Wednesday

Cerita Novel Online - Jalan Terbuka



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.

Pengarang    : Ali Audah (14 Juli 1924)
Penerbit        : Litera
Tahun            : 1971

Sinopsis Novel Online

Cerita Novel Online - Jalan TerbukaTidak beberapa lama setelah suaminya meninggal, Nyonya Sanusi terpaksa meninggalkan Krawang dan hijrah ke Jakarta bersama dua anaknya, Kamal yang sulung dan Ida yang bungsu. Di Jakarta mereka hidup serba kekurangan, betapapun Nyonya Sanusi berusaha menyekolahkan kedua anaknya dari penghasilannya menerima jahitan. Keadaan perekonomiann yang kacau pada pertengahan tahun 1950-an, telah membuat kehidupan keluarga itu makin terjepit. Kamal yang lulusan sekolah menengah, belum juga bekerja, sedangkan  Ida terpaksa berhenti sekolah dan mencoba mencari pekerjaan.

Suatu ketika datang Basri, bekas tetangga di Krawang dan teman satu sekolah dengan Kamal dan Ida, ke rumah Nyonya Sanusi. Ia yang ditugasi oleh partainya bekerja di Jakarta, bermaksud indekos. Nyonya Sanusi tentu saja tidak berkeberatan menerima Basri, terutama jika mengingat pertolongan yang pernah diberikan orang tua Basri sewaktu mereka masih bertetangga. Sebagai pedagang yang cukup besar, orang tua Basri memang sering membantu keluarga Sanusi, termasuk juga ikut membiayai sekolah Kamal dan Ida. Kini, usaha itu dilanjutkan ibunya, sedangkan Basri sendiri lebih suka terjun dalam pergolakan politik.

Kehadiran Basri di rumah kecil milik Nyonya Sanusi, sedikit banyak telah ikut meringankan beban keluarga itu. Dalam perkembangannya kemudian, Basri ternyata menaruh perhatian khusus kepada Ida. Kamal yang sejak semula tidak menyukai Basri, tak mampu berbuat apa-apa ketika Basri menyatakan keinginannya untuk memperistri Ida. Apalagi, Nyonya Sanusi telah menyatakan kesediaan menerima Basri sebagai menantunya. Begitu juga Ida, sudah menyatakan tidak berkeberatan.

Karier politik Basri di Jakarta melejit cukup pesat. Hal itu langsung membawa pengaruh pada perbaikan kehidupan Nyonya Sanusi, mertuanya. Namun, di balik itu semua, kesibukan Basri dalam menghadapi pemilihan umum, telah menyita perhatian agitator itu sepenuhnya untuk urusan partai politiknya. Perhatian pada istrinya, bahkan kepada ibunya yang sedang sakit di Krawang, terabaikan. Di antara kesibukan partai politiknya itu, Basri pun makin terjerat pada kebiasaan pesta-pesta dan main perempuan. Maka, ketika ibunya meninggal di Krawang, Basri hanya merasakan kesedihannya pada saat itu. Setelah itu, ia kembali pada aktivitas partai dan kesibukan lain dalam rangka mencari kesenangan pribadi.

Sementara itu, Kamal makin menampakkan sikap sinisnya terhadap Basri, yang kemudian merembet kepada ibu dan adiknya. Kamal yang membenci kehidupan politik, berusaha tidak mau tahu pada keadaan masyarakat di sekitarnya. Ia yang menurut pikirannya seorang idealis, bercita-cita menjadi penulis, namun tak pernah berhasil. Pernah pula temannya, Marno, seorang wartawan, menawarinya pekerjaan sebagai guru SMP, tetapi ditolaknya hanya karena direktur sekolah tersebut dikenal sebagai koruptor. “Aku menolak, karena aku tidak mau bekerja dengan dia, karena ia korup” (hlm. 104-105). Begitulah sikap yang diperlihatkan Kamal. Namun sesungguhnya, dia belum mempunyai pendirian yang matang. Sikapnya terhadap ibunya atau adiknya tidak didukung oleh usahanya untuk mencari pekerjaan secara sungguh-sungguh. Demikian pula ketertarikannya terhadap filsafat moral, atau ketidaksukaannya terhadap agama, lebih banyak ditentukan oleh sikapnya sendiri terhadap orang-orangnya dan bukan pada ilmunya sendiri. Kamal benci agama karena ia benci pada guru agama. Ia suka pada filsafat moral karena ia suka pada Pak Sumiran yang sering memberinya kuliah. Namun ketika ia tahu bahwa Pak Sumiran itu seorang aktivis partai, ia tak mau lagi tertarik pada filsafat. “Sebenarnya Kamal sangat tertarik pada Pak Miran. Tetapi orang itu gembong partai. Ia kurang senang” (hlm. 124).

Demikianlah, Kamal lebih banyak diombang-ambingkan oleh perasaannya sendiri. Teman-temannya yang juga menjadi aktivis partai, sama sekali kurang menarik perhatian Kamal. Hanya Marno, wartawan sebuah surat kabar, yang paling setia diikutinya, dan karena itu juga sedikit banyak mempengaruhi sikap Kamal. Namun, antipatinya terhadap kegiatan politik serta sikap pesimistisme dalam memandang kondisi masyarakat, tetap tidak berubah. Kamal bagai hanyut dalam urusannya sendiri, yang sebenarnya tidak jelas.

Sementara Basri masih tetap sibuk dengan kegiatan partainya dalam menghadapi pemilu, 29 September 1955, Ida, istrinya, makin dirundung perasaan kesepian. Harta benda yang telah diberikan suaminya, sama sekali tidak memberinya kebahagiaan. Lambat-laun, kesehatan Ida mulai terganggu. Ia sudah beberapa kali jatuh sakit. Keadaan demikian itu ternyata masih saja berlangsung  walaupun pemilihan umum sudah dilaksanakan. Keadaan itu pula yang membuat Kamal makin membenci iparnya itu, dan kebencian itu merembet pula pada adiknya sendiri, Ida.

Belakangan, muncul berita tentang pembunuhan seorang wanita bernama Sri, bekas istri Sumo, teman separtai Basri. Kasus pembunuhan ini ternyata melibatkan Basri. Bahkan pihak kepolisian telah menempatkan tokoh partai itu sebagai tersangka pembunuhan.

Kamal yang semula tidak mau tahu dengan keadaan adikya, kini terpaksa memikirkan nasibnya. Apalagi setelah Basri ditahan pihak kepolisian. Kamal yang kebingungan dengan masalah yang menimpa adiknya, berusaha mencari keterangan lebih lanjut perihal keterlibatan iparnya itu. Beberapa temannya yang dihubungi, lebih banyak memusatkan perhatian mereka pada persoalan politik. Barulah lewat teman baiknya, Marno, persoalannya mulai jelas. Rupanya Basri tampaknya hendak dijadikan kambing hitam bagi teman separtainya, Sumo, yang melakukan penyelundupan untuk kepentingan pribadi. Sumo sendiri sudah lebih dulu diamankan pihak yang berwajib. Kemudian, persoalan itu merembet pula pada partainya. Partai lain sengaja menggunakan kasus itu untuk menjatuhkan partai lawan.

Keadaan Ida makin bertambah parah. Nasib ternyata mengharuskan perempuan itu meninggal akibat kecelakaan kecil di kamar mandi. Sebuah musibah yang sedikit banyak menggoncangkan pikiran Kamal. Tambahan pula jika melihat keadaan Nyonya Sanusi, ibunya, begitu berduka menghadapi musibah itu. Perasaan kasihan yang begitu mendalam kepada ibunya telah menyadarkan Kamal bahwa sikap dan perbuatannya selama ini, ternyata hanya menghasilkan kesia-siaan. Saat itu pula Kamal dihinggapi serangkaian pertanyaan yang berusaha dijawabnya sendiri. Sebuah introspeksi yang membawanya pada diskusi-diskusi dengan Marno. Mulai timbul pula rasa hormatnya kepada sahabat karibnya itu. “Hayatilah ajaran agama itu, …Agama buat orang yang hidup, bukan buat orang yang mati…” (hlm. 257). Begitu Kamal teringat kata-kata Marno. Selanjutnya, Kamal makin hanyut pada persoalan bagaimana seharusnya manusia bersikap dalam menghadapi kehidupan ini. Bahwa jalan terbuka bagi manusia yang ingin hidup dan ingin maju, dan jalan terbuka itu ada pada agama. Demikian kesimpulan yang diperoleh Kamal. Pemuda yang selalu diliputi oleh perasaan pesimis, sinis, dan penuh keragu-raguan itu pun mulai melihat sebuah jalan terbuka, yaitu agama.

Resensi Novel Online

                                                                   ***
Novel pertama karya Ali Audah ini sesungguhnya sarat dengan berbagai diskusi yang menyangkut soal-soal politik, filsafat, dan agama. Novel ini pernah dijadikan sebagai bahan penelitian Baharuddin Zaenal dari Malaysia untuk tesis S2 (M.A.) di FS UI tahun 1972, bersama novel-novel lainnya yang terbit tahun 1966-1971. Baharuddin Zaenal melihat novel ini dalam kerangka perkembangan novel Indonesia modern pada periode itu (1966-1971). Kemudian menempatkannya berdasarkan pendekatan sosiologis yang mengacu pada peristiwa Pemilihan Umum tahun 1955.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top