tubuhnya tergeletak di lantai dengan jari tangannya terlihat masih memegang kalung itu. Ternyata, kecelakaan itu telah membawa John sampai pada akhir hayatnya. Kalung yang penuh misteri itu tampak “menengadah, memancarkan kebengisan, pandangan balas dendam. Wajah topeng hantu itu juga seperti wajah John Fletcher yang tergeletak di sana” (hlm. 142).

Amir yang mendengar kematian John, segera melayat, menyatakan turut belasungkawa kepada istri almarhum. Amir, yang mendengar cerita Susan bahwa sesaat sebelum meninggal, wajah John mirip dengan topeng hantu itu, mencoba memperhatikan tulisan yang ada di belakang kalung topeng itu. Amir ingat bahwa sebenarnya tulisannya sendiri yang mencatat hari, tanggal, dan bulan kematian sahabatnya, Busrodin, yaitu hari Kamis, 16 Juli, dua puluh empat tahun yang lalu. Ternyata, kematian John Fletcher pun sama persis dengan hari, tanggal, dan bulan gugurnya Busrodin.

Dengan penyesalan mendalam, Amir berpamitan, meninggalkan Susan yang kini menjanda bersama kalung yang penuh misteri. Betapapun Susan berusaha memberikan kalung itu lagi kepadanya, Amir tetap tak mau menerimanya karena John sudah berniat untuk menyimpannya di museumnya, di Blair, Nebraska.

Resensi Novel Online

                                                                     ***

Pada tahun 1973, Siklus berhasil memperoleh Hadiah Penghargaan Sayembara mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional 1972, DKI Jakarta. Kemudian, tahun 1975 diterbitkan sebagai buku.

Kajian mendalam mengenai novel ini telah dilakukan Zaenal Muttaqien dair Fakultas Sastra UI tahun1984. Dalam skripsinya itu, Zaenal melampirkan daftar karya Mohammad Diponegoro secara lengkap.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top