Sunday

Cerita Novel Online - Pulau



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.


Pengarang    : Aspar (10 April 1943)
Penerbit    : Bhakti Baru
Tahun        : 1976

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online -  PulauSelama lima belas tahun lebih, Sunu Lompo tinggal sendirian di sebuah pulau kecil terpencil di sekitar Sulawesi Selatan. Selama itu pula ia berhasil mengatasi rasa sepinya, rasa sepi seorang lelaki yang dapat membuat hidup jadi membosankan. Padahal, “…bagi lelaki itu yang paling berharga dan harus selalu dijaganya adalah rasa yang tak pernah bosan untuk hidup” (hlm. 9). Namun, akhirnya pada suatu hari, timbul rasa rindu yang menggelora dalam dirinya. Ia terkenang pada kehidupan yang dijalaninya sebelum tinggal di pulau tanpa nama itu.

Sunu Lompo, seperti halnya para lelaki lain di Tanjung Bira, adalah keturunan pelaut. Sejak nenek moyangnya, mereka mengarungi laut Sulawesi, pesisir Sumatera, Jawa, Sumbawa, Maluku, Kalimantan, bahkan sampai ke Singapura, Hongkong, dan Filipina Selatan dengan perahu-perahu Pinisi yang mereka buat sendiri. Bagi lelaki Tanjung Bira, laut adalah kehidupan mereka, termasuk juga bagi Sunu Lompo. Peristiwa di tengah laut pulalah yang mengantarkan lelaki itu pada kehidupan seperti sekarang ini.
Waktu itu ia sedang berlayar menuju Gresik, Jawa Timur, mengantarkan barang dan terjadilah perampasan jabatan nakhoda itu kosong setelah Jumakka –nakhoda yang lama- meninggal. Seharusnya, jabatan itu dipegang oleh Sunu Lompo atau oleh juru mudi sebagai penggantinya, tetapi Docang –yang sudah lama mengincar jabatan nakhoda- merampasnya dan mengambil alih kepemimpinan kapal. Perubahan itu sangat mendadak sehingga ia dan juru mudi terpaksa bungkam saja. Namun, akhirnya Sunu Lompo tak bisa tinggal diam ketika Docang mengancam semua awak kapal dan memerintahkan untuk mengubah tujuan kapal. Hal itu berarti Docang bukan hanya merebut jabatan nakhoda, tetapi telah melanggar janji dengan pemilik barang. Bahkan lebih jauh, Docang ingin menguasai barang itu. “Padahal pelaut-pelaut sudah terpercaya mengantar tiap dagangan yang harus diselamatkan sampai ke tujuan. Nahkoda harus jamin keselamatan barang itu” (hlm. 15). Maka, perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Sunu Lompo berhadapan dengan Docang dan kawan-kawannya. Berbekal keris bertuah warisan kakeknya, ia mampu mengalahkan lawannya.

Kegaduhan yang terjadi di atas kapal itu menyebabkan kapal tak terkendali sehingga masuk dalam gulungan “kala-kala” –sebuah pertemuan pasang surutnya air laut, yang menimbulkan putaran gelombang dahsyat (hlm. 27). Kapal pecah. Awak kapal terlempar ke laut. Hanya Sunu Lompo yang selamat. Mungkin ia selamat karena mengikuti pesan kakeknya yang menyuruh agar ia berdiri dekat tiang utama jikan terjadi kekacauan; atau mungkin juga ia selamat karena kayu Sawerigading –kayu yang diimpikan oleh setiap pelaut karena dianggap bertuah. Sunu Lompo terdampar di pulau kecil tanpa nama.

Sementara itu, di Tanjung Bira kehidupan berjalan terus. Seorang lelaki muda, bernama Sattu, putra nahkoda Sanneng Karang, memadu kasih dengan Aminah, putri nakhoda Salasa Bora. Percintaan yang tulus dua sejoli ini terhalang karena kesalahpahaman yang timbul di antara orang tua mereka. Awalnya, nakhoda Sanneng Karang mengatakan kepada ayahnya bahwa “Sattu harus menunggu waktunya. Bila sahabatku itu sudah ingin mengangkat seorang mantu, apa boleh buat. Sattu harus memilih orang lain. Aku tak berhak menghalangi suratan jodoh putri sahabatku itu” (hlm. 83). Seorang tetangga yang mencuri dengar perkataan itu kemudian menyebarkannya kepada orang lain. Hal itu terus menyebar dengan versi yang berubah jauh dari ucapan semula. Kata-kata yang penuh pengertian dan bijaksana itu sampai ke telinga Salasa Bora menjadi “seakan-akan dia menggantungkan diri putrinya kepada keluarga sahabatnya itu, amat menusuk perasaan” (hlm. 84). Hal ini membuat nakhoda Salasa Bora tersinggung.

Sattu resah mendengar kabar angina yang tersebar merata di setiap kampung. Ia tahu pasti ayah Aminah tersinggung hatinya mendengar kabar angina itu. Didorong kegundahan dan keinginan agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Sattu menghadap ayahnya dan menanyakan apa yang sebenarnya diucapkan oleh ayahnya. Sanneng Karang mengerti kekhawatiran putranya. Orang tua itu dengan bijaksana memahami apa yang sedang terjadi dan ia akan meminta maaf kepada Salasa Bora.

Suatu sore, Sattu mendaki puncak bukit Pua Janggo, sebuah bukit yang dianggap keramat oleh orang-orang kampung dan tempat mengajukan permintaan. Namun, Sattu tidak akan mengajukan permintaan apa pun karena ia tak mempercayai bukit itu. Baginya, untuk mengharapkan rahmat, orang tak perlu jauh-jauh pergi, Tuhan selalu mendengar setiap permintaan makhluknya. Pemuda itu mendaki bukit Pua Janggo hanya untuk memenuhi keinginannya mendaki bukit itu. Tanpa sepengetahuan Sattu, Aminah mengikuti dari belakang. Bertemulah sepasang merpati itu. Gadis itu menceritakan bahwa ayahnya telah menerima lamaran seorang lelaki dari desa Tiro meskipun Aminah tak sudi menerimanya. Lalu, pemuda dan pemudi itu memutuskan untuk melarikan diri.

Seorang pemuda melihat Sattu dan Aminah berduaan di bukit Pua Janggo, lalu mengadukannya kepada Salasa Bora. Bertambah panas hari orang tua itu. Harga dirinya diinjak-injak; pertama oleh ucapan Sanneng Karang, dan kini oleh perbuatan anak sahabatnya itu.

Baru saja Sanneng Karang akan meminta maaf kepada Salasa Bora, kini datang tantangan dari sahabatnya itu. Sanneng Karang tak dapat menahan diri mendengar tantangan yang diucapkan di depan rumahnya dan didengar oleh banyak orang. Darah lelakinya panas, bergolak ke permukaan.

Dua orang nakhoda yang bersahabat dan saling menghormati itu, kini berhadapan untuk membela kehormatan dan harga diri keluarganya masing-masing: berhadapan sebagai musuh! Untunglah sebelum pertumpahan darah terjadi, muncul Rabo dan Beka –dua sahabat Sattu yang menolong pemuda itu melarikan diri bersama Aminah- menjelaskan duduk perkaranya. Rabo dan Beka bersumpah bahwa tak ada perbuatan aib yang terjadi antara Sattu dan Aminah di Pua Janggo. Kedua orang tua itu berhasil meyakinkan Sanneng Karang dan Salasa Bora hingga pertarungan itu dapat dihindarkan. Namun, kedua nakhoda itu tak mau menerima kembali anak mereka. Hati keduanya sama-sama terluka.
Nasib dua sejoli –Sattu dan Aminah- terbilang beruntung. Mereka tak ditelan gelombang kala-kala meskipun sebenarnya mereka terdampar tidak sesuai dengan tujuan mereka, ke Pulau Pasi. Mereka terdampar di pulau kecil, pulau tanpa nama, tempat Sunu Lompo tinggal. Kehadiran dua pendatang baru di pulau itu diterima oleh Sunu Lompo dengan hati gembira. Kemudian, ia menikahkan dua camar yang sedang dirasuk asmara itu menjadi suami-istri.

Beberapa waktu kemudian, Sunu Lompo menemui Penciptanya. Lelaki tua itu, yang telah dianggap sebagai orang tua sendiri oleh Sattu dan istrinya, dikuburkan di pulau itu.

Sattu dilanda kebimbangan ia menghadapi dua pilihan yang sulit: mengikuti permintaan Sunu Lompo agar ia meninggalkan pulau itu dan membawa Aminah serta calon anaknya, atau tetap mendiami pulau terpencil itu. Setelah terjadi perdebatan dalam dirinya, diputuskannyalah untuk meninggalkan pulau itu menuju ke kehidupan ramai di …. Tanjung Bira. Mereka berlayar menuju tanah kelahirannya.

Sattu dan Aminah akhirnya sampai di tempat tujuan, Tanjung Bira, tetapi tubuh mereka telah kaku. Maut telah datang menjemput mereka, bersama bayinya yang hanya beberapa saat sempat menghirup udara tanah kelahiran kedua  orang tuanya, udara tanah kelahiran nenek moyangnya. Tiga sosok manusia itu –suami, istri, dan anak- tergeletak kaku di pantai. Hanya ombak yang tak henti-hentinya membelai mesra tubuh mereka.

Resensi Novel Online

                                                                            ***
Pulau, novel kedua Aspar (= Andi Sofyan Paturisi) ini, menampilkan warna local (Sulawesi Selatan) yang amat khas. Di bagian awal novel ini diceritakan kehidupan tokoh Sunu Lompo yang hidup menyendiri di sebuah pulau terpencil. Ini mengingatkan kita pada novel Robinson Crusoe karya Daniel Dafoe ( ± 1661-1731) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Haksan Wirasutisna dan Rusman Sutiasumarga (Balai Pustaka, 1975).

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top