Monday

Cerita Novel Online - Royan Revolusi

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.
Pengarang    : Ramadhan KH (16 Maret 1927)
Penerbit    : Gunung Agung
Tahun        : 1971; Cetakan II, 1986

Idrus adalah seorang mahasiswa pertanian, pemuda yang lembut, jujur, mempertahankan moral yang tinggi, dan tebal keimanannya. Pada masa revolusi fisik, ia turut bergerilya mempertahankan Indonesia, bahkan dadanya sempat tertembak. Kini, setelah perang usai, ia merasa kecewa melihat keadaan negerinya. Korupsi, suap-menyuap, penyelewengan jabatan, dan pelanggaran moral melanda negeri. Penjaga pintu harus disuap dengan uang jika seseorang ingin bertemu dengan seorang pejabat; orang berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya selama memegang jabatan; dan hubungan pria dan wanita layaknya seperti suami-istri meskipun belum menikah. Idrus muak melihat keadaan itu. Lebih-lebih kawan-kawan seperjuangannya juga melakukan penyelewengan-penyelewengan.

Ayahnya, Wiradinata, adalah seorang pensiunan pegawai negeri yang tidak peduli terhadap keadaan anak-anaknya. Selain itu, ia sibuk dengan kegemarannya sebagai penjudi. Hal ini menambah kebencian Idrus kepada ayahnya. Namun, di pihak lain, ia menaruh hormat dan kagum terhadap ayahnya karena kejujuran dan sikapnya mengharamkan perbuatan korupsi dan penyelewengan jabatan.

Fatimah, ibu Idrus, adalah seorang wanita desa yang diceraikan oleh suaminya ketika Idrus masih kecil. Hal ini membuat Idrus merasa benci kepada ayahnya. Wanita itu menginginkan agar Idrus menyelesaikan kuliahnya dan meraih titel insinyur. Ia tidak setuju ketika anaknya berniat untuk berhenti kuliah dan menjadi pengarang.
Setelah mendapat izin ibunya, Idrus pindah dari Bogor ke Jakarta. Bersama dengan kawan seperjuangannya, Ramli, Idrus mendirikan percetakan dan penerbitan buku. Lambat-laun, Idrus terseret oleh arus zaman. Ia melakukan perbuatan yang selama ini dibencinya: ikut dalam kegiatan suap-menyuap agar penerbitnya mendapat pesanan dari kementerian yang menerbitkan buku. Meskipun hati nuraninya menolak melakukan penyuapan, Idrus tak dapat menghindar dari perbuatan itu karena ia harus berbuat agar tetap hidup dan modalnya tidak hilang.

Kemudian, ketika ia mengunjungi kekasihnya, yaitu Juwita, Idrus mendapat kabar bahwa kekasihnya hamil. Idrus sangat terpukul hatinya mendengar kejadian itu. Ia sangat mencintai kekasihnya, tetapi sebaliknya, Juwita tidak mencintainya. Juwita berpacaran dengan pria lain dan hamil akibat perbuatan pria tersebut. Akhirnya, Idrus merelakan kekasihnya menikah dengan pria lain.

Idrus merenungi peristiwa tersebut. Ia sering membicarakan orang lain yang hamil karena melakukan hubungan sebelum menikah. Ketika ia menghadapi kenyataan bahwa adiknya, Ani juga hamil sebelum menikah, ia tak berani membicarakan hal itu dengan orang lain kecuali dengan keluarganya. Ia begitu putus asa dan berniat meninggalkan negerinya. Idrus memutuskan pergi ke Eropa.

Di Eropa, Idrus menyaksikan kebobrokan lain.. ia menyaksikan Panji, teman seperjuangannya ketika revolusi fisik, hidup bersama layaknya suami-istri dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Ia juga menyaksikan kelesuan orang Eropa dalam menghadapi kehidupan setelah perang dunia kedua.

Di tengah perjalanannya mengelilingi Eropa, Idrus bertemu dengan Eya Kuusela. Gadis itu menarik perhatiannya sehingga ia menjalin hubungan cinta kasih dengannya. Gadis itu merawat Idrus ketika Idrus jatuh sakit dan memberikan kasih sayangnya yang tulus. Namun, hubungan Idrus dengan Eya Kuusela tak berlangsung lama. Idrus terpaksa berpisah dengannya karena rasa rindu kepada negerinya lebih kuat menariknya. Ia pulang ke Indonesia.

Idrus tinggal di ibukota dan menjadi wartawan. Dalam suatu kesempatan, ia berhasil membongkar korupsi yang ternyata banyak melibatkan kawan-kawannya. Namun, kemudian, ia harus menghadapi pemimpin redaksi yang berkeras agar Idrus tak memuat kasus tersebut pertengkaran tak terhindarkan. Akhirnya, Idrus minta berhenti dari pekerjaannya.

Kemudian, Idrus membina hubungan percintaan dengan Rukiah. Percintaan dengan pacar barunya berjalan baik dan mengharukan. Namun, ketika Idrus dan pacarnya mengunjungi kampung gadisnya yang selalu kacau karena gangguan pemberontakan DI/TII, Idrus melihat dan menyaksikan orang-orang selalu mengeluh dan muak terhadap kebobrokan keadaan. Ia juga mengalami keadaan yang kacau itu ketika gerbong yang ditumpanginya bersama Rukiah, terlepas dari induknya. Dalam peristiwa itu Idrus selamat, tetapi Rukiah tewas.

Musibah itu rupanya membawa hikmah juga bagi Idrus. Setidak-tidaknya, kecelakaan yang menimpanya itu telah membuat Wiradinata, ayahnya, makin menyadari kekeliruan yang pernah dibuatnya, menelantarkan anaknya. Wiradinata kemudian datang menjenguk Idrus yang sedang dirawat di rumah sakit Rancabadak. “Di hari tua ini,” kata Wiradinata lagi, “aku mesti menyatakan minta maaf pada semua atas segala kesalahan di waktu dulu” (hlm. 224). Begitulah pertemuan itu telah merukunkan hubungan ayah-anak itu. Lebih dari itu, menyadarkan Wiradinata akan tanggung jawab dirinya selaku seorang ayah, serta membulatkan tekad Idrus untuk pergi meninggalkan ibukota dan tinggal di kampungnya; hidup bertani.

Rupanya, zaman edan sudah melanda ke pelosok negeri. Di kampungnya, Idrus menyaksikan pula berbagai kebobrokan. Para pedagang, lintah darat, petugas-petugas desa, serta para pemimpin agama, keadaannya sama saja; hidup senang dengan cara menggencet para petani kecil. Di antara mereka yang hidup dengan cara demikian, tidak lain adalah bekas teman-teman seperjuangannya dahulu. Hasrat Idrus untuk berbuat sesuatu makin tak dapat ditahannya lagi ketika ia menerima surat dari Mustafa, orang yang mempunyai cita-cita yang sama. Namun kini, orang tersebut meringkuk dalam penjara.

Akhirnya, Idrus segera memutuskan untuk berbuat sesuatu. Ia memimpin para petani untuk memberontak terhadap lurah dan antek-anteknya yang menjadi kaki tangan orang-orang Tionghoa. Ternyata, di antara para pemeras kehidupan para petani itu, terlibat pula bekas teman-teman seperjuangan Idrus. Mereka nyaris saja dibunuh oleh massa petani.

Setelah pemberontakan itu, perbaikan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat memang ada. Namun, itu tetap tak mengubah sikap Idrus: “Pemerasan oleh manusia atas manusia harus dikikis habis. Golongan-golongan yang rakus  harus disadarkan. Dunia akan berubah dan mesti berubah, dan akan terus menuju ke arah perbaikan, kemajuan dan kebebasan” (hlm. 306). Sikap itulah yang tak pernah pudar dalam diri Idrus.

                                                                           ***
Royan revolusi adalah novel Ramadhan Karta Hadimadja yang berhasil keluar sebagai pemenang pertama sayembara UNESCO-IKAPI tahun1968. Pada tahun 1975, Monique Lajourbert menerjemahkan novel ini ke dalam bahasa Perancis dengan judul Sequelles d’une Revolution. Oleh orang yang sama, novel ini juga dijadikan sebagai salah satu bahan disertasinya, L’image de I’occident dans la Litterature Indonesienne Moderne yang juga terbit tahun 1975.

Di Indonesia, studi terhadap novel ini, tercatat antara lain dilakukan oleh Purwantini (FS UGM, 1979) dan Nasrudin bin Abdullah (FS UGM, 1982) –yang terakhir juga meneliti karya-karya Ramadhan yang berupa puisi-; Haryono (FS Undip), dan sebuah lagi khusus meneliti tokoh dan penokohan novel Royan Revolusi lewat tinjauan psikoanalisis Sigmund Freud oleh Luceria N. Sitorus (FS UI, 1989).

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami Royan Revolusi. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top