Wednesday

Cerita Novel Online - Keluarga Permana



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Ramadhan K.H.
Penerbit    : Pustaka Jaya
Tahun        : 1978; Cetakan II, 1986

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online - Keluarga PermanaTak jelas, apa yang menyebabkan Permana diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik. Dua puluh tahun lebih lelaki itu mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk pekerjaannya itu. Ketika pabrik makin banyak mendapatkan order dan mulai memperlihatkan kemantapannnya, tiba-tiba saja, tanpa alasan Permana diberhentikan.
Permana sungguh merasa terpukul atas kejadian itu. Beruntung, sewaktu ia masih bekerja, ia berhasil membangun sebuah rumah permanen dan layak untuk dihuni oleh sebuah keluarga kecil, seperti keluarganya. Rumah itu pula yang menjadi salah satu kebanggannya sebagai seorang suami, sekaligus juga sebagai seorang ayah.
Masa pengangguran itu merupakan masa yang amat menyakitkan. Ia yang biasa tidak mau diam untuk mengerjakan berbagai hal, kini harus menghadapi kenyataan seperti itu. Lagi pula, istrinya kini sering bekerja hingga sore hari, dan ini membuat Permana merasa tak punya arti. Timbul pula pikiran-pikiran buruk perihal istrinya; kecemburuan yang sungguh tak berdasar.

Semua itu yang menyebabkan kehidupan di dalam keluarga Permana penuh dengan percekcokan. Ketersinggungan Permana yang tak beralasan, tak jarang dibumbui tamparan, bahkan penyiksaan, baik terhadap istrinya, Saleha, maupun terhadap putri keduanya. “Dalam pada itu Saleha sudah merasa terluka. Ia merasa dihina. Ia merasa nasibnya begini jelek di hari-hari belakangan ini. Ia sudah ditempeleng, ditendang, dipukuli, dan sekarang dicurigai dengan laki-laki lain” (hlm. 36). Begitulah yang dirasakan istri Permana, Saleha.

Kekejaman Permana yang sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh ketersinggungan perasaannya itu, juga menimpa putrinya, Ida. Gadis yang masih duduk di SMA itu, sering mengalami perlakuan kasar ayahnya, bahkan cenderung sebagai tindak penyiksaan. “Rotan melayang dengan seketika, mencambuk tangan Ida. Lalu mencambuk kakinya sebelah kiri. Lalu sebelah kanan. Dengan tak ada belas kasihan sedikit pun. Ida lari dari kamarnya…” (hlm. 25). Kekejaman Permana ternyata telah menyebabkan Ida selalu diliputi perasaan takut yang berkelanjutan. Permana menjadi sosok pribadi yang mengerikan. Bayangan itu hinggap begitu dalam pada diri gadis remaja itu.

Sementara Permana masih mencari upaya untuk memperoleh penghasilan, tiba-tiba datang seorang pemuda, Sumarto namanya, mencari tempat indekosan. Pemuda itu datang ke Bandung bermaksud untuk meneruskan kuliahnya sambil bekerja di perusahaan asuransi. Bagi Permana, kedatangan Sumarno ibarat telah menjawab sebagian persoalannya. Dengan menyewakan salah satu kamar, sedikitnya Permana dapat memperoleh penghasilan yang lumayan. Maka, pemuda itu pun langsung diterima untuk menempati salah satu kamar di rumah yang menjadi kebanggan Permana itu.

Sumarto yang berpembawaan simpati dan sopan itu, tidak terlalu sulit untuk menyesuaikan diri dengan anggota keluarga Permana. Lebih dari itu, Ida yang merasa hidup dalam kungkungan ketakutan, merasa tak punya tempat mengadu, mendadak merasa memperoleh sesuatu yang selama ini dicarinya. Sumarto itulah tempatnya. Maka, terjalinlah hubungan gelap antara sepasang pemuda itu. Mereka menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya, hubungan itu melewati batas-batas larangan. Namun, sebelum semuanya terbongkar, Permana yang baru melihat gelagat tidak baik itu, secara halus mengusir Sumarto. Dengan berat hati, Sumarto kemudian terpaksa pula meninggalkan rumah Permana; meninggalkan  sang kekasih yang sudah mulai merasakan tumbuhnya benih yang tertanam di rahimnya. Ida mulai merasakan mual-mual di perutnya, ketika kekasihnya itu tak tinggal lagi di rumahnya.

Melalui keterangan Komariah, pembantu keluarga Permana, terbongkarlah semua hasil hubungan gelap Ida dengan Sumarto. Ida mengandung. Saleha tentu saja kaget luar biasa. Ia malu. Tetapi juga tak mampu menuntut terlalu banyak tanggung jawab anaknya. Semuanya sudah terjadi. Setelah Permana dan istrinya, Saleha, berembuk, diputuskanlah bahwa kandungan Ida harus digugurkan. Sebagai usaha untuk menutupi aib yang telah dilakukan anaknya itu, pengguguran dilakukan oleh seorang dukun yang berasal dari Ambon, bukan oleh dokter.

Dengan sembunyi-sembunyi, Saleha mendatangi dukun itu, kemudian pulang kembali dengan membawa ramuan obat tertentu yang harus diminum oleh anaknya. Ida hanya menurut apa yang dikatakan orang tuanya karena takut. Ia pun minum ramuan itu. Reaksinya ternyata di luar dugaan. Ia sakit dan terpaksa pula dibawa ke rumah sakit.
Keadaan Ida ternyata sudah sangat gawat. Dokter yang menanganinya terpaksa melakukan operasi dan mengangkat kandungan wanita muda itu. Bagi Ida, semua itu merupakan pengalaman yang teramat pahit. Sebab, ia tak mungkin lagi dapat memperoleh anak. Satu-satunya harapan yang masih mungkin adalah meminta tanggung jawab kekasihnya. Di lain pihak, Permana dan Saleha, makin mengkhwatirkan keadaan putrinya itu. Ada perasaan menyesal mengimpit kedua orang tua itu.

Sementara itu, Sumarto juga merasakan penyesalan mendalam Ia merasa berdosa telah menyebabkan Ida begitu menderita. Akhirnya, bulat sudah keputusannya setelah ia datang menyatakan dosa di hadapan pastornya, yaitu mengawini Ida. Dengan keputusan itu, Sumarto kemudian membawa Ida –selepas Ida keluar dari rumah sakit dan masuk ke sekolah kembali- ke pastornya, Romo Mudiono. Ida, yang merasa tak mempunyai pilihan lain, hanya menurut. Walaupun begitu, tak urung konflik batin terjadi juga dalam diri Ida. Masalahnya, ia harus pindah agama; dari Islam ke Katolik. Pada waktu itu pula, bersama dengan segala kebingungan dan keputusasaannya, Ida dibaptis.
Rencana menikah dengan Sumarto kemudian diungkapkan Ida kepada ibuna. Saleha yang sudah dililit ketakutan akan nasib anaknya, terpaksa mengikuti kehendak anaknya, sungguhpun dengan hati yang berat. Begitu juga Permana, tak dapat berbuat lain kecuali menyetujui dengan batin yang amat tidak setuju. Acara perkawinan pun disepakati dengan upacara di hadapan petugas catatan sipil.

Perkawinan Ida dan Sumarto berlangsung sangat sederhana. Namun, dalam kesederhanaan itu tersimpan persoalan yang mendalam. Pihak keluarga Sumarto yang Katolik dan pihak keluarga Ida yang Islam bergabung dalam suasana yang begitu kaku. Meskipun demikian, kedua mempelai berusaha untuk membunuh kekakuan itu, walaupun sia-sia.
Selepas perkawinan itu, Ida kemudian dibawa ke Jatiwangi, kepada pihak keluarga suaminya. Di Jatiwangi ternyata Ida mendapat musibah. Ia pingsan dan dibawa ke rumah sakit setempat. Malamnya, ketika Ida bangun dan berusaha mendekat ke kran tempat membasuh muka, kepalanya terbentur meja itu. Perawat yang mendengar suara benturan itu segera datang; memeriksa keadaan Ida. Perawat itu merasakan tanda-tanda buruk. “Ia cemas. Ia punya firasat. Hatinya bergetar. Ia berbisik pada telinga Ida: “Allahu Akbar … La ilaha illah’llah.” Pengantin baru itu kelihatan mengikutinya. Ia mengucapkan kalimat suci itu dengan halus sekali. Sesudah itu hilanglah dia. Firasat perawat itu benar” (hlm. 10). Ida meninggal.

Jenazah Ida dibawa lagi ke Bandung, ke orang tuanya. Atas saran keluarga Sumarto, Ida dikubur di pemakaman Katolik.
Peritiwa itu telah membuat Permana guncang. Saleha hanya dapat menyesali perbuatannya. Sedangkan Permana yang begitu merasa sangat berdosa atas perlakuannya selama ini terhadap anaknya itu, tak mau meninggalkan kuburan putrinya itu. Permana telah gila.

Resensi Novel Online

                                                                           ***
Novel ini meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976. Dunia Pustaka Jaya kemudian menerbitkannya pada tahun 1978. Pembicaraan sepintas tentang novel ini pernah dilakukan oleh seorang mahasiswa FS-Undip dalam skripsi sarjananya yang melihatnya sebagai kritik sosial pengarangnya.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top