Friday

Cerita Novel Online - Panggilan untuk Hidup dan Mati

Ilmubahasa.net - Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Nasjah Djamin
Penerbit       : Pustaka Jaya
Tahun           : 1968; Cetakan II, 1976


Umur lima belas tahun Fuyuko lolos dari usaha bunuh diri rangkap yang dirancang oleh ibunya. Orang tua itu terpaksa mengambil keputusan demikian karena ia takut kedua anaknya –Fuyuko dan Shimada- mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya: menggadaikan diri pada Yamada –pemilik kedai seks- guna menghidupi dirinya dan kedua anaknya. Orang tua itu tewas dalam bunuh diri itu.

Fuyuko terharu pada nasib yang menimpa ibunya yang “terpaksa memakan harga diri dan kehormatan sekeping demi sekeping karena tak ada jalan lain” (hlm. 18). Fuyuko sempat berjanji pada ibunya bahwa ia akan menjadi kakak yang baik bagi adik satu-satunya, menjadi istri yang baik, dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak.

Untuk membiayai hidup dan biaya sekolah adiknya, Fuyuko bekerja di kedai kopi. Ia bahagia melihat Shimada bisa tertawa seperti teman-temannya meskipun hidup pas-pasan. Namun, ia bersedih hati ketika adiknya berkeras ingin bekerja menjadi pelayan bar. Ia merasa seolah-olah adiknya menolak asuhannya. Di samping itu, rasa bangga terlintas di hatinya melihat adiknya memiliki harga diri sebagai laki-laki untuk berdiri sendiri.

Kemudian Fuyuko bertemu dengan Husen. Ia melihat sosok ayahnya –yang mati hara-kiri waktu mendengar bahwa Tenno Heika menyerah kepada tentara sekutu- pada pria itu. Selain itu, ia tak dapat mengingkari kodratnya sebagai manusia yang ingin mencintai dan dicintai, serta gairah kebahagiaan. Ia jatuh cinta pada Husen.

Husen berasal dari Singapura dan telah dua tahun tinggal di Tokyo. Kepada Fuyuko, ia mengaku masih bujangan dan sedang tugas belajar dalam bidang manajemen industry. Husen merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Fuyuko. Mereka saling jatuh hati. Akan tetapi, Shimada tidak senang melihat hubungan itu. Oleh karena cintanya pada Husen, Fuyuko meninggalkan adiknya dan hidup bersama dengan Husen.
Fuyuko senang pada kesusastraan dan seni. Ia sering menonton drama, baik tradisional maupun modern. Ia juga sering mengunjungi pameran-pameran lukisan. Sebaliknya, Husen tidak menaruh perhatian pada apa yang disukai Fuyuko. Pria itu lebih menaruh perhatian pada bisnis dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Namun, hubungan mereka tetap terjalin mesra dan bahagia. Fuyuko merasakan gairah hidup yang menyala-nyala. Akhirnya, beberapa bulan kemudian ia hamil, tetapi terpaksa digugurkan sebab Husen tak menginginkan anak.

Hubungan kedua orang itu tetap mesra, sebelum Fuyuko menemukan surat di kantong jaket Husen. Surat tersebut berasal dari istri Husen yang baru saja sembuh setelah berobat ke Swiss, dan dalam waktu sebulan akan menyusul ke Tokyo. Istri Husen telah mendengar hubungan dengan Fuyuko.
Fuyuko kecewa. Ia merasa dibohongi oleh pria yang selama ini dicintainya. Husen mengaku bujangan ternyata sudah beristri, bahkan berputra dua. Lelaki itu bukan seorang peneliti yang sedang tugas belajar di Tokyo –seperti ceritanya kepada Fuyuko-, melainkan seorang pejabat perwakilan dagang. Kemudian ia menjauhkan diri dari Husen, tetapi kembali lagi kepada lelaki itu.

Fuyuko dan Husen terus hidup bersama meskipun kini dalam ketegangan. Sang wanita bertekad membalas dendam kepada si lelaki. Ia sengaja pulang larut malam dan secara demonstratif menunjukkan kebebasannya pada lelaki itu. Ia bersahabat dengan pelukis tua, dan kemudian dengan seorang penyair muda. Bahkan lebih jauh, ia ingin menghancurkan dirinya.

Di sisi lain, hubungannya dengan adiknya, Shimada, membaik kembali. Ia menceritakan kepada Shimada apa yang terjadi pada dirinya. Adiknya marah mendengar ceritanya dan ingin menghancurkan Husen, tetapi ditahan oleh Fuyuko.

Akhirnya, Husen mengetahui bahwa Fuyuko telah mengetahui keadaan dirinya yang telah berkeluarga. Ia mengaku bersalah. Ia lalu menceritakan perkawinannya yang sekarang ini karena keinginan orang tuanya. Ia tak mencintai istrinya yang materialistis dan tak mau tahu apa yang dirasakan oleh suaminya, berbeda sekali dengan Fuyuko. Ia berniat menceraikan istrinya dan kawin dengan Fuyuko. Fuyuko menjawab bahwa ia tak mau perkawinannya ada di atas puing-puing kehancuran orang lain. Husen dimintanya untuk melupakan dirinya dan kembali kepada keluarganya. Husen menolak dan berkeras meminta wanita itu mendampinginya. Hal ini berkali-kali ditolak Fuyuko.

Di sela-sela kehancurannya, Fuyuko meneruskan persahabatannya dengan Fukuda –pelukis tua. Namun, hubungannya dengan pelukis tua itu didasari dendam untuk menaklukkan laki-laki. Ia juga bersahabat dengan seorang penyair muda –Yun- yang sinis menghadapi dunia dan anarkis. Dalam kehancuran dirinya, Fuyuko berusaha membangkitkan dan mencoba menyadarkan Yun agar mampu menghadapi dunia ini.

Sesuatu yang tak dapat diingkari oleh Fuyuko adalah perasaan cintanya kepada Husen dan sekaligus membenci lelaki itu. Husen menganggap bunuh diri adalah perbuatan gila; sebaliknya Fuyuko menganggap bunuh diri untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan adalah perbuatan yang baik. Perbedaan persepsi ini makin menimbulkan jurang yang lebar di antara mereka.

Suatu hari, ketika Fuyuko sedang memasak sukiyaki untuk Husen, terjadilah pertengkaran antara keduanya. Husen yang sedang dilanda amarah bernafsu menghajar Fuyuko, tetapi ia tersandung pipa gas dan jatuh menubruk Fuyuko yang sedang memegang pisau dapur. Lelaki itu mati. Di tubuhnya menancap pisau dapur. Kemudian Fuyuko membaringkan mayatnya di ranjang. Kecelakaan ini mendorong Fuyuko untuk melaksanakan niatnya. Ia minum obat tidur sebanyak-banyaknya. Ia ingin membunuh dirinya sendiri.

Namun, usaha bunuh diri Fuyuko gagal, ia dapat diselamatkan orang. Beberapa waktu kemudian ia diajukan ke meja hijau didakwa membunuh Husen. Ia dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Akan tetapi, tuduhan itu dibatalkan karena terbukti Fuyuko tak bersalah. Gadis itu dibebaskan. Penderitaan lain datang dan mengiringinya dirawat di sanatorium. Sebelum meninggal, Fuyuko menyadari kekeliruannya. Ia menginginkan hidup murni, tetapi keinginan itu tak dilandasi keberanian untuk hidup penuh gairah; tidak seperti adiknya yang kini bergairah bersama kekasihnya, Masako. “Di mata Masako-sang berkilauan gairah untuk hidup dan berjuang” (hlm. 228).

                                                                        ***
Tahun 1970, karena Novel Panggilan untuk Hidup dan Mati inilah pengarangnya memperoleh Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia.
Tanggapan terhadap novel ini umumnya bernada pujian. “Buku karya Nasjah Djamin yang paling saya sukai adalah novelnya yang matang Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)”, demikian Teeuw (1989: 190) mengawali tanggapannya atas novel ini.

Struktur terhadap novel ini –atau dengan novel Nasjah Djamin lainnya- pernah dilakukan oleh Dian Endang Setyawati, Emmy Riyanti, dan Artanti (ketiganya dari FS Undip), Lerman Sipayung (FS UGM, 1974), Sustanti Supri (FS UGM, 1980), dan Endang Sri Rahayu (FS UI, 1981).

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top