Tuesday

Cerita Novel Online - Novel Orang Buangan

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Harijadi S. Hartowardojo (18 Maret 1930-9 April 1984)
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1971

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online -  Novel Orang BuanganPesta perkawinan Jolodong dan Ijah tiba-tiba berubah jadi sebuah kegemparan. Pengantin pria mendadak muntah-muntah, dan blek, pingsan. Menyusul kemudian pengantin wanitanya mengalami hal yang sama; muntah-muntah dan pingsan. Tentu saja, semua yang hadir jadi rebut. Pak Truno, ayah penganti wanita, bukan main cemasnya. Tak paham akan peristiwa yang dihadapinya.

Kiai Kasan Jamil, dukun terkenal di desa Kedungjero, segera dipanggil. Semua berharap, dukun itu dapat mengusir roh jahat yang datang mengganggu upacara perkawinan itu. Mantra-mantra dan doa pun digelar. Berbagai ramuan dibuat. Hasilnya, nihil. Sepasang pengantin yang mestinya berbahagia itu, tak menunjukkan tanda-tanda membaik. Bahkan kemudian, Jolodong, tak dapat diselamatkan. Nyawanya terbang. Beruntung, Ijah tidak terlalu parah keadaannya, sungguhpun masih tetap tampak mengkhawatirkan.
Penduduk desa Kedungjero gempar. Isu dan bisik-bisik di antara mereka berkembang jadi sebuah tuduhan. Sangat kebetulan, waktu peristiwa terjadi, Guru Tantri sedang berada di kota; mengambil gaji para guru lainnya yang mengajar di satu-satunya sekolah dasar di desa itu. Tidak sedikit penduduk desa yang pernah minta pertolongan Guru Tantri sehingga orang asing itu dikenal juga sebagai orang yang punya ilmu gaib. Ijah sendiri, si pengantin wanita, punya hubungan baik dengan Guru Tantri dan sering mengantarkan makanan apabila Parman, adik Ijah, sedang belajar di rumah Guru Tantri yang juga kepala sekolahnya itu. Maka, sangat beralasan jika peristiwa kematian Jolodong pada saat perkawinannya dengan Ijah berlangsung, dihubungkan dengan ilmu gaib yang dimiliki guru itu. Jadilah kecurigaan yang berlanjut memjadi tuduhan itu menimpa Guru Tantri.

Ijah belum juga sembuh. Pak Truno dan istrinya –orang tua Ijah- makin bingung, sebab ramuan yang diberikan Kiai Kasan Jamil, sama sekali tak terlihat berpengaruh apa-apa. Pada saat yang demikian, Guru Tantri datang menjenguk. Beberapa nasihat yang dikemukakannya, terpaksa diikuti orang tua Ijah yang memang tak punya pilihan lain, semata-mata demi kesembuhan anaknya. Walaupun demikian, kecurigaan terhadap Guru Tantri, tetap berkurang.

Sesungguhnya, Guru Tantri adalah bekas mahasiswa kedokteran sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sebelum ia menyelesaikan studinya, ia memutuskan untuk pergi ke desa terpencil itu dan menjadi guru di sana. Belakangan, ia menjadi kepala sekolahnya. Jadi, jika Guru Tantri pernah memberikan ramuan-ramuan obat dan menyembuhkan penyakit beberapa penduduk desa yang datang meminta tolong kepadanya, itu semata-mata karena pengetahuannya di bidang kedokteran. Jadi, bukan karena ia mempunyai ilmu gaib.
Setelah kematian Jolodong yang bagi penduduk desa masih merupakan teka-teki, kini giliran anak dan istri Jendol –kakak Jolodong- yang menjadi korban. Gejalanya sama: muntah-muntah, pingsan, lalu mati. Sebetulnya, sebelum ajal datang kepada mereka, Guru Tantri bermaksud hendak menolongnya. Namun, Jendol menolak dan lebih suka meminta pertolongan Kiai Kasan Jamil. Namun, kematian itu makin membuat Jendol dan penduduk desa lainnya menaruh curiga kepada Guru Tantri.

Kematian demi kematian, dengan gejala yang sama, makin banyak menimpa penduduk desa Kedungjero. Belakangan wabah itu merembet pula ke desa tetangga, desa Karangbening. Bersamaan dengan itu, suasana politik menjelang pemilu makin memperuh keadaan. Partai Darul Makmur yang beberapa anggotanya –termasuk Jolodong- mati dengan gejala yang sama seperti korban lainnya, tambah menaruh curiga kepada Guru Tantri. Partai Rakyat malah mencoba memanfaatkan situasi kacau tersebut. Namun, penolakan Guru Tantri membuat mereka berbalik hendak menyingkirkan guru desa itu. Partai lainnya, ikut memanfaatkan situasi kacau tersebut, untuk mencari massa dan menarik simpati rakyat. Semua partai itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana cara menanggulangi wabah yang melanda desa mereka.

“Jumlah korban menunjukkan, bahwa tidak bisa tidak, bencana yang menimpa rakyat Kedungjero dan Karangbening disebabkan oleh suatu wabah. Adapun hasil dari kunjungan dokter beserta dua orang pembantunya beberapa hari yang lalu, tidaklah besar pengaruhnya terhadap keadaan di kedua desa itu” (hlm. 136). Maka, tim Dinas Kesehatan dari Jakarta pun didatangkan.

Bagi Guru Tantri, kedatangan tim kesehatan dari Jakarta itu membawa peristiwa luar biasa dan tak terduga. Salah seorang anggota tim itu adalah Hiang Nio, gadis yang pernah begitu dekat dengan guru itu sewaktu mereka masih kuliah. Kini, gadis itu sudah menjadi dokter. Pertemuan istimewa itu tidaklah membuat mereka larut. Korban wabah yang makin bertambah lebih memerlukan perhatian dan penanganan segera.

Dari hasil pemeriksaan para korban, dapat diketahui bahwa keracunan merupakan sumber penyebab wabah itu. Sungguhpun demikian, partai-partai politik yang sedang giat melancarkan kampanyenya, tetap menyebarkan isu bahwa wabah itu semata-mata disebabkan oleh ilmu gaib. Bahkan, rakyat lebih percaya pada tokoh-tokoh partai daripada kepada tim kesehatan yang dianggap sebagai orang asing. Maka, korban pun terus berjatuhan. Bangunan sekolah tempat Guru Tantri mengajar sudah tidak mampu menampung jumlah korban. Di antaranya, tidak sedikit yang tak dapat diselamatkan, termasuk Kiai Kasan Jamil yang dianggap sebagai orang mampu mengusir wabah itu.

Keadaan tersebut sama sekali tidak mengurangi tuduhan terhadap Guru Tantri. Bahkan, tuduhan itu makin gencar dilakukan. Berbagai pamphlet dan selebaran gelap yang dibuat partai politik tertentu, terus disebarkan. Isinya memojokkan Guru Tantri sebagai sumber malapetaka yang menimpa desa mereka. Lebih jauh lagi, partai-partai politik itu telah mendesak aparat kecamatan atau yang berwenang di desa itu agar segera mengambil tindakan terhadap Guru Tantri. Lelaki yang punya ilmu gaib itu –demikian tuduhan mereka- harus diusir dari desa itu.

Bagi Guru Tantri, tuduhan-tuduhan yang sudah menjurus pada tindakan teror itu, sama sekali tidak mengurangi usahanya membantu tim kesehatan dalam menyelamatkan para korban. Di antara kesibukan itu, terungkap sudah, bagaimana hubungan yang sebenarnya antara Guru Tantri dan Hiang Nio. Rupanya, keduanya pernah menjalin hubungan cinta. Ketika orang tua Hiang Nio yang katolik dan masih keturunan Cina itu tidak menyetujui hubungan mereka, Guru Tantri memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah dan kabur ke desa terpencil. Kini, pertemuan mereka kembali telah menyadarkan keduanya bahwa mereka sebenarnya saling mencintai. Namun, orang tua Hiang Nio sendiri sudah menyerahkan segala keputusan apa pun –termasuk jika perkawinannya dilangsungkan secara Islam- kepada keputusan anak gadisnya.

Usaha tim kesehatan telah cukup membantu mengurangi jumlah korban dan menyelamatkan mereka dari kematian. Walaupun begitu, tim medis akan didatangkan kembali untuk membantu tim medis yang sudah ada. Bersamaan dengan itu, tuntutan partai-partai politik untuk mengusir Guru Tantri dari desa itu, memaksanya untuk kembali ke Jakarta. Namun, bagi Guru Tantri, itu bukan satu-satunya alasan. Ia memang bertekad untuk melanjutkan kembali studi yang sempat tertinggal. Hal yang lebih penting lagi, ia akan mempersunting Hiang Nio. Lalu, agar perkawinan itu punya dasar hokum yang kuat, telah direncanakan pula bahwa perkawinan akan dilangsungkan di kantor Catatan Sipil. “Hiang Nio menghela napas lega. Wajahnya menjadi jernih” (hlm. 185). Dan apa yang dilakukan Guru Tantri terhadap gadis keturunan Cina itu, adalah ini: “Hiang, dengan ini aku meminangmu!” (hlm. 185).

Resensi Novel Online

                                                                               ***
Ketika novel ini dinyatakan sebagai pemenang Sayembara IKAPI Jawa Barat tahun 1967, novel ini berjudul Munafik. Setelah terbit tahun 1971, judulnya berubah menjadi Orang Buangan.

Komentar Teeuw, sebagai berikut: “Yang membikin buku ini sangat menarik ialah intensitas konflik-konflik batin dan emosi-emosi di sekitar alur cerita. Lebih dari itu, novel ini menunjukkan suatu daya upaya yang lebih dari sekadar penyusunan cerita sastra yang canggih belaka, dan tidak bisa menjadi pertanda pembaharuan serta gugatan terhadap konvensi-konvensi sastra yang tengah berlaku” (Teew, 1989; 187).

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top