Wednesday

Cerita Novel Online - Kering



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Iwan Simatupang
Penerbit        : Gunung Agung
Tahun           : 1972; Cetakan II, 1977

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online - Kering“Matahari Lohor tak kenal ampun. Teriknya melecut langit. Embun segumpal tak ada. Udara bergetar. Di sana-sini ia beruap. Berkepul-kepul, dekat ke permukaan tanah. Dia sampai di mata air kecil, sedikit di balik bukit kecil, batas utara ladangnya. Kering! Mata-air kecil ini pun akhirnya kering juga…” (hlm. 5).
Begitulah, kekeringan yang amat panjang telah mengimpit perkampungan kecil para petani transmigran. Satu-satunya mata air yang selama ini menjadi tumpuan penghidupan mereka, kini kering sudah. Sementara permintaan bahan makanan kepada para pejabat pemerintah yang berwenang, tak kunjung datang juga. Mereka mulai dilanda ketakutan akan bahaya kelaparan yang berkepanjangan.

Kepala desa berusaha menenangkan penduduk. Namun, satu per satu warganya meninggalkan daerah itu. Tokoh kita juga mencoba meyakinkan para penduduk agar tetap bertahan di tempat perkampungan itu sambil mencari upaya menanggulangi masalah yang sedang mereka hadapi, tetapi sia-sia. Sampai akhirnya, hanya tokoh kita sendiri yang tinggal di daerah transmigran yang tandus itu.

Dengan sisa-sisa makanan yang ditinggalkan penduduk, ia tetap bertahan. Hanya satu pekerjaan yang setiap hari ia lakukan, yaitu menggali sumur; mencoba mencari mata air. Dalam kesendiriannya itu, tokoh kita ternyata bekas mahasiswa yang genius, terpaksa mencoba berkawan dengan benda-benda alam di sekitarnya. Pekerjaan menggali, masih tetap dilakukannya. Sampai akhirnya persediaan bahan makanan habis, dan lelaki itu pingsan entah berapa lama.

Beruntung, ada petugas transmigran yang datang ke daerah tandus itu. Ia menemukan tokoh kita dalam keadaan pingsan. Petugas itu kemudian membawanya ke rumah sakit dan dirawat di sana untuk beberapa lamanya.

Merasa dirinya tidak sakit, tokoh kita tak mau lagi dirawat di sana. Dalam perjalanan entah ke mana, tokoh kita bertemu dengan si pendek gemuk, bekas transmigran yang kini kaya-raya. Penyelundupan dan uang palsu, telah membawa si pendek gemuk mempunyai segala-galanya. Tokoh kita lalu dibawanya ke rumah mewahnya. Namun, hanya sebentar karena di luar dugaan sahabatnya, tokoh kita tidak mau beristirahat atau ikut menikmati kemewahannya. Ia tetap bertekad untuk meneruskan perjalanannya yang entah ke mana itu.

Di sebuah perkampungan aneh, tokoh kita bertemu dengan orang tua aneh. Ternyata, dia adalah bekas pejuang yang jadi gerombolan. Belakangan, setelah ia membunuh semua anak buahnya, lelaki tua itupun menghentikan kegiatannya dan hidup menyendiri. Kini, kedua manusia yang sama-sama aneh itu hidup bersahabat.
“Pada suatu hari, salah satu dari kedua mata air yang masih mengeluarkan air, kering” (hlm. 81). Keduanya kini sadar bahwa tak ada lagi mata air di daerah itu. Setelah terjadi serangkaian diskusi panjang, satu kesimpulan akhirnya mereka peroleh; keduanya bersepakat untuk meninggalkan daerah itu. “Pernah aku cerita padamu tentang kawanku si penyelundup, bukan? Bagaimana, bila kita cari pondokan padanya saja?”
“Si Janggut setuju. Mereka ke sana” (hlm. 93).

Sampai di rumah si pendek gemuk, mereka disambut perempuan simpanannya yang disebut sebagai wanita VIP. Tokoh kita dan si orang tua berjanggut diterima secara sangat istimewa. Bahkan pada malamnya, di kamar masing-masing sudah tersedia wanita cantik yang siap melayani mereka. Ternyata, apa yang dilakukan tokoh kita dan orang tua berjanggut itu, di luar dugaan kedua wanita cantik itu. Mereka sama sekali tak disentuhnya, bahkan diberi berbagai wejangan dan nasihat. Bagi kedua wanita itu, ini merupakan penghinaan dan sekaligus penghormatan. Sebuah pengalaman yang selama kariernya sebagai wanita penghibur, baru pertama kali itu mereka rasakan.
Esoknya, tokoh kita dan si janggut pergi, kembali ke pemukiman semula. Kedua orang aneh itu telah membuat kedua wanita penghibur itu jatuh cinta.

Tiba di perkampungan semula, di markas para gerombolan bercokol, tokoh kita dan si janggut kembali kepada kesibukannya melakukan diskusi. Daerah itu sendiri masih tetap dihuni oleh keduanya. Kelaparan tenyata mengharuskan keduanya berpisah. Si orang tua berjanggut tak dapat lagi bertahan. Kelaparan telah menghantarkannya kepada kematian. Tinggallah tokoh kita sendiri; dengan mayat si orang tua yang tak segera dikuburkannya, serta benda-benda yang bukan manusia. Tokoh kita kembali melakukan hal yang sama seperti ketika ia ditinggal sendiri di perkampungan transmigrasi, sampai akhirnya ia tak ingat apa-apa lagi. Ia sadar ketika bau kreolin rumah sakit menusuk hidungnya. Tokoh kita rupanya sedang dirawat di rumah sakit. Namun, tokoh kita sendiri tidak merasa dirinya sakit. Ia tak mau dirawat. Ia harus pergi; melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Pertemuannya dengan si gemuk pendek sama sekali tidak mengurangi niatnya untuk terus jalan. “Dan jalanlah tokoh kita. …Berjalan terus! Sampai ke ujung. Sampai tak bisa lagi” (hlm. 115). Begitu pula pertemuannya dengan petugas transmigrasi, tetap tidak menggoyahkan tekadnya untuk terus jalan, “dia pergi. …Larinya kencang sekali” (hlm. 122).

Ketika suatu hari, Jawatan Meteorologi mengeluarkan berita bahwa hujan akan segera turun, seluruh negeri geger. Semua orang bersiap-siap menyambut hujan pertama yang akan turun. Pemerintah ikut campur memperingatkan warga agar mengantisipasi setiap kemungkinan negative. Segal persiapan telah dilakukan, namun ternyata hujan yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Masyarakat mulai resah. Pengaduan dan berbagai protes bermunculan. Kepala Jawatan Meteorologi mendadak dipensiunkan dan diganti oleh sarjana meteorologi yang baru lulus. Suasana kembali seperti semula. Dari rakyat kecil sampai pejabat tinggi, pasrah menghadapi kemarau panjang yang entah kapan berakhirnya. Orang-orang satu per satu pergi entah ke mana. Tinggallah kini seorang pastor dan tokoh kita. Keduanya tetap bertahan di kota yang kini tak lagi berpenghuni.

Terbetik berita bahwa si gemuk pendek tertembak mati petugas patrol angkatan laut. Segala milik pribadinya ternyata telah diwariskan kepada tokoh kita. Maka, dengan harta warisan itulah, tokoh kita mencoba membangun sebuah kota. Para arsitek dan pemborong dikerahkan. Pembangunan sebuah kota segera dilaksanakan. Mereka bekerja keras. Bersamaan dengan itu, awan langit menggumpal makin hitam. Petir dan angin rebut menyerbu daerah itu dengan ganas. Hujan turun.

Namun, rupanya turunnya hujan telah membawa bencana pula. Beberapa orang mati disambar petir. Penduduk ketakutan. Mereka kemudian bermaksud mengungsi; kota yang dibangun ikut hancur. Pada saat iringan pengungsi itu mulai meninggalkan kota, tokoh kita segera mencegatnya. “Kita bangun kembali…” begitu ajakan tokoh kita. Dengan tekad itu, mereka tak jadi mengungsi. Kota yang sudah hancur segera dibangun kembali dengan semangat dan tekad baru.
“Sejak itu gairah baru telah merebut seluruh dirinya” (hlm. 168).

Resensi Novel Online

                                                                      ***
Kering adalah karya Iwan Simatupang yang terbit setelah hampir dua tahun pengarangnya meninggal (Iwan Simatupang wafat tanggal 4 Agustus 1970; Kering terbit sekitar bulan Mei 1972; Koong terbit tahun 1975, tetapi pernah diikutsertakan dalam Sayembara Mengarang Roman Bacaan Remaja yang diselenggarakan IKAPI tahun 1968). Jadi, Kering merupakan novel Iwan yang terakhir. Naskahnya sendiri tak pernah selesai ditik rapi, tetapi penerbit Gunung Agung melengkapinya dari berbagai bahan yang masih berserakan dalam bentuk tulisan tangan. Naskahnya mulai ditulis tahun 1961 dan selesai tanggal 5 Desember 1961. Yang sempat ditik baru sampai empat bab. Selebihnya, masih dalam bentuk tulisan tangan.

Novel ini pada tahun 1978 terbit dalam edisi bahasa Inggris dengan judul Drought hasil terjemahan Harry Aveling.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top