Tuesday

Cerita Novel Online - Bila Malam Bertambah Malam



Ilmubahasa.net- Berikut Ringkasan dan sedikit ulasan Kumpulan Novel Online kami yang sudah kami rangkum sebaik mungkin agar anda bisa mendapatkan informasi atau hanya sekedar membaca Kumpulan Cerita Novel kami.
Pengarang    : Putu Wijaya (11 April 1944)
Penerbit        : Pustaka Jaya
Tahun            : 1971

Bila Malam Bertambah MalamSeorang janda, Gusti Biang, demikian namanya, menjalani sisa-sisa hidupnya dengan penuh kebanggan sebagai seorang bangsawan dan istri seorang pahlawan kemerdekaan. Ia bangga pada perjuangan almarhum suaminya yang gugur ditembak Belanda. Ia juga bangga dengan darah birunya yang dengan statusnya itu, derajatnya tetap lebih tinggi dibandingkan masyarakat kebanyakan, sebagaimana yang berlaku dalam pandangan masyarakat Bali. Segala kebanggaan itulah yang terus dipelihara janda itu. Perempuan tua yang sudah mulai pikun itu menganggap sudah seharusnya demikian. “Selama menjadi janda tak ada cerita atau peranan penting yang dibuatnya untuk mengisi hidup yang sudah sampai babak akhir” (hlm. 5).

Begitulah, Gusti Biang menghabiskan hari-harinya dengan kebahagiaannya yang semu. Selama itu, ia ditemani dua pelayannya yang setia, Wayan dan Nyoman. Dua puluh lima tahun lamanya Wayan tua itu mengabdi pada keluarga Gusti Biang. Bahkan, Wayan sebenarnya adalah teman sepermainan almarhum I Gusti Ngurah Ketut Mantri, suami Gusti Biang, sejak mereka masih anak-anak. Adapun Nyoman, sejak kecil ikut keluarga itu. Sampai ia menjadi gadis remaja seperti sekarang ini, perempuan anak keluarga miskin dari desa Meliling itu, masih tetap setia melayani majikannya. Selama itu, tanpa sepengetahuan Gusti Biang, ia telah menjalin persahabatan dengan Ngurah, anak tunggal Gusti Biang. Mereka memang teman sepermainan sejak kecil. Kini, Ngurah tinggal di Yogyakarta dan kuliah di salah sebuah perguruan tinggi di kota itu. Namun kemudian, merasa kuliahnya gagal, pemuda itu bermaksud mudik; tinggal bersama ibunya yang memang tak ingin berpisah jauh dari anak tunggalnya. Jika Gusti Biang berusaha tetap menjaga martabat kebangsawanannya, Wayan justru melihatnya sebagai sebuah lelucon panjang dari sebuah drama yang di dalamnya terlibat dirinya sebagai salah seorang pemain. Oleh karena itu, Wayan selalu menanggapi segala kerewelan dan penghinaan perempuan pikun itu dengan sabar dan penuh pengertian. Selama itu pula ia tiada bosan mendengar syair kesukaannya yang bercerita tentang kasih tak sampai.

Seperti juga Wayan, Nyoman pun selama itu mengalami perlakuan sama. Pengabdiannya selalu dibalas dengan caci-maki dan penghinaan. Sesungguhnya, ia sudah tak kuasa menahan kesabarannya. Beruntung, Wayan selalu menasehati gadis itu; menahannya apabila Nyoman hendak meninggalkan bangunan tua yang telah membesarkannya.
Suatu saat, Nyoman merasa sudah tak kuat lagi menahan kesabarannya. Perlakuan janda tua itu memang sudah melewati batas. Kini, ia merasa, tekadnya untuk meninggalkan perempuan tua itu sudah tak bisa ditunda lagi. Namun, sebelum itu, Gusti Biang yang memang dasarnya iri melihat kemudaan Nyoman, membeberkan segala biaya yang dihabiskan selama gadis itu tinggal bersamanya.

Nyoman Niti akhirnya pergi juga setelah ia merasa tak kuat lagi menerima perlakuan Gusti Biang yang sudah sangat keterlaluan. Wayan tentu saja sangat menyesalkan kepergiannya yang tanpa sepengetahuannya itu. Lelaki tua itu tak sempat mencegahnya. Sebaliknya, Gusti Biang malah merasa senang. Menyadari bahwa kepikunan Gusti Biang makin ngawur, Wayan kemudian memutuskan untuk membeberkan segala rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Mula-mula Wayan membuka rahasia, apa yang sebenarnya terjadi pada diri Nyoman dan Ngurah. Sesungguhnya, gadis yang baru saja diusir Gusti Biang adalah kekasih anak tunggalnya sendiri. Bahkan, “Nyoman adalah tunangan Ngurah!” (hlm. 63). Jadi, kepulangan Ngurah tidak lain adalah merundingkan rencana perkawinan pemuda itu dengan Nyoman.

Mendengar keterangan Wayan, perempuan tua itu tentu saja marah bukan alang kepalang. Dikatakannya bahwa semua itu pasti gara-gara Wayan yang merasa telah gagal memperistri dirinya. Dari pertengkaran antara Wayan dan Gusti Biang, akhirnya terungkap pula bahwa almarhum I Gusti Ngurah Ketut Mantri sebenarnya bukan pahlawan, melainkan seorang pengkhianat yang mati tertembak oleh salah seorang pejuang. Jadi, cerita suami Gusti Biang tertembak NICA, tidak lebih sekedar cerita bohong. Hal yang sebenarnya adalah bahwa almarhum itu mata-mata NICA.

Wayan tak mau melanjutkan pertengkaran dengan Gusti Biang. Ia meninggalkan perempuan tua itu sendiri. Wayan juga bermaksud pergi kembali ke desanya. Saat itulah Ngurah datang; menemui ibunya yang sedang termenung sendiri.

Gusti Biang yang sepeninggal almarhum suaminya, berusaha tetap mempertahankan mitos kepahlawanan suaminya, merasakan kekecewaan yang mendalam atas keterangan Wayan. Dan kini, kedatangan anaknya justru untuk memperistri Nyoman, bekas pelayannya. Perempuan tua itu tentu merasa sangat kecewa dan marah.

Kemarahan Gusti Biang makin memuncak ketika ia melihat Wayan hendak pergi. Hal yang membuatnya makin marah, justru karena Wayan membawa bedil yang menurut Gusti Biang adalah bedil miliknya; bedil yang telah menewaskan suaminya. Ternyata kemudian persoalannya merembet ke rahasia yang selalu ditutupi Wayan dan Gusti Biang sendiri. Dikatakan oleh lelaki tua itu bahwa sesungguhnya, almarhum suami Gusti Biang adalah seorang pengkhianat yang mati ditembak seorang pejuang. Wayan mengulang kembali kata-kata yang dikatakannya sebelum Ngurah datang. Ditambahkan pula bahwa benar bedil itulah yang menewaskan almarhum. Orang yang menembaknya tidak lain adalah Wayan sendiri yang waktu itu amat disegani oleh teman pejuang lainnya yang tergabung dalam gerakan Ciung Wanara. Di samping pengkhianat, almarhum sebenarnya seorang wangdu atau banci. Istrinya yang lima belas orang, termasuk Gusti Biang, sebenarnya hanya menutupi kemandulannya. Selain itu, Gusti Biang sendiri adalah kekasih Wayan hanya karena Wayan bukan keturunan bangsawan, Gusti Biang akhirnya memilih I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang menjadi suaminya. Jadi, Ngurah sebenarnya adalah anak Wayan. Oleh karena itulah, Wayan dengan setia menjaga Gusti Baing sampai usia mereka mulai pikun.

Mendengar cerita itu, jelas bagi Ngurah, siapa ayahnya yang sebenarnya. Gusti Biang sendiri pada akhirnya terpaksa menerima kenyataan bahwa sesungguhnya ia juga masih mencintai Wayan tua. Ia juga pada akhirnya menyetujui keinginan Ngurah untuk mengawini Nyoman.

Sementara Ngurah mencari Nyoman, Gusti Biang dan Wayan kembali teringat masa muda mereka. “Keduanya saling berpandangan. Dan sekarang keduanya ingat kembali air mata cinta mereka yang tak pernah sampai dan tertekan selama hidup. Gusti Biang tertunduk, malu menyerangnya kembali. Sedang Wayan mengusap air matanya” (hlm. 108). Begitulah, sepasang manusia itu kini dapat melepaskan rasa cintanya masing-masing, saat usia mereka menjelang senja.

                                                                              ***
Novel Putu Wijaya ini sebenarnya ditulis tahun 1964, tetapi baru diterbitkan sebagai buku pada tahun 1971. Novel ini termasuk novel kedaerahan dengan latar Bali, termasuk tradisi yang berlaku pada masyarakat di sana.

Studi mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Baharuddin Zainal sebagai tesis S2 di UI tahun 1972. Kemudian Othman Puteh dari Universitas Kebangsaan Malaysia meneliti novel ini, bersama beberapa novel Putu Wijaya lainnya, sebagai bahan skripsi sarjana pada tahun 1977. Di Indonesia, novel ini pernah dijadikan bahan skripsi oleh J. Christie Soenardi dan D. Murniah, keduanya dari FS Undip.

     Terima kasih telah berkunjung di artikel kami ini. Berikanlah komentar, kritik, dan saran karena sangat membantu kami untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda. Terimakasih

   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top