Wednesday

Cerita Novel Online - Keberangkatan

Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Nh. Dini
Penerbit    : Gramedia
Tahun        : 1977; Cetakan II, 1987

Cerita Novel Online - KeberangkatanSinopsis Novel Online

Usaha nasionalisasi yang dilakukan pemerintah Indonesia pada tahun 1950-an, ternyata –sedikit banyak- telah ikut mendorong timbulnya gelombang antibangsa asing. “Seolah-olah telah direncanakan dari semula, tulisan-tulisan dengan huruf besar-besar dan nyata dalam warna menyala tergores pada tembok-tembok atau pintu rumah-rumah kediaman orang asing: Anjing Belanda, pulang ke negerimu! Ini bukan negeri orang bule!” (hlm. 27). Unjuk rasa yang menyatakan kebencian terhadap orang asing muncul di mana-mana.

Gejolak sosiat tersebut telah memaksa sejumlah keluarga asing, khususnya Belanda, atau keluarga Indo, hengkang, pergi meninggalkan Indonesia. Tidak terkecuali pula keluarga Frissart; salah satu keluarga Indo-Belanda. Mereka tak tahan tetap tinggal di Indonesia, lalu hijrah ke negeri Kincir Angin.

Elisa Frissart, salah seorang anggota keluarga itu, ternyata sudah terlanjur betah tinggal di Indonesia. Ia memutuskan untuk tidak ikut keluarganya pindah ke Belanda. Bahwa masyarakat menganggap keluarga Indo sebagai kaki tangan Belanda atau antek-antek imperialism, tidaklah menyurutkan niatnya untuk tetap tinggal di Indonesia. Begitu pula bujukan ayahnya, tak membuatnya tergoda untuk ikut keluarganya. Elisa yang lahir dan dibesarkan di negeri ini, merasa sudah menjadi bagian dari bangsa dan tanah air yang telah memberinya penghidupan.

Di balik perasaan keindonesiaannya itu, ada hal lain yang membuatnya berketetapan hati untuk tinggal di Indonesia dan tidak ikut hijrah bersama keluarganya. Penyebabnya yang terutama adalah kekacauan dalam kehidupan keluarganya sendiri. Ia merasa hidup terbelenggu jika tinggal di lingkungan keluarganya. Ibunya terlalu banyak memaksakan kehendaknya sendiri. Kelakuan ibunya sering membuatnya tertekan. Dengan demikian, kepindahan orang tuanya ke Belanda justru ibarat awal kebebasannya. Ia merasa bakal terbebas dari kungkungan ibunya yang kejam.

Perasaan itu sebenarnya sudah mulai ia rasakan setelah Elisa bekerja sebagai Pramugari GIA. Dengan penghasilannya itu, ia sengaja tinggal di asrama, semata-mata agar ia tidak terlalu dikekang. Namun, ternyata ibunya masih sering mengganggunya. Elisa kemudian pindah ke rumah dinas perusahaannya, bersama sahabatnya, Lansih.
Setelah tinggal bersama rekan sejawatnya itu, perubahan mulai terjadi. Persahabatan dengan teman-teman prianya, tidak lagi terbatas dengan pemuda Indo, tetapi juga dengan pemuda lain dari berbagai suku bangsa. Di antara para pemuda yang datang bermaksud menjalin persahabatan dengan Elisa, hanya Sukoharjito, pemuda Jawa, yang berhasil merebut hati gadis Indo itu. Pemuda itu pula yang membawanya pada kenikmatan jatuh cinta. Tak berlebihan jika kemudian ia berharap agar pemuda itu segera meminangnya.

Sementara berharap demikian, Elisa sendiri mulai dirundung kecemasan mengingat ia tak tahu persis asal-usul keluarganya. Persoalan itu bermula dari pertemuan Elisa dengan Rama Beick, seorang pastor kulit putih yang sudah menjadi warga Negara Indonesia. Kemudian, Elisa mencoba melacak lebih jauh perihal latar belakang orang tuanya. Di luar dugaan, semakin banyak keterangan yang diperoleh, semakin membuatnya bingung. Persoalannya adalah bahwa ibunya sendiri mempunyai masa lalu yang kelabu; ia bukan wanita baik-baik. Elisa sendiri adalah buah dari hasil hubungan gelap ibunya dengan lelaki lain, yang tidak diketahui siapa orangnya.

Keterangan tersebtu justru datang dari kakak Elisa sendiri. “…Siapa tahu barangkali kita berdua anak-anak adiknya atau anak lelaki lain, anak-anak Thalib, pemuda pelukis yang dipungutnya dari jalanan. Dikatakannya dia bisa tidur dengan sepuluh lelaki berturut-turut. Oleh karenanya dia tidak akan bisa mengetahui aku anak siapa dan kau anak siapa” (hlm. 91).

Bagi Elisa yang merasa perlu memperoleh kepastian siapa ayahnya yang sebenarnya, keterangan tersebut membuatnya makin penasaran. Ia kemudian menemui Thalib, lelaki yang konon paling menyayanginya di antara lelaki yang pernah berhubungan dengan ibunya. Wanita Indo itu akhirnya berhasil menjumpai Thalib di Surabaya, sungguhpun lelaki itu sedang dalam keadaan sakit keras. Namun, dari keterangannya, jelas bahwa Elisa adalah anak pelukis itu, Thalib, hasil dari perbuatan serong ibunya dengan lelaki itu.

Sungguhpun Elisa masih belum yakin benar, ia berusaha menyembuhkan lelaki yang mengakui ayah yang sebenarnya itu. Keadaan Thalib makin baik, bahkan sudah mencoba melukis lagi. Namun, masalah yang kini dihadapi Elisa adalah hubungannya dengan Sukoharjito. Belakangan, pemuda keturunan bangsawan Solo itu, diketahui akan menikah dengan wanita lain yang sudah dihamilinya. Betapa kecewanya Elisa. Sukoharjito yang menjadi tumpuan harapannya di antara lelaki lain yang berusaha merebut hati Elisa, termasuk Gail, seorang wartawan Amerika yang sangat menggodanya –justru telah menhancurkan segalanya; memupus juga keinginannya untuk menjadi warga Negara Indonesia. Peristiwa itu telah menjungkirbalikkan sikap hidupnya semula.

Elisa kemudian memutuskan untuk hijrah ke Belanda, menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu berada di sana. Keputusan itu menjadi lebih kuat lagi setelah ia selamat dari kematian ketika pesawat yang membawanya ke Palembang, jatuh. Di samping itu, Elisa sendiri sudah mulai bosan dengan pekerjaannya sebagai pramugari. Atas segala peristiwa itu, pada hari yang ditentukan, ia berangkat menyusul keluarganya ke Belanda. “Dengan hati rawan tetapi terang, tanah dan kotaku kutinggalkan” (hlm. 190). Itulah langkah yang diambil gadis Indo yang karena kegagalan cintanya, terpaksa meninggalkan negeri ini; tanah yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Resensi Novel Online

                                                                 ***
Novel yang pertama kali diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya tahun 1977 ini, sebenarnya hendak mengangkat sisi lain dari kehidupan wanita Indo. Studi mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Ika Kuntari Kosasih Adimanggala dalam skripsinya yang berjudul “Keberangkatan: Pergolakan Batin Gadis Indo-Belanda” (FSUI, 1979), dan skripsi sarjana muda AP Asario, “Sekelumit Analisis Keberangkatan Karya Nh. Dini” (FS-UGM, 1978).
Novel ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina dan Jepang.


     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top