Friday

Cerita Novel Online - Merahnya Merah

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Iwan Simatupang
Penerbit    : CV Haji Masagung
Tahun        : 1968; Cetakan VII, 1988

“Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa” (hlm. 5). Inilah kalimat-kalimat pertama yang mewartakan kisah masa lalu sang tokoh utama yang disebut sebagai tokoh kita. Kini, setelah revolusi berakhir, tokoh kita tidak lagi calon rahib, algojo, atau penghuni rumah sakit jiwa. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan kaum gelandangan.

Di antara para gelandangan, tokoh kita termasuk gelandangan yang disengangi sesamanya, di antaranya oleh Maria, seorang wanita gelandangan yang selalu menjadi tumpuan pertolongan sesamanya. Wanita yang punya perhatian khusus kepada tokoh kita itu, ternyata juga punya masa lalu yang begitu kelam. Cita-citanya semula ingin menjadi jururawat, namun kemudian ia kubur dalam-dalam karena tidak kuasa melihat darah. Menyadari hal itu, Maria mencari penghidupan sebagai pembantu di pastoran Katolik. Namun, nasib malang menimpanya; ia diperkosa seseorang yang entah siapa. Seminggu kemudian, seorang pastor menggantung diri. “Maria begitu takutnya melihat pastor yang tergantung pada tali itu, hingga lari dari pastoran itu” (hlm. 10). Sang nasib kemudian membawanya menjadi gelandangan. Untuk mempertahankan hidupnya, tak ada jalan lain lagi bagi Maria, kecuali menjadi pelacur. Begitulah jalan yang terpaksa ditempuh wanita bertubuh besar, montok dan hitam itu.

Perannya sebagai “ibu” para gelandangan, telah mendorong tokoh kita membawa Fifi, perempuan berusia 14 tahun, kepadanya. Fifi juga punya masa lalu yang tidak lebih baik daripada masa lalu tokoh kita maupun Maria. Akibat keganasan gerombolan, perempuan malang itu tidak hanya menjadi yatim piatu, tetapi juga tak lagi punya kampung halaman. Oleh karena merasa tak punya apa-apa lagi, dalam usia yang masih sangat muda itu, Fifi pun terpaksa menggadaikan harga dirinya; menjadi pelacur.

Maria yang semula enggan menampung perempuan cilik itu di gubuknya, akhirnya tak dapat berbuat lain, kecuali menerimanya. Fifi, yang sebelumnya tak pernah memperoleh perhatian dan perlakuan yang menyenangkan hatinya, langsung mendapatkan kesan khusus dari diri tokoh kita. Timbul pula harapannya untuk menjadi istri lelaki yang menolongnya itu. Adapun Maria –yang juga memperhatikan diri tokoh kita- mulai dihinggapi perasaan cemburu ketika diketahui bahwa Ffi jatuh hati kepada lelaki misterius yang tak punya tempat mangkal itu. Masalahnya, sejak kehadiran Fifi, hubungan tokoh kita tampak makin erat dengan perempuan kecil itu. Sebaliknya, Maria merasa mulai tersisihkan.

Suatu saat, Fifi raib. Ia tak pulang ke gubuk Maria. Pergi entah ke mana. Para gelandangan, termasuk Maria, tak tahu ke mana perginya bocah perempuan itu. Maka, pencarian pun dilakukan. Tiga hari tiga malam para gelandangan melacak jejak Fifi. Hasilnya tetap nihil. Pak Centeng yang di perkampungan gelandangan itu termasuk “pakar” dalam usaha pencarian para gelandangan yang raib, juga tak menemukan jejak Fifi. Para pengayuh becak, juga dilibatkan. Hasilnya sama saja. Fifi bagai ditelan bumi; hilang lenyap. Tak tahu rimbanya.

Sementara itu, hilangnya Fifi bagi Pak Centeng, terasa amat menyakitkan, terutam karena ia gagal menemukan Fifi. “Dengan kepala tertunduk, Pak Centeng melaporkan ini semuanya kepada Maria dan tokoh kita. Pak Centeng letih… Dia malu. Sangat malu. Dia centeng jagoan, yang terbilang paling disegani di seluruh kota dan sekitarnya, untuk pertama kalinya dalam karier kejagoannya menemukan kegagalan. Belum pernah ia gagal dalam misi apa dan bagaimanapun… Barulah dalam peristiwa Fifi ini saja dia gagal. Ini sangat mengganggu pikirannya” (hlm. 67). Di balik itu juga, kegagalannya telah membuat ia makin benci kepada tokoh kita yang dianggapnya sebagai saingannya dalam berhubungan dengan Maria.

Hilangnya Fifi telah menyadarkan tokoh kita bahwa sesungguhnya bertemu itu adalah untuk berpisah. “Tetapi berpisah –untuk apa?” (hlm. 87). Setelah tokoh kita tanpa sengaja berjumpa dengan mantan ajudannya sewaktu masa revolusi, tokoh kita akhirnya memutuskan bahwa dia juga harus pergi. “Tokoh kita berjalan. Berjalan. Berjalan” (hlm. 88). “Dia lari terus. Lari.. Dia lari…” (hlm. 90). Begitulah akhirnya tokoh kita pun pergi dari daerah tempat para gelandangan membangun gubuk-gubuknya untuk sekedar dapat beristirahat atau tidur melupakan masa depannya yang tak jelas.

“Telah sebulan lebih Fifi tak ketemu juga. Telah sebulan lebih pula tokoh kita tak datang-datang ke perkampungan gubuk-gubuk kecil itu. Dan telah sebulan lebih pula Maria rindu. Rindu padanya. Rindu, campur cemas…”

“Pak Centeng bersama anak-anak buahnya telah pula dikerahkan Maria mencari tokoh kita. Hasilnya, nihil. Tak ditemu.”
“Pak Centeng remuk hatinya. Dia tak mengerti. Kedua kalinya dalam hidupnya dia mengalami kegagalan. Gagal mencari seseorang, hidup atau mati. Yang pertama Fifi. Yang kedua tokoh kita.

“Segera ia terjemahkan kesalnya ini kepada Maria” (hlm. 92).

Belakangan, ternyata Maria juga memilih kabur; pergi meniggalkan perkampungan kaum gelandangan. Akibatnya, Pak Centeng beserta seluruh warga kaum gelandangan, ikut mencari mereka. Masyarakat heboh. Tentara dan polisi, ikut sibuk. Pak Centeng makin frustasi, bingung. Jiwanya terguncang.

Tiba-tiba perkampungan gelandangan itu gempar. Tokoh kita kembali. Sendirian. Tanpa Fifi, tanpa Maria. Semua orang, termasuk Pak Centeng, bertanya perihal kedua wanita itu. Tokoh kita lalu menjelaskan duduk persoalannya. Ternyata, Maria yang cemburu kepada Fifi, telah membunuh perempuan kecil itu. Lalu, kini, Maria telah memutuskan untuk tinggal di sebuah biara.

Pak Centeng yang memang ingin membuat perhitungan kepada tokoh kita, makin berang. Segera ia menghunus goloknya. Saat yang bersamaan, Inspektur Polisi yang mendengar kembalinya tokoh kita, telah berdiri tegak di belakang Pak Centeng dengan pistol telanjang mengarah ke kepala jagoan itu. Namun, Pak Centeng tak mau tahu. Bencinya kepada tokoh kita sudah sedemikian marak. Dalam anggapannya, biang kerok dari semua peristiwa itu adalah tokoh kita. Fifi, Maria, dan mungkin gelandangan lain, akan kabur jika tokoh kita masih bernapas. Kebencian Pak Centeng tak dapat lagi ditahan-tahan. Maka, melayanglah golok dalam genggaman Pak Centeng, menebas leher tokoh kita. Namun, serentak dengan itu, pistol Inspektur Polisi pun memuntahkan timah panasnya menerobos kepala Pak Centeng. Kemudian, lelaki garang itu tewas seketika, bersamaan pula dengan lepasnya nyawa tokoh kita dari tubuhnya yang sudah tak berkepala lagi.

Tokoh kita dan Pak Centeng akhirnya dikuburkan dengan upacar militer. Para gelandangan, polisi, tentara, dan sejumlah pejabat tinggi, ikut hadir mengiringi penguburan jasad kedua gelandangan itu. Sementara itu, di sebuah biara yang jauh dari perkampungan para gelandangan, Maria bersimpuh di hadapan patung ibu Maria. Perempuan pelacur bekas “ibu” kaum gelandangan itu, mengungkapkan penyesalannya dan berdoa. “Air matanya berderai, menangkap kilasan merah terakhir di langit itu dalam bintik-bintik warna merah. Merah dari merahnya merah” (hlm 124).

                                                                            ***
Merahnya Merah merupakan novel Iwan Simatupang pertama. Novel ini –dan novel-novel Iwan Simatupang yang lainnya- banyak mendapat pujian dan sorotan kritikus sastra dalam dan luar negeri, baik yang berupa artikel lepas yang tersebar di berbagai media massa, makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi. Para peneliti asing yang membahas novel ini –atau dalam hubungannya dengan novel-novel Iwan Simatupang lainnya-, tercatat antara lain, Baharuddin Zainal (Malaysia, 1972), Pamela M. McCall (Australia, 1976), P. Beer (Monash, Australia, 1981).

Buku yang membahas khusus karya-karya Iwan Simatupang, antara lain, Novel Baru Iwan Simatupang (Dami N. Toda, 1980) dan Iwan Simatupang Pembaharu Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, editor, 1985).

Menurut Teeuw (Sastra Indonesia Modern II), “Barangkali dialah (Iwan Simatupang) pengarang Indonesia yang dewasa ini mendapat sorotan paling banyak, baik oleh pengamat sastra di dalam maupun diluar Indonesia. Ia juga pengarang pertama yang secara anumerta menerima hadiah ASEAN untuk fiksi pada tahun 1978.” Dalam buku Sastra dan Religiositas (Y.B. Mangunwijaya, 1982), pembicaraan karya Iwan Simatupang terdapat di bawah judul “Manusia Gelandangan Iwan Simatupang”.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top